홈 / Romansa / Anak Kembar Milik Sang Cassanova / Pergi Jauh dari Hidup Liam

공유

Pergi Jauh dari Hidup Liam

작가: Aksara_Lizza
last update 게시일: 2025-03-03 01:45:23

“Jadi, ini alasanmu batal menikahiku, Liam?" tanya Aleena dengan suara bergetar, matanya yang sendu menatap tajam ke arah pria yang pernah ia percayai sepenuh hati.

Ia tak tahu lagi harus berkata apa selain itu. Rasa kecewa, marah, dan sakit hati bercampur aduk dalam dadanya.

Liam tidak segera menjawab. Justru seorang wanita yang duduk di sebelahnya lebih dulu bersuara. "Apa? Menikah? Apa yang kau katakan? Memangnya kau siapa? Kenapa meminta kekasihku menikahimu?"

Rentetan pertanyaan itu meluncur tajam dari bibir Laluna, wanita yang kini tengah menggandeng tangan Liam dengan posesif.

Aleena menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Ingin rasanya ia memberitahu wanita itu bahwa ia sedang mengandung anak dari pria yang kini duduk di hadapannya.

Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, Liam sudah lebih dulu bangkit dari tempat duduknya. Pria itu menghampirinya dengan ekspresi datar dan tatapan yang begitu dingin.

"Ya, ini alasanku tidak bisa menikahimu. Jadi, sekarang pergilah. Kau sudah tahu alasannya," ucapnya tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Aleena terpaku. Bibirnya bergetar, hatinya serasa diremukkan menjadi serpihan kecil yang tak mungkin bisa disatukan lagi. Sakitnya begitu menusuk, jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik apa pun.

"Baiklah. Aku akan pergi," ucapnya lirih, berusaha tetap tegar meskipun hatinya hampir hancur berkeping-keping.

"Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal!"

Liam menyeringai tipis, lalu dengan santai berkata, "Itu lebih bagus." Tangannya meraih gagang pintu, membukanya lebar-lebar seolah tidak sabar ingin mengusir Aleena keluar dari kehidupannya.

Aleena menatapnya sekali lagi, penuh kebencian yang membara. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah kembali ke tempat ini, tidak ke kantor, tidak ke apartemen, bahkan tidak ke rumah Liam sekalipun.

Ia melangkah keluar dengan hati yang remuk, menahan isak tangis yang ingin pecah.

Setelah keluar dari gedung itu, ia berjalan tanpa arah, membiarkan angin menyapu wajahnya yang dingin.

Kedua tangannya perlahan mengusap perutnya yang masih rata, menyadari kenyataan pahit yang harus ia hadapi sendiri.

"Aku harus pergi jauh darinya. Aku tidak sudi bertemu dengannya lagi," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun.

Usia kandungannya baru menginjak delapan minggu, namun luka di hatinya terasa seperti bertahun-tahun lamanya.

Ia merasa hancur, tak pernah membayangkan akan membesarkan anaknya seorang diri. Namun, di tengah kepedihannya, ia tahu satu hal: ia tidak akan pernah membiarkan anaknya merasakan penderitaan yang sama.

"Maafkan aku, sayang..." lirihnya sambil mengusap perutnya dengan penuh kasih. "Kau harus lahir tanpa seorang ayah. Tapi aku berjanji akan menyayangi dan melindungimu dengan seluruh hidupku."

Tanpa menoleh ke belakang, Aleena melangkah pergi dari kota itu, membawa luka dan harapan yang baru.

Ia tak tahu apa yang menantinya di masa depan, tetapi satu hal yang pasti: ia akan bertahan, demi anaknya, demi kehidupannya yang baru, tanpa Liam.

**

Aleena berdiri mematung di depan jendela apartemennya, menatap jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu temaram.

Hatinya terasa sesak. Berapa lama Liam telah mempermainkannya? Sejak kapan dia dan wanita itu menjalin hubungan? Apakah selama ini Aleena hanya salah satu dari sekian banyak wanita di hidup Liam?

Benar-benar gila.

Aleena menggeleng-gelengkan kepala, mencoba menahan gejolak emosi yang membakar dadanya.

Tangannya refleks mengusap perutnya yang mulai membuncit. Di dalam sana, ada kehidupan kecil yang kini menjadi alasan terbesarnya untuk bertahan.

“Apa kau yakin akan tinggal di sini dan membesarkan anakmu seorang diri?” suara Jenny, sahabatnya, membuyarkan lamunannya.

Aleena mengangguk mantap. “Ya. Aku akan tetap di sini. Aku ingin membuka café di seberang sana.”

Jenny menatapnya dengan ekspresi tak percaya. “Kenapa tidak kau gugurkan saja, Aleena? Liam tidak menerima kehadiran bayinya sendiri.”

Aleena menarik napas panjang, lalu menggeleng pelan. Ada keteguhan dalam sorot matanya.

“Tidak akan, Jenny. Aku tidak akan pernah menggugurkan kandunganku! Biar saja Liam tidak mau bertanggung jawab. Aku bisa membesarkan anakku tanpa sosok ayah di sampingnya.”

Jenny menghela napas kasar. Wajahnya dipenuhi amarah dan kekecewaan. “Liam benar-benar gila! Bisa-bisanya dia mengusirmu, padahal kau sedang mengandung anaknya? Lalu sekarang dia sudah punya wanita lain? Oh my God. Kau benar-benar salah memilih pasangan, Aleena.”

Aleena tersenyum miris. Pahit. Pedih.

“Ya. Aku tahu itu.” Suaranya lirih, nyaris tenggelam dalam kesunyian malam. “Awalnya aku pikir dia akan menjadi cinta terakhirku. Rupanya aku salah. Aku telah mencintai pria Casanova. Seorang pemain wanita yang memiliki banyak perempuan di hidupnya.” Aleena mengusap pipinya yang mulai basah.

“Dan yang lebih buruknya lagi, aku telah mengandung anak dari pria seperti itu. Aku hanya salah satu dari sekian banyak korban.”

Ia kemudian mengangkat wajahnya, menatap Jenny dengan sorot mata penuh tekad. “Aku bersumpah tidak akan pernah mengenalkan anakku padanya. Sebab dia sendiri yang menuduh bahwa ini bukan anaknya.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Anak Kembar Milik Sang Cassanova   Akhir yang Abadi (Tamat)

    Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden ruang makan, memantulkan cahaya pada peralatan makan perak yang tertata rapi.Aroma wafel hangat dan sirup mapel memenuhi ruangan, namun suasana pagi itu terasa sedikit berbeda. Liam dan Aleena duduk berdampingan, saling bertukar pandang penuh rahasia yang membuat Aiden menghentikan kegiatannya mengoles selai cokelat.“Mami, Papi, kenapa kalian senyum-senyum terus sejak tadi?” tanya Aiden dengan nada detektifnya yang khas. “Apa ada mainan baru lagi yang datang?”Eve ikut mendongak, mulutnya masih penuh dengan potongan buah stroberi. “Atau kita mau pergi ke kebun binatang lagi?”Liam berdeham, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar tenang namun tetap menyimpan kejutan. Ia meraih tangan Aleena di bawah meja, meremasnya lembut sebelum akhirnya angkat bicara.“Bukan mainan, Aiden. Dan bukan sekadar jalan-jalan, Eve. Papi dan Mami punya kabar yang jauh lebih besar.”Aleena tersenyum, mata

  • Anak Kembar Milik Sang Cassanova   Berkah di Tengah Kebahagiaan

    Pagi buta masih menyisakan embun di jendela kamar mandi saat Aleena terbangun dengan perasaan yang tidak menentu. Ia membiarkan Liam tetap terlelap di balik selimut tebal, napas suaminya itu terdengar teratur dan damai.Dengan langkah berjinjit yang sangat hati-hati, Aleena mengunci pintu kamar mandi dan meraih sebuah kotak kecil yang ia beli secara sembunyi-sembunyi saat pergi ke apotek kemarin sore.Tangannya gemetar hebat. Ada rasa takut yang menyeruak, takut jika ia hanya terlalu berharap, atau takut jika keadaan yang sudah sempurna ini akan berubah kembali.Namun, di balik itu, ada binar kebahagiaan yang mulai mekar di sudut hatinya. Ia menunggu dalam keheningan yang mencekam, hanya ditemani detak jarum jam dinding dan degup jantungnya sendiri yang kian memburu.Dua garis merah.Aleena menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan pekikan yang hampir lolos. Air mata seketika jatuh membasahi pipinya.Dua garis itu tampak sangat jelas, ti

  • Anak Kembar Milik Sang Cassanova   Labirin Kebahagiaan di Rumah Baru

    Enam bulan telah berlalu sejak janji suci diucapkan di kapel sunyi itu, dan kehidupan Aleena kini terasa seperti lembaran buku dongeng yang menjadi nyata.Mereka telah pindah ke mansion baru di kawasan perbukitan yang dibeli Liam sebagai kado pernikahan.Rumah itu bukan sekadar bangunan megah dari beton dan kaca; ia adalah benteng kebahagiaan yang dipenuhi cahaya matahari setiap paginya.Aroma kopi yang baru diseduh dan wangi roti panggang kini menjadi latar suara alami di dapur mereka yang luas.Aleena berdiri di dekat meja marmer, memperhatikan melalui jendela besar ke arah halaman belakang.Di sana, di atas hamparan rumput hijau yang dipangkas rapi, ia melihat pemandangan yang dulu hanya berani ia impikan dalam khayalan paling liar.Liam sedang berlutut di atas tanah, mengenakan kaos santai yang kini sedikit kotor oleh rumput. Di sampingnya, Aiden sedang serius memegang obeng kecil, mencoba memperbaiki bagian roda pada robot penj

  • Anak Kembar Milik Sang Cassanova   Malam Pengantin yang Liar

    Pintu kamar penthouse mewah itu tertutup dengan debuman halus yang seolah memutus seluruh hubungan mereka dengan dunia luar.Di dalam ruangan luas yang kini telah disulap menjadi kamar pengantin, aroma lilin aromaterapi beraroma sandalwood dan mawar merah merebak, menciptakan suasana yang intim sekaligus menggoda.Kelopak bunga mawar merah berceceran di atas lantai marmer hingga menuju ranjang king size yang sudah dihias dengan sprei sutra berwarna putih bersih.Namun, perhatian Liam tidak tertuju pada dekorasi mahal tersebut. Matanya terkunci sepenuhnya pada sosok wanita yang kini resmi menyandang namanya.Aleena berdiri di tengah ruangan, membelakangi Liam, mencoba melepaskan kancing-kancing rumit pada bagian punggung gaun pengantinnya dengan jemari yang gemetar.Tanpa suara, Liam melangkah mendekat. Bayangannya yang besar menyelimuti tubuh mungil Aleena.Ia menyingkirkan jemari Aleena yang kikuk, menggantikannya dengan tangannya yang besar dan hangat. Satu per satu, kancing itu ter

  • Anak Kembar Milik Sang Cassanova   Janji Suci di Altar

    Pagi itu, kediaman keluarga Liam dan Aleena tidak dipenuhi oleh hiruk-pikuk ratusan tamu atau deru musik yang memekakkan telinga.Sesuai keinginan mereka, pernikahan ini dirancang sebagai sebuah oase ketenangan, sebuah upacara sakral yang hanya disaksikan oleh mereka yang benar-benar memahami beratnya perjuangan dua jiwa ini untuk kembali bersatu.Udara musim semi yang sejuk merayap masuk melalui jendela besar kapel privat di pinggiran kota, membawa aroma rumput basah dan bunga melati yang baru saja mekar.Di ruang rias, Aleena duduk diam di depan cermin besar berbingkai emas. Jenny, sahabat setianya sejak masa-masa tersulit, berdiri di belakangnya sambil memegang sisir berlapis mutiara. Jenny tidak bisa menahan senyum haru yang terus mengembang di bibirnya.“Kau terlihat sangat bercahaya, Aleena. Bukan hanya karena riasan ini, tapi karena matamu akhirnya menemukan kembali binar yang hilang tujuh tahun lalu,” bisik Jenny lembut.Aleena menatap pantulannya. Tata riasnya sengaja dibuat

  • Anak Kembar Milik Sang Cassanova   Pemutusan Rantai Terakhir

    Layar ponsel di genggaman Aleena seolah membakar telapak tangannya. Pesan-pesan John bukan sekadar ancaman bunuh diri; itu adalah jerat emosional yang dirancang untuk menariknya kembali ke dalam pusaran kegelapan.Namun, Aleena tidak sadar bahwa Liam, dengan ketajaman instingnya yang telah terasah di dunia bisnis yang kejam, sudah memperhatikan perubahan drastis pada raut wajah tunangannya sejak di dalam butik.Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Liam tidak langsung menjalankan mesin. Ia meraih ponsel Aleena dengan gerakan yang tenang namun tak bisa dibantah. Matanya menyapu barisan teks penuh kegilaan dari John.Rahang Liam mengeras, urat-urat di lehernya menegang, namun ia tidak meledak. Ia justru memberikan ponsel itu kepada Rendra yang duduk di kursi kemudi.“Bawa Mami pulang. Pastikan dia tidak keluar rumah dan jaga anak-anak dengan ketat,” perintah Liam, suaranya sedingin es di kutub utara.“Liam, apa yang akan kau lakukan? Dia bilang dia akan...” suara Aleena bergetar, ia menco

  • Anak Kembar Milik Sang Cassanova   Anak-anak tidak Membutuhkanmu

    Pagi itu, mentari bersinar hangat di ufuk timur, menyelimuti kota dengan sinar keemasannya.Aleena sudah terbiasa dengan rutinitasnya setiap pagi—menyiapkan sarapan, memastikan kedua anaknya mengenakan seragam dengan rapi, lalu mengantarkan mereka ke sekolah.Hari ini pun, seperti biasa, ia menurun

  • Anak Kembar Milik Sang Cassanova   Tela Menghancurkan Segalanya

    Aleena mengusap wajahnya dengan frustasi, ucapannya tadi masih menggema di telinganya.Tatapannya berubah dingin saat ia menatap wajah pria di hadapannya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya yang bergejolak hebat di dalam dada."Kau benar-benar tidak tahu malu, ya?" suaranya te

  • Anak Kembar Milik Sang Cassanova   Biar Aku yang Memberitahu

    "Aku tidak akan membiarkanmu pergi setelah sekian lama menghilang dan melahirkan darah dagingku, Elena. Mereka anak-anakku, dan mereka berhak tahu siapa ayah mereka!" ucap Liam dengan suara tegas, penuh penekanan.Mata Aleena langsung membulat, dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang mendesak

  • Anak Kembar Milik Sang Cassanova   Jangan Temui Mereka!

    Aleena awalnya tak memperhatikan siapa yang sejak tadi tengah berjongkok di antara Aiden dan Eve. Fokusnya masih tertuju pada mereka, hingga tanpa sadar pandangannya akhirnya beralih ke sosok yang sudah bertahun-tahun berusaha ia hindari. Seketika tenggorokannya tercekat, dan tubuhnya langsung pan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status