Share

Bab 5

Author: Echo
Untuk minggu berikutnya, aku mengikuti aturan perusahaan secara ketat. Aku masuk kerja pukul 08.59 dan pulang pukul 17.01. Tidak satu menit lebih awal, tidak satu menit lebih lambat. Aku juga tidak keluar kantor sekali pun untuk menemui klien.

Aku diberi meja kerja kecil di sudut ruangan yang terlupakan, tempat aku duduk diam sambil merapikan berkas-berkas tidak penting dan sesekali membalas email yang tidak mendesak.

Sementara itu, Lia berada dalam pusaran aktivitas yang penuh sandiwara. Dia mengenakan setelan desainer berbeda setiap hari, riasannya sempurna, dan mondar-mandir di kantor dengan tas Hermes terbaru. Yang lebih konyolnya lagi, dia memperbarui posting Instagram hampir setiap dua jam sekali.

[ Awal dari hari sibuk lainnya! Kopi di tangan, siap menaklukkan dunia bisnis! #BosWanita #KerjaKeras ]

[ Makan siang dengan calon klien potensial. Selalu membangun relasi, selalu berkembang! #Pengusaha #Sukses ]

....

Setiap posting selalu disertai foto diri Lia yang pura-pura sibuk di kantor atau pose makan siang bisnis yang sudah diatur. Namun, kenyataannya?

Dari sudut tempat dudukku, aku bisa melihat jelas setiap gerak gerik Lia. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belanja online, memperbaiki riasan di cermin kecil, atau melihat media sosial. Dia hanya melakukan beberapa panggilan dan semuanya berakhir gagal.

"Apa? Nggak tertarik? Tapi, perusahaan kami punya potensi besar ...."

"Tunggu, jangan tutup dulu. Kita masih bisa negosiasi harga ...."

"Halo? Halo? Sial, ditutup lagi!"

Mendengar Lia ditolak klien berkali-kali, aku sama sekali tidak merasakan apa pun dan terus merapikan berkas.

Di hari Rabu, keadaan mulai berubah menjadi jauh lebih buruk. Perusahaan mulai mengalami masalah arus kas, sehingga Kevin mencariku.

"Karina, kamu tahu perusahaan sedang mengalami masalah keuangan, 'kan?" tanya Kevin.

Aku mengangkat kepala dan menatap Kevin, lalu berkata dengan ekspresi polos, "Masalah keuangan? Sayang sekali."

Kevin berkata dengan suara rendah sekaligus tajam, "Jangan pura-pura bodoh! Minggu ini kamu nggak menghubungi satu pun klien! Kamu nggak membawa masuk satu sen pun!"

Aku meletakkan dokumenku dan menatap Kevin dengan serius, lalu berkata, "Kevin, aku hanya ikuti kebijakan perusahaan. Departemen humas bilang aku sedang dalam masa observasi dan harus merenungkan pelanggaranku. Kalau sekarang aku keluar untuk menemui klien, bukankah itu berarti aku menentang keputusan perusahaan?"

Ekspresi Kevin menjadi makin muram. "Kamu ...."

Aku melanjutkan, "Lagi pula, bukankah perusahaan sudah menunjuk Lia sebagai Direktur Klien Senior? Sekarang menjaga klien dan mengembangkan bisnis adalah tanggung jawabnya. Bagaimana mungkin aku seorang karyawan yang sedang diskors ini melewati batasan dan mengerjakan pekerjaannya?"

Kevin mengepalkan tangannya dan aku juga bisa melihat urat di pelipisnya berdenyut. Dia menggertakkan giginya dan berkata, "Kamu mengancamku?"

"Mengancammu?"

Aku tertawa kecil. "Aku hanya karyawan yang taat aturan saja."

Kevin menatapku dengan tatapan tajam cukup lama, lalu tiba-tiba tertawa sinis dan berkata dengan niat jahat, "Bagus. Bagus sekali. Kamu pikir perusahaan ini nggak bisa bertahan tanpa kamu? Baik. Lihat saja, aku akan menutup kesepakatan dengan Arthur Maulana dan mengamankan pendanaan besar. Aku nggak butuh kamu untuk membawa apa pun lagi."

Setelah itu, Kevin berbalik menghadap ke seluruh kantor dan mengumumkan dengan suara lantang agar semua orang mendengar, "Mulai hari ini, aku sebagai Direktur Utama secara resmi memberitahukan pada kalian semua bahwa Karina dipecat! Efektif sekarang juga!"

Suasana di kantor langsung menjadi sunyi dan semua orang menatap Kevin dengan terkejut.

Aku perlahan-lahan berdiri tanpa perasaan marah ataupun benci, lalu menganggukkan kepala dengan tenang. "Aku mengerti."

Kevin mengernyitkan alis, jelas tidak menyangka aku akan begitu tenang. "Nggak ada yang mau kamu katakan?"

Aku mulai membereskan beberapa barang pribadiku sambil menjawab, "Nggak. Itu keputusan Direktur Utama, aku tentu saja akan mematuhinya."

Reaksiku sepertinya justru membuat Kevin merasa gelisah.

Namun saat itu, aku sudah mulai merencanakan langkah berikutnya.

Sesampainya di rumah, aku mengambil sebuah kontrak dari brankas. Kevin sepertinya sudah lupa masa sewa gedung kantor yang saat ini ditempati perusahaannya akan berakhir keesokan harinya. Aku mengeluarkan ponselku dan menelepon agen propertiku, Markus. "Masa sewa ruang kantorku di pusat Maliankas akan berakhir besok. Aku berencana menawarkannya kembali, kamu bisa atur?"

"Tentu saja Lokasi properti itu properti sangat berkualitas, saat ini aku sudah ada beberapa klien yang sedang mencari ruangan seperti ini," jawab Markus.

"Bagus. Besok pagi pukul 10, bawa penawar tertinggi untuk lihat propertinya," kataku.

Suara Markus di telepon itu terdengar bersemangat. "Sempurna. Tempat itu memang sangat diminati. Ada perusahaan keamanan yang bersedia membayar dua kali lipat dari harga sewa sekarang."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 12

    Lia menangis makin keras sampai ingus dan air matanya bercampur membasahi wajahnya. "Aku tahu aku salah. Aku benar-benar tahu. Tolong maafkan aku, aku nggak akan mengulanginya lagi."Aku menatap keadaan Lia yang menyedihkan dengan tatapan tanpa rasa iba sedikit pun. Aku tertawa pelan sekaligus tajam. "Kamu tahu kamu salah? Kamu tahu apa yang sudah kuberikan untuk perusahaan itu? Aku sampai pakai puluhan miliar dari uang pribadiku, manfaatkan koneksi elite dari keluargaku selama sepuluh tahun ini, dan bekerja siang malam demi perusahaan itu. Dan kamu?"Aku menatap Lia yang berlutut di tangga dan berkata dengan suara yang makin dingin, "Kamu menganggap semua kontribusiku sebagai sesuatu yang wajar. Kamu memfitnahku dan mencoba menghancurkan reputasiku di online. Sekarang setelah kamu kehilangan pekerjaan dan reputasi kreditmu hancur, kamu malah merasa kamu dirugikan."Para reporter mendengarkan cerita itu dengan terpukau dan kamera mereka terus tertuju pada kami.Dengan suara yang terden

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 11

    Menghadapi pertanyaan yang tanpa ampun dari para reporter, Lia benar-benar panik. Kali ini, air matanya bukan hanya akting lagi, melainkan ketakutan yang nyata. Dia berkata dengan terbata-bata, "Aku ... bisa menjelaskan ...."Seorang reporter dari Jurnal Megah yang bersikap tanpa ampun.[ Menjelaskan apa? Bagaimana kamu menjebak Bu Karina dan mencuri pekerjaan serta kantornya? ]Kolom obrolan dari siaran langsung itu kini berubah menjadi tempat semburan kemarahan.[ Dua orang ini menjijikkan sekali. ][ Mereka ambil uangnya dan pakai koneksinya, lalu menusuknya dari belakang. ]Aku duduk di kafe sambil menonton kedua orang yang ada di layar itu merasa gelisah, lalu menyesap latte dengan anggun.Saat itu, pintu ruang bawah tanah tiba-tiba dibanting terbuka. Sekelompok orang yang dipimpin seorang pria paruh baya menerobos masuk dan langsung menunjuk Kevin dengan marah."Kevin! Dasar pembohong! Mana utangmu yang tujuh miliar lima ratus juta itu?"Makin banyak pemasok yang berdesakan masuk

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 10

    Keesokan sorenya, Kevin dan Lia melakukan siaran langsung online. Latar belakangnya adalah dinding beton yang suram dan mereka duduk di belakang meja lipat yang reyot.Lia tidak memakai riasan, matanya bengkak serta merah, dan terlihat kelelahan. Dia menahan tangisnya saat sedang berbicara ke kamera. "Aku hanya gadis biasa yang baru lulus kuliah dan berusaha bertahan di dunia yang kejam ini. Saat aku temukan kejanggalan di perusahaanku dan jalankan tugasku melaporkannya, aku malah terima pembalasan gila dari seorang eksekutif yang kaya dan berkuasa ...."Komentar di siaran itu langsung melaju secepat kilat.[ Aku kasihan banget dengannya. Kaum kapitalis memang paling buruk. ][ Ini contoh penindasan beda kelas yang sempurna. ][ Anak orang kaya harus lenyap semua. ][ Aku dukung Lia. Kita harus menuntut keadilan untuk rakyat biasa. ]Aku menatap layar yang dipenuhi pesan-pesan penuh amarah itu dengan ekspresi tetap tenang seperti biasanya.Kevin yang memainkan perannya pun berkata deng

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 9

    Saat ini, ponselku sudah dibanjiri dengan pesan. Kevin, Lia, karyawan lainnya, dan bahkan resepsionis, semuanya meneleponku.Isi dari pesan Kevin adalah yang paling panik. Dimulai dengan pesan mengancam dengan marah, lalu berubah menjadi memohon dengan putus asa dan akhirnya merengek memohon belas kasihan.[ Karina, kamu gila ya? Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? ][ Polisi bilang kami masuk tanpa izin? Apa maksudnya ini? ][ Tolong, hentikan mereka. Aku akan memberimu apa pun yang kamu mau. ][ Kita ini teman kuliah. Kamu nggak boleh lakukan ini padaku. ][ Karina, aku salah. Aku tahu aku sudah salah. Lepaskan aku kali ini saja, aku akan lakukan apa pun. ]Kevin sepertinya sudah tahu dia tidak bisa bernegosiasi denganku lagi, sehingga sekarang dia memainkan kartu simpati.Yang menariknya lagi, pamanku juga bergerak dengan cepat. Grup Maulana secara resmi dan terbuka mengumumkan pembatalan seluruh minat investasi pada perusahaannya Kevin. Bukan hanya itu, mereka juga memasukkan p

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 8

    Melihat Kevin terdiam, aku berpaling dengan jijik."Om Arthur, aku sudah memutuskan untuk mendirikan perusahaanku sendiri. Mulai sekarang, aku nggak ada hubungan apa pun lagi dengan mereka," kataku sambil tersenyum.Rasa bangga terlintas di tatapan Arthur saat mendengar perkataan itu, lalu mendengus. Dia menoleh ke arah Kevin dan berkata dengan nada dingin, "Baiklah. Sekarang aku secara resmi mengumumkan Grup Maulana menarik seluruh minat investasi dari perusahaanmu. Selain itu, aku akan beri tahu semua kolegaku di Jalan Megah untuk masukkan kamu ke daftar hitam permanen kami."Wajah Kevin langsung pucat pasi. Dia membuka mulut seolah-olah ingin berbicara, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.Lia yang berdiri di samping pun gemetar karena dia akhirnya tahu betapa fatal kesalahan yang telah diperbuatnya.Arthur merapikan mansetnya dengan anggun, lalu menawarkan lengannya padaku. "Keponakanku, ayo kita pergi makan siang. Aku mau dengar rencanamu tentang perusahaan baru ini."Aku merai

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 7

    Aku tidak menjawab pertanyaan Kevin. Aku malahan membuka pintu mobilku, lalu perlahan-lahan keluar agar terlihat jelas oleh semua orang.Saat melihatku, Kevin mengira aku datang untuk menyelamatkannya. Dia langsung menutup telepon, lalu segera berjalan ke arahku dan berusaha meraih lenganku. "Karina, kamu akhirnya datang. Cepat bilang pada manajer untuk membiarkan kami ...."Aku menepis tangan Kevin dengan dingin, lalu melangkah mundur. Aku berkata dengan nada tenang, "Kevin, karena kamu sudah memecatku, wajar saja kartu VIP milikku nggak bisa dipakai perusahaan lagi. Bukankah itu logika bisnis yang sangat standar?"Wajah Kevin langsung pucat pasi. "Kamu ... nggak bisa melakukan ini."Lia yang berdiri di dekat Kevin malah membuat keadaannya menjadi makin buruk. Dia melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya, lalu berkata dengan nada menuduh, "Karina, kamu harusnya nggak melibatkan perasaan pribadimu. Ini investasi yang sangat penting untuk kelangsungan hidup perusahaan. Kenapa kamu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status