Compartilhar

Bab 4

Autor: Echo
Keesokan paginya, Linda dari bagian humas menghampiriku begitu aku tiba di kantor.

"Karina, aku mau bicara denganmu," kata Linda dengan ekspresi canggung.

Setelah itu, Linda mengeluarkan sebuah dokumen dari tas kerjanya dan berkata sambil menghindari tatapanku, "Perusahaan memutuskan untuk menempatkanmu dalam masa observasi selama satu minggu. Posisimu ke depannya akan ditentukan berdasarkan sikapmu selama seminggu ini."

"Observasi?"

Aku tertawa dengan pelan. "Maksudmu, jabatanku diturunkan dan dirumahkan tanpa gaji."

Linda tersipu. "Karina, kamu tahu aku sebenarnya nggak mau melakukan ini, tapi ini keputusan dari atasan ...."

Aku menyela, "Aku mengerti. Jadi, siapa yang ambil alih klien-klienku?"

Linda segera menjawab, "Lia, dia sudah resmi dipromosikan jadi Direktur Klien Senior dan akan bertanggung jawab atas semua akun klien besar. Jadi, kamu harus transfer semua sumber daya klienmu saat ini padanya."

Direktur Klien Senior? Kevin sepertinya bukan hanya memberikan kantorku pada Lia, dia juga memberikan jabatan baru pada Lia.

Saat kembali masuk ke kantorku yang dulu, aku hampir saja tidak mengenalinya. Lukisan abstrak di dinding sudah diganti dengan dekorasi seni yang norak. Perabot minimalis yang aku pilih dengan saksama pun lenyap, diganti dengan perabot berlapis emas yang palsu. Seluruh ruangan itu kini terlihat seperti ruang tamu orang kaya baru.

Lia duduk di balik meja dengan setelan Chanel yang baru dan membolak-balikkan berkas klien yang kutinggalkan. Tanpa mengangkat kepala, dia bertanya, "Kamu sudah datang? Duduklah."

Aku duduk di kursi tamu dan berpikir permainan kekuasaan kecil ini ... menarik juga.

"Aku butuh penjelasanmu soal beberapa klien penting. Terutama yang namanya Arthur Maulana ini, ceritakan apa yang disukainya," kata Lia sambil mengeluarkan satu berkas.

Arthur Maulana? Senyuman kecil muncul di bibirku, lalu menganggukkan kepala. "Arthur ini sangat penting. Dia penggemar berat golf dan sering bermain di Klub Wesaling."

Mata Lia berbinar, lalu buru-buru mencatat informasi itu.

Semua itu benar, Arthur Maulana memang memiliki hobi seperti itu. Hanya saja, aku tidak memberitahu Lia bahwa Arthur Maulana adalah pamanku dan dia tertarik untuk bekerja sama dengan kami murni karena ingin membantuku. Aku juga tidak memberitahu Lia bahwa Klub Wesaling adalah salah satu bisnis keluargaku.

Lia menutup buku catatannya dengan ekspresi puas. "Sempurna. Aku yakin sekarang aku bisa menutup kesepakatan ini. Karena kamu sangat kooperatif dan suasana hatiku sedang bagus, aku mungkin akan mengatakan yang baik-baik tentangmu pada Kevin."

Aku mengabaikan kesombongan Lia yang kekanak-kanakan dan langsung menuju ke Klub Wesaling.

Saat melihatku, Robert, manajer klub, segera menghampiriku. "Bu Karina, hari ini ada yang bisa aku bantu?"

"Robert, aku mau buat beberapa perubahan pada keanggotaanku. Mulai hari ini, nggak ada yang boleh masuk ke klub menggunakan kartu VIP milikku atau atas namaku. Kecuali aku hadir secara langsung," kataku.

Robert menganggukkan kepala. "Baik. Aku akan segera informasikan ke resepsionis dan keamanan."

Aku melanjutkan, "Selain itu, tolak saja kalau mereka coba mengajukan keanggotaan baru untuk masuk."

"Aku mengerti, Nona Karina. Kami akan menegakkan aturan ini dengan ketat," balas Robert.

Setelah mengurus semua di klub, aku menunggu sopirku di tepi jalan.

Senja di Nubaya terlihat sangat indah. Daun-daun di pohon juga mulai menguning dan para pejalan kaki lalu-lalang dengan mengenakan jaket tipis.

Saat itu, sebuah Maybach hitam tiba-tiba berbelok di tikungan dan berhenti di sampingku. Aku mengenali mobil itu karena itu adalah mobilnya Kevin. Saat jendela mobil itu diturunkan, terlihat Kevin dengan senyuman palsunya dan Lia duduk di kursi penumpang dengan mengenakan setelan Chanel barunya sambil merapikan lipstiknya.

Lia sengaja menurunkan jendela mobil dan berkata dengan nada yang pura-pura terkejut, "Wah, wah, Karina! Kok kamu di sini? Tunggu bus ya?"

Kevin ikut tertawa. "Lia, jangan begitu. Karina mungkin hanya sedang jalan-jalan."

Lia berkata dengan nada pamer, "Kami mau pergi ke Lembur Karing untuk merayakan aku berhasil ambil alih klien terbesar perusahaan. Besok Arthur Maulana akan menandatangani kontrak denganku, investasi sebesar satu triliun dua ratus miliar."

"Oh ya, jangan lupa bayar dua miliar dua ratus lima puluh juta itu dalam tiga hari. Atau kami terpaksa memotongnya dari dividen sahammu," tambah Lia, lalu kembali menaikkan jendelanya.

Maybach itu pun memelesat pergi dengan raungan mesin dan meninggalkanku dalam kepulan asap knalpot. Aku menatap mobil itu menghilang di ujung jalan, lalu ekspresiku berubah menjadi dingin.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 12

    Lia menangis makin keras sampai ingus dan air matanya bercampur membasahi wajahnya. "Aku tahu aku salah. Aku benar-benar tahu. Tolong maafkan aku, aku nggak akan mengulanginya lagi."Aku menatap keadaan Lia yang menyedihkan dengan tatapan tanpa rasa iba sedikit pun. Aku tertawa pelan sekaligus tajam. "Kamu tahu kamu salah? Kamu tahu apa yang sudah kuberikan untuk perusahaan itu? Aku sampai pakai puluhan miliar dari uang pribadiku, manfaatkan koneksi elite dari keluargaku selama sepuluh tahun ini, dan bekerja siang malam demi perusahaan itu. Dan kamu?"Aku menatap Lia yang berlutut di tangga dan berkata dengan suara yang makin dingin, "Kamu menganggap semua kontribusiku sebagai sesuatu yang wajar. Kamu memfitnahku dan mencoba menghancurkan reputasiku di online. Sekarang setelah kamu kehilangan pekerjaan dan reputasi kreditmu hancur, kamu malah merasa kamu dirugikan."Para reporter mendengarkan cerita itu dengan terpukau dan kamera mereka terus tertuju pada kami.Dengan suara yang terden

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 11

    Menghadapi pertanyaan yang tanpa ampun dari para reporter, Lia benar-benar panik. Kali ini, air matanya bukan hanya akting lagi, melainkan ketakutan yang nyata. Dia berkata dengan terbata-bata, "Aku ... bisa menjelaskan ...."Seorang reporter dari Jurnal Megah yang bersikap tanpa ampun.[ Menjelaskan apa? Bagaimana kamu menjebak Bu Karina dan mencuri pekerjaan serta kantornya? ]Kolom obrolan dari siaran langsung itu kini berubah menjadi tempat semburan kemarahan.[ Dua orang ini menjijikkan sekali. ][ Mereka ambil uangnya dan pakai koneksinya, lalu menusuknya dari belakang. ]Aku duduk di kafe sambil menonton kedua orang yang ada di layar itu merasa gelisah, lalu menyesap latte dengan anggun.Saat itu, pintu ruang bawah tanah tiba-tiba dibanting terbuka. Sekelompok orang yang dipimpin seorang pria paruh baya menerobos masuk dan langsung menunjuk Kevin dengan marah."Kevin! Dasar pembohong! Mana utangmu yang tujuh miliar lima ratus juta itu?"Makin banyak pemasok yang berdesakan masuk

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 10

    Keesokan sorenya, Kevin dan Lia melakukan siaran langsung online. Latar belakangnya adalah dinding beton yang suram dan mereka duduk di belakang meja lipat yang reyot.Lia tidak memakai riasan, matanya bengkak serta merah, dan terlihat kelelahan. Dia menahan tangisnya saat sedang berbicara ke kamera. "Aku hanya gadis biasa yang baru lulus kuliah dan berusaha bertahan di dunia yang kejam ini. Saat aku temukan kejanggalan di perusahaanku dan jalankan tugasku melaporkannya, aku malah terima pembalasan gila dari seorang eksekutif yang kaya dan berkuasa ...."Komentar di siaran itu langsung melaju secepat kilat.[ Aku kasihan banget dengannya. Kaum kapitalis memang paling buruk. ][ Ini contoh penindasan beda kelas yang sempurna. ][ Anak orang kaya harus lenyap semua. ][ Aku dukung Lia. Kita harus menuntut keadilan untuk rakyat biasa. ]Aku menatap layar yang dipenuhi pesan-pesan penuh amarah itu dengan ekspresi tetap tenang seperti biasanya.Kevin yang memainkan perannya pun berkata deng

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 9

    Saat ini, ponselku sudah dibanjiri dengan pesan. Kevin, Lia, karyawan lainnya, dan bahkan resepsionis, semuanya meneleponku.Isi dari pesan Kevin adalah yang paling panik. Dimulai dengan pesan mengancam dengan marah, lalu berubah menjadi memohon dengan putus asa dan akhirnya merengek memohon belas kasihan.[ Karina, kamu gila ya? Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? ][ Polisi bilang kami masuk tanpa izin? Apa maksudnya ini? ][ Tolong, hentikan mereka. Aku akan memberimu apa pun yang kamu mau. ][ Kita ini teman kuliah. Kamu nggak boleh lakukan ini padaku. ][ Karina, aku salah. Aku tahu aku sudah salah. Lepaskan aku kali ini saja, aku akan lakukan apa pun. ]Kevin sepertinya sudah tahu dia tidak bisa bernegosiasi denganku lagi, sehingga sekarang dia memainkan kartu simpati.Yang menariknya lagi, pamanku juga bergerak dengan cepat. Grup Maulana secara resmi dan terbuka mengumumkan pembatalan seluruh minat investasi pada perusahaannya Kevin. Bukan hanya itu, mereka juga memasukkan p

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 8

    Melihat Kevin terdiam, aku berpaling dengan jijik."Om Arthur, aku sudah memutuskan untuk mendirikan perusahaanku sendiri. Mulai sekarang, aku nggak ada hubungan apa pun lagi dengan mereka," kataku sambil tersenyum.Rasa bangga terlintas di tatapan Arthur saat mendengar perkataan itu, lalu mendengus. Dia menoleh ke arah Kevin dan berkata dengan nada dingin, "Baiklah. Sekarang aku secara resmi mengumumkan Grup Maulana menarik seluruh minat investasi dari perusahaanmu. Selain itu, aku akan beri tahu semua kolegaku di Jalan Megah untuk masukkan kamu ke daftar hitam permanen kami."Wajah Kevin langsung pucat pasi. Dia membuka mulut seolah-olah ingin berbicara, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.Lia yang berdiri di samping pun gemetar karena dia akhirnya tahu betapa fatal kesalahan yang telah diperbuatnya.Arthur merapikan mansetnya dengan anggun, lalu menawarkan lengannya padaku. "Keponakanku, ayo kita pergi makan siang. Aku mau dengar rencanamu tentang perusahaan baru ini."Aku merai

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 7

    Aku tidak menjawab pertanyaan Kevin. Aku malahan membuka pintu mobilku, lalu perlahan-lahan keluar agar terlihat jelas oleh semua orang.Saat melihatku, Kevin mengira aku datang untuk menyelamatkannya. Dia langsung menutup telepon, lalu segera berjalan ke arahku dan berusaha meraih lenganku. "Karina, kamu akhirnya datang. Cepat bilang pada manajer untuk membiarkan kami ...."Aku menepis tangan Kevin dengan dingin, lalu melangkah mundur. Aku berkata dengan nada tenang, "Kevin, karena kamu sudah memecatku, wajar saja kartu VIP milikku nggak bisa dipakai perusahaan lagi. Bukankah itu logika bisnis yang sangat standar?"Wajah Kevin langsung pucat pasi. "Kamu ... nggak bisa melakukan ini."Lia yang berdiri di dekat Kevin malah membuat keadaannya menjadi makin buruk. Dia melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya, lalu berkata dengan nada menuduh, "Karina, kamu harusnya nggak melibatkan perasaan pribadimu. Ini investasi yang sangat penting untuk kelangsungan hidup perusahaan. Kenapa kamu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status