LOGINAya meremas jemari Tina, menyalurkan keyakinan yang sebenarnya juga tengah ia bangun di dalam hatinya sendiri. Tatapannya tajam, tidak ada lagi keraguan seperti beberapa menit yang lalu."Bi, dengarkan aku. Ini bukan sekadar surat atau flashdisk biasa. Di dalam sini ada bukti rencana sabotase terhadap proyek besar Mas Ibra. Ada rekaman suara, ada dokumen strategi yang mereka curi. Jika aku tidak bergerak sekarang, New World Development akan menghancurkan Bagaskara Group sebelum Mas Ibra sempat melawan," bisik Aya dengan nada mendesak.Tina menelan ludah, wajahnya masih menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Tapi Nyonya sedang hamil. Di luar sana sedang tidak aman sejak masalah Nona Beatrice itu mencuat. Tuan Ibra pasti akan marah besar kalau tahu Nyonya keluar tanpa izinnya.""Dia akan lebih marah pada dirinya sendiri jika dia kehilangan segalanya hari ini, Bi. Aku nggak bisa hanya diam saja melihat suamiku dihancurkan dari dalam. Tolong, panggilkan Pak Santo. Minta dia siapkan dua mob
Aya terpaku. Matanya melebar, menatap nanar pada deretan kalimat yang tertulis tapi saat ia kembali melanjutkan membaca. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ekspresi tegar yang sedari tadi ia pertahankan runtuh seketika, berganti dengan raut kaget yang bercampur dengan rasa tidak percaya yang luar biasa."Bunda?" Putra menyentuh pipi ibunya yang mendadak pucat. "Bunda kenapa? Isinya jelek, ya? Apa Om Niko nakal dan bikin Bunda sedih?" tanya bocah itu dengan polosnya.Aya tidak segera menjawab. Ia masih menatap surat di tangannya. Lalu meletakkan surat itu ke meja kaca di depannya, dan meraih kembali kotak beludru hitam."Bunda?" Putra kembali menatap ibunya.Dengan tangan gemetar, Aya menarik sesuatu yang menyembul di dalam kotak. Saat bagian itu ditarik, ada sebuah ruangan kecil yang menyimpan benda kecil nan pipih berwarna silver metalik."Ini...." gumam Aya pelan, mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam kotak."Itu apa, Bun?" tanya Putra sembari menatap heran pada flashdisk di tanga
Aya dan Tina spontan menoleh ke arah Putra yang kini berlari ke arah mereka. Bocah lima tahun itu tampak berlari dengan tergesa-gesa. Bahkan seragamnya belum ganti. Sebuah kotak beludru warna hitam pun ada di dalam genggaman salah satu tangannya."Bunda!" seru Putra lagi saat sudah berada di hadapan sang ibu."Ada apa, Sayang?" tanya Aya lembut. Wanita itu mencoba tetap terlihat tegar di hadapan anak sulungnya.Putra semakin mendekat dan kini duduk di samping sang ibu. Bocah itu menoleh menatap Tina, lalu menoleh menatap ibunya lagi."Bunda, Ayah belum pulang, ya?" tanya Putra."Belum, Sayang. Mungkin... Ayah lagi sibuk," jawab Aya memberikan alasan yang mudah dimengerti oleh anaknya."Kalau begitu kita jemput Ayah di kantor, Bun," usul bocah itu.Aya mengusap rambut Putra dengan lembut, mencoba menyembunyikan getar di tangannya. Namun, tatapan Putra tidak tertuju pada ibunya, melainkan pada Tina yang masih berdiri mematung di dekat mereka. Ada semacam ketegasan yang tidak biasa di ma
Tina menatap wajah cantik majikannya yang tampak sedikit pucat karena kelelahan baik fisik maupun pikiran. "Kalau teman dekat, Tuan hanya dekat dengan Pak Samuel. Tapi saya ragu kalau Pak Samuel yang berkhianat. Bagaimana pun juga, mereka sudah seperti kakak adik, Nyonya."Aya mengangguk. "Aku juga sepemikiran, Bi. Samuel selalu ada untuk Mas Ibra."Tina ikut mengangguk menanggapi. "Terus... seingat saya teman dekat yang lain adalah Pak Niko. Tapi mereka tidak bisa dibilang terlalu dekat. Lalu... bukan teman tapi orang yang dulu cukup akrab dengan Tuan, umurnya tidak sebaya dengan Tuan Ibra...." Aya kembali menatap wajah Tina yang sudah tua. Tampak dari keriput yang tercipta pada lipatan mata dan keningnya. Namun, Tina memiliki wajah yang teduh dan menenangkan."Dulu sebelum Tuan Besar, Tuan Ronal meninggal, beliau dekat dengan beberapa orang. Tapi yang paling dekat adalah Pak Hengki Pramana. Beliau adalah sahabat karib Tuan Ronal dan juga cukup akrab dengan Tuan Ibra," jelasnya.Aya
Samuel mundur satu langkah, tangannya terangkat di depan dada. "Pak, saya bersumpah demi nyawa saya. Saya tidak mungkin melakukan ini. Saya sudah bekerja bersama Anda selama bertahun-tahun!""Tapi pesan misterius itu, Sam... pesan yang bilang ada pengkhianat di dekatku," cicit Ibra sembari mengepalkan kedua tangannya. Amarah mulai membakar akal sehatnya. "New World Development tahu persis kelemahan psikologis mitra kita. Mereka menyerang dengan isu lahan di saat yang sangat tepat. Siapa yang memberikan celah itu kalau bukan orang dalam yang mengatur jadwal komunikasi?""Pak Ibra. Saya juga bingung, Pak! Saya berani diaudit, silakan periksa semua rekening saya, ponsel saya, bahkan tempat tinggal saya!" Samuel terdengar putus asa.Ibra menatap wajah sedih Samuel. Pria itu pun terdiam, teringat ucapan Aya yang selalu diucapkan saat ia mulai mencurigai orang yang selalu ada untuknya.'Tetaplah waspada, tapi jangan biarkan rasa curiga itu merusak kinerja timmu.'Kalim
Sementara itu, suasana di kantor pusat Bagaskara Group berbanding terbalik 180 derajat. Langit siang hari di kota itu yang mendung seolah menjadi latar belakang yang sempurna untuk kekacauan yang akan meledak.Pukul dua siang. Hanya tersisa kurang dari dua puluh empat jam sebelum 'grand launching' proyek besar dan terbaru Bagaskara Group yang disusun oleh tim Ibra, serta merupakan ide dari Aya dan Ibra. Sebuah mega-proyek superblok ramah lingkungan yang diprediksi akan merevolusi pasar properti Asia Tenggara.Saat Ibra baru saja menyesap teh camomile buatan Aya, tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya dihantam terbuka tanpa ketukan.Brak!Ibra tentu saja terkejut. Dirinya ingin marah atas ketidak sopanan Samuel. Namun saat melihat Samuel masuk dengan wajah sepucat kertas, napasnya memburu, dan tablet di tangannya gemetar. Pria itu mengurungkan niatnya dan kini malah berubah cemas."Pak Ibra... kita punya masalah besar. Masalah yang sangat buruk." Suara Samuel tercekat."Tenangkan dirimu,
Aya memejamkan mata. "Nggak... Kita sudah pernah ke sini lagi, kan?" Ia menoleh menatap Ibra."Hm." Ibra memutar tubuhnya menghadap Aya. "Dan malam itu adalah malam pertama bagi kita berdua. Aku memberimu uang itu, dan kamu memberiku malam yang tidak pernah bisa kulupakan...."Aya membulatkan kedua
"Apa ini?" tanya Ibra."Putra juga nggak tahu. Nanti minta tolong kasihin ke Bunda, ya, Yah?" jawab Putra."Memangnya bukan dari kamu?"Putra menggeleng pelan. "Bukan, Ayah. Ini hadiah dari Om Hendra."Ibra menatap hadiah kecil yang muat dalam genggaman tangannya itu dengan tatapa
Terdengar helaan napas berat di belakang tubuh Aya. Wanita itu merasa takut. Ia takut pertanyaannya memancing emosi sang Presdir dan membuatnya tersiksa dengan percintaan kasar seperti beberapa waktu yang lalu."Ya," jawab Ibra. "Memang begitu. Di setiap generasi di keluargaku hanya akan terlahir s
Aya mendengus pelan mendengar hinaan tersebut. "Tenang saja, Tu-an. Aku mungkin tidak punya uang sebanyak dirimu, tapi aku tahu cara memanusiakan manusia," sindirnya sengaja.Ibra hanya membalas dengan tatapan tajam sebelum mereka bertiga diarahkan oleh pelayan menuju ruang VIP yang telah dip







