LOGINSuasana di lantai eksekutif Bagaskara Group terasa mencekam. Ibra berdiri di depan jendela besar ruangannya, menatap gedung-gedung tinggi dengan rahang yang mengeras. Di belakangnya, beberapa staf IT tertunduk lesu.
"Bagaimana mungkin informasi soal proyek kita bisa dicuri dalam waktu kurang dari dua belas jam?" Suara Ibra rendah, namun penuh penekanan yang mengancam."Mohon maaf, Pak Presdir. Tapi tidak ada tindakan dan akses yang mencurigakan selama beberapa minggu terakhir ini. BahKedua mata Ibra terpaku pada layar ponsel yang menyala di genggamannya. Di bawah temaram lampu tidur yang kuning keemasan, deretan kalimat di kolom riwayat pencarian browser milik Aya seolah menamparnya. Membuat napas pria itu tertahan. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena takut ketahuan mengintip, melainkan karena rasa sesak yang tiba-tiba datang menghimpit rongga dadanya.Di sana, di baris paling atas, tertulis sebuah pertanyaan yang diketikkan Aya beberapa hari lalu.[Apakah suami yang tidak pernah memanggil sayang memiliki perasaan pada istrinya?]Ibra menelan ludah yang terasa getir. Jemarinya yang sedikit gemetar menggulir layar itu ke bawah, berharap menemukan pencarian tentang tas, kosmetik, atau perlengkapan bayi yang biasa dicari ibu-ibu hamil. Namun, yang ia temukan justru rentetan pertanyaan lain yang hampir sama, yang ditulis dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.[Cara menjadi istri yang baik agar suami bahagia.]Setiap kalimat terasa seperti pisau
Aya menatap suaminya dengan tatapan haru. Matanya mulai berkaca-kaca menahan letupan kebahagiaan yang membuncah di dalam dada. Sikap Ibra yang begitu cekatan dan perhatian dalam mempersiapkan kelahiran anak mereka benar-benar menyentuh hatinya. Ini adalah pertama kalinya setelah enam tahun lamanya, akhirnya ia bisa merasakan perhatian dari seorang suami."Mas... terima kasih banyak, ya. Kamu selalu memikirkan segalanya dengan matang. Aku merasa sangat beruntung menjadi istrimu," bisik Aya tulus, memeluk pinggang Ibra dengan erat.Ibra membalas pelukan itu, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aya yang beraroma bunga lembut dan menenangkan. "Aku yang beruntung memilikimu, Aya. Sudah menjadi kewajibanku untuk memastikan kamu dan anak-anak kita mendapatkan yang terbaik. Apa lagi ini belum cukup untuk menebus ketidakhadiranku di kehamilan pertamamu," paparnya.Mereka berpelukan dalam keheningan yang sarat akan rasa cinta untuk beberapa saat. Kamar itu terasa begitu hangat, dipenuhi oleh
Malam pun tiba menyelimuti kediaman keluarga Bagaskara. Suasana rumah yang megah itu berangsur sepi setelah Putra beranjak ke kamarnya untuk tidur. Sementara Lili juga sudah kembali ke kasur kucingnya yang ada di pojokan.Di atas ranjang berukuran king size, Ibra bersandar pada kepala ranjang dengan sebuah buku di tangannya. Namun, tatapan matanya sama sekali tidak fokus pada deretan kalimat yang tertulis di sana. Pikirannya masih tertuju pada ucapan Putra siang tadi di ruang tengah.'Tiga hari lagi Bunda ulang tahun. Ayah siapin hadiah buat Bunda. Terutama apa yang Bunda suka. Kan Ayah cinta sama Bunda.'Kalimat polos dari putra sulungnya itu terus terngiang, berputar-putar di dalam kepalanya. Ibra menghela napas panjang, menutup buku di tangannya dengan pelan lalu meletakkannya di atas nakas. Ia melirik ke samping, tempat di mana Aya sedang duduk bersandar sembari mengelus perutnya yang kian membuncit.Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyusup ke relung hati Ibra. Sebagai seorang su
Kedua mata Lia membulat saat mendengar percakapan dua pemuda dan pemudi di hadapannya. Wanita itu kini kembali tersadar dari pikiran-pikiran di dalam kepalanya. "Cukup!" sentaknya tiba-tiba. Tatapannya yang tadinya bingung kini berubah tajam kembali."Enak saja kamu mengambil untungnya saja. Kalian pikir setelah kalian bersenang-senang, aku akan merawat kalian? Jangan bermimpi! Aku sudah cukup sakit melahirkan anak nggak berguna ini!" cecar Lia tajam.Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena sisa amarah dan ketakutan, Lia meraih pulpen dari tangan Niko. Tanpa membaca lebih detail lagi, ia menggoreskan tanda tangannya di atas materai yang sudah menempel di surat tersebut.Sret sret sretBegitu tanda tangan itu selesai dibuat, Niko segera menarik surat tersebut. Ia memeriksanya sejenak, memastikan semuanya sah, lalu memasukkannya kembali ke dalam map cokelat bersama dengan surat keterangan medisnya. Sementara dokumen bukti kejahatan ayah dan kakaknya sengaj
Lia menelan ludah yang terasa getir. Ada kilat kepanikan di matanya, bukan karena mengkhawatirkan nyawa anaknya, melainkan karena ia sadar bahwa harapan terakhirnya kini sedang di ujung tanduk."Kalau Mamah menuntutku untuk bertanggung jawab sebagai anak keluarga Pramana, maka sesuai hukum, keluarga Pramana juga harus bertanggung jawab penuh atas diriku. Aku menuntut kompensasi atas seluruh pengabaian masa kecilku, dan aku menuntut keluarga ini menanggung seluruh biaya pengobatanku dan operasi yang nilainya milyaran rupiah," ancam Niko dengan nada yang menusuk."Milyaran rupiah?! Dari mana Mamah punya uang sebanyak itu sekarang?!" seru Lia panik. "Semua aset Papah dan Liam dibekukan oleh polisi!""Aku tahu," Niko tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kemenangan pahit. "Dan aku juga bisa saja menyebarkan semua dokumen pengabaian anak ini, beserta rekam medis ini ke media massa. Bayangkan bagaimana tanggapan publik dan sisa kolega bisnis kalian saat mengetahui bahwa keluarg
Lia tertegun sejenak mendengarkan nada anak bungsunya yang tak biasa. Baru pertama kali ini ia mendengar Niko bicara dingin padanya dan ia sedikit terkejut. Namun ego tingginya segera mengambil alih kembali."Apa maksudmu bertanya seperti itu? Jawab saja pertanyaan Mamah! Kapan kamu akan membebaskan Papah dan kakakmu?!" bentak Lia.Niko melepaskan pelukan tangan Gina di lengannya dengan lembut, memberikan senyuman tipis yang mengisyaratkan agar kekasihnya tetap tenang. Niko kemudian melangkah menuju meja kaca di depan sofa, lalu meletakkan tas kerja kulit hitamnya di sana. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia membuka risleting tas tersebut dan mengeluarkan sebuah map tebal berwarna cokelat tua yang sejak semalam telah ia persiapkan tanpa sepengetahuan siapa pun.Klak!Niko menjatuhkan pelan map tebal itu di atas meja kaca. Namun gerakan itu mampu membuat vas bunga kecil di atas meja sedikit bergetar."Aku menolak," ucap Niko tegas, menatap lurus ke dalam manik mata ibunya. "Aku tidak
"Ah, maaf...." cicit Aya yang tersadar akan tindakannya. Wanita itu menegakkan badannya dan melepaskan genggaman tangannya.Ibra hanya diam dengan ekspresi datar. Membuat suasana semakin canggung. Aya cepat-cepat menoleh ke jendela dan membiarkan dirinya memandangi lampu jalanan yang mulai menyala.
Bertambah satu hari. Aya tak bisa tidur sama sekali. Terlihat dari wajah lelahnya dan juga lingkar hitam di bawah kedua matanya. Wanita itu terus memikirkan keberadaan anaknya. Dan Ibra sama sekali tak bisa dihubungi.Wajah Aya pucat pasi, seperti tanpa tenaga. Bahkan ada lingkar hitam yang m
Seseorang turun dari sebuah mobil mewah. Aya menyadari kehadirannya dan segera mendongak. Kedua matanya membulat saat melihat siapa yang saat ini berlari ke arahnya."Aya!"Sebelum wanita itu sempat merespon, tubuhnya dipeluk erat."Aya... astaga... Aku benar-benar rindu padamu, Ay... Bagaimana kab
Pertanyaan polos namun tajam dari bocah berusia lima tahun itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan di dalam mobil mewah tersebut. Ibra, pria yang biasanya memiliki jawaban untuk segala negosiasi bisnis bernilai miliaran, kini mendadak diam. Lidahnya kelu, dan tenggorokan







