LOGINSuasana di lantai eksekutif Bagaskara Group terasa mencekam. Ibra berdiri di depan jendela besar ruangannya, menatap gedung-gedung tinggi dengan rahang yang mengeras. Di belakangnya, beberapa staf IT tertunduk lesu.
"Bagaimana mungkin informasi soal proyek kita bisa dicuri dalam waktu kurang dari dua belas jam?" Suara Ibra rendah, namun penuh penekanan yang mengancam."Mohon maaf, Pak Presdir. Tapi tidak ada tindakan dan akses yang mencurigakan selama beberapa minggu terakhir ini. BahIbra terdiam. Ia masih terlihat menahan keterkejutannya itu pada salah satu orang dekatnya. Mengetahui bahwa sahabat mendiang ayahnya telah berkhianat, membuatnya seolah tak percaya."Kita akan tahu setelah dia diproses oleh hukum," jawab Ibra dengan kedua tangan terkepal erat.Aya menggenggam erat tangan Ibra. "Iya, Mas. Kita serahkan mereka pada yang berwajib."Dengan mengangguk tanda setuju, Ibra menyimpan flashdisk tersebut dan juga surat dari Niko. Beruntung Ibra tidak menyalahkan Samuel berkat nasihat istrinya.Ibra menarik Aya ke dalam pelukannya lagi. Ia kemudian mengecup kening istrinya cukup lama. "Terima kasih, Sayang. Kamu sudah sangat berani membawa ini padaku. Sekarang, biarkan aku yang menyelesaikan sisanya."Pelukan pun diurai. Ibra menatap wajah sang istri dan mengusap lembut pipi Aya. Ia kemudian duduk tegak. Sementara Aya mengusap perutnya.Pria itu meraih ponselnya untuk memanggil Samuel. "Segera masuk ke ruanganku, sekarang!" perintahnya.Tak lama kemudian, Samuel
"Aku sudah memindahkan isinya ke tablet ini agar lebih mudah dilihat. Kamu harus lihat video dan beberapa dokumen di dalamnya."Ibra mengambil tablet dari tangan Aya. Layarnya menampilkan sebuah folder bernama 'Pramana-Project'. Dengan jari yang masih kaku, Ibra menekan ikon video pertama.Video itu tampak diambil secara sembunyi-sembunyi dari sudut sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang kerja mewah. Kemungkinan besar merupakan kantor pribadi Hengki di kediamannya. Di sana, terlihat Hengki sedang duduk bersama seorang pria yang Ibra kenali sebagai CEO New World Development, pria yang tampil di berita saat ini. Bukan hanya mereka saja, ada satu orang lagi yang merupakan anak sulung Hengki Permana, kakak kandung Niko, Liam."Jangan khawatir." Suara Hengki terdengar jelas di speaker tablet. "Kita pasti bisa menghancurkan mereka," lanjutnya.Lalu Liam ikut bersuara setelah ayahnya. "Kepala IT Bagaskara memang ketat, tapi mereka punya satu celah yaitu loyalitas buta d
Tangan Ibra sedikit gemetar saat membuka lipatan kertas di tangannya. Aroma kertas itu biasa saja, namun pesan yang tertulis di dalamnya terasa seperti hantaman palu di dalam dadanya. Ia mulai membaca baris demi baris tulisan tangan Niko yang tampak terburu-buru namun masih bisa terbaca dengan jelas.[Untuk Kak Ibra dan Kak AyaSemoga surat ini sampai di tangan kalian tepat pada hari di mana yang seharusnya. Aku tidak tahu apakah kalian akan percaya atau tidak pada pesanku ini. Aku sendiri tidak berhak meminta kepercayaanmu. Tapi tolong, demi keselamatan kalian, terutama Kak Aya, Putra, dan anak kedua kalian yang sedang dikandung Kakak Ipar, bacalah ini sampai selesai.]Ibra menghela napas. Ia menoleh ke arah Aya sejenak lalu mengusap perut istrinya dengan lembut, sebelum kembali membaca surat dari Niko.[Aku tahu jika Kakak sedang mencari keberadaan orang di balik Beatrice. Orang yang kemungkinan besar ingin mencoba meruntuhkan Bagaskara Group. Kakak mencurigai kompetitor jauh, Kakak
Suasana di lantai eksekutif Bagaskara Group terasa mencekam. Ibra berdiri di depan jendela besar ruangannya, menatap gedung-gedung tinggi dengan rahang yang mengeras. Di belakangnya, beberapa staf IT tertunduk lesu."Bagaimana mungkin informasi soal proyek kita bisa dicuri dalam waktu kurang dari dua belas jam?" Suara Ibra rendah, namun penuh penekanan yang mengancam."Mohon maaf, Pak Presdir. Tapi tidak ada tindakan dan akses yang mencurigakan selama beberapa minggu terakhir ini. Bahkan keamanan sudah diperketat. Kami juga memastikan tidak ada informasi yang bocor," jelas kepala tim IT dengan suara gemetar."Tidak bocor? Lalu kenapa perusahaan baru bisa mempunyai ide proyek yang sama persis dengan kita? Bahkan mereka merilisnya lebih dulu? Apa kalau tidak bocor?" sentak Ibra.Semua orang terdiam. Termasuk kepala tim IT. Samuel yang berdiri di belakang sang Presdir pun juga memilih diam.Ibra memejamkan mata. Lagi-lagi ada yang berani berkhianat setelah semua hal
Aya meremas jemari Tina, menyalurkan keyakinan yang sebenarnya juga tengah ia bangun di dalam hatinya sendiri. Tatapannya tajam, tidak ada lagi keraguan seperti beberapa menit yang lalu."Bi, dengarkan aku. Ini bukan sekadar surat atau flashdisk biasa. Di dalam sini ada bukti rencana sabotase terhadap proyek besar Mas Ibra. Ada rekaman suara, ada dokumen strategi yang mereka curi. Jika aku tidak bergerak sekarang, New World Development akan menghancurkan Bagaskara Group sebelum Mas Ibra sempat melawan," bisik Aya dengan nada mendesak.Tina menelan ludah, wajahnya masih menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Tapi Nyonya sedang hamil. Di luar sana sedang tidak aman sejak masalah Nona Beatrice itu mencuat. Tuan Ibra pasti akan marah besar kalau tahu Nyonya keluar tanpa izinnya.""Dia akan lebih marah pada dirinya sendiri jika dia kehilangan segalanya hari ini, Bi. Aku nggak bisa hanya diam saja melihat suamiku dihancurkan dari dalam. Tolong, panggilkan Pak Santo. Minta dia siapkan dua mob
Aya terpaku. Matanya melebar, menatap nanar pada deretan kalimat yang tertulis tapi saat ia kembali melanjutkan membaca. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ekspresi tegar yang sedari tadi ia pertahankan runtuh seketika, berganti dengan raut kaget yang bercampur dengan rasa tidak percaya yang luar biasa."Bunda?" Putra menyentuh pipi ibunya yang mendadak pucat. "Bunda kenapa? Isinya jelek, ya? Apa Om Niko nakal dan bikin Bunda sedih?" tanya bocah itu dengan polosnya.Aya tidak segera menjawab. Ia masih menatap surat di tangannya. Lalu meletakkan surat itu ke meja kaca di depannya, dan meraih kembali kotak beludru hitam."Bunda?" Putra kembali menatap ibunya.Dengan tangan gemetar, Aya menarik sesuatu yang menyembul di dalam kotak. Saat bagian itu ditarik, ada sebuah ruangan kecil yang menyimpan benda kecil nan pipih berwarna silver metalik."Ini...." gumam Aya pelan, mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam kotak."Itu apa, Bun?" tanya Putra sembari menatap heran pada flashdisk di tanga
Di depan ruang rapat, Samuel tampak gelisah. Meski ia sudah cukup menguasai materi dan masalah soal kerjasama ini, namun dirinya hanyalah seorang asisten. Sedangkan klien yang hadir berasal dari Jerman dan termasuk orang yang berpengaruh dalam dunia bisnis.'Tenanglah, Sam. Kita harus selesaikan in
Ibra kembali membuka kedua matanya dan menatapnya tajam. "Untuk apa?""Aku mau mengelap tubuhmu supaya panasnya turun. Kamu berkeringat dingin dan piyamamu basah," jelas Aya.Dengan gerakan pelan, Ibra membiarkan Aya membantunya membuka kancing baju. Saat handuk basah dan hangat itu menyentuh dada
Aya hanya mendengus melihat tingkah Ibra yang sok kuat, padahal tangannya masih sedikit gemetar saat memegang sendok. Ia memilih beranjak untuk mengambil gelas teh hangat yang ia bawa tadi."Minum ini setelah buburnya habis," ujar Aya sembari meletakkan gelas di meja nakas yang dekat dengan posisi
Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Aya keluar dengan tubuh segar. Dan ia sudah mengenakan kaos dan celana pendek yang menampilkan kaki jenjangnya.Wanita itu melangkah keluar. Rambutnya yang panjang digelung tinggi sehingga leher jenjangnya terlihat. Dan saat menutup pintu kembali, Aya melihat ke







