LOGINAya masih diam di tempatnya. Nampaknya para staf yang sedang mengobrol itu tidak menyadari keberadaannya. Dengan hati terluka, Aya segera melanjutkan langkahnya lalu menekan tombol lift dan turun menuju ke lobi.Aya menekan dadanya yang terasa sesak. Jika mengingat bagaimana dulu ia dan Ibra bertemu, pria itu juga langsung menawarkan harga fantastis untuk satu malam. Bahkan Ibra selalu tak bisa mengendalikan dirinya saat bercinta dan sering membuatnya kewalahan.Rasa ragu mengenai suaminya yang berubah kembali dingin pun mulai mengganggunya. 'Apa dia benar-benar tidak bisa menahan nafsunya? Apa... ada wanita lain yang lebih baik dan bisa memuaskannya dari pada aku?' gumam Aya dalam hati dengan perasaan terluka.Sikap Ibra yang semakin menjauh setelah bercinta dengannya yang sedang dalam kondisi hamil membuat pikiran wanita itu campur aduk. Ia merasa bahwa tuduhannya terhadap Ibra benar. Apa lagi ia tahu Ibra, pria itu selalu tidak bisa menahan nafsunya saat bercinta. Bahkan pernah be
"Silakan, Bu Aya. Ada yang perlu saya bantu? Anda mau minum air mineral atau teh?" tanya Sinta dengan sopan setelah membukakan pintu.Aya menoleh, mencoba mengulas senyum terbaik yang bisa ia berikan agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Nggak usah, Sinta. Terima kasih banyak. Aku cuma mau menaruh ini saja kok, setelah itu aku langsung pulang.""Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi kembali ke meja depan," pamit Sinta yang kemudian melangkah keluar dan menutup pintu kayu itu dengan rapat.Suasana hening seketika menyergap Aya. Suara bising dari luar ruangan langsung teredam sempurna. Hanya ada dengung halus dari sistem pendingin ruangan yang berpusat di langit-langit.Aya berjalan perlahan menuju sofa yang terletak di bagian tengah ruangan, tempat biasa Ibra duduk bersandar saat kepalanya penat. Dan juga... tempat yang dulu mereka gunakan untuk bercinta sebelum Ibra menikahinya.Dengan gerakan pelan, Aya meletakkan tas berisi kotak makan yang dibawanya di atas meja kaca. Di dalam sana, ay
Pagi harinya, saat Ibra bersiap-siap untuk pergi ke kantor, Aya berdiri di dekat pintu depan dengan perasaan yang berkecamuk. Ia mencoba mengabaikan rasa curiganya dari malam sebelumnya dan tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri."Mas, ini dasimu belum rapu," kata Aya lirih, melangkah mendekat untuk merapikan dasi Ibra.Ibra diam membiarkan Aya merapikan dasinya, namun pandangan matanya lurus menatap ke arah luar jendela, sama sekali tidak berniat menatap wajah istrinya. Begitu Aya selesai, Ibra langsung mengambil tas kerjanya."Kita sarapan," ajak pria itu tanpa menoleh."Iya, Mas."Aya mendongakkan wajahnya, sedikit memajukan bibirnya, menunggu kecupan sebelum pergi yang tidak pernah dilupakan oleh Ibra.Namun, Ibra hanya menatapnya sekilas dengan tatapan kosong. Pria itu mengulurkan tangannya, menepuk puncak kepala Aya dua kali dengan sangat kaku."Hari ini aku ada rapat sampai sore," ujarnya dengan nada suara yang datar, namun lembut. Ia lalu berbalik dan berjalan keluar kam
Suara lembut itu membuat Ibra menoleh. Aya menatapnya dengan lembut dan ada kesedihan yang tersirat di kedua mata bening wanita itu."Mas Ibra... Aku tahu kamu sedang menahan diri. Tapi aku istrimu, Mas. Kalau bukan aku, terus kamu mau menyentuh siapa?" tanya Aya dengan kedua mata mulai berkaca-kaca.Ibra merasa bersalah. Tindakannya justru membuat Aya sedih dan merasa teriksa. Pria itu mengubah posisi tidurnya jadi menghadap Aya. Lalu ia peluk wanita itu dengan erat."Maaf... Aku malah membuatmu sedih. Tapi aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya....""Mas khawatir pada kesehatanku dan anak kita, kan?" potong Aya. "Tapi dokter sudah bilang kalau kami baik-baik saja, Mas. Kalau Mas Ibra tidak mau melakukannya, justru aku merasa bersalah karena tidak berguna. Bukankah dulu kamu selalu tidak tahan saat melihatku?"Kalimat terakhir Aya yang berupa pertanyaan membuat Ibra kembali tertegun. Pria itu ingat betapa dulu ia selalu candu menyentuh Aya. Merasakan betapa nikmatnya saat mereka bertu
Lima belas menit kemudian, Ibra keluar dari kamar mandi dengan piyama abu-abu muda. Pria itu tanpa kata langsung berbaring di sisi ranjangnya. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang temaram. Aya perlahan ikut merebahkan tubuhnya di samping sang suami. Kamar itu kini diselimuti keheningan.Biasanya, sebelum tidur, mereka akan saling mendekat. Ibra akan menarik Aya ke dalam pelukannya, menjadikan lengannya sebagai bantal bagi sang istri, lalu mereka akan mengobrol tentang apa saja yang mereka lalui hari itu sebelum akhirnya terlelap. Namun malam ini, Ibra memilih untuk tetap berada di posisinya, menjaga jarak beberapa sentimeter dari Aya.'Ada yang aneh. Apa benar-benar ada masalah sama proyeknya?' gumam Aya bertanya-tanya dalam hati.Aya yang sebenarnya merindukan kehangatan Ibra, perlahan menggeser tubuhnya. Ia memberanikan diri untuk memeluk pinggang Ibra, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Ia bisa merasakan detak jantung Ibra yang stabil, namun tubuh p
Langkah kaki Ibra cepat saat ia melewati koridor gedung lembaga pemasyarakatan yang bernuansa abu-abu kusam itu. Bunyi pantulan sepatunya di atas lantai semen seolah bergema, berkejaran dengan detak jantungnya yang berpacu cepat akibat amarah yang membakar dadanya.Di belakangnya, Samuel berjalan dengan wajah yang tak kalah tegang. Asisten setianya itu beberapa kali mencuri pandang, khawatir jika sang atasan akan meledak sewaktu-waktu. Namun, Ibra masih diam. Ketegangan saat bertemu Hengki seolah mengunci mulutnya. Rasa tidak menyesal Hengki membuatnya semakin terbakar oleh amarah dan dendam.'Kamu benar-benar bajingan....' geramnya dalam hati.Kalimat yang dilontarkan Hengki bukan sekadar ejekan biasa. Itu adalah sebuah hinaan pada martabar keluarga dan istrinya. Entah dari mana Hengki tahu tentang bagaimana pernikahan mereka bermula, tentang masa lalunya dan Aya yang sudah disembunyikan rapat-rapat."Pak Ibra," panggil Samuel lirih saat mereka sudah berada di dalam
Aya mendengus pelan mendengar hinaan tersebut. "Tenang saja, Tu-an. Aku mungkin tidak punya uang sebanyak dirimu, tapi aku tahu cara memanusiakan manusia," sindirnya sengaja.Ibra hanya membalas dengan tatapan tajam sebelum mereka bertiga diarahkan oleh pelayan menuju ruang VIP yang telah dip
Ibra masih terdiam. Ia menerima cacian ibunya tanpa membela diri. Untuk pertama kalinya, ego sang Presdir yang arogan itu terusik oleh kenyataan pahit yang ia paparkan sendiri."Aku tidak tahu dia hamil, Mah," gumam Ibra pelan."Itu bukan alasan!" potong Dewi. "Seorang pria sejati akan memastikan w
Ibra tiba-tiba menginjak remnya. Hampir saja membuat mobil di belakangnya menabrak mereka. Beruntung mobil itu sudah berhasil mengerem dan mengumpat pada mereka."Apa yang-" Ucapan Aya terhenti. Ibra menoleh menatapnya. Lalu merebut ponsel Aya yang masih tersambung."Ay? Aya? Halo?" Terde
Tawa Ibra berhenti, tetapi kilatan di matanya justru semakin intens saat kembali menatap Aya. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit basah akibat pagutan tadi, sebuah gerakan yang membuat wajah Aya semakin memanas."Hyper?" Ibra mengulang kata tersebut dengan nada mengejek. "Mungkin kamu ben







