Share

Bab 29

Penulis: Rizu Key
last update Tanggal publikasi: 2026-01-12 18:00:35

"Mah? Kenapa kita tiba-tiba ke TK? Aku masih ada urusan di kantor." Ibra terlihat kesal.

Dewi menahan lengan putranya. "Ibra, tunggu dulu. Kamu harus ikut Mamah pergi," ucapnya.

Ibra menoleh menatap sang ibu. Terdiam sejenak di kursinya. Bayangan wajah Aya yang pagi tadi melayaninya membuat ia semakin kesal. Ia kira permintaan sang ibu penting sehingga dirinya mau turun. Namun yang ada membuatnya kecewa.

"Mah, aku masih ada meeting di jam sepuluh. Kalau Mamah mengajakku makan itu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 207

    Aya memeluk sahabatnya itu. "Aku yakin Mas Niko-mu pasti akan segera sembuh. Kalian juga pasti akan hidup bahagia.""Aamiin, Ay. Makasih."Kembali lagi pada Putra dan Niko, keduanya tampak begitu akrab."Oh iya, Om Niko harus lihat Lili!""Lili siapa?""Kucing Putra yang sudah kaya adek sendiri. Dia sudah besar sekarang!" Putra menarik tangan Niko menuju halaman belakang."Jangan lari-lari, Sayang!" seru Aya memperingatkan."Iya, Bunda. Ayo, Om!"Gina dan Aya hanya memerhatikan dari kejauhan, membiarkan mereka bermain, sementara para wanita itu berbincang di paviliun kecil.Di halaman belakang yang dipenuhi dengan tanaman dan bunga, Putra memanggil Lili, kucing putih kesayangannya. Kucing itu mengeong manja, melompat-lompat mengejar bola bulu yang dilemparkan Putra. Niko tertawa kecil, meski sesekali ia harus menutup mulutnya karena batuk yang tertahan."Dia sangat aktif, ya?" ujar Niko terdengar lemah."Iya, Oma. Ayah bilang Lili harus rajin olahraga supaya tidak malas seperti kucing

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 206

    'Tidak mungkin Samuel yang melakukannya... Tidak mungkin dia berkhianat. Dia sudah cukup lama bekerja bersamaku dan membereskan masalah denganku,' gumam Ibra dalam hati. Mulai ragu dengan pemikirannya sendiri.Ibra termenung cukup lama di kursinya. Kata-kata dalam pesan itu seolah menjadi racun yang perlahan merayap di pikirannya. 'Senyum yang paling kamu kenal.'Siapa lagi yang paling sering tersenyum di dekatnya selain Aya, Samuel, dan Sinta? Samuel, asistennya itu selalu tahu kapan harus memberikan dukungan, kapan harus bergerak cepat, dan kapan harus menenangkan keadaan. Namun, pemikiran itu segera ditepisnya. Ibra menggelengkan kepala, mencoba mengusir keraguan yang mulai menyelimuti pikirannya."Tidak, Samuel sudah bersamaku sejak aku masih merintis di posisi bawah. Dia tidak punya alasan untuk menghancurkanku," bisiknya pada diri sendiri. Namun, benih kecurigaan adalah sesuatu yang berbahaya. Gara-gara pesan itu, pemikiran yang sekali ditanam, ia akan terus tumbuh

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 205

    Aya terdiam. "Maksudnya?" tanya wanita itu heran."Itu baru spekulasi, Aya. Tapi... setidaknya kita memang harus berhati-hati," jawab Ibra."Iya, Mas. Aku mengerti. Setidaknya masalah ini harus segera diselesaikan supaya kita bisa hidup tenang," imbuh Aya."Ya sudah. Sekarang kita tidur. Ibu hamil nggak boleh begadang. Besok aku akan meminta laporan penyelidikan lagi," ujar Ibra lembut sembari mengelus perut Aya.Wanita itu perlahan berbaring. Ibra membantunya memakai selimut dengan gerakan lembut."Tidurlah," ucap Ibra lembut sembari mencium kening istrinya dan dirinya ikut berbaring. Tak lupa pria itu mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar. Di dalam kamar dengan pencahayaan yang remang-remang, Ibra berbaring menyamping, memeluk Aya dari belakang. Tangannya mengusap lembut perut Aya yang sudah besar, ingin merasakan gerakan halus dari calon buah hati mereka."Dia... semoga sehat dan semakin besar biar aku bisa merasakan

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 204

    Samuel tertegun mendengar perintah itu. "Audit menyeluruh, Pak? Termasuk keluarga dan orang kepercayaan Anda?" tanya pria itu.Ibra tidak menjawab. Matanya yang sedingin es sudah cukup menjadi jawaban. Samuel segera mengangguk patuh dan melangkah keluar dengan cepat, meninggalkan Ibra sendirian di ruang rapat yang kini terasa mencekam."Sam," panggil Ibra kemudian."Iya, Pak?""Periksa saja orang-orang terdekat. Termasuk para tim IT. Periksa mereka lagi. Juga... periksa para mitra saat ini. Apakah mereka melakukan tindakan yang mencurigakan akhir-akhir ini atau tidak. Soal keluargaku, biar aku sendiri yang memastikan," lanjutnya.Samuel menatap wajah sang Presdir. "Maaf, Pak. Apa Anda mencurigai Bu Aya?" tanyanya.Ibra diam lagi. Lalu pria itu menatap ke luar jendela yang menunjukkan gedung pencakar langit lain di sebelah gedung perusahaannya."Aku sendiri tidak percaya. Aya tidak pernah memiliki niat seperti itu. Tapi untuk meyakinkan dan mencari bukti kalau istriku tidak bersalah, a

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 203

    Semua orang terdiam. Termasuk Danu dan Wawan. Atmosfer di dalam ruangan itu pun berubah dingin dan penuh tekanan. Ibra kembali menunjukkan kekuasaan dinginnya.Ibra menatap mata mereka satu per satu. Tatapan tajam dan dingin yang selalu melekat padanya. "Saya harap kita akan melanjutkan kerjasama sesuai kontrak lama yang sedang berjalan. Namun untuk proyek baru ini, kami minta Anda sekalian memberikan waktu satu minggu lagi untuk pembuktian akhir. Keputusan final akan diambil minggu depan."Jawaban yang tegas itu tidak menyisakan ruang untuk debat. Meski beberapa wajah masih tampak ragu, mereka tahu bahwa Ibra telah memberikan jalan tengah yang paling logis. Rapat pun resmi ditutup dalam damai.Ibra menghela napas, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang empuk dengan satu tangan yang mengetuk-ngetuk pelan meja.Satu per satu peserta rapat mulai meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru, seolah ingin segera lepas dari atmosfer berat yang menyelimuti mereka selama dua j

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 202

    Suasana di dalam ruang rapat lantai lima gedung perusahaan Bagaskara Group terasa seperti medan perang yang dingin. Meskipun pendingin ruangan diatur pada suhu 22 derajat celsius, keringat dingin tampak mengintip di pelipis beberapa orang.Meja jati panjang yang mengilap di tengah ruangan seolah menjadi pembatas antara dua kubu yang sedang menimbang nasib. Sebagian dari mereka yang ingin melangkah maju demi keuntungan besar, dan satu kubu yang masih meragukan Bagaskara Group karena insiden yang menghebohkan beberapa waktu yang lalu.Ibra duduk di kursi kebesarannya, posisi punggungnya tegak, menunjukkan kekuasaan yang tak tergoyahkan. Di sebelah kanannya, Samuel, asisten kepercayaannya, telah menyiapkan setumpuk dokumen digital yang terpampang jelas di layar proyektor besar.Di dalam ruang itu, suasana terasa formal dan sedikit lebih tegang meski yang hadir adalah orang-orang yang sudah lama bekerja sama dengan Ibra. Ada beberapa direktur dari perusahaan rekanan yang cukup dekat secar

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 60

    Tawa Ibra berhenti, tetapi kilatan di matanya justru semakin intens saat kembali menatap Aya. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit basah akibat pagutan tadi, sebuah gerakan yang membuat wajah Aya semakin memanas."Hyper?" Ibra mengulang kata tersebut dengan nada mengejek. "Mungkin kamu ben

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 63

    Langkah Ibra terasa ringan namun pikirannya berat saat ia memasuki lobi gedung Bagaskara Group. Para karyawan membungkuk hormat, tetapi sang Presdir hanya melewatinya dengan tatapan lurus.Di kepalanya, bayangan Aya yang menamparnya, Aya yang menatapnya getir, hingga Aya yang memegang keningnya den

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 65

    "Bunda, Bunda cantik banget, deh," pujian itu lolos dari bibir mungil Putra yang kini duduk di salah satu sisi tempat tidur sang ibu.Aya mematut dirinya di depan cermin. Malam itu ia mengenakan blus biru muda dan celana krem. Rambutnya dia kepang satu dengan dua buah jepit lidi yang terlihat manis

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 61

    Darah Aya terasa membeku. Ancaman itu adalah kelemahan terbesarnya. Ia menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah yang tertahan. "Kamu... kamu jahat sekali. Ternyata kamu memang licik.""Itu bukan licik. Tapi begitulah dunia bekerja," jawab Ibra santai meski tiba-tiba dadanya nye

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status