Share

Bab 48

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-01-21 20:12:04

Samuel menutup ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menarik napas panjang, mencoba menata wajahnya sebelum kembali masuk ke dalam ruang perawatan. Di dalam sana, Aya sudah berdiri tegak, meski wajahnya masih pucat.

"Pak Sam, saya sudah selesai. Tolong, antar saya ke rumah Pak Ibra sekarang," pinta Aya dengan nada memohon.

Samuel terdiam. Ia menatap secarik kertas yang tadi sempat ia berikan pada Aya, yang kini ada di tangannya. "Maafkan aku, Aya."

"Kenapa?" Jantung Aya berdegup kencang. Firasat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 195

    "Kita mau ke pantai," jawab Aya sembari tersenyum lebar.Ketika Aya menyampaikan ide itu saat mobil semakin menjauh dari rumah, Ibra sempat ragu. "Apa nggak terlalu jauh? Kamu sedang hamil, Aya.""Enggak, kok, Mas," sahut Aya."Aku khawatir kamu lelah." Ibra meraih tangan Aya dan menggenggamnya dengan lembut."Nggak papa, Mas. Lagian jaraknya hanya beberapa jam dari sini, Mas. Kita bawa Pak Santo untuk menyetir, jadi Mas bisa istirahat di mobil. Bi Tina juga ikut di mobil belakang buat bantu jaga Putra. Nanti Bi Tina bantu menyiapkan keperluan kita. Aku hanya ingin kita bertiga... ah, maksudku berempat, bersantai sejenak," ujar Aya sambil mengelus perutnya."Itu benar, Ayah. Sudah lama sekali Putra pengen ke pantai. Kita bisa liburan di sana!" seru Putra tampak ceria.Melihat binar harapan di mata istri dan anaknya, pertahanan Ibra runtuh. "Baiklah. Kalau begitu tiga hari dua malam cukup, kan? Aku akan minta Samuel menghandle semua masalah kantor."Kedua mata Aya membulat. "Tiga hari

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 194

    "Putra, mau jalan-jalan sama Ayah dan Bunda, nggak?" tanya Aya sambil mengusap kepala anaknya."Mau! Ke mana, Bun?" Kedua mata Putra langsung berbinar."Ke... Rahasia.""Yah....""Pokoknya hari ini kita liburan bareng bertiga. Gimana? Bunda jamin Putra pasti seneng," jawab Aya sembari tersenyum lebar."Mau, mau, mau!" seru Putra sembari bertepuk tangan. Lili pun terkejut dan hampir melompat dari pangkuan Putra. Meski tidak tahu ke mana tujuannya, namun bocah polos itu percaya saja pada ucapan sang ibu."Ya sudah. Kalau gitu kamu ganti baju dulu. Biar Bunda yang panggil Ayah," ujar wanita itu lembut, kembali mengusap kepala anaknya."Oke, Bunda. Kalau gitu Putra mau ganti baju dulu, ya?" sahut bocah tampan itu. Ia mendudukkan Lili di atas sofa sebelum dirinya melompat turun dan berlari menuju ke kamarnya.Aya segera berjalan menuju ke ruang kerja suaminya yang juga berada di lantai satu. Dan Lili bukannya tidur di sofa, kucing kecil berbulu putih itu malah melompat turun dan berjalan m

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 193

    Setelah momen pelepasan yang terasa hambar di kamar mandi kantor, Ibra keluar dengan langkah yang masih terasa berat. Meskipun ketegangan fisiknya sedikit berkurang, beban pikiran dan rasa rindu yang tertahan pada istrinya justru menyisakan ruang kosong di hatinya.Pria itu segera merapikan diri, mengeringkan tubuhnya dengan handuk terbeli dahulu sebelum mengenakan kemeja bersih. Ia berdiri di depan cermin. Menatap pantulan wajahnya sendiri.'Sial... Kenapa sekarang aku malah semakin menginginkannya?' rutuknya dalam hati.Ibra merapikan rambutnya yang masih basah. Kedua matanya pun terpejam sejenak. "Nggak... Ini karena aku memang membutuhkannya karena sudah lama tidak melakukannya...." gumamnya pelan.Setelah beres, Ibra melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya, menyelesaikan beberapa dokumen penting.Akan tetapi, semakin ia berusaha menekan hasratnya pada Aya, pria itu semakin tak tenang. Ia p

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 192

    Ibra seolah tidak mengindahkan ucapan istrinya. Tangan pria itu masih saja meremas dada Aya yang semakin sintal dan padat. Merasakan kelembutannya di salah satu telapak tangannya itu."Mas...." bisik Aya dengan napas yang mulai tidak beraturan. Apa lagi tangan Ibra terus meremas dadanya dengan gerakan nakal."Aya... aku ingin," bisik Ibra singkat. Napasnya terdengar berat. Aya pun menoleh menatap wajah suaminya. Dan Ibra langsung menatap lekat-lekat wajah Aya yang memerah. Wanita itu pun terdiam.Ibra kembali meremas lembut dada Aya. Ia merasakan perbedaan yang nyata. Payudara Aya terasa jauh lebih penuh, kencang, dan semakin sensitif. Efek dari kehamilan membuat tubuh Aya menjadi begitu menggoda di mata Ibra."Mas... Lepasin tanganmu...." bisik Aya mulai merasa kegelian.Remasan Ibra menguat, membuat Aya memejamkan mata. Sensasi itu menyulut api di bawah perut Ibra. "Ahhh... Mas...." desah Aya pelan.Ibra juga ikut memejamkan kedua matanya. Merasak

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Ibra 191

    Beberapa hari berlalu dengan ketegangan yang perlahan mencair. Beatrice dan Timo telah dijatuhi hukuman penjara yang setimpal dengan kejahatan mereka.Gedung pencakar langit yang menjadi markas besar Bagaskara Group kini kembali stabil, namun dengan aura yang jauh lebih waspada. Berita tentang penangkapan Beatrice dan keterlibatan Timo dalam masalah yang terjadi di perusahaan telah menjadi buah bibir dan pemberitaan di mana-mana. Namun begitu, tim keamanan yang dipimpin oleh Samuel berhasil membalikkan keadaan.Nama baik Bagaskara Group tidak hanya pulih, tetapi justru menguat. Pasar melihat betapa tangguhnya sistem pertahanan perusahaan dan betapa cepatnya sang Presdir dalam mengambil tindakan hukum yang tegas. Di bawah perintah Ibra, sistem keamanan digital perusahaan dirombak total. Tidak ada lagi celah untuk pengkhianat."Pak, semuanya sudah beres. Opini publik juga sudah berbalik dan nilai saham kita kembali naik," lapor Samuel beberapa menit sebelum waktu makan siang tiba."Bagu

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 190

    "Beneran, Nek?" tanya Putra dengan mata berbinar."Iya, Sayang. Jadilah anak pintar ya, nurut sama Ayah dan Bunda. Nenek pulang dulu," sahur Dewi.Setelah mengantar Dewi sampai ke depan pintu dan memastikan mobilnya berlalu, Ibra kembali ke dalam. Suasana rumah terasa lebih tenang, hanya ada suara denting piring dari dapur tempat Aya menyiapkan makan malam."Mas mandilah dulu. Kita makan," ucap Aya lembut.Ibra mendekati istrinya terlebih dahulu. Lalu memeluk Aya dari belakang dan mengusap lembut perutnya. "Iya, Aya. Kamu duduk saja. Biar Bi Tina yang siapin semuanya.""Nggak papa, Mas. Sudah. Sana mandi." Aya berujar lembut."Aku tidak akan mandi kalau kamu tidak mau duduk," sahut Ibra sembari menarik tangan sang istri. Membawa wanita itu agar duduk di kursi makan."Baiklah." Aya akhirnya menurut. Wanita itu duduk di kursinya. Sementara Putra ikut mendekat dan duduk di hadapan sang ibu."Ayah, biar Putra aja yang bantuin Bunda. Ayah mandi aja," ucap bocah tampan nan menggemaskan itu.

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 152

    Dua bulan kemudian."Gimana, Mas? Masih mual?" tanya Aya lembut. Matanya menatap cemas ke arah suaminya.Ibra yang biasanya tampil begitu dominan dengan rahang tegas dan tatapan dingin yang mengintimidasi, kini hanya bisa terdiam. Ia mencoba mempertahankan postur tubuhnya yang tegap di ha

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 153

    "Eumm. Mungkin bisa sampai persalinan nanti, Bu," jawab Dokter singkat.Ibra terdiam. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan perutnya kembali bergejolak hanya karena memikirkan aroma kopi dan semur daging tadi. Namun, di balik rasa sakit fisiknya, ada sebuah kebanggaan tersirat. Jika ini adalah cara

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 130

    Lalu Beatrice pun duduk di hadapan Ibra yang menunduk. Ia tersenyum penuh arti lalu menatap ke arah pusaka Ibra yang tampak layu.Pria itu tidak bisa ereksi. Ia gagal menunjukkan kejantanannya di depan wanita yang paling ia cintai."Kamu....""Maaf... Sepertinya aku nggak bisa...." cicit Ibra meras

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 135

    "Benar-benar sudah hilang...." gumam Aya pelan. Kedua matanya menatap ke arah ponselnya di mana sehari yang lalu berita soal dirinya dan Presdir Bagaskara Group heboh."Apanya yang hilang, Bun?" tanya Putra dengan polosnya. Bocah itu baru saja pulang sekolah dan mendekati ibunya."Ah... B

    last updateLast Updated : 2026-04-02
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status