MasukDi layar itu, sebuah postingan berisi video singkat dan beberapa foto menjadi viral di media sosial. Isinya bukan sekadar narasi, melainkan foto-foto otentik dari tempat kejadian perkara belasan tahun lalu yang tidak pernah dipublikasikan.Ada foto mobil kepala keluarga Bagaskara yang hancur, dan yang paling mengerikan, video sebuah mobil lain yang terekam di kamera ponsel jadul yang tersembunyi. Videonya memang kurang jelas dan hanya beberapa detik saja. Namun pelat nomor mobilnya terlihat cukup jelas dan yang sangat dikenal Hengki. Miliknya sendiri beberapa tahun silam.Tak hanya itu, salinan dokumen forensik yang menunjukkan aliran dana dari perusahaan Pramana ke pihak-pihak yang menyabotase kendaraan kepala keluarga Bagaskara tersebar luas di internet."Dari mana... dari mana mereka mendapatkan semua ini?!" Hengki berteriak murka, hampir membanting tablet itu namun berhasil diselamatkan oleh Liam."Pah... ini... ini sudah ditonton jutaan orang dalam waktu satu jam!" Liam panik, wa
Setelah Samuel dan Yudha pamit, Ibra kembali menatap foto keluarga di sudut mejanya. Ia mengusap wajah ayahnya di foto itu."Pah, sebentar lagi. Tidurlah yang nyenyak. Aku sudah tahu siapa iblis yang memakai topeng manusia itu. Dia akan membayar setiap tetes darah yang mengalir malam itu dengan kehancuran berkali lipat."Ibra mengambil ponselnya, mengirim pesan singkat kepada Aya.[Aya, jangan tunggu aku pulang. Tidurlah dulu.]Ibra mematikan lampu ruangannya, membiarkan kegelapan menyelimuti dirinya. Monster di dalamnya memang sudah bangun, dan kali ini, monster itu memiliki senjata paling mematikan. Senjata kebenaran yang tidak terbantahkan yang telah disembunyikan oleh keluarga Pramana.Kegelapan di ruang kerja itu seolah menjadi selimut hitam bagi amarah Ibra yang telah lama tertahan. Setiap napas yang ia hirup terasa berat oleh beban masa lalu, namun kini, ada binar kepastian di matanya. Setelah bertahun-tahun salah menaruh kepercayaan, akhirnya ia memegang ujung benang merah yan
Detik jarum jam di ruang kerja Ibra seolah berbunyi lebih keras dari biasanya. Suaranya membelah kesunyian lantai teratas gedung Bagaskara Group yang kini hanya dihuni oleh sedikit staf karena pekerjaan ekstra.Sejak kepergian Samuel dan Yudha pagi tadi, Ibra tidak beranjak dari kursinya. Ia mengabaikan makan siang dan teh chamomile yang sudah mendingin, hanya demi menatap layar monitor yang menampilkan grafik pertumbuhan perusahaan milik Hengki Pramana di Pramana Group.Ibra menyandarkan punggungnya, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Pikirannya melayang pada kenangan belasan tahun silam. Ia ingat betul bagaimana Hengki sering datang ke rumah mereka, membawa buah tangan, tertawa bersama ayahnya, Ronal, seolah mereka adalah saudara kandung."Munafik," desis Ibra. Suaranya serak, penuh kebencian yang selama ini terkubur di bawah topeng ketenangannya.*Ibra mulai membuka akses ke arsip digital pribadi milik ayahnya yang tersimpan dalam hard drive terenkripsi yang selama i
Ibra memeluk kemudian mencium kening Aya cukup lama. "Aku pergi dulu. Kamu istirahatlah. Keamanan akan berjaga di depan selama dua puluh empat jam penuh.""Iya, Mas. Kamu hati-hati di jalan. Kamu juga harus jaga diri, Mas," ujar Aya lembut. Akan tetapi wanita itu menyimpan kekhawatiran pada suaminya dan kasus yang sedang mereka hadapi."Iya." Ibra tersenyum tipis. Ia kembali memeluk sang istri, mengusap lembut perutnya yang besar, lalu segera pergi meninggalkannya bersama asisten rumah tangga mereka.Aya hanya bisa menatap punggung Ibra yang mulai menjauh. Ia tahu, suaminya tidak akan menjadi orang yang sama lagi setelah malam ini. Monster di dalam diri Ibra telah terbangun.*Pagi itu, gedung Bagaskara Group tampak sepi dari luar, namun di lantai teratas, terdapat kesibukan yang tidak biasa. Samuel sudah menunggu di depan lift dengan tumpukan map tebal di tangannya. Di belakangnya berdiri seorang pria tegap berjaket kulit hitam dengan tatapan mata yang tajam. Yudha, seorang detektif
Ibra terdiam seribu bahasa. Fakta bahwa istrinya adalah saksi mata kecelakaan ayahnya. Kecelakaan yang selama ini dianggap sebagai kecelakaan tunggal karena rem blong membuat dunianya seakan jungkir balik."Aya, kamu yakin itu pembunuhan berencana?""Aku mendengarnya, Mas. Aku ingat betul kalau aku mendengar dan melihat langsung apa yang mereka lakukan. Aku ingat betul kalau... kalau Papah ada di dalam mobil itu meminta tolong. Tapi... Ada satu orang yang merupakan bos mereka, dia mengakui bahwa kecelakaan itu perbuatannya sebelum dia membakar mobil itu...." jelas Aya sembari menahan air matanya yang berdesakan hendak keluar."Dan yang paling membuatku hancur... Kenyataan bahwa setelah melihat wajah orang itu yang membuat aku mengingat semuanya melalui mimpi yang kembali." Aya menatap Ibra lekat-lekat, air mata kini mengalir di pipinya. Ibra pun dengan lembut mengusap air mata Aya."Katakan...." ujar Ibra terdengar seperti meminta.Lagi-lagi Aya menarik napas dalam-dalam sebelum melan
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos celah gorden kamar tidak membawa kehangatan seperti biasanya bagi Aya. Ia terbangun dengan kepala yang terasa ringan namun penuh, seolah-olah sebuah bendungan besar dalam ingatannya baru saja runtuh dan mengalirkan seluruh kebenaran ke permukaan.Aya tidak lagi gemetar. Ia tidak menangis. Aya hanya terdiam, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Semua kepingan teka-teki yang selama belasan tahun hilang kini kembali tersusun rapi. Ingatannya bukan lagi sekadar mimpi yang kabur. Akan tetapi itu adalah rekaman nyata yang tersimpan di sudut tergelap otaknya karena trauma yang terlalu hebat untuk ditanggung seorang anak kecil berusia delapan tahun."Aya? Kamu sudah bangun?" Suara Ibra terdengar dari ambang pintu kamar mandi, ia sudah rapi dengan kemeja kerjanya.Aya hanya mengangguk kecil tanpa menoleh. Tatapannya masih kosong."Ada apa?" Ibra mendekat, duduk di pinggir tempat tidur dan menyentuh dahi istrinya. "Kamu masih pucat sekali.
"Apa ini?" tanya Ibra."Putra juga nggak tahu. Nanti minta tolong kasihin ke Bunda, ya, Yah?" jawab Putra."Memangnya bukan dari kamu?"Putra menggeleng pelan. "Bukan, Ayah. Ini hadiah dari Om Hendra."Ibra menatap hadiah kecil yang muat dalam genggaman tangannya itu dengan tatapa
Terdengar helaan napas berat di belakang tubuh Aya. Wanita itu merasa takut. Ia takut pertanyaannya memancing emosi sang Presdir dan membuatnya tersiksa dengan percintaan kasar seperti beberapa waktu yang lalu."Ya," jawab Ibra. "Memang begitu. Di setiap generasi di keluargaku hanya akan terlahir s
Aya mendengus pelan mendengar hinaan tersebut. "Tenang saja, Tu-an. Aku mungkin tidak punya uang sebanyak dirimu, tapi aku tahu cara memanusiakan manusia," sindirnya sengaja.Ibra hanya membalas dengan tatapan tajam sebelum mereka bertiga diarahkan oleh pelayan menuju ruang VIP yang telah dip
Ibra tiba-tiba menginjak remnya. Hampir saja membuat mobil di belakangnya menabrak mereka. Beruntung mobil itu sudah berhasil mengerem dan mengumpat pada mereka."Apa yang-" Ucapan Aya terhenti. Ibra menoleh menatapnya. Lalu merebut ponsel Aya yang masih tersambung."Ay? Aya? Halo?" Terde







