Share

Bab 69

Author: Rizu Key
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-31 19:47:13

Ibra masih terdiam. Ia menerima cacian ibunya tanpa membela diri. Untuk pertama kalinya, ego sang Presdir yang arogan itu terusik oleh kenyataan pahit yang ia paparkan sendiri.

"Aku tidak tahu dia hamil, Mah," gumam Ibra pelan.

"Itu bukan alasan!" potong Dewi. "Seorang pria sejati akan memastikan wanita yang bersamanya baik-baik saja, terlepas dari bagaimana kalian bertemu! Tapi kamu? Kamu malah menyiksa Aya dan menyusahkannya di kantor! Benar kata Putra, kamu bukan hanya 'Presdir Galak' tapi j
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 245

    Detik jarum jam di ruang kerja Ibra seolah berbunyi lebih keras dari biasanya. Suaranya membelah kesunyian lantai teratas gedung Bagaskara Group yang kini hanya dihuni oleh sedikit staf karena pekerjaan ekstra.Sejak kepergian Samuel dan Yudha pagi tadi, Ibra tidak beranjak dari kursinya. Ia mengabaikan makan siang dan teh chamomile yang sudah mendingin, hanya demi menatap layar monitor yang menampilkan grafik pertumbuhan perusahaan milik Hengki Pramana di Pramana Group.Ibra menyandarkan punggungnya, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Pikirannya melayang pada kenangan belasan tahun silam. Ia ingat betul bagaimana Hengki sering datang ke rumah mereka, membawa buah tangan, tertawa bersama ayahnya, Ronal, seolah mereka adalah saudara kandung."Munafik," desis Ibra. Suaranya serak, penuh kebencian yang selama ini terkubur di bawah topeng ketenangannya.*Ibra mulai membuka akses ke arsip digital pribadi milik ayahnya yang tersimpan dalam hard drive terenkripsi yang selama i

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 244

    Ibra memeluk kemudian mencium kening Aya cukup lama. "Aku pergi dulu. Kamu istirahatlah. Keamanan akan berjaga di depan selama dua puluh empat jam penuh.""Iya, Mas. Kamu hati-hati di jalan. Kamu juga harus jaga diri, Mas," ujar Aya lembut. Akan tetapi wanita itu menyimpan kekhawatiran pada suaminya dan kasus yang sedang mereka hadapi."Iya." Ibra tersenyum tipis. Ia kembali memeluk sang istri, mengusap lembut perutnya yang besar, lalu segera pergi meninggalkannya bersama asisten rumah tangga mereka.Aya hanya bisa menatap punggung Ibra yang mulai menjauh. Ia tahu, suaminya tidak akan menjadi orang yang sama lagi setelah malam ini. Monster di dalam diri Ibra telah terbangun.*Pagi itu, gedung Bagaskara Group tampak sepi dari luar, namun di lantai teratas, terdapat kesibukan yang tidak biasa. Samuel sudah menunggu di depan lift dengan tumpukan map tebal di tangannya. Di belakangnya berdiri seorang pria tegap berjaket kulit hitam dengan tatapan mata yang tajam. Yudha, seorang detektif

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 243

    Ibra terdiam seribu bahasa. Fakta bahwa istrinya adalah saksi mata kecelakaan ayahnya. Kecelakaan yang selama ini dianggap sebagai kecelakaan tunggal karena rem blong membuat dunianya seakan jungkir balik."Aya, kamu yakin itu pembunuhan berencana?""Aku mendengarnya, Mas. Aku ingat betul kalau aku mendengar dan melihat langsung apa yang mereka lakukan. Aku ingat betul kalau... kalau Papah ada di dalam mobil itu meminta tolong. Tapi... Ada satu orang yang merupakan bos mereka, dia mengakui bahwa kecelakaan itu perbuatannya sebelum dia membakar mobil itu...." jelas Aya sembari menahan air matanya yang berdesakan hendak keluar."Dan yang paling membuatku hancur... Kenyataan bahwa setelah melihat wajah orang itu yang membuat aku mengingat semuanya melalui mimpi yang kembali." Aya menatap Ibra lekat-lekat, air mata kini mengalir di pipinya. Ibra pun dengan lembut mengusap air mata Aya."Katakan...." ujar Ibra terdengar seperti meminta.Lagi-lagi Aya menarik napas dalam-dalam sebelum melan

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 242

    Pagi itu, sinar matahari yang menerobos celah gorden kamar tidak membawa kehangatan seperti biasanya bagi Aya. Ia terbangun dengan kepala yang terasa ringan namun penuh, seolah-olah sebuah bendungan besar dalam ingatannya baru saja runtuh dan mengalirkan seluruh kebenaran ke permukaan.Aya tidak lagi gemetar. Ia tidak menangis. Aya hanya terdiam, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Semua kepingan teka-teki yang selama belasan tahun hilang kini kembali tersusun rapi. Ingatannya bukan lagi sekadar mimpi yang kabur. Akan tetapi itu adalah rekaman nyata yang tersimpan di sudut tergelap otaknya karena trauma yang terlalu hebat untuk ditanggung seorang anak kecil berusia delapan tahun."Aya? Kamu sudah bangun?" Suara Ibra terdengar dari ambang pintu kamar mandi, ia sudah rapi dengan kemeja kerjanya.Aya hanya mengangguk kecil tanpa menoleh. Tatapannya masih kosong."Ada apa?" Ibra mendekat, duduk di pinggir tempat tidur dan menyentuh dahi istrinya. "Kamu masih pucat sekali.

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 241

    "Kalau memang itu jawaban dari masalah kita, aku mohon kamu jangan memaksakan diri, Aya," pinta Ibra lembut dan penuh kasih sayang.Aya diam sejenak. Tubuhnya masih merasa gemetar. Mimpi buruk itu seolah memang pernah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Dan kini seolah terpanggil karena sesuatu yang memancingnya tanpa sengaja."Mas...." panggilnya pelan."Aku di sini," sahut Ibra."Mas, bolehkah aku lihat foto terakhir Papah? Aku mau memastikan sesuatu karena selama ini aku belum pernah melihat wajah Papah saat sebelum meninggal...." ucap Aya sedikit ragu.Ibra diam sejenak. Lalu pria itu melepaskan pelukannya. Aya pun merasa bersalah."Maaf, Mas...." cicit Aya saat Ibra turun dari tempat tidur.Pria itu hanya diam. Tangannya bergerak mengambil sesuatu dari rak buku dan kembali setelah mendapatkan sebuah album foto."Ini," ucap Ibra lagi. Pria itu duduk di samping Aya. Membuka album foto yang menampilkan potret seorang pria paruh baya yang sedang tersenyum ke arah kamera dengan pose dud

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 240

    Ibra mengerang pelan dalam tidurnya sebelum akhirnya kelopak matanya terbuka. Kesadarannya tersentak saat merasakan pergerakan gelisah di sampingnya. Ia menoleh dan mendapati Aya terduduk dengan bahu yang naik turun tidak beraturan.Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, wajah Aya tampak pucat pasi. Tampak putih, pucat, seputih kapas dengan butiran keringat yang membanjiri pelipisnya. Napas wanita itu juga terdengar tak beraturan dengan tatapan mata antara takut dan kebingungan."Aya? Kamu kenapa?" Ibra langsung bangkit duduk, suaranya serak khas orang baru bangun tidur namun penuh kecemasan.Aya tidak langsung menjawab. Ia hanya memegangi kepalanya, jemarinya meremas rambutnya sendiri seolah mencoba menahan isi kepalanya agar tidak meledak."Ughhhh... pusing...." erangnya pelan.Ibra menyadari ada yang tidak beres dengan istrinya. Pria itu kemudian meraih jemari Aya yang gemetar dan terasa dingin. Merasa kondisi istrinya seperti syok, Ibra segera mengambil segelas air putih yang a

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 53

    Ibra tersadar. Pria itu menatap anaknya yang kembali lengket dengan ibu kandungnya. Vonis mandul yang ia derita nyatanya salah. Namun hal penting yang harus ia sadari adalah bahwa hanya Aya yang bisa membuatnya menjadi pria normal."Presdir?" panggil Putra lagi. Bocah itu menunggu jawaban darinya.

    last updateHuling Na-update : 2026-03-22
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 48

    Samuel menutup ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menarik napas panjang, mencoba menata wajahnya sebelum kembali masuk ke dalam ruang perawatan. Di dalam sana, Aya sudah berdiri tegak, meski wajahnya masih pucat."Pak Sam, saya sudah selesai. Tolong, antar saya ke rumah Pak Ibra sekarang," pinta A

    last updateHuling Na-update : 2026-03-21
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 49

    Kata-kata Putra seolah menampar Ibra dengan tamparan tak kasat mata namun begitu keras. Pria itu diam karena memang ia tak hadir dan ikut merawat anak laki-lakinya itu.Tak lama kemudian, beberapa pelayan lain masuk membawa belasan tas belanja bermerek. Isinya adalah pakaian anak-anak dari bahan su

    last updateHuling Na-update : 2026-03-21
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 47

    "Tenanglah," ucap Ibra dingin, suaranya tetap datar meski jantungnya sempat berdesir mendengar suara parau wanita itu. "Putra aman bersamaku. Dia lebih baik di sini daripada kontrakan sempit dan panas itu.""Tapi aku ibunya! Aku yang mengandung dan membesarkannya! Kamu nggak punya hak merebut apa l

    last updateHuling Na-update : 2026-03-21
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status