LOGINIbra memeluk kemudian mencium kening Aya cukup lama. "Aku pergi dulu. Kamu istirahatlah. Keamanan akan berjaga di depan selama dua puluh empat jam penuh.""Iya, Mas. Kamu hati-hati di jalan. Kamu juga harus jaga diri, Mas," ujar Aya lembut. Akan tetapi wanita itu menyimpan kekhawatiran pada suaminya dan kasus yang sedang mereka hadapi."Iya." Ibra tersenyum tipis. Ia kembali memeluk sang istri, mengusap lembut perutnya yang besar, lalu segera pergi meninggalkannya bersama asisten rumah tangga mereka.Aya hanya bisa menatap punggung Ibra yang mulai menjauh. Ia tahu, suaminya tidak akan menjadi orang yang sama lagi setelah malam ini. Monster di dalam diri Ibra telah terbangun.*Pagi itu, gedung Bagaskara Group tampak sepi dari luar, namun di lantai teratas, terdapat kesibukan yang tidak biasa. Samuel sudah menunggu di depan lift dengan tumpukan map tebal di tangannya. Di belakangnya berdiri seorang pria tegap berjaket kulit hitam dengan tatapan mata yang tajam. Yudha, seorang detektif
Ibra terdiam seribu bahasa. Fakta bahwa istrinya adalah saksi mata kecelakaan ayahnya. Kecelakaan yang selama ini dianggap sebagai kecelakaan tunggal karena rem blong membuat dunianya seakan jungkir balik."Aya, kamu yakin itu pembunuhan berencana?""Aku mendengarnya, Mas. Aku ingat betul kalau aku mendengar dan melihat langsung apa yang mereka lakukan. Aku ingat betul kalau... kalau Papah ada di dalam mobil itu meminta tolong. Tapi... Ada satu orang yang merupakan bos mereka, dia mengakui bahwa kecelakaan itu perbuatannya sebelum dia membakar mobil itu...." jelas Aya sembari menahan air matanya yang berdesakan hendak keluar."Dan yang paling membuatku hancur... Kenyataan bahwa setelah melihat wajah orang itu yang membuat aku mengingat semuanya melalui mimpi yang kembali." Aya menatap Ibra lekat-lekat, air mata kini mengalir di pipinya. Ibra pun dengan lembut mengusap air mata Aya."Katakan...." ujar Ibra terdengar seperti meminta.Lagi-lagi Aya menarik napas dalam-dalam sebelum melan
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos celah gorden kamar tidak membawa kehangatan seperti biasanya bagi Aya. Ia terbangun dengan kepala yang terasa ringan namun penuh, seolah-olah sebuah bendungan besar dalam ingatannya baru saja runtuh dan mengalirkan seluruh kebenaran ke permukaan.Aya tidak lagi gemetar. Ia tidak menangis. Aya hanya terdiam, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Semua kepingan teka-teki yang selama belasan tahun hilang kini kembali tersusun rapi. Ingatannya bukan lagi sekadar mimpi yang kabur. Akan tetapi itu adalah rekaman nyata yang tersimpan di sudut tergelap otaknya karena trauma yang terlalu hebat untuk ditanggung seorang anak kecil berusia delapan tahun."Aya? Kamu sudah bangun?" Suara Ibra terdengar dari ambang pintu kamar mandi, ia sudah rapi dengan kemeja kerjanya.Aya hanya mengangguk kecil tanpa menoleh. Tatapannya masih kosong."Ada apa?" Ibra mendekat, duduk di pinggir tempat tidur dan menyentuh dahi istrinya. "Kamu masih pucat sekali.
"Kalau memang itu jawaban dari masalah kita, aku mohon kamu jangan memaksakan diri, Aya," pinta Ibra lembut dan penuh kasih sayang.Aya diam sejenak. Tubuhnya masih merasa gemetar. Mimpi buruk itu seolah memang pernah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Dan kini seolah terpanggil karena sesuatu yang memancingnya tanpa sengaja."Mas...." panggilnya pelan."Aku di sini," sahut Ibra."Mas, bolehkah aku lihat foto terakhir Papah? Aku mau memastikan sesuatu karena selama ini aku belum pernah melihat wajah Papah saat sebelum meninggal...." ucap Aya sedikit ragu.Ibra diam sejenak. Lalu pria itu melepaskan pelukannya. Aya pun merasa bersalah."Maaf, Mas...." cicit Aya saat Ibra turun dari tempat tidur.Pria itu hanya diam. Tangannya bergerak mengambil sesuatu dari rak buku dan kembali setelah mendapatkan sebuah album foto."Ini," ucap Ibra lagi. Pria itu duduk di samping Aya. Membuka album foto yang menampilkan potret seorang pria paruh baya yang sedang tersenyum ke arah kamera dengan pose dud
Ibra mengerang pelan dalam tidurnya sebelum akhirnya kelopak matanya terbuka. Kesadarannya tersentak saat merasakan pergerakan gelisah di sampingnya. Ia menoleh dan mendapati Aya terduduk dengan bahu yang naik turun tidak beraturan.Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, wajah Aya tampak pucat pasi. Tampak putih, pucat, seputih kapas dengan butiran keringat yang membanjiri pelipisnya. Napas wanita itu juga terdengar tak beraturan dengan tatapan mata antara takut dan kebingungan."Aya? Kamu kenapa?" Ibra langsung bangkit duduk, suaranya serak khas orang baru bangun tidur namun penuh kecemasan.Aya tidak langsung menjawab. Ia hanya memegangi kepalanya, jemarinya meremas rambutnya sendiri seolah mencoba menahan isi kepalanya agar tidak meledak."Ughhhh... pusing...." erangnya pelan.Ibra menyadari ada yang tidak beres dengan istrinya. Pria itu kemudian meraih jemari Aya yang gemetar dan terasa dingin. Merasa kondisi istrinya seperti syok, Ibra segera mengambil segelas air putih yang a
Kedua mata Aya membulat. Sekitar tiga puluh meter di depannya, tepatnya di pinggir jalan raya yang sepi, ada sebuah mobil mewah yang rusak parah karena menghantam pohon besar yang kokoh. Di dalamnya ada seorang pria yang terluka dan sedang mencoba menyelamatkan diri."Sssstt...." suara desisan pelan itu kembali membuat Aya menoleh pada sang ibu yang juga tengah menonton."Tolong aku!" teriak pria yang ada di dalam mobil. Pintunya memang sudah terbuka lebar, sehingga seharusnya ia bisa langsung berlari, namun, kedua kakinya tampak terluka cukup parah."Bu... kita harus menolongnya," bisik Aya seolah mulutnya berbicara sendiri tanpa ia suruh.Sang ibu diam dengan perasaan bingung. "Bu? Orang itu terluka parah karena kecelakaan...." bisik Aya lagi.Ningsih kembali membungkam mulut putrinya dan memeluk Aya erat. "Ibu sebenarnya juga pengen menolong, tapi orang itu menakutkan. Hape juga dibawa Bapak kerja," sahutnya sembari masih berbisik.Aya diam. 'Bapak?' tanya dalam hati. Ia ingat bet
Aya memejamkan mata. "Nggak... Kita sudah pernah ke sini lagi, kan?" Ia menoleh menatap Ibra."Hm." Ibra memutar tubuhnya menghadap Aya. "Dan malam itu adalah malam pertama bagi kita berdua. Aku memberimu uang itu, dan kamu memberiku malam yang tidak pernah bisa kulupakan...."Aya membulatkan kedua
"Apa ini?" tanya Ibra."Putra juga nggak tahu. Nanti minta tolong kasihin ke Bunda, ya, Yah?" jawab Putra."Memangnya bukan dari kamu?"Putra menggeleng pelan. "Bukan, Ayah. Ini hadiah dari Om Hendra."Ibra menatap hadiah kecil yang muat dalam genggaman tangannya itu dengan tatapa
Terdengar helaan napas berat di belakang tubuh Aya. Wanita itu merasa takut. Ia takut pertanyaannya memancing emosi sang Presdir dan membuatnya tersiksa dengan percintaan kasar seperti beberapa waktu yang lalu."Ya," jawab Ibra. "Memang begitu. Di setiap generasi di keluargaku hanya akan terlahir s
Aya mendengus pelan mendengar hinaan tersebut. "Tenang saja, Tu-an. Aku mungkin tidak punya uang sebanyak dirimu, tapi aku tahu cara memanusiakan manusia," sindirnya sengaja.Ibra hanya membalas dengan tatapan tajam sebelum mereka bertiga diarahkan oleh pelayan menuju ruang VIP yang telah dip







