LOGINAya tersenyum geli melihat kepanikan kecil yang sempat melintas di wajah suaminya. Meskipun Ibra berusaha menutupi kegugupannya dengan dehaman khasnya di ruang rapat, Aya tidak ingin memperpanjang kecurigaannya. Baginya, perubahan sikap Ibra yang menjadi jauh lebih lembut dan penuh perhatian pagi ini sudah lebih dari cukup."Ya sudah, Mas. Aku tunggu susu hangatnya, ya," ucap Aya lembut, membiarkan suaminya lolos.Ibra mengangguk pelan sembari memberikan satu senyuman tipis sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar tidur mereka. Begitu pintu kamar tertutup, Ibra mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Pria itu menyandarkan punggungnya di pintu.'Hampir saja,' batinnya.Ia tentu saja tidak akan mengaku kalau tadi ia diam-diam mengintip ponsel istrinya sendiri demi mencari tahu apa yang diinginkan Aya untuk hadiah ulang tahunnya.Dengan langkah yang sengaja dibuat seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara, Ibra berjalan menuju dapur yang ada di lantai bawa
Kata itu meluncur dari bibir Ibra. Pendek, hanya satu kata di akhir ucapannya. Namun efeknya cukup kuat mengguncang hati Aya yang belum siap.Aya seketika membeku. Matanya yang semula masih setengah mengantuk kini membulat sempurna. Ia menatap Ibra seolah-olah pria di hadapannya ini adalah orang asing yang mengenakan wajah suaminya. Jantung Aya berdesir hebat. Seluruh aliran darahnya seakan berhenti mengalir selama beberapa detik sebelum akhirnya berpacu dengan kecepatan penuh."Mas...?" cicit Aya pelan, nyaris tidak bersuara.Wanita itu merasa pendengarannya sedang bermasalah. Mungkin karena efek hormon kehamilan, pikirnya rasional. Atau mungkin ini adalah salah satu dari sekian banyak mimpi indahnya yang sering berakhir mengecewakan saat ia benar-benar terjaga.Melihat reaksi Aya yang begitu terkejut, hati Ibra semakin teriris. Ternyata, satu kata sederhana itu memiliki dampak sekuat ini bagi istrinya. Mengapa ia harus menunggu sampai saat ini untuk mengatakannya?Ibra tidak melepas
Kedua mata Ibra terpaku pada layar ponsel yang menyala di genggamannya. Di bawah temaram lampu tidur yang kuning keemasan, deretan kalimat di kolom riwayat pencarian browser milik Aya seolah menamparnya. Membuat napas pria itu tertahan. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena takut ketahuan mengintip, melainkan karena rasa sesak yang tiba-tiba datang menghimpit rongga dadanya.Di sana, di baris paling atas, tertulis sebuah pertanyaan yang diketikkan Aya beberapa hari lalu.[Apakah suami yang tidak pernah memanggil sayang memiliki perasaan pada istrinya?]Ibra menelan ludah yang terasa getir. Jemarinya yang sedikit gemetar menggulir layar itu ke bawah, berharap menemukan pencarian tentang tas, kosmetik, atau perlengkapan bayi yang biasa dicari ibu-ibu hamil. Namun, yang ia temukan justru rentetan pertanyaan lain yang hampir sama, yang ditulis dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.[Cara menjadi istri yang baik agar suami bahagia.]Setiap kalimat terasa seperti pisau
Aya menatap suaminya dengan tatapan haru. Matanya mulai berkaca-kaca menahan letupan kebahagiaan yang membuncah di dalam dada. Sikap Ibra yang begitu cekatan dan perhatian dalam mempersiapkan kelahiran anak mereka benar-benar menyentuh hatinya. Ini adalah pertama kalinya setelah enam tahun lamanya, akhirnya ia bisa merasakan perhatian dari seorang suami."Mas... terima kasih banyak, ya. Kamu selalu memikirkan segalanya dengan matang. Aku merasa sangat beruntung menjadi istrimu," bisik Aya tulus, memeluk pinggang Ibra dengan erat.Ibra membalas pelukan itu, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aya yang beraroma bunga lembut dan menenangkan. "Aku yang beruntung memilikimu, Aya. Sudah menjadi kewajibanku untuk memastikan kamu dan anak-anak kita mendapatkan yang terbaik. Apa lagi ini belum cukup untuk menebus ketidakhadiranku di kehamilan pertamamu," paparnya.Mereka berpelukan dalam keheningan yang sarat akan rasa cinta untuk beberapa saat. Kamar itu terasa begitu hangat, dipenuhi oleh
Malam pun tiba menyelimuti kediaman keluarga Bagaskara. Suasana rumah yang megah itu berangsur sepi setelah Putra beranjak ke kamarnya untuk tidur. Sementara Lili juga sudah kembali ke kasur kucingnya yang ada di pojokan.Di atas ranjang berukuran king size, Ibra bersandar pada kepala ranjang dengan sebuah buku di tangannya. Namun, tatapan matanya sama sekali tidak fokus pada deretan kalimat yang tertulis di sana. Pikirannya masih tertuju pada ucapan Putra siang tadi di ruang tengah.'Tiga hari lagi Bunda ulang tahun. Ayah siapin hadiah buat Bunda. Terutama apa yang Bunda suka. Kan Ayah cinta sama Bunda.'Kalimat polos dari putra sulungnya itu terus terngiang, berputar-putar di dalam kepalanya. Ibra menghela napas panjang, menutup buku di tangannya dengan pelan lalu meletakkannya di atas nakas. Ia melirik ke samping, tempat di mana Aya sedang duduk bersandar sembari mengelus perutnya yang kian membuncit.Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyusup ke relung hati Ibra. Sebagai seorang su
Kedua mata Lia membulat saat mendengar percakapan dua pemuda dan pemudi di hadapannya. Wanita itu kini kembali tersadar dari pikiran-pikiran di dalam kepalanya. "Cukup!" sentaknya tiba-tiba. Tatapannya yang tadinya bingung kini berubah tajam kembali."Enak saja kamu mengambil untungnya saja. Kalian pikir setelah kalian bersenang-senang, aku akan merawat kalian? Jangan bermimpi! Aku sudah cukup sakit melahirkan anak nggak berguna ini!" cecar Lia tajam.Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena sisa amarah dan ketakutan, Lia meraih pulpen dari tangan Niko. Tanpa membaca lebih detail lagi, ia menggoreskan tanda tangannya di atas materai yang sudah menempel di surat tersebut.Sret sret sretBegitu tanda tangan itu selesai dibuat, Niko segera menarik surat tersebut. Ia memeriksanya sejenak, memastikan semuanya sah, lalu memasukkannya kembali ke dalam map cokelat bersama dengan surat keterangan medisnya. Sementara dokumen bukti kejahatan ayah dan kakaknya sengaj
Ibra tersadar. Pria itu menatap anaknya yang kembali lengket dengan ibu kandungnya. Vonis mandul yang ia derita nyatanya salah. Namun hal penting yang harus ia sadari adalah bahwa hanya Aya yang bisa membuatnya menjadi pria normal."Presdir?" panggil Putra lagi. Bocah itu menunggu jawaban darinya.
"Tenanglah," ucap Ibra dingin, suaranya tetap datar meski jantungnya sempat berdesir mendengar suara parau wanita itu. "Putra aman bersamaku. Dia lebih baik di sini daripada kontrakan sempit dan panas itu.""Tapi aku ibunya! Aku yang mengandung dan membesarkannya! Kamu nggak punya hak merebut apa l
Bertambah satu hari. Aya tak bisa tidur sama sekali. Terlihat dari wajah lelahnya dan juga lingkar hitam di bawah kedua matanya. Wanita itu terus memikirkan keberadaan anaknya. Dan Ibra sama sekali tak bisa dihubungi.Wajah Aya pucat pasi, seperti tanpa tenaga. Bahkan ada lingkar hitam yang m
"Ah, maaf...." cicit Aya yang tersadar akan tindakannya. Wanita itu menegakkan badannya dan melepaskan genggaman tangannya.Ibra hanya diam dengan ekspresi datar. Membuat suasana semakin canggung. Aya cepat-cepat menoleh ke jendela dan membiarkan dirinya memandangi lampu jalanan yang mulai menyala.







