LOGINIbra muncul dengan Putra yang ia gendong dengan satu tangan. Putra tampak tertawa kecil sambil memeluk bahu ayahnya, sementara Ibra berjalan dengan tenang seolah beban seberat bocah kecil itu bukanlah apa-apa baginya.
Dalam pandangan Aya, mereka berdua tampak sangat serasi. Seperti dua wajah yang sama. Garis rahang, bentuk hidung, bahkan cara mereka menyipitkan mata saat tersenyum sangatlah identik. Benar-benar bukti nyata bahwa mereka memiliki ikatan darah yang lebih kental dari apa pun.Ibra terdiam, pikirannya melayang pada sosok Niko. Pria yang selama ini tak pernah ia anggap sebagai orang terdekat. Niko yang hanya seorang CEO baru dan masuk dalam level yang kecil di perusahaan ayahnya sendiri. Bahkan Niko sedang dalam masa penyembuhan. Namun ternyata memiliki loyalitas tersembunyi yang jauh lebih besar dan tak terbayangkan."Kamu benar, Aya... Kita harus berterima kasih padanya dengan menyembunyikan identitasnya dari ayahnya sendiri," ucap Ibra.Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di kepalanya. Sesuatu yang selama ini ia abaikan karena dianggap sebagai teror iseng atau gangguan dari orang yang tidak bertanggung jawab dan ia kira hendak mengadu domba."Tunggu, Aya. Bicara soal Niko, aku jadi teringat sesuatu."Ibra meraih ponselnya yang disimpan di dalam saku. Pria itu menggeser layar dengan cepat menuju arsip pesan yang sempat ia tandai sebagai spam beberapa hari yang lalu."Ingat pesan anonim yang masuk ke ponselku beberapa hari yang lalu?" tanya pria itu sembari
Ibra terdiam. Ia masih terlihat menahan keterkejutannya itu pada salah satu orang dekatnya. Mengetahui bahwa sahabat mendiang ayahnya telah berkhianat, membuatnya seolah tak percaya."Kita akan tahu setelah dia diproses oleh hukum," jawab Ibra dengan kedua tangan terkepal erat.Aya menggenggam erat tangan Ibra. "Iya, Mas. Kita serahkan mereka pada yang berwajib."Dengan mengangguk tanda setuju, Ibra menyimpan flashdisk tersebut dan juga surat dari Niko. Beruntung Ibra tidak menyalahkan Samuel berkat nasihat istrinya.Ibra menarik Aya ke dalam pelukannya lagi. Ia kemudian mengecup kening istrinya cukup lama. "Terima kasih, Sayang. Kamu sudah sangat berani membawa ini padaku. Sekarang, biarkan aku yang menyelesaikan sisanya."Pelukan pun diurai. Ibra menatap wajah sang istri dan mengusap lembut pipi Aya. Ia kemudian duduk tegak. Sementara Aya mengusap perutnya.Pria itu meraih ponselnya untuk memanggil Samuel. "Segera masuk ke ruanganku, sekarang!" perintahnya.Tak lama kemudian, Samuel
"Aku sudah memindahkan isinya ke tablet ini agar lebih mudah dilihat. Kamu harus lihat video dan beberapa dokumen di dalamnya."Ibra mengambil tablet dari tangan Aya. Layarnya menampilkan sebuah folder bernama 'Pramana-Project'. Dengan jari yang masih kaku, Ibra menekan ikon video pertama.Video itu tampak diambil secara sembunyi-sembunyi dari sudut sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang kerja mewah. Kemungkinan besar merupakan kantor pribadi Hengki di kediamannya. Di sana, terlihat Hengki sedang duduk bersama seorang pria yang Ibra kenali sebagai CEO New World Development, pria yang tampil di berita saat ini. Bukan hanya mereka saja, ada satu orang lagi yang merupakan anak sulung Hengki Permana, kakak kandung Niko, Liam."Jangan khawatir." Suara Hengki terdengar jelas di speaker tablet. "Kita pasti bisa menghancurkan mereka," lanjutnya.Lalu Liam ikut bersuara setelah ayahnya. "Kepala IT Bagaskara memang ketat, tapi mereka punya satu celah yaitu loyalitas buta d
Tangan Ibra sedikit gemetar saat membuka lipatan kertas di tangannya. Aroma kertas itu biasa saja, namun pesan yang tertulis di dalamnya terasa seperti hantaman palu di dalam dadanya. Ia mulai membaca baris demi baris tulisan tangan Niko yang tampak terburu-buru namun masih bisa terbaca dengan jelas.[Untuk Kak Ibra dan Kak AyaSemoga surat ini sampai di tangan kalian tepat pada hari di mana yang seharusnya. Aku tidak tahu apakah kalian akan percaya atau tidak pada pesanku ini. Aku sendiri tidak berhak meminta kepercayaanmu. Tapi tolong, demi keselamatan kalian, terutama Kak Aya, Putra, dan anak kedua kalian yang sedang dikandung Kakak Ipar, bacalah ini sampai selesai.]Ibra menghela napas. Ia menoleh ke arah Aya sejenak lalu mengusap perut istrinya dengan lembut, sebelum kembali membaca surat dari Niko.[Aku tahu jika Kakak sedang mencari keberadaan orang di balik Beatrice. Orang yang kemungkinan besar ingin mencoba meruntuhkan Bagaskara Group. Kakak mencurigai kompetitor jauh, Kakak
Suasana di lantai eksekutif Bagaskara Group terasa mencekam. Ibra berdiri di depan jendela besar ruangannya, menatap gedung-gedung tinggi dengan rahang yang mengeras. Di belakangnya, beberapa staf IT tertunduk lesu."Bagaimana mungkin informasi soal proyek kita bisa dicuri dalam waktu kurang dari dua belas jam?" Suara Ibra rendah, namun penuh penekanan yang mengancam."Mohon maaf, Pak Presdir. Tapi tidak ada tindakan dan akses yang mencurigakan selama beberapa minggu terakhir ini. Bahkan keamanan sudah diperketat. Kami juga memastikan tidak ada informasi yang bocor," jelas kepala tim IT dengan suara gemetar."Tidak bocor? Lalu kenapa perusahaan baru bisa mempunyai ide proyek yang sama persis dengan kita? Bahkan mereka merilisnya lebih dulu? Apa kalau tidak bocor?" sentak Ibra.Semua orang terdiam. Termasuk kepala tim IT. Samuel yang berdiri di belakang sang Presdir pun juga memilih diam.Ibra memejamkan mata. Lagi-lagi ada yang berani berkhianat setelah semua hal
Aya meremas jemari Tina, menyalurkan keyakinan yang sebenarnya juga tengah ia bangun di dalam hatinya sendiri. Tatapannya tajam, tidak ada lagi keraguan seperti beberapa menit yang lalu."Bi, dengarkan aku. Ini bukan sekadar surat atau flashdisk biasa. Di dalam sini ada bukti rencana sabotase terhadap proyek besar Mas Ibra. Ada rekaman suara, ada dokumen strategi yang mereka curi. Jika aku tidak bergerak sekarang, New World Development akan menghancurkan Bagaskara Group sebelum Mas Ibra sempat melawan," bisik Aya dengan nada mendesak.Tina menelan ludah, wajahnya masih menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Tapi Nyonya sedang hamil. Di luar sana sedang tidak aman sejak masalah Nona Beatrice itu mencuat. Tuan Ibra pasti akan marah besar kalau tahu Nyonya keluar tanpa izinnya.""Dia akan lebih marah pada dirinya sendiri jika dia kehilangan segalanya hari ini, Bi. Aku nggak bisa hanya diam saja melihat suamiku dihancurkan dari dalam. Tolong, panggilkan Pak Santo. Minta dia siapkan dua mob
"Berbaliklah," ucap Ibra tiba-tiba. Aya mendongak menatap wajah tampan di bawah sinar lampu putih di dalam kamar pas tersebut."Cepat," tekannya."Saya bisa sendiri," desis Aya, mencoba menutupi punggungnya yang terekspos dengan tangannya."Diamlah. Kamu hanya akan merusak gaun mahal ini," ucap Ibr
Ibra melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah tegap, meninggalkan Aya yang masih bergelung di balik selimut dengan tatapan penuh kebencian."Ya Tuhan... kenapa jadi begini? Kenapa pria itu ingin sekali menikahiku...?" gumam Aya sembari meremat kemeja putih di pangkuannya.Setelah menutup pi
"Ay, kamu harus makan. Jangan sampai masuk rumah sakit lagi," ucap Hendra sambil menyentuh bahu Aya dengan lembut, mencoba memberikan kekuatan. Ada sorot mata yang lebih dari sekadar rasa peduli. Di dalam tatapannya, ada rasa kasih sayang yang telah lama Hendra pendam untuk Aya.Pemandangan itu men
"Jadi... kamu sudah tahu?" Suara Aya terdengar parau. Ia mendorong dada bidang Ibra dengan sisa tenaganya.Pria itu hanya diam menatapnya. "Lalu apa? Kamu merasa kasihan? Atau kamu merasa menang karena sudah tahu betapa malangnya nasibku? Apa kamu puas sekarang melihatku menderita dan tidak bergun







