Share

Bab 56

Penulis: Rizu Key
last update Tanggal publikasi: 2026-01-25 17:00:29

Ibra muncul dengan Putra yang ia gendong dengan satu tangan. Putra tampak tertawa kecil sambil memeluk bahu ayahnya, sementara Ibra berjalan dengan tenang seolah beban seberat bocah kecil itu bukanlah apa-apa baginya.

Dalam pandangan Aya, mereka berdua tampak sangat serasi. Seperti dua wajah yang sama. Garis rahang, bentuk hidung, bahkan cara mereka menyipitkan mata saat tersenyum sangatlah identik. Benar-benar bukti nyata bahwa mereka memiliki ikatan darah yang lebih kental dari apa pun.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 217

    "Aku sudah memindahkan isinya ke tablet ini agar lebih mudah dilihat. Kamu harus lihat video dan beberapa dokumen di dalamnya."Ibra mengambil tablet dari tangan Aya. Layarnya menampilkan sebuah folder bernama 'Pramana-Project'. Dengan jari yang masih kaku, Ibra menekan ikon video pertama.Video itu tampak diambil secara sembunyi-sembunyi dari sudut sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang kerja mewah. Kemungkinan besar merupakan kantor pribadi Hengki di kediamannya. Di sana, terlihat Hengki sedang duduk bersama seorang pria yang Ibra kenali sebagai CEO New World Development, pria yang tampil di berita saat ini. Bukan hanya mereka saja, ada satu orang lagi yang merupakan anak sulung Hengki Permana, kakak kandung Niko, Liam."Jangan khawatir." Suara Hengki terdengar jelas di speaker tablet. "Kita pasti bisa menghancurkan mereka," lanjutnya.Lalu Liam ikut bersuara setelah ayahnya. "Kepala IT Bagaskara memang ketat, tapi mereka punya satu celah yaitu loyalitas buta d

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 216

    Tangan Ibra sedikit gemetar saat membuka lipatan kertas di tangannya. Aroma kertas itu biasa saja, namun pesan yang tertulis di dalamnya terasa seperti hantaman palu di dalam dadanya. Ia mulai membaca baris demi baris tulisan tangan Niko yang tampak terburu-buru namun masih bisa terbaca dengan jelas.[Untuk Kak Ibra dan Kak AyaSemoga surat ini sampai di tangan kalian tepat pada hari di mana yang seharusnya. Aku tidak tahu apakah kalian akan percaya atau tidak pada pesanku ini. Aku sendiri tidak berhak meminta kepercayaanmu. Tapi tolong, demi keselamatan kalian, terutama Kak Aya, Putra, dan anak kedua kalian yang sedang dikandung Kakak Ipar, bacalah ini sampai selesai.]Ibra menghela napas. Ia menoleh ke arah Aya sejenak lalu mengusap perut istrinya dengan lembut, sebelum kembali membaca surat dari Niko.[Aku tahu jika Kakak sedang mencari keberadaan orang di balik Beatrice. Orang yang kemungkinan besar ingin mencoba meruntuhkan Bagaskara Group. Kakak mencurigai kompetitor jauh, Kakak

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 215

    Suasana di lantai eksekutif Bagaskara Group terasa mencekam. Ibra berdiri di depan jendela besar ruangannya, menatap gedung-gedung tinggi dengan rahang yang mengeras. Di belakangnya, beberapa staf IT tertunduk lesu."Bagaimana mungkin informasi soal proyek kita bisa dicuri dalam waktu kurang dari dua belas jam?" Suara Ibra rendah, namun penuh penekanan yang mengancam."Mohon maaf, Pak Presdir. Tapi tidak ada tindakan dan akses yang mencurigakan selama beberapa minggu terakhir ini. Bahkan keamanan sudah diperketat. Kami juga memastikan tidak ada informasi yang bocor," jelas kepala tim IT dengan suara gemetar."Tidak bocor? Lalu kenapa perusahaan baru bisa mempunyai ide proyek yang sama persis dengan kita? Bahkan mereka merilisnya lebih dulu? Apa kalau tidak bocor?" sentak Ibra.Semua orang terdiam. Termasuk kepala tim IT. Samuel yang berdiri di belakang sang Presdir pun juga memilih diam.Ibra memejamkan mata. Lagi-lagi ada yang berani berkhianat setelah semua hal

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 214

    Aya meremas jemari Tina, menyalurkan keyakinan yang sebenarnya juga tengah ia bangun di dalam hatinya sendiri. Tatapannya tajam, tidak ada lagi keraguan seperti beberapa menit yang lalu."Bi, dengarkan aku. Ini bukan sekadar surat atau flashdisk biasa. Di dalam sini ada bukti rencana sabotase terhadap proyek besar Mas Ibra. Ada rekaman suara, ada dokumen strategi yang mereka curi. Jika aku tidak bergerak sekarang, New World Development akan menghancurkan Bagaskara Group sebelum Mas Ibra sempat melawan," bisik Aya dengan nada mendesak.Tina menelan ludah, wajahnya masih menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Tapi Nyonya sedang hamil. Di luar sana sedang tidak aman sejak masalah Nona Beatrice itu mencuat. Tuan Ibra pasti akan marah besar kalau tahu Nyonya keluar tanpa izinnya.""Dia akan lebih marah pada dirinya sendiri jika dia kehilangan segalanya hari ini, Bi. Aku nggak bisa hanya diam saja melihat suamiku dihancurkan dari dalam. Tolong, panggilkan Pak Santo. Minta dia siapkan dua mob

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 213

    Aya terpaku. Matanya melebar, menatap nanar pada deretan kalimat yang tertulis tapi saat ia kembali melanjutkan membaca. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ekspresi tegar yang sedari tadi ia pertahankan runtuh seketika, berganti dengan raut kaget yang bercampur dengan rasa tidak percaya yang luar biasa."Bunda?" Putra menyentuh pipi ibunya yang mendadak pucat. "Bunda kenapa? Isinya jelek, ya? Apa Om Niko nakal dan bikin Bunda sedih?" tanya bocah itu dengan polosnya.Aya tidak segera menjawab. Ia masih menatap surat di tangannya. Lalu meletakkan surat itu ke meja kaca di depannya, dan meraih kembali kotak beludru hitam."Bunda?" Putra kembali menatap ibunya.Dengan tangan gemetar, Aya menarik sesuatu yang menyembul di dalam kotak. Saat bagian itu ditarik, ada sebuah ruangan kecil yang menyimpan benda kecil nan pipih berwarna silver metalik."Ini...." gumam Aya pelan, mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam kotak."Itu apa, Bun?" tanya Putra sembari menatap heran pada flashdisk di tanga

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 212

    Aya dan Tina spontan menoleh ke arah Putra yang kini berlari ke arah mereka. Bocah lima tahun itu tampak berlari dengan tergesa-gesa. Bahkan seragamnya belum ganti. Sebuah kotak beludru warna hitam pun ada di dalam genggaman salah satu tangannya."Bunda!" seru Putra lagi saat sudah berada di hadapan sang ibu."Ada apa, Sayang?" tanya Aya lembut. Wanita itu mencoba tetap terlihat tegar di hadapan anak sulungnya.Putra semakin mendekat dan kini duduk di samping sang ibu. Bocah itu menoleh menatap Tina, lalu menoleh menatap ibunya lagi."Bunda, Ayah belum pulang, ya?" tanya Putra."Belum, Sayang. Mungkin... Ayah lagi sibuk," jawab Aya memberikan alasan yang mudah dimengerti oleh anaknya."Kalau begitu kita jemput Ayah di kantor, Bun," usul bocah itu.Aya mengusap rambut Putra dengan lembut, mencoba menyembunyikan getar di tangannya. Namun, tatapan Putra tidak tertuju pada ibunya, melainkan pada Tina yang masih berdiri mematung di dekat mereka. Ada semacam ketegasan yang tidak biasa di ma

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 52

    Aya mengamati penampilan anaknya. Putra telihat bersinar. Tubuhnya bersih dan pakaiannya mahal. Bocah itu pun terlihat mengusap air matanya karena menahan rindu pada sang ibu."Bunda...." isak Putra.Tangan Aya terjulur mengusap pipi Putra dengan lembut. Lalu wanita itu memeriksa anaknya lagi. "Man

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 53

    Ibra tersadar. Pria itu menatap anaknya yang kembali lengket dengan ibu kandungnya. Vonis mandul yang ia derita nyatanya salah. Namun hal penting yang harus ia sadari adalah bahwa hanya Aya yang bisa membuatnya menjadi pria normal."Presdir?" panggil Putra lagi. Bocah itu menunggu jawaban darinya.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 48

    Samuel menutup ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menarik napas panjang, mencoba menata wajahnya sebelum kembali masuk ke dalam ruang perawatan. Di dalam sana, Aya sudah berdiri tegak, meski wajahnya masih pucat."Pak Sam, saya sudah selesai. Tolong, antar saya ke rumah Pak Ibra sekarang," pinta A

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 49

    Kata-kata Putra seolah menampar Ibra dengan tamparan tak kasat mata namun begitu keras. Pria itu diam karena memang ia tak hadir dan ikut merawat anak laki-lakinya itu.Tak lama kemudian, beberapa pelayan lain masuk membawa belasan tas belanja bermerek. Isinya adalah pakaian anak-anak dari bahan su

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status