LOGINAku sudah menyadarinya bahkan sebelum langit berubah warna. Ada sesuatu yang salah dengan malam ini. Udara terasa menipis, seolah oksigen ditarik paksa dari paru-paruku.Kulitku mulai mengeluarkan hawa panas yang tidak wajar. Ini bukan demam biasa, melainkan sengatan yang merayap dari dalam sumsum tulang, menjalar pelan melalui setiap urat nadi hingga ke ujung jemariku."Nek," panggilku dengan suara yang bergetar hebat. "Kenapa aku ngerasa kayak gini? Dadaku sesak banget, Nek."Nenek yang tadinya duduk tenang di dekat jendela segera berdiri. Wajah rentanya nampak tegang saat jemarinya menyibak sedikit tirai yang telah pudar warnanya itu. Ia tertegun sejenak, membiarkan cahaya dari luar menyusup masuk ke dalam ruangan.Aku memberanikan diri untuk ikut melihat ke luar, dan jantungku seakan berhenti berdetak. Bulan di atas sana tidak berwarna putih keperakan seperti biasanya. Ia nampak mengerikan, berwarna merah pekat seperti genangan darah yang belum sempat mengering di atas kanvas
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela dapur, membawa aroma kopi dan singkong rebus yang mengepul hangat. Aku duduk di meja makan, jemariku melingkari gelas teh yang panas sambil mencoba mengusir sisa-sisa kegelisahan tadi malam.Rasa aman yang aneh itu masih ada, menetap layaknya sebuah selimut yang menghangatkan tubuhku.Di depanku, nenek sedang mengupas singkong dengan santai. Beliau tampak sangat tenang, seolah obrolan tentang klaim halus dan aura Alpha tadi malam hanyalah dongeng pengantar tidur. Namun, aku tahu ada yang berbeda."Nek," panggilku.Nenek mendongak, memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Ya, Fay? Sarapan dulu, jangan melamun terus. Ingat, ada nyawa kecil di perutmu yang butuh asupan."Aku mengangguk pelan sembari tersenyum ke arah nenek. Beberapa detik setelahnya, saat beliau masih sibuk bergelut dengan kesibukannya, diam-diam aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya."Nek, tentang semalam ... kenapa nene
"Maksud nenek? Aku tadi lihat dia nggak bawa apa-apa, dia juga nggak menyentuhku, Nek.""Dia meninggalkan jejak," Nenek menoleh, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Dan jejak itu bukan tertinggal di tanah."Refleks aku mengusap lenganku sendiri. Kulitku terasa hangat, bahkan sedikit menyengat. Bukan sekadar hangat biasa, tapi ada getaran halus yang seolah merayap mengikuti aliran darahku, menjalar pelan namun pasti ke seluruh tubuh. Rasanya seperti sebuah tanda yang tidak kasatmata sedang memetakan setiap inci kulitku, menandainya sebagai wilayah kekuasaan yang baru. Rasa hangat ini aneh, seolah menolak keinginanku untuk membencinya."Aku nggak ngerasain apa-apa, Nek. Mungkin ini hanya pengaruh cuaca," kataku cepat, lebih ke arah berusaha meyakinkan diriku sendiri.Aku takut jika aku mengakui perasaan ini, aku benar-benar akan terjebak dalam dunianya.Nenek menatapku lama, seolah sedang membedah kebohongan di wajahku. "Justru itu masalahnya, Fay. Jika kamu nggak mera
Meski Aaron benar-benar sudah pergi, nenek pun sudah memasuki kamar, malam ini aku tetap melangkah dan berdiri di depan jendela.Aku termangu dengan pandangan nanar, lalu tiba-tiba kesadaran menghentakku."Kenapa aku malah berdiri di sini?" gumamku pelan, seperti orang linglung. "Harusnya aku masuk kamar, tidur, dan melupakan semuanya, kan?"Aku mengingat lagi saat Aaron beberapa saat lalu perlahan pergi dan aku yang tengah memperhatikan punggungnya menjauh dengan langkah tenang dan berwibawa, seolah ia tidak baru saja mengguncang seluruh hidupku dalam satu kunjungan singkat di luar rumah."Dia bahkan nggak menoleh lagi," bisikku lirih. "Seolah aku bukan siapa-siapa."Aku masih terpaku dengan perasaan ... entah, seperti antara kosong dan juga terasa sunyi.Tapi bukan sunyi yang sama. Ini sunyi yang berubah. Seolah oksigen di sekitarku menciptakan atmosfer berbeda dengan menyisakan aroma kehadirannya yang masih tertinggal di udara.Mengapa dia melakukan ini? Mengapa dia nekat mengikut
Di dalam keheningan rumah, aku berdiri dengan tubuh menggigil. Pertanyaan yang ada dalam pikiranku mendobrak meminta keluar, namun ada rasa takut yang bahkan aku sendiri tidak siap jika jawaban yang aku terima nanti jauh lebih mengerikan dari yang aku duga.Akan tetapi, aku tidak bisa terus-menerus seperti ini. Aku harus bukan sekadar menduga. Aku harus memastikan agar semua pertanyaan dan kegelisahanku selama ini bisa terjawab.Berusaha menguatkan hati, aku menarik napas panjang sebelum memberanikan diri meminta penjelasan dari nenek.Aku meneguk ludah kasar. Tenggorokanku terasa kering, berpacu dengan detak jantung yang mendadak bergemuruh di dada."Nek, katakan yang sebenarnya," ucapku parau.Suaraku memecah kesunyian di tengah ruangan yang hanya diterangi lampu minyak."Siapa dia? Dan makhluk apa yang sedang tumbuh di dalam rahimku ini?"Aku mengedipkan mata sejenak, rasanya seperti aku ingin menangis bahkan sebelum mendapatkan jawaban yang jelas.Nenek hanya diam, beliau mencob
Aku menyadari kehadirannya, bahkan sebelum bayangannya tertangkap mata. Udara di sekitarku serasa membeku, seolah-olah apa yang ada di sekelilingku mengeras menjadi kristal yang siap pecah. Suara jangkrik pun yang biasanya terdengar nyaring di telingaku kini mendadak senyap, seakan-akan alam saat ini sedang menahan napas, membuat paru-paruku seketika kosong."Dia di sini," bisikku nyaris tanpa suara, lebih seperti pengakuan daripada pernyataan.Aku dan nenek berdiri di teras rumah yang remang. Lampu minyak di dinding kayu bergetar hebat, membiaskan cahaya jingga yang menari liar. Di hadapan kami, hutan terbentang seperti lautan hitam yang ditelan oleh kegelapan malam, dan tepat di depan sana ... ada dia."Jangan bergerak dulu," ujar nenek pelan, namun tegas, tangannya sedikit menahan lenganku.Aku terdiam dan hanya berdiri kaku.Sosoknya yang tinggi tegap bagaikan pahatan bayangan di bawah sinar rembulan. Mantel gelapnya berkibar pelan tertiup angin, namun matanya, sepasang manik ke
Aku mulai merasakan kehadirannya secara nyata sehari setelah percakapanku dengan nenek.Awalnya hanya lewat mimpi.Mimpi itu membawaku ke tengah hutan pinus. Udara di sana sangat dingin dan mencekam. Setiap langkah yang aku ambil terasa lembap, licin, membuatku nyaris tergelincir. Tidak ada siapa
Malam ini, aku dan nenek makan dalam diam. Aku terus menunggu. Menunggu cecaran pertanyaan dari beliau, menunggu ledakan amarah seperti yang ibu lakukan, atau setidaknya satu tatapan kecewa.Namun, nenek hanya menyendok nasi dengan tenang. Beliau bersikap seolah tidak ada yang salah dengan cucunya
Suasana di dalam kabin mobil SUV hitam milik Aaron terasa sunyi. Pria itu mengemudi sendiri, melewati jalanan aspal yang mulai berganti menjadi tanah berbatu. Di telinganya, sebuah earpiece berkedip biru."Lapor, Tuan. Target sudah terkonfirmasi menetap di sebuah rumah kayu tua di dalam hutan pinu
Aku turun dari taksi di sebuah halte terdekat dengan napas yang masih sedikit memburu. Di halte ini, aku berdiri di antara kerumunan orang, berharap hiruk-pikuk yang bercampur bau asap kendaraan bisa mengaburkan keberadaanku dari kejaran Aaron."Tenang, tenang, Fay. Kamu aman di sini. Banyak orang







