LOGINBenak Lira berputar cepat. Rasa sakit tiba-tiba mencengkeram hatinya.Pernikahan yang bukan hanya akan mengikat Aaron dan Fay secara resmi, tetapi juga berpotensi mengukuhkan kedudukan perempuan itu sebagai Luna dan Arsen sebagai pewaris sah di hadapan para pemimpin klan.Jemari Lira kembali mengepal. Ia tidak ingin membayangkan Aaron berdiri di hadapan semua orang bersama Fay, sementara dirinya dan semua pihak hanya bisa menyaksikan tanpa mampu melakukan apa pun.Lebih dari itu, ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa pria yang dahulu begitu dekat dengannya kini telah membangun kehidupan yang sama sekali tidak lagi memberinya tempat.Lira menarik napas perlahan, berusaha meredam gejolak yang mulai menguasai dadanya.Beberapa saat kemudian, ia menatap Marcus dengan hati-hati.“Jika pernikahan itu sudah terdaftar secara sah ... apakah kita benar-benar tidak bisa melakukan apa pun?” tanyanya.Pertanyaan itu membuat Marcus terdiam sejenak. Ia kemudian berjalan menuju meja dan meletakka
“Bukan sekadar mengundangnya.” Marcus merebut dokumen itu dari tangannya. “Dia sengaja menempatkan nama investor itu di urutan pertama agar kita tahu bahwa pria itu akan menjadi bagian penting dalam pernikahan tersebut.”Marcus menunjuk daftar nama itu dengan telunjuknya.“Jika kita datang dan mencoba mengacaukan acara, kita bukan hanya akan berhadapan dengan Aaron, tetapi juga Edward Johnson.” Marcus mengepalkan tangannya. “Kamu tahu seberapa besar pengaruh investor itu terhadap perusahaan klan kita.”Lira terdiam, sementara Marcus melanjutkan dengan suara yang semakin berat.“Jika Edward menganggap tindakan kita sebagai ancaman terhadap kepentingan bisnisnya, dia bisa menggunakan kekuatan finansial dan hak investasinya untuk menggeser kepemilikan saham pihak-pihak yang terlibat.”“Termasuk saham milik Dewan?” tanya Lira.“Bukan hanya milik Dewan.” Tatapan Marcus mengeras. “Saham milik para Tetua dan seluruh pihak yang mendukung tindakan tersebut bisa dipindahkan melalui kesepakatan
Gebrakan meja terdengar keras ketika tinju Tetua Marcus menghantam permukaan meja kerjanya.Surat undangan pernikahan yang baru saja dibacanya tergeletak di hadapannya. Lambang keluarga Aaron tercetak jelas pada bagian atas, disertai pesan resmi dari utusan pribadi Sang Alpha.Namun, bukan undangan itu yang membuat amarahnya memuncak. Melainkan lampiran berisi daftar tamu yang telah dipersiapkan Aaron.Marcus meraih lembaran tersebut dan membacanya sekali lagi, seolah berharap nama yang tertera di urutan paling atas akan berubah.Tetapi nama itu tetap sama.Edward Johnson.Investor terbesar dan terkuat yang kini begitu diagung-agungkan oleh klannya.Seorang pengusaha asal Singapura yang telah menyuntikkan dana fantastis ke perusahaan Aaron, memperkuat posisi bisnisnya sekaligus memperluas pengaruhnya di antara para pemimpin klan.Dan sekarang, pria itu tercantum sebagai tamu terpenting dalam pesta pernikahan Aaron yang akan diselenggarakan besok.Marcus meremas kertas di tangannya.Se
Aku merasa seperti sedang bermimpi.Sosok pria yang berdiri beberapa meter di hadapanku terlihat begitu nyata, tetapi pikiranku seolah menolak mempercayainya.Beberapa kali aku mengerjapkan mata, mencoba membuktikan bahwa ini hanya ilusi. Namun, pria itu tak kunjung lenyap.Wajah yang begitu kukenal. Senyum yang selama ini kurindukan.“Ayah...?” ucapku ragu.Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan senyum khasnya, lalu merentangkan kedua tangan kepadaku.Detik itu juga, aku langsung berlari.“Ayah!”Aku menghambur ke dalam pelukannya.Begitu kedua lengannya memeluk tubuhku, seluruh pertahananku runtuh. Tangisku pecah begitu saja. Aku menangis sangat keras.Ayah mengusap punggungku perlahan.“Fay ... tenang. Ayah sudah di sini.”Namun, aku tidak peduli.Aku terus menangis dalam pelukannya, meluapkan seluruh emosi atas segala hal yang harus kulalui tanpa kehadiran Ayah di sampingku.“Sudah, Fay.” Suara Ayah terdengar sabar. “Ayah minta maaf.”Aku tetap tidak
Beberapa hari terakhir terasa begitu sibuk bagiku. Sejak Aaron mengatakan bahwa pernikahan kami akan segera dilangsungkan, mansion seolah berubah menjadi tempat persiapan sebuah acara besar. Hampir setiap hari ada orang baru yang datang membawa berbagai keperluan pernikahan. Aku bahkan hampir tidak memiliki waktu untuk sekadar duduk santai. Para desainer terkenal didatangkan Aaron langsung ke mansion untuk mempersiapkan gaun pernikahanku. Mereka membawa begitu banyak pilihan gaun hingga aku sendiri kesulitan menghitungnya. Ada gaun dengan rok panjang yang menjuntai hingga lantai, gaun dengan detail renda yang begitu rumit, sampai gaun dengan hiasan yang berkilauan di bawah cahaya lampu. Semuanya indah. Semuanya terlihat seperti gaun yang hanya pantas dikenakan seorang putri. Masalahnya, Aaron selalu punya pendapat lain. "Yang itu terlalu sederhana." Aku menoleh kepadanya dengan tidak percaya. "Ini sederhana?" Aaron hanya menggeleng. "Untuk calon Luna-ku, itu belum cukup." Ak
Elena sedang duduk di gazebo yang menghadap danau kecil buatan. Sedari tadi wajahnya penuh keterpukauan melihat keindahan di sekitarnya. Ia bahkan beberapa kali mengajak Arsen mengobrol dan menunjukkan banyaknya tanaman dan kemegahan bangunan di sana."Lihat, Arsen, ayahmu membangun jembatan itu posisinya sangat tepat," ucapnya sambil menunjuk arah bangunan di depannya. "Jembatannya melengkung di atas aliran sungai yang begitu tenang dan jernih."Elena mengedarkan pandangannya kembali."Selain di rumah kaca, di sini juga banyak bunga yang indah. Pemandangannya sangat menakjubkan, tempatnya juga begitu luas. Nanti kalau kamu sudah bisa jalan, kamu bisa lari-larian bersama ibu dan ayahmu."Tiba-tiba Arsen tertawa kecil.Hal itu membuat Elena terkejut sekaligus terharu.Matanya seketika membelalak lebar, lalu sedetik kemudian binar kebahagiaan yang begitu tulus terpancar dari wajahnya. Elena sempat terpaku, menatap wajah mungil di pelukannya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja
Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l
“A-apa maksud—ah!”Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami.Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra p
Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene
“Hanya menemani beliau sebentar saja, Fay. Lalu kamu bisa pulang. Apa susahnya?”Aku menghela napas pelan mendengar rentetan kalimat dari Bu Sarah, sekretaris senior sekaligus atasanku. Beliau terdengar terburu-buru dan penuh desakan saat memintaku pergi ke ruangan pimpinan perusahaan malam-malam b







