LOGIN“A-apa maksud—ah!”
Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami. Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra penciumanku, memicu gairah asing yang membakar. Pria itu kemudian beralih menciumi rahangku hingga ke ceruk leher. Aku masih tidak mengerti apa yang ia katakan tadi. Yang aku tahu logikaku sudah tersesat, kalah dengan hasrat yang makin membelenggu. "Pak...," rintihku payah, namun tanganku justru meremas kerah kemejanya, menahannya agar tidak menjauh. "Panggil aku Aaron," bisiknya lembut. Entah mengapa setiap bisikannya seolah mengandung kekuatan magis yang tak bisa kutolak. Dan suaranya ... membuatku merinding sekaligus mengirimkan gelenyar aneh yang membangkitkan hasrat tersembunyi dalam diriku. "Aaron...." Namanya keluar dari bibirku, lebih mirip suatu kenikmatan yang menghanyutkan daripada sebuah panggilan. Mendengar itu, Aaron kembali memagut bibirku. Namun kali ini bukan dengan kelembutan, melainkan digantikan oleh rasa lapar yang liar dan menuntut. Aku terengah, tanganku yang gemetar kini mulai menemukan keberanian untuk bergerak naik, mencengkeram bahu Aaron. Sensasi terbakar merambat dari titik di mana kulit kami bersentuhan. Tangannya yang besar dan kuat berpindah dari rahangku, menyusup ke sela-sela rambut, lalu menahan tengkukku dengan begitu dominan hingga wajahku terangkat sepenuhnya. Bibirnya melumat bibirku kasar, penuh nafsu yang semakin memuncak. "Aaron ... ah...." Desahanku justru menjadi bensin bagi apinya. Ia semakin tak terkendali. Dialog di antara kami kini sepenuhnya berganti menjadi deru napas yang saling memburu. Kesadaranku hanyut dalam kehangatan asing yang seharusnya kutolak, namun justru membuatku terpaku tak berdaya. Tangan Aaron mulai menanggalkan pakaianku dengan gerakan yang lembut namun pasti. Aku menahan napas saat ia menatapku dengan tatapan lapar yang tidak lagi ditutup-tutupi, seolah ia ingin melahapku hanya dengan pandangannya. Tak lama, ia melepaskan pakaiannya sendiri satu per satu, hingga dada bidangnya terpampang jelas di hadapanku. Dada dan otot perut yang keras itu terlihat begitu sempurna, bagaikan dipahat oleh tangan seniman ahli. Aku berkali-kali meneguk ludah, tenggorokanku mendadak terasa kering melihat keperkasaan yang ada di depanku. Tiba-tiba Aaron mendekat dan mulai menghujani sekujur tubuhku dengan ciuman panas tanpa melewatkan satu inci pun. Tangannya membelai dan terus membelai kulitku hingga nyaris membuatku gila. Ini salah. Ini benar-benar salah. Logikaku meneriakkan kata itu berkali-kali, tapi tubuhku justru menyerah pada tarikan magnetis yang tidak bisa kujelaskan. Malam itu berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali, sebuah kesalahan yang terjerat dalam gairah yang memabukkan. Saat fajar pertama menyelinap di sela gorden kantor, aku terbangun dengan tubuh yang terasa remuk dan kepala yang berdenyut-denyut. Aku sendirian di ruangan luas itu. Semuanya sudah tertata rapi, sofa sudah bersih, dan kemeja yang semalam berserakan di lantai sudah tidak ada. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku pulang dengan langkah gontai, menembus kabut pagi dengan rasa bersalah dan ketakutan yang semakin menjadi. Hari-hari berikutnya, aku terus menghindarinya. Aku sengaja mengambil rute terjauh untuk menghindari lantai eksekutif. Aku membuang semua ingatan tentang wajah pria itu, meyakinkan diriku bahwa itu hanyalah satu malam gila yang akan terkubur selamanya. Sampai pagi ini, di dalam kamar mandi yang sempit, dua garis merah muncul dengan sangat jelas di atas alat tes kehamilan. "Nggak," bisikku, menatap benda plastik itu dengan tatapan tak percaya. "Ini pasti salah. Ini nggak mungkin." Tanganku gemetar hebat hingga alat itu terjatuh ke lantai. Napas dan detak jantungku seolah berhenti berdetak. Dunia di sekitarku terasa menyempit, menjepit paru-paruku hingga aku kesulitan mencari udara. Aku mencobanya lagi. Dua kali. Tiga kali. Hasilnya tetap sama. Dua garis itu berdiri tegak seolah sedang mengejek masa depanku. Pikiran buruk mulai berputar di kepalaku. Bagaimana aku bisa menjelaskan ini? Siapa yang akan percaya bahwa anak magang biasa sepertiku telah mengandung anak dari seorang CEO paling berpengaruh di kota ini?..............***.............
"Tuan."Suara Aldrick memecah keheningan ruang kerja itu.Aaron mengangkat pandangan perlahan. “Ada perkembangan?”“Ya.” Aldrick melangkah mendekat. “Orang bermantel hitam itu kembali bergerak.”Tatapan Aaron langsung berubah tajam. “Lanjutkan.”Aldrick mengangguk singkat. “Setelah pengamanan kita perketat, dia mulai mengubah pola pergerakannya.” Nada suaranya tetap tenang dan terkendali. “Dia menghindari lorong utama dan mulai menggunakan jalur sempit di lantai atas markas.”Aaron bersandar perlahan di kursinya. Jemarinya masih memutar cincin itu dengan gerakan pelan.“Persis seperti dugaanku,” gumamnya. "Tikus selalu mencari lubang terkecil saat mereka merasa terdesak."Aldrick sedikit menyipitkan mata, menyadari sesuatu di balik ketenangan tuannya. "Anda memang sengaja membiarkan celah itu terbuka, bukan? Anda sengaja memancingnya ke sana."Aaron tersenyum tipis, bukan senyum ramah, melainkan senyum dingin seseorang yang sedang memainkan lawannya perlahan.“Aku hanya mengubah po
Di ruang kerjanya, Aaron tampak terpaku menatap benda kecil di tangannya. Sebuah ornamen logam halus dengan ukiran yang begitu rapi melingkari batu merah di bagian tengahnya.Sekilas, ia langsung mengenali bentuknya. Itu adalah model cincin wanita.Namun bukan bentuk cincin itu yang menyita perhatiannya, melainkan ukiran kecil di atas batu merah tersebut.Tatapan Aaron perlahan mengeras. Ingatan lama yang selama ini terkubur tiba-tiba menyeruak begitu jelas di benaknya.“Ibu, itu apa?”Suara kecil Aaron yang saat itu baru berusia tujuh tahun memecah keheningan kamar.Wanita cantik yang duduk di tepi ranjang sambil memegang sebuah cincin perlahan menoleh. Senyum lembut langsung terukir di wajahnya saat melihat putranya berdiri di depan pintu.“Kemarilah,” ucapnya pelan.Aaron kecil segera menghampiri, lalu naik ke pangkuan ibunya tanpa ragu. Bola matanya yang tajam sejak kecil menatap penuh rasa ingin tahu pada cincin di tangan sang ibu.“Ini cincin yang diberikan oleh orang baik kepad
Jessi memejamkan mata perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam tanpa bergerak. Namun perlahan, napasnya mulai berubah lebih berat. Naluri serigalanya bergerak samar di bawah kulit, merespons emosi yang kini tidak lagi kacau, melainkan dingin dan terarah.Ia bisa merasakannya dengan jelas sekarang.Dendam yang perlahan tumbuh semakin dalam di dalam dirinya. Tekad gelap yang kini tidak lagi dipenuhi kepanikan ataupun tangisan, melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin dan berbahaya.Dan tanpa ia sadari, pikirannya mulai kembali mencari satu sosok yang selama ini bergerak dari balik bayangan.Pria bermantel hitam itu.Sosok yang selalu berbicara dengan tenang di tengah kekacauan. Sosok yang memahami bagaimana rasa sakit dapat mengubah seseorang. Bagaimana kebencian bisa dipelihara, lalu diarahkan.Entah kenapa, ia merasa pria itu pasti mengetahui perubahan yang sedang terjadi di dalam dirinya saat ini.“Aku tahu kamu bisa merasakannya,” bisiknya lirih.Suara itu hampir tak terd
Keesokan harinya....Cahaya pagi yang redup menyelinap masuk melalui celah tirai kamar rumah sakit, jatuh samar di lantai dan dinding yang nyaris tak berwarna.Ruangan itu sunyi.Namun berbeda dengan malam sebelumnya, kali ini tidak ada ledakan emosi, tidak ada suara benda pecah, tidak ada teriakan histeris yang memenuhi ruangan.Jessi hanya duduk diam di sana, seolah waktu hanya berjalan melewatinya tanpa benar-benar menyentuhnya.Tubuhnya bersandar tenang di kepala tempat tidur, sementara kedua matanya menatap lurus ke depan. Ia tampak jauh lebih tenang dibanding semalam.Terlalu tenang.Seolah seluruh amarahnya telah tenggelam jauh ke dasar dirinya dan berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin.Napasnya perlahan teratur. Jemarinya tidak lagi gemetar. Bahkan aura liar yang semalam nyaris meledak kini terasa menghilang, menyisakan ketenangan yang justru membuat suasana di sekitarnya terasa semakin menekan.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkedip perlahan, seolah baru kemb
"AKU TIDAK MAU INI! AKU MAU WAJAHKU KEMBALI!"Jessi berteriak histeris. Ia mulai mencengkeram sprei, napasnya memburu, dan matanya memerah dipenuhi campuran antara rasa takut, marah dan ketidakpercayaan.Tangannya kembali menyentuh wajahnya. Ujung jarinya meraba kulit itu dengan panik, bukan lagi untuk memastikan apa yang ia lihat nyata, melainkan seperti ingin mengoyak dan melepaskannya dari dirinya sendiri."Dia...," bisiknya tiba-tiba.Tubuhnya menegang, perlahan tatapannya berubah. Kepanikan yang tadi memenuhi matanya mulai menghilang, digantikan sesuatu yang jauh lebih mengerikan dan penuh kebencian yang tak terbendung."Aaron...." Nama itu keluar seperti racun. "Dia berani meninggalkan tanda ini padaku."Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mengepal begitu kuat seolah menahan dorongan untuk menghancurkan sesuatu.Keheningan sesaat terasa menyesakkan.Lalu tatapannya menyipit, dipenuhi oleh dendam yang sangat dalam. "Dan perempuan itu...." Ia berhenti sejenak, seolah menah
Ruangan operasi itu dingin dan nyaris tanpa suara. Cahaya putih dari lampu bedah jatuh tepat ke wajah Jessi yang terbaring kaku di atas meja. Peralatan medis tersusun rapi di sekelilingnya, mengilap dan siap digunakan. Di balik kaca, beberapa tenaga medis bergerak cepat namun teratur, seolah setiap detik sudah diperhitungkan dengan saksama.Stanley berdiri di koridor luar, mematung di balik kaca transparan. Wajahnya datar sekeras pahatan batu. Namun, hanya orang yang benar-benar mengenalnya yang tahu bahwa diamnya kali ini bukanlah tanda ketenangan. Melainkan tekanan yang ditahan dengan paksa.Beberapa jam yang lalu, ia telah mengeluarkan perintah. Tidak boleh ada dokter biasa yang bisa menyentuh putrinya, tidak peduli seberapa tinggi gelarnya di rumah sakit ini. Pria yang kini berada di dalam ruang operasi itu adalah seorang spesialis yang namanya jarang terdengar, namun selalu muncul di lingkaran kalangan elite. Seseorang yang terbiasa memperbaiki wajah yang telah hancur, mengembal







