Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 2. Benih sang Alpha

Share

2. Benih sang Alpha

Author: malapalas
last update publish date: 2026-03-05 15:18:00

​“A-apa maksud—ah!”

​Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami.

​Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra penciumanku, memicu gairah asing yang membakar.

​Pria itu kemudian beralih menciumi rahangku hingga ke ceruk leher.

​Aku masih tidak mengerti apa yang ia katakan tadi. Yang aku tahu logikaku sudah tersesat, kalah dengan hasrat yang makin membelenggu.

​"Pak...," rintihku payah, namun tanganku justru meremas kerah kemejanya, menahannya agar tidak menjauh.

​"Panggil aku Aaron," bisiknya lembut.

​Entah mengapa setiap bisikannya seolah mengandung kekuatan magis yang tak bisa kutolak. Dan suaranya ... membuatku merinding sekaligus mengirimkan gelenyar aneh yang membangkitkan hasrat tersembunyi dalam diriku.

​"Aaron...." Namanya keluar dari bibirku, lebih mirip suatu kenikmatan yang menghanyutkan daripada sebuah panggilan.

​Mendengar itu, Aaron kembali memagut bibirku. Namun kali ini bukan dengan kelembutan, melainkan digantikan oleh rasa lapar yang liar dan menuntut.

​Aku terengah, tanganku yang gemetar kini mulai menemukan keberanian untuk bergerak naik, mencengkeram bahu Aaron. Sensasi terbakar merambat dari titik di mana kulit kami bersentuhan.

​Tangannya yang besar dan kuat berpindah dari rahangku, menyusup ke sela-sela rambut, lalu menahan tengkukku dengan begitu dominan hingga wajahku terangkat sepenuhnya. Bibirnya melumat bibirku kasar, penuh nafsu yang semakin memuncak.

​"Aaron ... ah...."

​Desahanku justru menjadi bensin bagi apinya. Ia semakin tak terkendali. Dialog di antara kami kini sepenuhnya berganti menjadi deru napas yang saling memburu. Kesadaranku hanyut dalam kehangatan asing yang seharusnya kutolak, namun justru membuatku terpaku tak berdaya.

​Tangan Aaron mulai menanggalkan pakaianku dengan gerakan yang lembut namun pasti. Aku menahan napas saat ia menatapku dengan tatapan lapar yang tidak lagi ditutup-tutupi, seolah ia ingin melahapku hanya dengan pandangannya. Tak lama, ia melepaskan pakaiannya sendiri satu per satu, hingga dada bidangnya terpampang jelas di hadapanku.

​Dada dan otot perut yang keras itu terlihat begitu sempurna, bagaikan dipahat oleh tangan seniman ahli. Aku berkali-kali meneguk ludah, tenggorokanku mendadak terasa kering melihat keperkasaan yang ada di depanku.

​Tiba-tiba Aaron mendekat dan mulai menghujani sekujur tubuhku dengan ciuman panas tanpa melewatkan satu inci pun. Tangannya membelai dan terus membelai kulitku hingga nyaris membuatku gila.

​Ini salah. Ini benar-benar salah.

​Logikaku meneriakkan kata itu berkali-kali, tapi tubuhku justru menyerah pada tarikan magnetis yang tidak bisa kujelaskan. Malam itu berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali, sebuah kesalahan yang terjerat dalam gairah yang memabukkan.

​Saat fajar pertama menyelinap di sela gorden kantor, aku terbangun dengan tubuh yang terasa remuk dan kepala yang berdenyut-denyut.

​Aku sendirian di ruangan luas itu. Semuanya sudah tertata rapi, sofa sudah bersih, dan kemeja yang semalam berserakan di lantai sudah tidak ada. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

​Aku pulang dengan langkah gontai, menembus kabut pagi dengan rasa bersalah dan ketakutan yang semakin menjadi.

​Hari-hari berikutnya, aku terus menghindarinya. Aku sengaja mengambil rute terjauh untuk menghindari lantai eksekutif. Aku membuang semua ingatan tentang wajah pria itu, meyakinkan diriku bahwa itu hanyalah satu malam gila yang akan terkubur selamanya.

​Sampai pagi ini, di dalam kamar mandi yang sempit, dua garis merah muncul dengan sangat jelas di atas alat tes kehamilan.

​"Nggak," bisikku, menatap benda plastik itu dengan tatapan tak percaya. "Ini pasti salah. Ini nggak mungkin."

​Tanganku gemetar hebat hingga alat itu terjatuh ke lantai. Napas dan detak jantungku seolah berhenti berdetak. Dunia di sekitarku terasa menyempit, menjepit paru-paruku hingga aku kesulitan mencari udara.

​Aku mencobanya lagi. Dua kali. Tiga kali. Hasilnya tetap sama.

​Dua garis itu berdiri tegak seolah sedang mengejek masa depanku.

​Pikiran buruk mulai berputar di kepalaku. Bagaimana aku bisa menjelaskan ini? Siapa yang akan percaya bahwa anak magang biasa sepertiku telah mengandung anak dari seorang CEO paling berpengaruh di kota ini?

..............***............. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Fasya Mk
yg ini juga
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   272. Laporan Perkembangan Penelitian

    Salah seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun maju dari barisan tersebut. Rambutnya telah dipenuhi uban, tetapi sorot matanya tetap tajam dan penuh ketelitian. Jas laboratorium yang dikenakannya tampak rapi, dengan sebuah lencana bertuliskan Profesor Ronald terpasang di bagian dada.Ia merupakan ketua tim penelitian yang bertanggung jawab atas penelitian darah werewolf serta pengembangan obat-obatan penguatan.“Selamat datang, Alpha,” ucap Profesor Ronald. “Kami telah menunggu kedatangan Anda.”“Bawa aku ke ruang penelitian utama. Aku ingin mendengar laporan langsung mengenai hasil terbaru.”“Baik, Alpha.”Profesor Ronald memberi isyarat kepada timnya untuk mengikuti mereka.Mereka bergerak melewati koridor utama yang semakin lebar. Di balik dinding kaca tebal, Edward mulai melihat bagian dalam fasilitas penelitian.Ruang penelitian utama itu sangat luas, bahkan menyerupai beberapa lantai fasilitas yang disatukan menjadi satu area besar. Langit-langitnya tinggi, dilengkapi rangk

  • Anak Rahasia Sang Alpha   271. Laboratorium Sang Alpha

    Kecepatan mereka perlahan menurun setelah melewati celah sempit di antara dua tebing batu. Aaron akhirnya menghentikan langkahnya di sebuah jalur berbatu yang menghadap ke lembah tersembunyi.Edward berhenti beberapa langkah di belakangnya.Angin berembus melewati pepohonan, membawa kabut tipis yang perlahan terpecah di hadapan mereka. Di balik lapisan pepohonan dan tebing yang menjulang tinggi, bangunan laboratorium medis rahasia mulai terlihat.Dinding putih kelabu berdiri kokoh di tengah lembah, berpadu dengan kaca gelap dan struktur logam yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Bangunan itu jauh lebih besar daripada yang Edward bayangkan. Beberapa sayap bangunan membentang ke sisi lembah, sementara bagian lainnya tersembunyi di balik lereng batu dan pepohonan lebat.Tidak ada jalan umum yang mengarah ke tempat itu. Tidak ada papan nama atau tanda yang dapat mengungkapkan fungsi sebenarnya.Namun, Edward segera menyadari bahwa bangunan tersebut bukan sekadar laboratorium yang te

  • Anak Rahasia Sang Alpha   270. Menuju Laboratorium Rahasia

    Edward menatap profil wajah Aaron dari samping, kemudian tersenyum tipis.“Kamu benar-benar sudah berubah.”Aaron mengernyitkan kening. “Maksudmu?”“Dulu, kamu hanya tahu cara menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalanmu.”Edward menyilangkan tangan di depan dada.Kilat ngeri sekaligus kagum melintas di matanya saat mengingat memori kelam dua puluh lima tahun lalu—ketika Aaron kecil mengamuk dan berubah menjadi monster serigala yang menakutkan.“Sekarang kamu justru berbicara tentang masa depan, perlindungan, penelitian, dan bagaimana kehidupan setelah perang berakhir,” lanjutnya.Aaron memilih tidak menyahut.Edward terkekeh pelan melihat sikap dingin Aaron. “Jangan salah paham. Aku tidak sedang mengatakan kamu menjadi lebih lembut.”“Bagus,” sahut Aaron datar."Aku hanya ingin mengatakan bahwa ambisimu sekarang jauh lebih besar dan berbahaya.”Tatapan Aaron mengeras samar. “Ambisi tidak akan ada artinya jika tidak menghasilkan sesuatu yang bisa bertahan.”Edward mengangguk setu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   269. Kedatangan Sekutu Sang Alpha

    Suara mesin jet pribadi perlahan mereda setelah pesawat itu berhenti di landasan khusus penerbangan privat. Beberapa petugas keamanan yang telah berjaga di sekitar area segera bergerak. Mereka berdiri dalam barisan teratur di sisi landasan, sementara angin yang berembus mengibaskan ujung jas hitam yang dikenakan masing-masing pengawal. Pintu pesawat terbuka. Beberapa detik kemudian, Edward Johnson muncul dari dalam kabin. Pria itu mengenakan setelan abu-abu gelap dengan kemeja putih yang rapi. Begitu melihat Aaron berdiri tidak jauh dari tangga pesawat, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya. “Aaron!” Edward menuruni tangga dengan langkah ringan sebelum berjalan menghampiri sang Alpha. Aaron membalasnya dengan senyum tipis. Ia mengulurkan tangan ketika Edward sudah berada di hadapannya. “Selamat datang, Edward.” Aaron menjabat tangan Edward dengan erat. “Terima kasih sudah menerima undanganku dan datang langsung ke sini.” Edward terkekeh pelan. “Kamu tidak perlu berterima ka

  • Anak Rahasia Sang Alpha   268. Celah di Balik Rencana

    Benak Lira berputar cepat. Rasa sakit tiba-tiba mencengkeram hatinya.Pernikahan yang bukan hanya akan mengikat Aaron dan Fay secara resmi, tetapi juga berpotensi mengukuhkan kedudukan perempuan itu sebagai Luna dan Arsen sebagai pewaris sah di hadapan para pemimpin klan.Jemari Lira kembali mengepal. Ia tidak ingin membayangkan Aaron berdiri di hadapan semua orang bersama Fay, sementara dirinya dan semua pihak hanya bisa menyaksikan tanpa mampu melakukan apa pun.Lebih dari itu, ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa pria yang dahulu begitu dekat dengannya kini telah membangun kehidupan yang sama sekali tidak lagi memberinya tempat.Lira menarik napas perlahan, berusaha meredam gejolak yang mulai menguasai dadanya.Beberapa saat kemudian, ia menatap Marcus dengan hati-hati.“Jika pernikahan itu sudah terdaftar secara sah ... apakah kita benar-benar tidak bisa melakukan apa pun?” tanyanya.Pertanyaan itu membuat Marcus terdiam sejenak. Ia kemudian berjalan menuju meja dan meletakka

  • Anak Rahasia Sang Alpha   267. Jebakan di Balik Undangan

    “Bukan sekadar mengundangnya.” Marcus merebut dokumen itu dari tangannya. “Dia sengaja menempatkan nama investor itu di urutan pertama agar kita tahu bahwa pria itu akan menjadi bagian penting dalam pernikahan tersebut.”Marcus menunjuk daftar nama itu dengan telunjuknya.“Jika kita datang dan mencoba mengacaukan acara, kita bukan hanya akan berhadapan dengan Aaron, tetapi juga Edward Johnson.” Marcus mengepalkan tangannya. “Kamu tahu seberapa besar pengaruh investor itu terhadap perusahaan klan kita.”Lira terdiam, sementara Marcus melanjutkan dengan suara yang semakin berat.“Jika Edward menganggap tindakan kita sebagai ancaman terhadap kepentingan bisnisnya, dia bisa menggunakan kekuatan finansial dan hak investasinya untuk menggeser kepemilikan saham pihak-pihak yang terlibat.”“Termasuk saham milik Dewan?” tanya Lira.“Bukan hanya milik Dewan.” Tatapan Marcus mengeras. “Saham milik para Tetua dan seluruh pihak yang mendukung tindakan tersebut bisa dipindahkan melalui kesepakatan

  • Anak Rahasia Sang Alpha   58. Api yang Dibawa Pulang

    Jessi keluar dari dalam lift dengan langkah tergesa-gesa, hampir tersandung karena pandangannya yang mengabur. Napasnya terengah-engah dan kacau, sementara sebelah tangannya masih menekan sisi wajah yang terus mengalirkan darah segar. Namun, rasa perih yang menjalar di kulitnya sama sekali tidak se

  • Anak Rahasia Sang Alpha   55. Kembalinya Sang Predator

    Udara di lantai eksekutif pagi itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Langkah kaki Aaron terdengar tenang namun mematikan, menggema di lorong yang sunyi. Di belakangnya, Aldrick dan Lucien berjalan dalam diam, memberikan aura perlindungan yang sangat kuat. Tidak ada satu pun staf atau karyawan

  • Anak Rahasia Sang Alpha   49. Lolongan yang Mencari

    ​Aku tidak tahu pasti kapan percakapan penuh ketegangan semalam berakhir. Yang teringat di benakku hanyalah sisa-sisa tatapan Aaron yang terlalu dalam, napasnya yang hangat menerpa wajahku, dan debaran jantungku yang terasa semakin keras, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.Saat kesadarank

  • Anak Rahasia Sang Alpha   44. Tidak Ada Jalan Keluar

    Aku tahu dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban itu. Mempertimbangkan bagaimana keadaannya sekarang dengan luka di perutnya yang masih berada dalam tekanan tubuhku, aku tidak punya pilihan selain mengatakannya sekarang.Dan terpaksa aku harus mengaku.Aku berusaha mencari kosakata yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status