LOGINAku langsung membekap mulutku begitu Aaron benar-benar menghilang dari pandangan.Tubuhku gemetar hebat. Rasa sesak yang sejak tadi kutahan akhirnya runtuh begitu saja.Dengan langkah tergesa, aku berlari kembali masuk ke dalam rumah kayu nenek sebelum Lucien atau Aldrick menyadari keberadaanku.Aku menutup pintu kamar pelan, lalu bersandar di baliknya sambil menahan napas yang bergetar kacau. Dan detik berikutnya, air mataku jatuh semakin deras.Aku buru-buru mengambil bantal di atas ranjang lalu menekannya ke wajahku, meredam suara tangisku sendiri agar tidak terdengar sampai keluar kamar. Aku tidak ingin membangunkan nenek. Tangisku pecah tanpa bisa kutahan lagi.Dadaku terasa sakit. Sangat sakit.Bayangan Aaron terus berputar di kepalaku. Tatapannya, pelukannya dan cara ia berkata bahwa ia tidak tahu apakah itu cinta atau hanya ikatan mate.Dan yang paling menyakitkan ... ia tidak menyangkal ketakutanku.Aku menangis sampai tubuhku terasa lemas sendiri. Sampai akhirnya suara isakk
Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk menenangkan kekacauan di dalam pikiranku.Namun, Aaron tetap membisu.Sorot mata emasnya terlihat rumit. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang dalam dan sulit dijelaskan, seolah bahkan dirinya sendiri tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan."Aaron—""Maaf, Fay," potongnya cepat. "Aku nggak tahu apa ini cinta ... atau hanya ikatan mate."Tubuhku seketika menegang."Tapi Aaron—""Apa itu belum cukup buatmu?" Ia kembali memotong ucapanku. Tatapannya turun tepat ke mataku, begitu intens hingga membuat dadaku berdenyut sakit. "Bayanganmu selalu mengejarku, bahkan saat aku menutup mata. Setiap detik yang aku habiskan jauh darimu hampir membuatku gila, apa itu masih belum cukup?"Kalimat itu membua
Aku masih berada di dalam dekapan Aaron ketika keheningan kembali memenuhi setiap sudut kamar kecilku. Di luar sana, angin malam masih bertiup pelan, menggoyangkan tirai jendela bersama cahaya bulan merah yang sesekali masuk ke dalam ruangan.Namun anehnya, rasa takut yang tadi hampir menghancurkanku perlahan mulai mereda.Karena Aaron ada di sini.Tangannya mengusap pelan punggungku dengan gerakan yang membuai, sementara telapak tangannya yang lain tetap berada di atas perutku seolah ia tidak ingin melepaskan hubungan dengan anak kami sedikit pun.“Aku benar-benar benci harus meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini,” ucapnya, suaranya rendah dan sarat dengan kegelisahan.Aku mendongak perlahan, menatap wajahnya dari jarak yang begitu dekat. Sorot mata emas itu masih menyimpan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya memudar. Garis-garis kelelahan di sudut matanya tampak jelas, namun ia berusaha menutupinya dengan tatapan yang tajam.Aaron mengembuskan napas pelan sebelum kemba
Aku masih bisa merasakan sisa-sisa nyeri di tubuhku saat Aaron duduk di kursi, persis di samping ranjangku. Tangannya belum berpindah dari perutku, seolah ia takut rasa sakit itu akan kembali menyerang begitu saja jika ia melepaskannya.Dan anehnya ... kehangatan itu benar-benar menenangkan.Janin di dalam rahimku yang tadi bergerak liar kini jauh lebih tenang di bawah sentuhannya, seolah benar-benar mengenali keberadaan pria ini sebagai sosok yang paling mampu menenangkan insting liarnya.Kamar kecil ini perlahan kembali sunyi.Hanya suara napas kami yang terdengar samar di tengah cahaya bulan merah yang menyusup masuk melalui celah jendela.Aku memberanikan diri menatap Aaron. Baru sekarang aku menyadari bahwa pria itu tampak jauh lebih kacau dibanding biasanya. Garis rahangnya mengeras, napasnya terdengar berat, sementara mata emas yang biasanya begitu tajam kini meredup, menyiratkan kelelahan yang amat sangat.Akan tetapi, ada yang berbeda dari caranya menatapku malam ini. Tatapa
Tubuhku masih gemetar hebat di atas lantai kamar. Rasa sakit itu datang lagi, jauh lebih ganas dari sebelumnya, seolah mencoba menyerang rahimku dari dalam tanpa ampun."Akhh, sakit! Nek, tolong!!"Tangisku pecah seketika. Jemariku mencengkeram kain bajuku sendiri di atas perut yang terasa semakin berat dan menegang. Rasanya seperti ada sesuatu di dalam sana yang terus bergerak liar, menekan ke segala arah hingga napasku tersengal-sengal."Fay, dengarkan nenek. Tarik napasmu pelan-pelan." Suara nenek terdengar sangat panik di dekatku. Tangannya terus mengusap punggungku yang sudah basah oleh keringat dingin. "Jangan biarkan ketakutanmu menguasai dirimu. Kamu harus tetap tenang demi anak itu.""Aku mencoba, Nek. Sungguh, aku mencoba," isakku dengan suara yang nyaris hilang.Tapi rasa sakit ini terlalu besar. Perutku kembali bergelombang pelan di depan mataku sendiri, membuat tubuhku membeku ketakutan. Sesuatu di dalam sana bergerak semakin kuat. Kulitku menegang sampai terasa pana
"Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya menyapu udara malam. “Tetua sudah terlalu lama menunggu hasil.”Hendra menyipitkan mata, menatap punggung pria itu yang mulai menjauh. "Dan jika aku berhasil melakukannya? Apa jaminannya untukku?"Pria itu berhenti melangkah tanpa menoleh ke belakang. "Maka semuanya berakhir. Kamu akan mendapatkan apa yang dijanjikan, dan bebanmu akan terangkat."Nada suaranya terdengar terlalu tenang. Namun entah kenapa, bagi Hendra jawaban itu justru seperti sebuah janji kematian.Karena Hendra tahu betul bahwa di dunia mereka, kata "berakhir" sering kali berarti seseorang harus menghilang selamanya.Pria bermantel hitam itu kembali melangkah memasuki bayangan pepohonan. Namun langkahnya tiba-tiba terhe





![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

