Accueil / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 85. Jawaban yang Tidak Datang

Partager

85. Jawaban yang Tidak Datang

Auteur: malapalas
last update Date de publication: 2026-05-14 21:06:39

Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.

Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.

Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk menenangkan kekacauan di dalam pikiranku.

Namun, Aaron tetap membisu.

Sorot mata emasnya terlihat rumit. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang dalam dan sulit dijelaskan, seolah bahkan dirinya sendiri tidak b
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Anak Rahasia Sang Alpha   224. Malam yang Merenggut Segalanya

    Rumah kaca tenggelam dalam keheningan. Di antara rimbunnya dedaunan dan harum lembut bunga, aku bisa merasakan betapa mencekamnya suasana yang menyelimuti kami.Aaron tidak langsung menjawab. Tangan yang semula memeluk pinggangku erat perlahan terlepas.Ia berjalan melewatiku beberapa langkah, lalu berhenti. Kedua tangannya terselip di saku celana. Dengan punggung menghadap ke arahku, ia menatap hamparan bunga di hadapannya. Namun aku tahu, yang sedang dipandangnya bukanlah bunga-bunga itu.Dari tempatku berdiri, sosoknya mendadak terasa begitu jauh. Punggung yang selalu tampak kokoh itu kini seolah memikul kesepian dan kesedihan yang selama ini ia pendam sendirian.Aku hanya diam dan menunggu. Aku tidak ingin mendesaknya.Aku hanya ingin ia jujur kepadaku tentang apa pun. Namun aku juga mengerti, kepercayaan itu tidak mungkin tumbuh dalam sekejap, terlebih dunia yang selama ini Aaron jalani terasa begitu jauh dari jangkauanku.Keheningan kembali membentang di antara kami.Beberapa sa

  • Anak Rahasia Sang Alpha   223. Ceritakan Padaku

    Rumah kaca kembali diselimuti keheningan.Di balik kehangatan pelukan Aaron dan semua perhatian yang selalu ia berikan kepadaku, ada satu kenyataan yang akhirnya tak lagi bisa kuabaikan.Aku mengenal pria yang berdiri di hadapanku sebagai pasangan, pelindung, sekaligus Alpha yang rela mempertaruhkan segalanya demi menjagaku.Namun, aku belum pernah benar-benar mengenal kehidupan yang membentuknya menjadi sosok seperti sekarang.Aku takut.Takut kalau selama ini aku hanya mencintai sebagian dari dirinya, sementara bagian lain yang jauh lebih besar justru tetap tersembunyi di balik keheningan yang selalu ia pilih.Aku menunduk lagi. Senyum kecil yang tadi sempat muncul kembali menghilang."Masih belum berhasil juga?" Ia mendekat sedikit. "Kalau perlu, besok aku batalkan semua rapat."Aku spontan mendongak. "Jangan!""Kenapa?""Nanti pekerjaanmu makin banyak."Aaron terkekeh pelan. "Berarti kamu masih mengkhawatirkanku.""Aku memang selalu mengkhawatirkanmu."Jawabanku keluar begitu saja

  • Anak Rahasia Sang Alpha   222. Di Balik Diammu

    Sejak sore tadi, aku terus menunggu.Jam demi jam berlalu, tetapi mobil Aaron tak kunjung memasuki halaman mansion.Aku sempat mencoba mengalihkan pikiranku dengan membaca buku di perpustakaan, lalu membantu para pelayan merangkai bunga. Namun, setiap kali mendengar suara kendaraan dari kejauhan, refleks aku akan menoleh ke arah jendela, berharap pria itu akhirnya pulang.Sayangnya, bukan Aaron.Tanpa kusadari, langit di luar perlahan berubah gelap.Aku kini berdiri sendirian di rumah kaca yang berada di bagian belakang mansion.Ruangan luas itu dipenuhi beragam bunga dari berbagai penjuru dunia yang tumbuh subur di bawah kubah kaca. Cahaya lampu-lampu hangat yang tersembunyi di antara dedaunan membuat seluruh ruangan tampak begitu indah, seolah ribuan bintang turun menghiasi taman ini.Namun, seindah apa pun pemandangan di depanku, pikiranku tetap dipenuhi ucapan Bu Sarah."Menurut saya, akan jauh lebih bijaksana jika Nyonya Fay mendengar cerita itu langsung dari mulut Tuan Aaron sen

  • Anak Rahasia Sang Alpha   221. Kartu Truf yang Terbongkar

    Darah Damian masih membasahi bagian depan jas Aaron. Sang Alpha berdiri tegap di tengah keheningan hutan pinus, lalu mengangkat tatapan emasnya kepada Aldrick.​"Aldrick," panggil Aaron. Suaranya rendah dan dalam, membelah kesunyian hutan yang mencekam.​Aldrick menegakkan posisi tubuhnya, sementara Lucien dan para prajurit pilihan yang berada di sekeliling mereka refleks menajamkan pendengaran."Sekarang jelaskan." Suara Aaron tetap rendah, tetapi mengandung perintah yang tak terbantahkan.Tatapan emasnya mengunci Aldrick."Bagaimana kamu mengetahui bajingan itu menggunakan sihir penyamar wujud ... dan dari mana kamu mendapatkan ramuan penetral itu?"​Aldrick menundukkan kepala sedikit penuh hormat sebelum mengangkat pandangannya untuk menatap sang pemimpin secara langsung.​"Semuanya berawal dari rasa frustrasi saya, Tuan," ujar Aldrick jujur, suaranya mengalun berat dan tegas. "Saya merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal dalam setiap insiden penyerangan. Kami selalu kalah selangk

  • Anak Rahasia Sang Alpha   220. Ramuan yang Sirna

    Tekanan cakar Aaron menghunjam semakin dalam tanpa ampun. Rasa sakit yang membakar menjalar dari dada kiri Damian, disusul darah segar yang kembali menyembur dari mulutnya.Napasnya langsung tersengal hebat.Aaron tidak berkata apa-apa.Sorot matanya tetap dingin, bahkan nyaris tanpa emosi, seolah hanya sedang menyaksikan mangsa yang perlahan kehilangan seluruh harapan hidupnya.Bersamaan dengan luka fatal yang terus menguras darahnya, aliran sihir yang menopang ramuan penyamar mulai kacau. Konsentrasi Damian runtuh. Dalam sekejap, selubung ilusi yang menyelimuti tubuhnya pecah tak berbekas.​Detik itu juga, sosok Damian yang awalnya tak kasatmata kini mendadak muncul begitu saja di hadapan semua orang.Para prajurit yang sejak tadi hanya melihat Aaron bertarung dengan ruang kosong langsung membelalak."Itu—""Ada orang di sana!""Jadi benar-benar ada penyusup!"Suara keterkejutan bersahutan memenuhi hutan pinus.Beberapa prajurit bahkan refleks mengangkat senjata mereka, sementara ya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   219. Pengakuan Sang Pembantai

    Keheningan hutan pinus mendadak terasa begitu menyesakkan. Di atas tanah basah yang telah ternoda darah, Aaron masih menatap pria bermantel hitam itu dengan sorot mata dingin yang sanggup membekukan siapa pun.Cakar tajamnya tetap menancap di dada kiri Damian, menahan pria itu agar tidak bergerak sedikit pun.Dengan tangan yang lain, Aaron perlahan merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah cincin bermata merah, benda yang sejak beberapa waktu terakhir tak pernah lepas dari genggamannya.Kilau batu merah itu memantulkan cahaya redup di sela-sela pepohonan pinus."Damian...." Suara Aaron terdengar datar, namun dinginnya menusuk hingga ke tulang. Ia mengangkat cincin itu tepat di depan wajah lawannya. "Kamu tahu ini apa?"Begitu melihat cincin tersebut, mata Damian langsung melebar."B-bagaimana ... cincin itu bisa ada padamu?" tanyanya spontan.Kepanikan yang muncul di wajahnya tak sempat lagi ia sembunyikan.Sudut bibir Aaron terangkat tipis."Kenapa?" tanyanya pelan. "Apa cincin

  • Anak Rahasia Sang Alpha   99. Ayah yang Memilih Racun

    Klik.Suara putaran tutup botol kecil itu terdengar sangat samar, hampir tak terdengar, terbuka di balik meja kayu. Tangan Hendra yang memegang botol itu tetap stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang bersiap merenggut sesuatu yang berharga. Gerakannya begitu tenang, mencerminkan sosok ya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   94. Tatapan yang Berubah

    Beliau berdiri di dekat mobil sambil menatapku tanpa bergerak sedikit pun.Senyumku perlahan memudar. Untuk beberapa detik, tidak ada suara apa pun selain angin sore yang berembus pelan di antara pohon-pohon pinus.Aku masih berdiri di sana dengan perasaan bahagia yang belum hilang sedikit pun, sem

  • Anak Rahasia Sang Alpha   93. Penantian Fay

    Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Padahal di telepon, ayah sama sekali tidak mengatakan kapan tepatnya beliau akan datang. Hanya bilang akan menemuiku secepatnya.Namun entah kenapa, aku sangat yakin. Sore ini Ayah pasti datang. Perasaan itu begitu kuat sampai membuatku sama sek

  • Anak Rahasia Sang Alpha   83. Pelukan yang Terasa Berbeda

    Aku masih bisa merasakan sisa-sisa nyeri di tubuhku saat Aaron duduk di kursi, persis di samping ranjangku. Tangannya belum berpindah dari perutku, seolah ia takut rasa sakit itu akan kembali menyerang begitu saja jika ia melepaskannya.Dan anehnya ... kehangatan itu benar-benar menenangkan.Janin

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status