로그인"Aaron...."Aku menyebut namanya lirih.Ia menoleh kepadaku, kemudian tersenyum kecil. "Apa, Baby?"Aku menggeleng pelan.Entah mengapa, mendengar kalimat itu langsung dari bibirnya membuat hatiku terasa penuh.Aku tahu Aaron mencintaiku. Aku merasakannya dari setiap perhatian, perlindungan, dan pengorbanan yang selama ini diberikannya. Namun, mendengarnya menyatakan hal itu di hadapan seseorang dari masa laluku tetap membuatku tersentuh.Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat."Aku juga akan selalu menjagamu," bisikku.Senyum Aaron semakin dalam. Ia menunduk dan mengecup keningku sekali lagi."Kalau begitu, kita harus saling menjaga."Aku mengangguk pelan."Tapi, kalau suatu hari keadaan berubah dan kita menghadapi sesuatu yang jauh lebih sulit, berjanjilah kamu tetap akan menggenggam tanganku seperti sekarang," ucapku lirih.Aaron menatapku lekat. "Aku nggak bisa menjanjikan bahwa hidup kita akan selalu mudah, Baby. Akan ada banyak hal yang mungkin harus kita hadapi. Namun, ak
"Sayang, apa mereka mengganggumu?"Aku mendongak menatap Aaron. Begitu melihat wajah suamiku yang kini berdiri tepat di sampingku, ketegangan yang sejak tadi kurasakan perlahan menghilang.Aku menggeleng kecil. "Nggak. Kami hanya sedang mengobrol."Aaron menundukkan kepala sedikit, memperhatikan wajahku seolah ingin memastikan bahwa aku benar-benar baik-baik saja. Tangannya masih melingkar di pinggangku, bahkan menarik tubuhku sedikit lebih dekat kepadanya."Benarkah?" tanyanya sekali lagi.Aku tersenyum. "Iya."Melihat ekspresinya yang masih menyimpan kekhawatiran, aku spontan meraih tangannya yang berada di pinggangku, lalu mengusap punggung tangannya dengan ibu jari."Aku baik-baik saja. Kamu nggak perlu khawatir."Tatapan Aaron akhirnya sedikit melunak. Ia membungkuk dan mengecup keningku cukup lama, seolah tidak terlalu peduli bahwa ada dua orang lain yang sedang berdiri di hadapan kami dan banyak pengunjung yang lalu-lalang melewati kami."Aku hanya meninggalkanmu sebentar untuk
"Benar, Fay. Bahkan setelah pernikahan kami nanti, Arya akan diberikan kepercayaan oleh ayahku untuk memegang kendali penuh atas perusahaan keluarga kami."Tasya mengangkat dagunya sedikit, menyunggingkan senyum penuh kebanggaan, seolah baru saja menaklukkan dunia.Sementara aku hanya bisa membeku di tempat.Jadi, Arya benar-benar akan menikahi Tasya?Dari cara wanita itu berbicara, aku menangkap kesan bahwa jabatan yang akan diberikan ayahnya kepada Arya merupakan sesuatu yang sangat penting dalam hubungan mereka.Benarkah hanya demi sebuah jabatan dan posisi di perusahaan besar, Arya sampai rela mengorbankan masa depannya?Pria idealis yang kukenal dulu, yang selalu membanggakan kerja keras dan integritas, kini bersedia menikahi wanita yang sama sekali tidak dicintainya?Dadaku mendadak terasa hambar. Aku akhirnya mengerti, bahwa di dunia ini, segala sesuatu—bahkan prinsip hidup seseorang—bisa terkalahkan dengan mudah hanya oleh kilauan uang dan kekuasaan.Aku melirik Arya. Raha
Arya adalah kakak tingkatku. Kami terpaut dua tahun, dan ia waktu itu sangat aktif di BEM.Dari dulu Tasya sangat tergila-gila padanya. Setiap ada wanita yang mendekatinya, ia akan melakukan segala cara agar mereka menjauh dari Arya. Termasuk padaku.Dan aku tidak menyangka, hari ini aku pun bisa bertemu dengannya.Kini, wanita itu berhenti tepat di samping Arya. Tanpa ragu, Tasya langsung mengaitkan tangannya pada lengan pria tersebut dengan gerakan manja."Kamu ternyata di sini. Aku sudah mencarimu dari tadi."Aku menatapnya dengan kening berkerut. Ada sesuatu yang terasa janggal dari pemandangan di hadapanku.Dahulu, Tasya selalu berusaha mencari perhatian Arya. Ia berkali-kali mendekati pria itu di kampus, berusaha mengajaknya berbicara, bahkan menyebarkan rumor bahwa mereka berpacaran. Namun, sejauh yang kuingat, Arya tidak pernah benar-benar menanggapi semua usahanya.Pria itu selalu menjaga jarak dan mengabaikannya dengan sikap yang begitu jelas hingga aku sendiri pernah bertan
Aku masih berdiri mematung di tempatku ketika Arya semakin mendekat.Bertahun-tahun telah berlalu sejak terakhir kali aku melihatnya. Namun, wajah itu masih sama seperti yang kuingat. Tatapan matanya, garis rahangnya, bahkan senyum tipis yang mulai terbentuk di bibirnya ketika jarak kami semakin dekat.Hanya saja, ada sesuatu yang berbeda dari dirinya sekarang.Arya tidak lagi mengenakan kemeja mahasiswa dengan lambang organisasi kampus di bagian dada. Ia juga tidak membawa tumpukan dokumen yang dahulu hampir selalu berada di tangannya sebagai Ketua BEM.Pria di hadapanku sekarang tampak lebih dewasa.Dan aku tidak tahu mengapa, tetapi menyadari hal itu justru membuatku semakin canggung."Fay?"Suara itu akhirnya memecah keheningan di antara kami.Aku tersentak kecil, seolah baru tersadar bahwa pria yang berdiri di hadapanku benar-benar Arya, bukan sekadar bayangan dari masa lalu."I-iya."Hanya itu yang berhasil keluar dari bibirku.Arya menatapku beberapa saat. Ada keterkejutan yang
Aaron kembali mencium pipi putra kami sebelum perlahan meletakkannya ke dalam kereta bayi.Arsen sempat menggerakkan kedua tangannya, seolah enggan berpisah dari pelukan ayahnya. Namun, ketika Aaron menyerahkan kembali mainan yang tadi dipegangnya, perhatian putra kami segera teralihkan.“Oh, sekarang Ayah sudah nggak menarik lagi?” goda Aaron sambil membetulkan posisi selimut tipis di pangkuan Arsen.Arsen hanya mengoceh kecil tanpa mengalihkan pandangan dari mainannya.Aku tertawa melihatnya. “Sepertinya dia sudah menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada ayahnya.”Aaron menghela napas pura-pura kecewa.“Luar biasa. Aku baru saja mendapatkan panggilan pertamaku, tetapi sekarang sudah ditinggalkan.”“Jangan khawatir. Nanti kalau dia menginginkan sesuatu, dia pasti akan mencarimu lagi.”“Ayah akan selalu siap.”Ia membungkuk sekali lagi untuk mengusap kepala Arsen, lalu kembali berdiri di sampingku.Aku menggandeng lengannya sambil tersenyum. Momen kecil itu terasa begitu berharga
“A-apa maksud—ah!”Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami.Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra p
“Hanya menemani beliau sebentar saja, Fay. Lalu kamu bisa pulang. Apa susahnya?”Aku menghela napas pelan mendengar rentetan kalimat dari Bu Sarah, sekretaris senior sekaligus atasanku. Beliau terdengar terburu-buru dan penuh desakan saat memintaku pergi ke ruangan pimpinan perusahaan malam-malam b
Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene
Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l







