로그인Pagi itu, Aaron berdiri di depan jendela kaca ruang kerjanya yang megah di gedung pencakar langit miliknya.Dari ketinggian tersebut, hiruk-pikuk seluruh kota tampak begitu kecil dan tidak berarti. Namun, perhatian sang Alpha sama sekali tidak tertuju pada pemandangan di luar sana.Di telapak tangannya tergeletak sebuah cincin tua bermata merah peninggalan ibunya. Kilauan batu merah itu memantulkan cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar.Untuk beberapa saat, Aaron hanya menatap benda itu dalam diam.Logam halusnya terasa hangat di kulit Aaron, seolah menyimpan sisa-sisa memori yang sampai saat ini terekam jelas di ingatan.Ia lalu menggenggam cincin itu erat.Pikirannya melayang jauh, mengarungi garis waktu menuju masa lalu yang telah lama terkubur.Kepada ayah dan ibunya.Kepada cerita yang berulang kali ia dengar sejak kecil.Tentang seorang manusia biasa yang dengan berani menolong ayahnya ketika terluka parah di Hutan Larangan.Sebagai balasannya, sebuah liontin gio
Keheningan menggantung di antara mereka, terasa begitu berat hingga seolah mampu menghambat aliran napas.Sang Tetua berdiri tegak di depan pintu, sementara Aldrick tidak bergeming sedikit pun di hadapannya. Tatapan mata tua Marcus yang tajam perlahan bergeser, menyapu meja kerja Aldrick yang dipenuhi tumpukan dokumen sebelum akhirnya kembali terkunci pada wajah sang Beta."Aku mendengar laporan bahwa kamu baru saja membawa sebuah koper hitam mencurigakan ke dalam kamar ini," ujar Marcus.Suaranya tenang, terlalu tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat kalimatnya terdengar lebih menyerupai tuduhan daripada sekadar pertanyaan.Aldrick tidak berkedip. "Saya memang membawanya masuk, Tetua. Apakah ada aturan baru yang melarang saya membawa barang pribadi ke dalam ruangan saya sendiri?"Marcus tersenyum tipis. "Aturan lama atau baru tidaklah penting, Aldrick. Yang penting adalah apa yang kamu sembunyikan di dalamnya. Kamu tampak gugup saat aku mengetuk pintu tadi.""Saya h
Tatapannya terkunci pada sebuah foto yang diambil dari sudut tersembunyi. Di sana, agak jauh di belakang sosok Hendra yang sedang berjalan, berdiri seorang pria dengan postur tubuh tegap dan tinggi.Meskipun fotonya sedikit buram karena jarak, Aldrick bisa mengenali gestur dan postur itu dengan sangat jelas.Itu adalah seseorang yang sama sekali tidak asing baginya. Seseorang yang selama ini dicurigai menjadi dalang dari beberapa insiden berdarah di masa lalu, yang selalu muncul di berbagai kasus mencurigakan, namun selalu berhasil lolos tanpa jejak.Pria yang sampai sekarang belum pernah bisa mereka sentuh karena kurangnya bukti fisik.Pria bermantel hitam.Mata Aldrick berubah menjadi sedingin es.Perlahan ia menutup map tersebut. Pikirannya berputar cepat, menghubungkan semua titik merah yang kini terpampang nyata.Kini ia mengerti mengapa semua jejak ini terasa begitu bersih dan rapi.Mengapa seluruh kehidupan Hendra tampak seperti hasil rekayasa.Dan mengapa Lucien mencium se
Jam dinding di ruang kerja Aldrick telah melewati pukul empat sore. Namun, Sang Beta belum beranjak dari kursinya.Keheningan menyelimuti seluruh ruangan.Sementara di atas meja, riwayat hidup seorang manusia bernama Hendra telah terpecah menjadi dua bagian yang sangat jelas.Sebelum menghilang, dan sesudah menghilang.Aldrick menatap kedua kelompok dokumen itu bergantian. Semakin lama ia menganalisis lembar demi lembar, naluri serigalanya semakin berontak. Ada sesuatu yang sangat mengganggu di sana. Bukan karena perbedaannya, melainkan karena peralihannya."Tidak ada manusia yang bisa merangkak dari titik kehancuran total menuju kehidupan yang sempurna hanya dalam hitungan bulan," gumam Aldrick pada diri sendiri. Suaranya berat, memecah kesunyian kamar. "Setidaknya, tidak tanpa bantuan dari tangan yang sangat berkuasa."Bantuan yang dibutuhkan untuk menciptakan perubahan sebesar itu tidak mungkin berasal dari manusia biasa. Insting predator dalam diri Aldrick berbisik pelan, meng
Aldrick menegakkan punggungnya, membaca ulang nama pemilik saham yang tertera di sana."Hendra," gumamnya, matanya langsung menyipit tajam. "Ternyata seperti ini dirimu yang asli."Sudut bibir Aldrick terangkat, membentuk seringai dingin.Ia segera menyambar dokumen berikutnya dari dalam map yang sama. Itu adalah laporan utang piutang, disusul oleh surat teguran hukum dari lembaga keuangan, dan laporan penyitaan aset. Semuanya mengarah pada satu nama yang sama.Hendra.Realitas yang bertolak belakang dari apa yang ia baca satu jam lalu.Namun, sosok yang tergambar di lembaran-lembaran kumal ini sama sekali bukan Hendra yang dikenal publik saat ini. Ini adalah Hendra yang hidup belasan tahun lalu, seorang pria malang yang terlilit utang dalam jumlah yang luar biasa besar, seorang pengusaha gagal yang hidupnya hancur, dan seorang buronan yang diburu oleh para penagih utang berdarah dingin."Pria malang yang hancur," gumam Aldrick pada dirinya sendiri, matanya terus membaca baris dem
Beberapa jam kemudian, mobil milik Aldrick tampak memasuki kawasan hutan yang menjadi pembatas wilayah manusia dengan teritori utama pack. Mobil itu berhenti tepat di depan gedung batu megah yang berfungsi sebagai markas utama klan.Aldrick melangkah cepat melintasi koridor, mengabaikan beberapa prajurit penjaga yang memberikan hormat. Bahkan ia tidak membalas sapaan mereka dengan anggukan seperti biasanya. Jemarinya mencengkeram erat pegangan koper hitam di tangan kanan. Logam dinginnya seolah menyerap kehangatan tubuhnya.Sepanjang perjalanan tadi, benaknya tidak sedetik pun bisa tenang. Kalimat yang diucapkan Direktur William terus terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kutukan yang berbisik."Seolah seseorang dengan kekuasaan besar dan akses tanpa batas, pernah membersihkan seluruh jejak hidup pria itu secara profesional," bisik William saat itu.Kalimat itu bukan sekadar teka-teki, melainkan sebuah ancaman tersembunyi yang mengusik naluri serigalanya. Ada sesuatu yang
Hendra hanya diam. Wajahnya datar dan tak terbaca."Siapa kamu?" tanya Hendra. Suaranya terdengar dingin dan penuh kewaspadaan.Pria bermantel hitam itu tersenyum tipis. "Seseorang yang datang untuk memastikan kamu nggak lupa pada siapa kamu berutang nyawa.""Aku nggak mengenalmu," desis Hendra.
Pagi itu, rumah yang biasanya dipenuhi suara aktivitas sederhana terasa terlalu sunyi. Biasanya setiap libur kerja, Fay selalu pulang, menghabiskan waktu dengan bercerita kepada ayah dan ibunya. Namun kali ini, sang ayah merasa ada yang tidak beres.Tidak ada lagi celotehan Fay di setiap libur kerj
Aku kembali terdiam. Sejujurnya, kepalaku masih dipenuhi banyak pertanyaan yang tak terjawab, tapi aura Aaron yang begitu dominan membuat lidahku kelu. Ia menarik napas panjang, seolah berusaha menahan kesabaran yang hampir habis."Seenggaknya satu hal sudah jelas sekarang," katanya."Apa?""Kamu
“Aku ... nggak suka—""Nggak suka apa?" potongnya. Nada suaranya tetap terkendali, seolah ia tahu aku tidak akan bisa lari dari pertanyaan itu kali ini.Aku meneguk ludah kasar, sembari tatapanku beberapa kali melihat bibirnya yang semakin dekat denganku. Jantungku kembali berdegup liar. Aku berusa







