LOGIN"AAAAARRRGGHH!!"Fay kembali menjerit histeris.Rasa sakit itu tidak memberikan ruang untuk bernegosiasi. Rahim Fay terasa seperti dicabik-cabik dari dalam, seolah tekanan dari tubuh mungil sang pewaris mencengkeram dinding rahimnya, menghantam panggul, lalu menjalar ke seluruh saraf tubuhnya dengan kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki janin mana pun."Aaron! Sakit!" Tubuhnya menegang hebat.Aaron langsung mencengkeram tangan Fay. "Aku di sini, Sayang!"Tangisan Fay mengguncang seluruh ruangan.Setiap kali kontraksi hebat itu datang, paru-paru Fay serasa kehabisan udara. Tubuhnya terangkat dari meja operasi saat gelombang kontraksi berikutnya menghantam bagaikan pukulan palu godam.Sementara Aaron, setiap mendengar jeritan Fay, jiwanya seolah-olah direnggut paksa.Dokter Reynard melangkah mendekati Aaron, menatap lurus ke arah sang Alpha yang semakin sulit mengendalikan emosinya."Hanya Anda yang bisa menyelamatkannya, Alpha!"Aaron menoleh tajam. "Apa yang harus kulakukan?""Bayi
Jauh di balik benteng tebing-tebing batu yang menjulang membelah awan, tersembunyi sebuah lembah terisolasi yang sama sekali tidak tersentuh oleh peta peradaban manusia.Tempat itu terkunci rapi di tengah hutan yang lebat, diselimuti kabut alami yang berbahaya bagi siapa pun tanpa insting bertahan hidup yang tajam. Hutan ini sepenuhnya steril dari wilayah kekuasaan klan werewolf mana pun, sebuah tanah tak bertuan yang terlupakan oleh zaman.Dahulu, tempat inilah yang tak sengaja ditemukan oleh Aaron dalam pelarian masa kecilnya yang kelam. Kala itu, sebagai seorang anak yang baru terbangun dengan kekuatan Alpha Murni, Aaron belum mampu mengendalikan gejolak aura serigalanya hingga ia terasingkan dan tersesat di tempat asing ini.Namun kini, lembah terasing yang sunyi tersebut telah disulap menjadi benteng medis rahasia berteknologi paling canggih milik Sang Alpha. Sebuah laboratorium rahasia yang selama bertahun-tahun menjadi tempat paling aman yang pernah dimiliki Sang Alpha.Wuuusss
Rasa sakit itu datang tanpa peringatan. Perut Fay mengeras seketika, diikuti tekanan hebat yang menjalar hingga ke pinggang dan panggulnya. Seolah ada kekuatan besar dari dalam tubuhnya yang terus mendorong keluar tanpa memberinya kesempatan untuk beristirahat."A-aku nggak kuat, Aaron...," bisik Fay, pandangannya memburam.Aaron memeluknya lebih erat. "Dengar aku, Sayang. Jangan menyerah. Kamu pasti bisa!"Aaron menyalurkan aura Alpha melalui ikatan mereka, berusaha menstabilkan tubuh Fay dan menjaga kesadarannya agar tidak tenggelam akibat rasa sakit.Namun, aura sang calon pewaris begitu dominan, menolak tenang dan makin ganas meremukkan organ dalam ibunya demi sebuah kebebasan.Aaron menoleh tajam kepada dokter. "Lakukan sesuatu!"Dokter yang berlutut di hadapan Fay terlihat panik. Wajahnya pucat pasi dibasahi keringat dingin saat tatapan penuh dorongan membunuh milik Aaron mengunci pergerakannya."A-ampun, Alpha!" gagap dokter klan itu, suaranya bergetar hebat. "Saya ... saya
Aaron melangkah mendekat dengan mata memancarkan kematian murni. Namun tepat sebelum cakar Aaron merobek leher Jessi, sesosok tubuh bayangan melesat dengan kecepatan tinggi."Jessi!"Sosok Stanley melesat keluar dari kegelapan. Barisan prajurit elit yang mengepung dari kejauhan refleks menghunuskan belati gading mereka, siap menyerang, tetapi tertahan oleh kibasan tangan tenang sang Alpha.Stanley muncul dari balik pepohonan. Dalam sekejap, ia meraih putrinya dan menariknya menjauh."Ayah....""Diam! Kita pergi!"Aaron tidak mengejar. Ia hanya berdiri diam, menatap keduanya menghilang di antara pepohonan.Lucien yang baru tiba langsung berhenti di sampingnya."Tuan!"Aaron masih menatap ke arah Stanley dan Jessi yang menghilang."Biarkan."Lucien mengerutkan kening. Di belakangnya, para prajurit elit saling bertukar pandang penuh ketegangan, menanti perintah pengejaran yang tak kunjung keluar."Tapi mereka—""Aku tahu."Jawaban Aaron begitu tenang hingga Lucien dan para prajurit elit
"Aaron, aku mohon ... bawa aku ke sana sekarang! Nenek ... Nenek terluka parah!"Suara Fay bergetar hebat, pecah oleh kepanikan. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahannya, sementara kedua tangannya mencengkeram erat pakaian Aaron dengan tubuh gemetar membayangkan kondisi wanita tua yang sangat dicintainya itu.Melihat kehancuran di wajah Fay, hati Aaron berdenyut perih. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Aaron segera merengkuh tubuh Fay dan mengirimkan perintah melalui ikatan batin kepada prajurit khususnya.'Siapkan helikopter. Kita berangkat ke hutan pinus. Sekarang!'Perintah itu terkirim dalam sekejap.Aaron memandu Fay melintasi koridor privat yang membawanya menuju ke atap utama mansion. Selama ini, Fay bahkan tidak tahu bahwa mansion tersebut memiliki tempat pendaratan helikopter. Atap utama bangunan itu begitu luas, sementara landasan pribadi berada di salah satu sisinya, cukup besar untuk helikopter milik Aaron.Fay bahkan tidak sempat mengagumi kemegahan tempat itu. Pikiran
Lift terus bergerak meluncur ke atas, meninggalkan area lantai dua yang tenang. Namun, ketika pintunya terbuka, suasana di sekeliling kami seketika berubah.Sensasi dingin dan tegang langsung terasa di udara.Aku sempat mengira kami akan langsung melihat ruangan pribadi seperti yang ada di lantai mansion lainnya. Namun, begitu melihat keadaan di balik pintu, aku justru terdiam.Beberapa prajurit werewolf berdiri berjajar di sepanjang koridor.Mereka mengenakan pakaian seragam berwarna gelap dengan perlengkapan keamanan lengkap. Sikap mereka begitu tegap dan waspada. Ketika melihat Aaron keluar dari lift sambil menggendongku, seluruh prajurit serentak menundukkan kepala."Alpha."Suara mereka terdengar hampir bersamaan.Aku spontan melirik Aaron.Ia hanya mengangguk singkat."Bagaimana keadaan?""Aman, Alpha.""Periksa seluruh sisi luar secara berkala. Jangan ada celah dalam penjagaan.""Siap, Alpha."Aku kembali menatap para prajurit setelah mereka mengambil posisi masing-masing. Jum
"Aaron, saya hanya ingin resign," kataku, mencoba terdengar tegas meski kakiku sudah seperti jeli."Dan aku adalah CEO-nya, Fay. Keputusanku mutlak," sahutnya datar. Kilatan emas di matanya meredup, kembali menjadi hitam, namun tekanan dari tubuh tegapnya tidak berkurang. "Rupanya kamu butuh waktu
Rapat berlangsung layaknya siksaan yang lambat. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas surat pengunduran diri di dalam saku rokku yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam itu sesekali melirikku, seakan memastikan mangsanya tidak melompat keluar jendela."Fok
Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil
Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l







