Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 94. Tatapan yang Berubah

Share

94. Tatapan yang Berubah

Author: malapalas
last update publish date: 2026-05-18 07:31:06

Beliau berdiri di dekat mobil sambil menatapku tanpa bergerak sedikit pun.

Senyumku perlahan memudar. Untuk beberapa detik, tidak ada suara apa pun selain angin sore yang berembus pelan di antara pohon-pohon pinus.

Aku masih berdiri di sana dengan perasaan bahagia yang belum hilang sedikit pun, sementara ayah hanya menatapku diam.

Entah kenapa, tatapan itu terasa berbeda.

Seperti ada sesuatu yang sedang beliau tahan jauh di dalam dirinya sendiri. Namun, aku terlalu merindukannya untuk memikirka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   251. Mereka Datang untuk Arsen

    Aku mendengar ada suara dari luar pintu.Awalnya hanya terdengar samar, seperti percakapan yang tertahan di balik dinding. Namun, beberapa detik kemudian, suara itu semakin jelas.Suara prajurit dan seorang wanita.Aku langsung menoleh ke arah pintu kamar sambil menggendong Arsen yang masih berada dalam pelukanku.“Tidak, Nona. Kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk.”Suara prajurit itu terdengar tegas.Aku mengernyit."Siapa wanita itu?" bisikku lirih.Aku melangkah perlahan mendekati pintu. Arsen kugendong lebih erat, memastikan tubuh kecilnya tetap nyaman dalam pelukanku.“Aku sudah mengatakan bahwa aku perlu masuk,” ujar wanita itu dengan nada dingin.“Maaf, Nona. Kami tidak menerima perintah dari Alpha Aaron untuk membuka pintu ini.”“Aku tidak membutuhkan izin dari Aaron.”Jantungku berdegup lebih cepat.Aaron?Wanita ini mengenal Aaron?“Aku datang membawa perintah langsung dari Tetua Utama dan Dewan Klan,” lanjutnya. “Apa kalian pikir aku akan berdiri di depan pintu hanya kare

  • Anak Rahasia Sang Alpha   250. Hukum Klan yang Terlarang

    Aaron menuruni anak tangga dengan langkah tenang. Baginya, kedatangan para tamu itu tak lebih dari embusan angin lalu yang tidak berarti.Wajah tampannya tampak datar tanpa ekspresi. Namun, begitu tiba di ruang tamu, tatapan dinginnya langsung menyorot tajam. Beberapa orang berdiri di sana mengenakan pakaian formal dengan lambang klan terpasang di dada. Di belakang mereka, sejumlah pengawal berdiri dengan sikap kaku.Dan di antara rombongan itu, manik mata Aaron mengunci satu sosok di barisan belakang.​Stanley.Tubuh pria paruh baya itu kini tampak sedikit membungkuk dan wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan kemarin.Kehancuran finansial yang menghantam keluarganya dalam satu malam telah mengikis hampir seluruh kesombongan yang selama ini melekat pada dirinya.Pria yang dulu membanggakan diri sebagai penguasa klan luar sekaligus investor terkaya, kini berdiri seperti seekor anjing kurus yang baru dibuang pemiliknya.Setelah mencoret Jessi dari garis keturunan dan menolak men

  • Anak Rahasia Sang Alpha   249. Tamu yang Tak Diundang

    Pagi itu terasa jauh lebih tenang di kediaman pribadi Aaron.Sebelum berangkat ke kantor, Aaron menyempatkan diri menemui Arsen dan Fay.Sang Luna tampak duduk bersandar di kepala ranjang sambil menggendong Arsen. Bayi kecil itu sedang menyusu dengan tenang dalam pelukannya, sementara Aaron tampak berdiri gagah. Pria itu sudah mengenakan pakaian kerja lengkap, setelan kemeja dipadu jas kantor berkualitas tinggi yang terukur sempurna di tubuh atletisnya.​Setiap kali melihat Aaron berpenampilan seperti itu, Fay tidak bisa memungkiri bayangan masa lalu saat ia masih bekerja di kantor Aaron selalu berputar di ingatan.Penampilan elegan itu selalu berhasil melipatgandakan ketampanannya, memancarkan pesona maskulin yang begitu khas dari dirinya. Pembawaan Aaron yang tetap tenang, dingin, dan berwibawa dalam balutan jas kantor selalu sukses membuat jantung Fay berdebar kencang, sama seperti pertama kali ia mengagumi pria itu dari kejauhan."Dia makin mirip kamu kalau lagi tidur begini," gum

  • Anak Rahasia Sang Alpha   248. Jejak Sang Pewaris

    Atmosfer di sayap barat markas utama klan terasa jauh lebih dingin dari biasanya.Pintu ruang kerja Tetua Marcus terbuka kasar.Stanley melangkah masuk dengan napas memburu. Jas mahal yang biasanya selalu dikenakannya dengan sempurna kini kusut. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan sorot matanya dipenuhi kepanikan yang sulit disembunyikan.Pria yang kemarin masih memiliki kekuasaan besar kini datang tanpa sedikit pun wibawa.Marcus tetap duduk di balik meja kerjanya.Tangannya masih memegang cangkir porselen. Ia menyesap tehnya perlahan, seolah kedatangan Stanley yang nyaris kehilangan kendali bukan sesuatu yang penting."Marcus!" Stanley menghampiri meja dengan langkah tergesa. "Kamu harus membantuku!"Marcus mengangkat pandangan dengan tenang."Aku sudah mendengarnya, Stanley.""Kalau begitu lakukan sesuatu!" bentak Stanley. "Aaron menghancurkan perusahaanku! Rekening-rekeningku dibekukan, asetku disita, jalur perdaganganku diputus, dan sahamku jatuh dalam hitungan jam!"Ia men

  • Anak Rahasia Sang Alpha   247. Ketika Segalanya Runtuh

    Keesokan harinya suasana di kediaman mewah Stanley tidak lagi memancarkan keagungan sebuah klan terpandang. Pagi yang biasanya diisi dengan cangkir-cangkir teh mahal dan deretan pelayan yang membungkuk hormat, kini berubah menjadi neraka kepanikan yang menyesakkan napas.​Pintu depan kediaman dibanting kasar. Suara teriakan, jeritan tangis, dan benturan barang-barang pecah menggema dari ruang tengah hingga ke lorong utama.​"Stanley! Apa yang sebenarnya terjadi?! Bank memblokir seluruh kartu kredit kami! Rumah ini ... rumah ini ditempeli segel penyitaan!" seru seorang wanita paruh baya—salah satu kerabat senior—dengan wajah pias dan mata membelalak horor.​Di sudut ruangan lain, sepupu-sepupu Jessi yang selama ini hidup mewah dan menggantungkan seluruh gaya hidup mereka dari kucuran dana perusahaan Stanley, menangis histeris. Mereka memegangi ponsel masing-masing yang tanpa henti menayangkan berita kehancuran finansial keluarga mereka.​"Paman! Saham kita anjlok! Nilainya jatuh sampai

  • Anak Rahasia Sang Alpha   246. Malam Sebelum Perhitungan

    "Ibu...."Suara itu keluar begitu saja dari bibirku. Detik berikutnya, aku melangkah cepat menghampirinya.Tubuhku langsung tenggelam dalam pelukan hangatnya.Begitu kedua lengannya memelukku, seluruh pertahanan yang sejak tadi susah payah kubangun runtuh seketika.Tangisku pecah.Aku mencengkeram pakaian Ibu erat-erat, menyembunyikan wajah di bahunya seperti seorang anak kecil yang akhirnya menemukan tempat untuk pulang."Iya, Sayang. Ibu di sini." Telapak tangan Ibu mengelus punggungku perlahan. "Menangislah kalau memang ingin menangis. Jangan ditahan."Aku semakin terisak.Aku tidak ingin menyembunyikannya lagi. Aku tidak bisa berusaha terlihat baik-baik saja.Di depan Aaron, aku tersenyum. Di depan para pelayan, aku mencoba terlihat tegar. Namun di hadapan Ibu, aku tidak sanggup lagi berpura-pura."Nenek...."Suara itu membuat pelukan Ibu semakin erat. Tangannya terus mengusap punggungku."Ibu tahu kamu sangat kehilangan Nenek."Aku mengangguk dalam tangis.Beberapa saat berlalu s

  • Anak Rahasia Sang Alpha   77. Saat Bulan Merah Naik

    Pagi tadi seharusnya berjalan biasa. Aku bangun, meregangkan otot, membantu nenek di dapur, lalu bersiap menjalani hari tanpa memikirkan apa pun yang aneh. Namun sejak membuka mata, ada perasaan ganjil yang tidak bisa kujelaskan. Seperti sisa mimpi buruk yang enggan pergi meski aku sudah sepenuhnya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   75. Potongan yang Menyatu

    ​"Tuan."​Suara Aldrick memecah keheningan ruang kerja itu.Aaron mengangkat pandangan perlahan. “Ada perkembangan?”“Ya.” Aldrick melangkah mendekat. “Orang bermantel hitam itu kembali bergerak.”Tatapan Aaron langsung berubah tajam. “Lanjutkan.”Aldrick mengangguk singkat. “Setelah pengamanan kit

  • Anak Rahasia Sang Alpha   73. Predator yang Terbangun

    Jessi memejamkan mata perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam tanpa bergerak. Namun perlahan, napasnya mulai berubah lebih berat. Naluri serigalanya bergerak samar di bawah kulit, merespons emosi yang kini tidak lagi kacau, melainkan dingin dan terarah.​Ia bisa merasakannya dengan jelas

  • Anak Rahasia Sang Alpha   67. Ketika Pemburu Mulai Saling Membaca

    ​​Lorong itu kembali sunyi. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan tersebut bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah jeda yang sarat akan ketegangan.​Di balik pilar batu yang tinggi, bayangan hitam itu tetap diam beberapa saat lebih lama. Sosok tersebut tampak memastikan bahwa la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status