Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 33. Ikatan yang Memanggil

Share

33. Ikatan yang Memanggil

Author: malapalas
last update publish date: 2026-04-19 07:31:50

Aaron berlari menembus lebatnya hutan tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Paru-parunya terasa terbakar, namun ia tidak peduli. Udara dingin menerpa wajahnya, sementara aroma darah semakin kuat setiap kali ia mendekati perbatasan utara. Dalam hitungan menit pepohonan mulai menipis, memperlihatkan tanah lapang yang sudah berubah menjadi medan perang.​

Beberapa prajurit klannya terlihat bertarung di antara batang-batang pohon yang tumbang. Suara benturan, geraman rendah, dan bau tanah basah yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   115. Insting Pemburu

    Hening menyelimuti selama beberapa saat. Lucien masih berdiri di samping mobil dengan tatapan yang belum berubah sedikit pun. Sorot matanya tetap menekan, seolah sedang mencoba merobek lapisan paling dalam dari ekspresi Hendra.Sementara Hendra memaksakan dirinya tetap terlihat tenang. Ia tidak boleh salah langkah sekarang. Satu gerakan mencurigakan saja bisa membuat predator di hadapannya langsung menerkam.“Aku ikut kembali,” ucap Hendra cepat sambil membuka pintu mobil.Lucien tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertahan lurus pada wajah pria itu selama beberapa detik, seolah sedang membaca sesuatu jauh di balik ekspresi cemas yang ditampilkan Hendra.Normalnya, Lucien bisa tiba kembali ke lokasi jauh lebih cepat hanya dengan berlari. Namun kali ini insting pemburunya mengatakan hal lain.Ada sesuatu yang terasa aneh. Terlalu tenang, terlalu rapi, dan Lucien ingin melihatnya lebih dekat.“Kalau Fay benar-benar hilang, aku nggak mungkin pergi begitu saja.” Nada suara Hendra te

  • Anak Rahasia Sang Alpha   114. Aroma yang Diputus

    Tatapan tajam Aldrick menyapu seluruh area dengan tekanan penuh, sementara insting Beta dominannya bekerja liar membaca situasi.Terlalu cepat. Semuanya terjadi terlalu cepat.Lucien bergerak beberapa meter ke sisi hutan, mengendus udara dengan ekspresi gelap. Namun semakin ia mencoba mencari aroma Fay, semakin tipis jejak itu terasa.“Aromanya diputus,” ucap Lucien rendah. “Ada pengalih.”Aldrick mengeraskan rahang. Artinya penculik mereka bukan orang biasa, karena hanya pihak yang memahami cara kerja predator werewolf yang tahu bagaimana menghilangkan jejak aroma secepat ini.Tatapan Aldrick langsung bergerak ke arah jalan utama.Mobil Hendra.Pikiran itu muncul begitu saja di kepalanya.Karena hanya beberapa menit lalu Fay masih bersama pria itu. Dan jika Fay benar-benar dibawa menggunakan kendaraan, maka mobil tersebut mungkin belum pergi terlalu jauh.“Ada kemungkinan dia masih di sekitar area ini,” ujar Aldrick dingin dan cepat.Lucien seketika menoleh. Aldrick menatap tajam ke

  • Anak Rahasia Sang Alpha   113. Mate-nya dalam Bahaya

    Tubuh Aaron langsung menegang di tempat duduknya.Bukan sekadar firasat biasa. Ikatan darah itu menghantam kesadarannya dengan kuat. Jauh lebih kuat dibanding malam di hotel saat janin mereka hampir kehilangan nyawa.Kali ini berbeda. Kali ini ikatan itu terasa seperti menjerit.Bahaya.Mate-nya berada dalam bahaya.Aura Aaron meledak dalam sekejap.Prang!Gelas kristal di atas meja langsung pecah tanpa disentuh. Tekanan mengerikan memenuhi seluruh ruangan hingga udara terasa berat untuk dihirup.Dua pengawal elit di belakang Aaron langsung menegang refleks. Bahkan pria berjas abu-abu di dekat pintu mendadak pucat dan mundur satu langkah. Sementara Edward membeku beberapa detik melihat perubahan drastis itu.Tatapan Aaron yang sebelumnya masih tenang kini berubah mengerikan. Mata emasnya tampak jauh lebih tajam, liar, dan dipenuhi tekanan predator yang hampir tidak terkendali.Rahangnya mengeras kuat. Tangannya mengepal sampai urat di punggung tangannya terlihat jelas.Dan sejak awal

  • Anak Rahasia Sang Alpha   112. Fondasi Era Baru

    Mate-nya sedang berada dalam bahaya. Dan itulah alasan sebenarnya mengapa Aaron tidak bisa terus membuang waktu di sini, tidak peduli seberapa penting semua informasi yang baru saja ia dengar.Edward mungkin mengetahui banyak hal tentang pria bermantel hitam itu. Tetapi saat ini, Fay tetap prioritas utamanya.Aaron akhirnya mengembuskan napas pelan sebelum memotong pembicaraan mereka secara langsung.“Cukup.”Edward mengangkat sebelah alisnya. Tatapan Aaron kembali tajam dan penuh tekanan.“Kalau kamu tahu semuanya,” ucapnya rendah, “kamu juga pasti tahu seberapa penting kerja sama ini untukku.”Hening sepersekian detik, lalu Edward tersenyum tenang di tempat duduknya.“Ya.” Ia mengangguk pelan. “Aku tahu.” Tatapannya lurus ke arah Aaron. “Dan karena itulah aku sengaja memanggilmu datang ke sini secara langsung.”Aaron diam memperhatikan tanpa ekspresi.“Aku ingin melihat sendiri seperti apa Alpha yang membuat begitu banyak orang takut.”Ia berhenti sejenak sebelum terkekeh. “Dan seka

  • Anak Rahasia Sang Alpha   111. Teriakan di Tepi Jalan

    Fay akhirnya berjalan mengantar ayahnya keluar dari area rumah kayu itu. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, namun udara masih terasa dingin, sementara angin dari hutan pinus berembus pelan melewati pepohonan tinggi di sekitar mereka.Namun baru beberapa langkah berjalan, Fay tiba-tiba berhenti. Keningnya langsung berkerut. Ia menoleh cepat ke belakang.Dan benar saja, jarak antara mereka dengan Aldrick serta Lucien ternyata hampir tidak berubah sama sekali. Dua pria itu tetap mengikuti di belakang dengan langkah tenang, seolah hanya memberi sedikit ruang formalitas tanpa benar-benar menjauh.“Astaga…,” desisnya pelan.Ia mengentakkan kakinya ke tanah sebelum berbalik cepat menghampiri mereka.“Kalian serius?”Aldrick berhenti. “Ada masalah, Nona Fay?”“Aku pikir kalian janji mau kasih ruang!”Lucien terlihat menahan senyum tipis. “Kami sudah menjaga jarak, Nona.”“Ini yang kalian sebut menjaga jarak?” Fay melotot tajam.Lucien mengusap tengkuknya kaku. “Menurutku ini sudah cukup j

  • Anak Rahasia Sang Alpha   110. Jejak Darah yang Belum Selesai

    Edward terdiam beberapa detik setelah memperkenalkan dirinya.Lalu perlahan, ia kembali berjalan mendekati meja dengan langkah tenang. Setelah kembali duduk di kursinya, jemari pria itu menyentuh permukaan gelas kristal sebelum akhirnya ia mengangkat pandangan ke arah Aaron.Sudut bibirnya terangkat samar, sebuah ekspresi dingin yang entah kenapa justru membuat suasana semakin terasa mencekam.“Kamu benar-benar berpikir pembantaian di hutan malam itu dan pemberontakan terhadap kedua orang tuamu terjadi secara terpisah?”Tubuh Aaron seketika menegang. Setiap kali mendengar tentang orang tuanya, kenangan kelam itu seolah kembali mengiris jantungnya.Edward melanjutkan dengan nada tenang, “Keduanya terjadi di malam yang sama.” Ia menyandarkan tubuh santai. “Dan menurutmu itu hanya kebetulan?”Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.“Aku sudah menyelidikinya selama bertahun-tahun,” lanjut Edward. “Semakin dalam aku menggali, semakin jelas semuanya terlihat.”Tatapannya lurus ke mata Aa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status