LOGIN"Aaron—"Belum sempat aku menyelesaikan kalimat protesku, suara tawa pelan yang berat dan seksi tiba-tiba lolos dari bibirnya.Wajah tegas yang beberapa saat lalu dipenuhi luka dan rasa penyesalan, kini berubah sepenuhnya. Aaron terlihat begitu geli, matanya menyipit jenaka, tampak sangat terhibur melihat kepanikan yang tergambar jelas di wajahku."Kenapa, hm?" bisiknya dengan nada rendah yang bergetar karena menahan tawa.Ia sengaja memajukan wajahnya, memangkas jarak hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan. Napas hangatnya berembus di bibirku, membuat jantungku yang semula berdegup karena malu, kini berpacu karena sensasi yang berbeda."Kamu pikir aku nggak merasakannya sejak tadi, Sayang?" godanya, seraya mengusapkan ibu jarinya ke pipiku yang makin memanas. "Setiap kali aku bergerak, ada tangan kecil yang sibuk menarik, meremas, dan mencengkeram kain ini seolah nyawanya sedang dipertaruhkan.""Kamu sengaja, ya!" pekikku tertahan, memukul dadanya pelan dengan satu tangan y
Napas kami yang semula memburu perlahan-lahan mulai teratur, menyisakan detak jantung yang berdegup seirama di keheningan kamar.Sisa-sisa gairah yang baru saja kami lalui masih terasa pekat di udara. Aaron dengan penuh kelembutan mengecup keningku lama, menyalurkan rasa terima kasih dan pemujaan yang tak habis-habisnya, sebelum ia membersihkan tubuh kami dengan penuh kehati-hatian.Kami tidak langsung berbaring setelah keintiman yang baru saja usai, melainkan memilih untuk tetap duduk berdampingan dengan kepala yang bersandar rileks pada sandaran ranjang mewah kamar ini.Sebuah selimut sutra ditarik tinggi, membungkus tubuh polos kami dengan hangat hingga batas dadaku. Meski dalam posisi duduk bersandar, aku tetap bisa merasakan lengan kokoh Aaron melingkar posesif di pinggangku, mendekapku erat seolah tidak ingin membiarkan ada jarak sedikit pun di antara kami."Aaron," panggilku pelan."Ya, Sayang? Ada yang sakit?" bisiknya seraya menoleh.Satu tangannya yang bebas bergerak naik,
Napas kami berdua saling memburu di keheningan kamar. Setiap sentuhan Aaron di bahu dan perutku terasa seperti sengatan listrik yang membuatku semakin mendamba. Namun, tepat ketika gairah di antara kami hampir mencapai puncaknya, Aaron tiba-tiba menghentikan gerakannya sejenak.Ia memutar tubuhku perlahan di pangkuannya, membuatku kini menghadapnya. Wajah tampannya sudah sepenuhnya dipenuhi kabut gairah yang pekat, matanya menggelap, menatapku dengan intensitas yang nyaris membuatku sesak napas. Meski begitu, di balik tatapan liarnya, aku masih bisa melihat kilatan perlindungan dan kekhawatiran yang begitu besar."Fay...." Suaranya terdengar sangat serak, bergetar di tenggorokan. "Boleh? Aku nggak akan menyakitimu ... atau anak kita."Melihat seorang Alpha yang begitu berkuasa justru menahan diri dan meminta izin dengan sangat lembut demi menjagaku, hatiku seketika meleleh. Aku menyatukan keningku dengan keningnya, menatap langsung ke dalam manik matanya."Boleh, Aaron," bisikku
"Maksudmu, aku tidur di sini ... bersamamu?"Aaron mengangguk pelan, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia."Tentu."Aku berkedip beberapa kali."Tapi ... bukankah itu...."Aku menggantung kalimatku sendiri. Entah bagaimana harus mengungkapkan debaran aneh yang tiba-tiba memenuhi dadaku.Aaron memahami kebimbanganku hanya dari raut wajahku. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di depanku."Fay.""Ya?""Aku hanya ingin memastikan kamu bisa beristirahat dengan tenang." Tatapannya turun sesaat ke arah perutku. "Dan aku ingin berada di dekat kalian."Nada suaranya begitu lembut. Namun, entah mengapa aku masih merasakan gugup yang luar biasa."Bukankah itu terlalu cepat?" cicitku pelan.Akhirnya aku bisa mengucapkan kalimat yang belum sempat aku utarakan.Mungkin benar, kami pernah beberapa kali berada dalam satu kamar saat berada di rumah nenek. Namun, suasana saat ini benar-benar berbeda.Sekarang, kami berada di kamar pribadi Aaron. Dan semuanya terasa sangat ... intim.Aku
Makan malam akhirnya usai. Aku menyandarkan punggung sejenak ke kursi, mengembuskan napas pelan sambil memandangi meja yang kini mulai dibereskan oleh para pelayan."Sudah kenyang?" tanya Aaron sambil menatapku.Aku mengangguk kecil. "Lebih dari cukup."Aaron tersenyum tipis, lalu berdiri lebih dulu. Seperti biasa, ia kembali mengulurkan tangannya kepadaku.Tanpa ragu aku menyambut uluran tangan itu.Begitu berdiri, aku kembali mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Rasanya sejak menginjakkan kaki di mansion ini, selalu ada hal baru yang membuatku terpukau."Aaron," panggilku pelan, sedikit mendongak demi menatap wajah tampannya."Hm? Kenapa, Sayang?" Pria itu menunduk, memberikan atensi penuhnya padaku.Dadaku seketika berdesir pelan.Sejujurnya, setiap kali Aaron memanggilku dengan sebutan sayang, jantungku selalu berdetak sedikit lebih keras dari biasanya. Padahal aku sudah mendengarnya berkali-kali hari ini, tetapi entah mengapa, panggilan itu tak pernah terasa biasa.Selalu
Sebelum aku sempat menyelesaikan langkahku di anak tangga terakhir, Aaron sudah bergerak maju dengan langkah lebar, memotong jarak di antara kami. "Aaron...." Belum sempat aku menyelesaikan sapaan itu, ia telah berdiri tepat di hadapanku. Dengan gerakan yang begitu hati-hati, seolah aku adalah sesuatu yang paling berharga di dunia, Aaron meraih jemariku. Telapak tangannya yang hangat membungkus tanganku dengan lembut sebelum perlahan mengangkatnya. Sebuah kecupan yang hangat mendarat di punggung tanganku. Bibirnya bertahan beberapa saat di sana, cukup lama hingga sentuhan lembut itu mengirimkan getaran halus yang membuat jantungku berdegup jauh lebih cepat. Saat ia mengangkat wajahnya kembali, tatapan hitamnya tak pernah lepas dariku. "Kamu sangat cantik malam ini, Fay," bisiknya dengan suara berat yang sedikit serak, dipenuhi kekaguman yang begitu nyata. Seketika aku menundukkan kepala, tak sanggup lagi menatap matanya. Seluruh wajahku terasa memanas. "Kamu berlebihan," gum
Beliau berdiri di dekat mobil sambil menatapku tanpa bergerak sedikit pun.Senyumku perlahan memudar. Untuk beberapa detik, tidak ada suara apa pun selain angin sore yang berembus pelan di antara pohon-pohon pinus.Aku masih berdiri di sana dengan perasaan bahagia yang belum hilang sedikit pun, sem
Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Padahal di telepon, ayah sama sekali tidak mengatakan kapan tepatnya beliau akan datang. Hanya bilang akan menemuiku secepatnya.Namun entah kenapa, aku sangat yakin. Sore ini Ayah pasti datang. Perasaan itu begitu kuat sampai membuatku sama sek
Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene
Aku masih bisa merasakan sisa-sisa nyeri di tubuhku saat Aaron duduk di kursi, persis di samping ranjangku. Tangannya belum berpindah dari perutku, seolah ia takut rasa sakit itu akan kembali menyerang begitu saja jika ia melepaskannya.Dan anehnya ... kehangatan itu benar-benar menenangkan.Janin







