登入Senin pagi, ruang SPKT Polres terasa dingin. Bukan karena AC. Tapi karena tatapan orang-orang.Aku duduk di kursi plastik, menggenggam map cokelat berisi print-out chat WA dan rekaman suara dari HP Denis. Di sebelahku Rey. Jasnya kembali dipakai. Wajahnya datar seperti biasa. Tapi rahangnya sedikit mengeras."Begini, Pak," kata Rey pada petugas yang mencatat. Suaranya tetap tenang. "Klien saya, Ibu Ririn, ingin melaporkan Sdri. Lisa atas dugaan pencemaran nama baik dan penghasutan yang dilakukan di area sekolah pada hari Sabtu."Petugas itu mengangguk. "Buktinya ada, Pak?"Rey meletakkan map di meja. "Ini screenshot percakapan grup WA sekolah. Ini kesaksian dua orang ibu yang mendengar langsung. Dan ini rekaman Denis saat kejadian."Petugas membaca sebentar. Lalu menghela napas pelan. "Untuk yang di grup WA, yang menyebarkan pertama kali bukan Sdri. Lisa, Pak. Nama pengirimnya Bu Lilis. Sdri. Lisa hanya ikut meneruskan dan berkomentar."Jantungku jatuh."Benar," lanjut petugas itu. "D
Pagi itu matahari masuk dari celah gorden, hangat tetapi tidak menyengat. Azka dan Denis bangun lebih ceria dari biasanya. Mungkin karena semalam tidak ada mimpi buruk. Aku masih memikirkan foto tas navy di IG Rey. Tapi kupaksa menyimpannya dulu. Hari ini aku ingin bersantai.Pukul sembilan, bel rumah berbunyi. Azka langsung berteriak dari kamar: "Om Alif! Om Alif datang!" Pintu kubuka. Alif berdiri dengan dua kantong besar. Wajahnya lecek karena begadang, tetapi senyumnya lebar."Selamat pagi, Ratu Istana," katanya sambil menunduk lebay. Denis dan Azka langsung memeluk kakinya. "Om Alif bawa apa? Bawa apa?" Alif mengeluarkan kotak Lego besar dan boneka kelinci seukuran Azka. "Ini untuk Komandan Azka. Ini untuk Tuan Denis. Biar rumah ini tidak berisik minta jajan terus."Azka melompat kegirangan. Denis langsung membuka Lego. Dalam lima menit ruang tamu berubah menjadi bengkel konstruksi. Alif duduk di lantai, ikut merangkai. "Wah, Om Alif sudah tua ya. Jari kaku. Azka ya
Malam itu rumah sunyi lebih cepat dari biasanya. Azka dan Denis sudah tidur setelah aku bacakan dongeng "Putri dan Kesatria Penjaga Pintu" versi improvisasi. Azka minta endingnya diganti: "Mamanya yang buka pintunya sendiri, Om Rey. Karena mamanya kuat." Aku mencium keningnya. "Iya, sayang. Mamah kuat. Karena ada kalian." Jam sembilan malam. Dapur rapi. Cuci piring selesai. Aku menyeduh coklat hangat, bukan kopi. Sudah lama aku tidak minum coklat. Dulu Dafa bilang "minuman anak kecil". Kini aku bebas minum apa saja di rumah sendiri. Uap coklat mengepul, menempel di kacamata bacaku. Aku duduk di sofa, selimut tipis di pangkuan. Buka laptop. Sudah berapa tahun aku tidak nonton YouTube tanpa dikejar deadline atau tangisan bayi? "Masak sayur asam anti gagal", "Lagu pengantar tidur anak", "Mukbang"... jariku berhenti. Pikiran iseng muncul. Iseng yang manusiawi. Selama ini aku chat Rey tiap hari. Punya nomor WA-nya
Undangan kertas berwarna biru muda itu masih kugenggam hingga sudutnya kusut. "Pentas Seni SD Harapan Bangsa. Kehadiran orang tua diharapkan."Azka duduk di meja makan, menyuap roti dengan perlahan. Matanya tidak tertuju pada rotinya. Matanya tertuju padaku."Mah," ucapnya pelan. "Ibu guru menugaskanku membacakan puisi. Judulnya 'Ibuku'."Sendok di tanganku terhenti di udara.Azka ingin tampil? Anak yang seminggu lalu masih bersembunyi di balik kakiku setiap ada orang baru?"Tapi..." lanjutnya, menunduk. "Azka mau tampil, dengan satu syarat.""Syarat apa, sayang?""Om Rey harus datang. Mengantar kita."Dadaku tercekat. Denis yang sejak tadi diam di dapur, tiba-tiba menyela. "Aku setuju, Mah. Azka juga pasti mau diantar sama keluarga lengkap. Sekali saja. Apalagi Azka mau tampil ke panggung."Aku memandang mereka bergantian. Kakak dan adik. Satu meminta pengakuan, satu meminta keadilan kecil.Ma
Satu minggu setelah "lubang kunci" kuning itu, kami kembali jalan. Tapi kali ini bukan ke ruang tamu kami. Kali ini ke tempat Tante Ester."Mah, Tante Ester nggak datang ke rumah kita lagi kayak waktu itu?" tanya Azka di car seat. Map coklat Rey tetap jadi tamengnya. Tapi kali ini dia yang duluan nanya. Bukan aku yang maksa."Enggak, sayang," jawabku sambil nyetir. "Hari ini kita yang datang ke gudang mainannya Tante Ester. Katanya ada pasir. Pasir yang bisa dibentuk-bentuk."Mata Azka langsung melirik ke arahku. Sekilas. Tapi ada. Itu perkembangan. Seminggu lalu dia nggak akan nanya apa-apa.Klinik Tante Ester ternyata ruko 2 lantai warna pastel mint. Di luar ada taman kecil. Ayunan gantung. Papan tulis yang tulisannya "Selamat Datang, Anak Pemberani". Aku gugup. Ini beda. Ini wilayah Tante Ester. Azka bakal merasa "tamu". Bukan "raja di rumahnya sendiri".Begitu pintu kaca dibuka, aroma kayu manis + cat air lang
Bel pintu berbunyi pukul 10.00 tepat. Tiga kali. Sepertinya, yang datang adalah Bu Ester, semalam aku sudah menghubunginya. Katanya, hari ini dia home visit untuk observasi. Aku membuka pintu. Seorang perempuan berdiri di teras. Sekitar 35 tahun. Rambutnya diikat rapi. Tidak pakai jas lab atau pakaian formal. Hanya kemeja linen warna krem dan celana bahan. Di tangannya ada tas jinjing besar. Dari celahnya mengintip ujung boneka beruang, kotak krayon, dan beberapa balok kayu."Selamat pagi, Bu Ririn," katanya. Senyumnya tidak lebar. Hanya cukup untuk bilang "aku tidak berbahaya". "Saya Ester. Panggil saya Tante Ester saja."Aku mengangguk, tenggorokanku kering. "Silakan masuk, Bu... Tante Ester."Azka langsung sembunyi di balik kakiku. Map cokelat Rey dipeluknya erat seperti tameng. Matanya mengintip dari balik pahaku, curiga.Aku panik. "Maaf Tante Ester, Azka dia... dia pemalu sama orang baru."Tante Ester tidak menjawab. Dia t







