Home / Rumah Tangga / Anak Selingkuhan Suamiku / Bab 8. Ternyata, Kamu Memang Parasit

Share

Bab 8. Ternyata, Kamu Memang Parasit

Author: Mira Restia
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-02 06:45:01

Jam 04.35 subuh.

Aku terbangun karena punggungku sakit. Lantai dingin menusuk tulang.

Ponsel masih di genggamanku. Layarnya menyala, menerangi wajahku yang pasti pucat seperti mayat.

Aku duduk terlebih dahulu. Melirik ke kasur ada Denis. Semalaman, aku tidur di kamar Denis.

Satu notifikasi. Satu baris yang kutunggu dengan darah dan air mata selama tiga hari tiga malam:

"Hasil Tes DNA - Ririn/Denis"

Jemariku gemetar saat menekan "Buka".

Loading.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Rasanya seperti neraka menunggu diadili.

Lalu layar itu menampilkan kalimat yang merobek hidupku:

Probabilitas Keterkaitan Genetik Ibu-Anak: 0.00%

KESIMPULAN: TIDAK TERDETEKSI HUBUNGAN BIOLOGIS

Dunia runtuh.

Bukan runtuh dengan suara keras. Tapi runtuh dalam diam.

Lantai di bawahku seakan amblas. Langit-langit kamar menindih kepalaku.

Delapan tahun pernikahan. Tujuh tahun aku memanggilnya "Sayang". Tujuh tahun aku menyuapinya makan, menyekolahkannya, begadang saat dia demam.

Dan ternyata... aku bukan siapa-siapa.

Aku menoleh ke kasur. Denis tidur memeluk guling, bibirnya sedikit terbuka. Wajah yang tujuh tahun ini kusebut "anakku".

Bibiku bergetar. Aku ingin menyentuh pipinya, tapi tanganku berhenti di udara.

"Maaf, Sayang..." bisikku. Suaraku pecah. "Ibu... bukan Ibu kamu."

Tapi air mata tidak keluar. Aku mati rasa. Seperti ada pisau tumpul yang mengiris perlahan dari dalam.

Aku tidak kuat.

Aku tidak kuat melihat Dafa. Aku tidak kuat mendengar Denis memanggil "Bu" lagi.

Setiap "Bu" darinya sekarang seperti cambuk yang menghantam dadaku.

Jam 05.12. Aku bangun. Melipat baju seadanya. KTP. ATM. Kertas hasil DNA yang sudah kucetak. Dua stel pakaian.

Tidak pamit. Tidak meninggalkan pesan.

Aku pergi seperti pencuri di rumahku sendiri.

40 menit perjalanan ke rumah ayahku menggunakan taxi online. Selama perjalanan terasa hampa,

Di kepalaku hanya satu kalimat yang berulang: Tujuh tabun. Tujuh tahun aku jadi pembantu gratis. Mengurus anak dari selingkuhan suamiku sendiri.

Jam 06.15 aku sampai di rumah Ayah. Rumah penuh kenangan masa kecil dengan sejuta cerita. Di sinilah aku tumbuh dengan penuh kebahagiaan.

Aku menekan bel rumah. Tak lama setelah itu, seorang pembantu membukakan pintu.

"Nona Ririn? Masuk nona!" Bi Surti membantu membawa tas bawaanku.

"Makasih, Bi."

"Bapak sedang ada di ruang tengah baru selesai sarapan."

"Iya." Aku melangkah ke ruang tengah.

"Assalamualaikum, Ayah!"

Ayah menoleh "Waalaikumsalam."

"Rin, tumben gak kasih kabar sama ayah kalau mau ke sini, kamu baik-baik aja 'kan, Nak? Nak... kenapa? Kenapa nangis kayak gitu?" Ayah menghampiriku lebih dekat lagi. Memegangi lenganku dan mengecek tubuhku.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menyodorkan kertas hasil DNA itu. Tanganku gemetar hebat.

Ayah membaca. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Tangannya ikut gemetar. Rahangnya mengeras.

Lalu Alif keluar dari dapur membawa teh panas. Dia berhenti saat melihatku.

"Kak Ririn?"

Dia meletakkan teh itu, lalu berlari memelukku. Tangannya mengusap bahuku seperti dulu saat aku jatuh dari sepeda.

"Udah Kak... sini Kak... Alif di sini..."

Ayah menunjuk sofa. "Ayo Duduk dulu, Rin. Tolong ceritakan dari awal. Ayah belum ngerti apa-apa."

Aku duduk. Lututku lemas.

Aku bercerita sambil terisak. Suaraku putus-putus.

"Begini awalnya... Ayah. Jadi, aku tanpa sengaja mendengar Denis bilang ke temannya di sekolah. Kalau... kalau... dia punya dua Ibu...." Aku pun menarik napas berat. Sementara Ayah, dia menatapku lekat menunggu kalimat selanjutnya dariku.

"Terus, aku denger ada video call ke ponsel Dafa... ada suara cewe... aku stalking... namanya Maya. Lalu, setelah itu Aku dan Alif juga sempat mengikuti Dafa pergi, dan ternyata benar saja dia menemui wanita itu bersama Denis jalan-jalan."

Ayah menatap ke arah Alif. "Benar begitu, lif?"

"Benar, Yah. Bahkan rencana tes DNA ini pun Alif sudah tahu. Alif yang antar Kak Ririn ke RS. Maaf Alif gak cerita dulu, soalnya semuanya juga belum pasti, saat itu masih abu-abu. Kata Kak Ririn, kita harus pegang bukti kuat dulu."

"Iya Alif, Ririn. Ayah paham. Memang semuanya harus dibuktikan terlebih dahulu. Yang ayah gak habis pikir, lalu ke mana perginya anak kandung kamu, Rin?" Ayah memijat alisnya, pusing. "Ke mana perginya cucu kakek yang asli. Kamu saat itu hamil, mual muntah, kandungan lemah. Ke mana anak yang ada di perut kamu?"

Aku menggelengkan kepala, Tiba-tiba kepalaku pusing memikirkannya. Hatiku pun kalut, mungkin teralu takut dengan kenyataan. "Aku juga tidak tahu, Ayah."

Ayah membanting meja. Gelas teh Alif ikut bergetar. "Bajingan si Dafa itu. Berarti, pernikahan kamu dengannya selama ini dibangun di atas kebohongan."

Aku tertegun.

"Harusnya dulu Ayah tidak merestui pernikahan kalian, Rin!" bentaknya. Matanya merah. "Dafa itu parasit, benalu! Ayah udah bilang dari awal dia nggak setara sama kamu! Kamu anak orang kaya! Dia apa? Tapi dia... dia nangis-nangis berlutut di depan Ayah! Bilang mau kerja keras! Mau bikin kamu bahagia! Ayah bodoh karena percaya!"

Alif berdiri di sebelah Ayah, rahangnya juga mengeras. "Dafa itu, bukan siapa-siapa tanpa keluarga kita. Tanpa koneksi Ayah... Dafa itu siapa? Dia nggak ada prestasinya. Kuliah aja nunggak. Bisnisnya jalan karena ngaku-ngaku mantu Pak Hadi. Dia mokondo, Kak!"

Tepat saat itu, ponselku bergetar di atas meja.

Nama yang muncul: DAFA

Jantungku berhenti. Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar.

"Halo!" suaraku hanya bisikan.

Langsung bentakan dari seberang. "KAMU GILA YA, RIN?! PERGI NGGAK PAMIT?! DENIS DARI PAGI NANYAIN KAMU! KAMU TUH ISTRI MACAM APA, SIH?! GAK BECUS KAMU JADI ISTRI."

Ayah merebut ponsel dari tanganku.

"HALO! KAMU YA BAJINGAN! TAK TAHU DIUNTUNG! PENJAHAT! KAMU RUSAK HIDUP ANAK SAYA! DATANG KAMU KE SINI SEKARANG JUGA!"

Sesaat hening.

"HALLO DAFA. JAWAB!" bentak Ayah.

"Pak, tenang dulu Pak..." suara Dafa melemah. "Denis, em Denis lagi gak enak badan, palingan saya bisa ke sana besok pagi. Tenang dulu, Pak mungkin semuanya salah paham. Ada miskomunikasi antara saya dan Ririn."

"SALAH PAHAM APANYA?! ANAK ORANG KAU TIPU! BAPAK TIDAK MAU TAHU, KE SINI KAMU BESOK JANGAN MANGKIR."

Ayah menutup telepon dan melempar ponsel itu ke sofa.

Ruang makan hening. Hanya terdengar isak tangisku.

Alif menarik napas panjang. Dia menatapku lembut.

"Udah Kak, istirahat dulu. Kamar lama Kakak Alif suruh Mbak Surti beresin ya."

Aku menggeleng pelan. "Nggak usah repot, Al. Kamar tamu aja. Lebih praktis."

Alif menggaruk kepalanya, canggung. "Eh... kamar tamu dipake Bang Rey, Kak. Dia nginep dari kemarin. Ngajarin aku materi kuliah dari sore."

Aku baru sadar. Di ujung ruang makan, ada seorang laki-laki duduk dengan laptop terbuka. Rey.

Dia hanya menatap ke arahku sekilas, lalu menunduk lagi. Tidak ada sapa. Tidak ada basa-basi. Jarak kami cukup jauh.

Wajahku panas. Malu. Masalah rumah tanggaku jadi tontonan orang.

Alif menangkap tatapanku. Dia berbisik pelan, cukup aku yang dengar.

"Udah Kak, nggak usah malu. Bang Rey itu udah gua anggap abang sendiri, dia gak bakal permalukan keluarga kita ke luar, kok."

Aku hanya mengangguk. Tidak sanggup bicara.

Setelah kamar beres, aku masuk ke kamar lamaku. Kamar yang dulu penuh poster boyband dan tumpukan novel.

Aku membuka lemari. Di dalamnya ada album foto tua. Album wisuda. Album masa kuliah.

Jemariku membuka halaman demi halaman.

Di situ aku. Ririn Riadi. Ratu kampus.

Foto dengan teman-teman, semua cowok berebut berdiri di sampingku.

Foto dengan anak Dekan. Foto dengan anak Bupati yang dulu sering ngajakin makan siang.

Aku dulu punya segalanya. Prestasi. Popularitas. Pilihan.

Tapi aku memilih Dafa.

Kenapa?

Karena dia paling romantis. Paling pandai merayu. Wajahnya tampan mirip aktor drama korea, senyumnya manis seperti madu.

Aku buta. Aku tuli. Aku bodoh.

Aku duduk di lantai, memeluk bantal yang sudah lusuh.

"Anakku yang sebenarnya ada di mana, Yah..." bisikku pada udara. "Ibu janji akan cari kamu. Ibu janji..."

Lalu aku menangis. Kali ini air mataku keluar. Panas.

Menangisi tujuh tahun yang kuhabiskan dengan pria pendusta.

Menangisi diriku yang dulu, yang terlalu percaya pada rayuan manis seorang Dafa yang ternyata parasit.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Baca Novel
lanjutkan Thor
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Anak Selingkuhan Suamiku   125. Rumah

    AzkaHari kelulusan tiba lebih cepat dari yang terasa. Lapangan sekolah dipenuhi toga hitam dan wajah-wajah yang campur haru dan lega, orang tua berjejer di tribun sambil mengangkat ponsel, mengabadikan momen yang mereka tunggu bertahun-tahun.Azka berdiri di barisan depan, mencari-cari wajah keluarganya di antara kerumunan penonton. Ia menemukan mereka dengan mudah—Ririn yang melambai antusias, Rey di sampingnya menggendong Aira yang ikut melambai meski tidak sepenuhnya paham apa yang sedang dirayakan, dan Denis yang berdiri beberapa langkah dari mereka, sudah lebih dulu lulus dan sengaja datang untuk menyaksikan momen adiknya.Ketika namanya dipanggil untuk maju ke panggung, Azka melangkah dengan mantap, mengambil ijazahnya, lalu menoleh ke arah keluarganya yang bersorak paling keras di antara penonton lain.Sepulang dari acara, mereka merayakan dengan makan malam sederhana di rumah, memesan lebih banyak lauk dari biasanya sebagai bentuk perayaan kecil, persis seperti kebiasaan mer

  • Anak Selingkuhan Suamiku   124. Menutup

    Beberapa minggu setelah pameran lukisannya berlangsung sukses, hidup Denis perlahan menemukan ritme barunya. Gosip di sekolah sudah jauh mereda, digantikan obrolan tentang tugas akhir, ujian, dan rencana kelulusan yang semakin dekat.Namun ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya—kabar terakhir soal Maya, yang sejak malam ia pulang dari rumah itu, tidak pernah lagi ia dengar.Suatu sore, sepulang sekolah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak pernah menghubunginya.*"Denis, ini Bu RT dari daerah rumah ibumu dulu. Ibu titip nomor kamu ke saya, jaga-jaga kalau ada apa-apa. Ibu kamu, Maya, kemarin dibawa ke rumah sakit. Katanya sudah lama sakit tapi nggak pernah periksa. Kalau kamu mau, mungkin bisa sekadar dijenguk."*Denis menatap pesan itu lama, dadanya terasa berat oleh perasaan yang campur aduk—bukan lagi kemarahan yang dulu selalu muncul setiap kali nama itu disebut, melainkan sesuatu yang lebih rumit, semacam iba yang enggan ia akui sepenuhny

  • Anak Selingkuhan Suamiku   123. Rencana ke Depan

    Minggu sore itu, rumah terasa lebih santai dari biasanya. Tidak ada gosip yang perlu dipikirkan, tidak ada urusan sekolah yang mendesak—hanya keluarga yang berkumpul di ruang tengah, menikmati waktu yang jarang bisa mereka nikmati bersama tanpa terburu-buru.Aira duduk di karpet, sibuk menyusun puzzle bergambar kebun binatang, sesekali berteriak kegirangan setiap berhasil menemukan potongan yang pas. Denis duduk di sofa, sketsa barunya tergeletak di pangkuan, meski ia lebih banyak memperhatikan Aira daripada menggambar.Sifa datang sore itu, membawa sekotak kue yang katanya baru dicoba resepnya oleh ibunya. Ia disambut hangat, sudah dianggap seperti bagian dari keluarga sejak lama."Sifa, sini duduk," kata Ririn, menggeser posisi duduknya di sofa. "Kebetulan lagi santai semua."Sifa duduk di samping Azka, menyerahkan kotak kue kepada Ririn. "Ini oleh-oleh dari Mama, Tante. Katanya buat dicicipin.""Wah, makasih banyak," jawab Ririn, tersenyum, membuka kotak itu dan langsung mencium ar

  • Anak Selingkuhan Suamiku   122. Sisi Lain Cerita

    Beberapa hari setelah masa skorsing berakhir, Denis akhirnya membalas pesan Rendy, memutuskan untuk bertemu di kantin sekolah yang sudah sepi sepulang jam pelajaran.Rendy datang dengan wajah lebih tenang dari terakhir kali mereka bertemu di jalan waktu itu—tidak ada lagi nada mengejek dalam suaranya, hanya kecanggungan yang wajar di antara dua orang yang baru saja berdamai."Makasih mau ketemu," kata Rendy, duduk di seberang Denis, tangannya memutar-mutar botol minum tanpa benar-benar meminumnya. "Aku... beneran minta maaf soal waktu itu. Aku lampiasin emosi ke orang yang salah."Denis mengangguk pelan. "Ceritain aja. Aku pengen ngerti kenapa waktu itu kamu sampe segitunya."Rendy menghela napas panjang, seperti sudah menyiapkan cerita ini sejak lama tapi baru sekarang berani mengucapkannya. "Bokap gue kerja bareng Maya beberapa bulan lalu, buka usaha kecil-kecilan jualan sembako online. Maya yang ngajak duluan, bilang dia punya modal dari 'anak yang udah sukses'—maksudnya kamu, tern

  • Anak Selingkuhan Suamiku   121. Konsekuensi

    DenisMalam itu, setelah beberapa hari menimbang, Denis akhirnya duduk bersama Ririn, Rey, dan Azka di ruang keluarga, menceritakan detail kejadian di jalan pulang—Leo yang mendorongnya, Rendy yang menendang, dan ucapan-ucapan yang mereka lontarkan soal Maya dan asal-usulnya.Ririn mendengarkan dengan rahang mengeras, matanya berkaca-kaca menahan campuran marah dan sedih. "Kenapa nggak langsung cerita waktu itu?""Aku capek, Ma," jawab Denis, jujur. "Aku pikir kalau aku diem, semuanya bakal reda sendiri.""Kekerasan nggak boleh dibiarin reda sendiri, Denis," kata Rey, tegas. "Besok kita ke sekolah. Ketemu wali kelas, kalau perlu kepala sekolah."Azka menggenggam tangan kakaknya. "Aku temenin, Kak. Kita hadapin bareng."Denis mengangguk pelan, meski masih ada rasa cemas yang mengganjal di dadanya.---Keesokan harinya, Rey dan Ririn datang ke sekolah, ditemani Denis yang duduk di antara mereka di ruang kepala sekolah. Wali kelas Leo, Damar, dan Rendy juga hadir, wajah mereka tegang se

  • Anak Selingkuhan Suamiku   120. Kata-kata yang Tersembunyi

    Pagi setelah malam yang panjang itu, Denis bangun lebih siang dari biasanya. Tubuhnya terasa lebih ringan, meski matanya masih sedikit bengkak sisa tangisan semalam.Ia turun ke ruang makan, mendapati Ririn sudah menyiapkan sarapan seperti biasa—nasi goreng dengan telur ceplok, menu yang sama sejak bertahun-tahun lalu, meski sekarang dengan tambahan sosis dan kerupuk sebagai pelengkap."Tidur nyenyak?" tanya Ririn, tersenyum lembut, meski matanya masih menyisakan sedikit kelelahan dari malam sebelumnya."Lumayan, Ma," jawab Denis, duduk di kursinya.Azka muncul tidak lama kemudian, disusul Rey yang sengaja mengambil cuti sehari untuk memastikan suasana rumah benar-benar tenang sebelum semua orang kembali ke rutinitas masing-masing.Sarapan berlangsung lebih tenang dari biasanya, meski ada kecanggungan kecil yang masih tersisa di udara."Kak," kata Azka akhirnya, memutuskan untuk langsung bertanya. "Kemarin, pas di rumah Ibu kandung Kakak... Kakak sempet nyebut soal Oma Siti. Katanya d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status