Share

BAB 7 Tamu Laknat

Author: Mira Restia
last update publish date: 2026-07-02 06:27:38

Pagi itu langit mendung. Mendung yang sama seperti hatiku tiga hari ini.

Aku bangun jam lima. Tanpa alarm. Tubuhku sendiri yang menolak tidur lebih lama.

Tangan pertama kali yang kulakukan: meraih ponsel.

Buka aplikasi G***l. Refresh. Tunggu.

Kotak masuk kosong.

"Hasil Tes DNA" belum datang. Janji tiga hari kerja. Hari ini hari ketiga. Tapi jam baru menunjukkan 05.12.

Aku menghela napas. Panjang. Sampai tulang rusukku sakit.

Dafa sudah rapi. Kemeja biru muda, dasi belum terikat. Dia berdiri di depan cermin, sibuk dengan dirinya sendiri.

Biasanya aku yang ikatkan dasinya. Hari ini tidak.

Meja makan kosong. Kompor dingin. Cangkir kopi pun tidak ada.

Dia menoleh. Alisnya naik. "Rin, sarapan?"

Aku menyeduh air panas untuk diriku sendiri. "Beli aja di luar. Katanya kamu meeting jam delapan."

Dia mendengus. Marah, tapi ditahan. Pintu ditutup cukup keras saat dia pergi.

Lalu Denis bangun. Rambutnya berantakan. Pipinya masih ada bekas demam kemarin.

"Bu," panggilnya sambil memeluk kakiku. "Nanti ada Bu Guru les ya?"

Tangan yang sedang menyisir rambutnya berhenti.

"Guru les? Guru les apa, Sayang?"

"Yang Papa bilang," jawabnya polos. "Buat ajarin Denis matematika. Biar pinter kayak Papa."

Dafa. Aku teringat kebohongannya saat berada di ruang inap ketika Denis sakit waktu itu. Saat itu, dia kelepasan bilang bahwa Maya adalah guru les privat. Mungkin, Denis menanggapinya dengan serius. Aku pun mengirim pesan pada Dafa, yang mungkin saja sudah sampai kantor. Aku juga ingin tahu, apa Maya berani jika datang ke sini?

Aku mengetik cepat di W******p.

Ririn: Kamu bilang sama Denis ada guru les? Kapan kamu daftarin?

Centang satu. Centang dua.

Dafa: Nanti aku jelasin, Rin. Aku baru sampai kantor.

***

Jam sembilan kurang lima belas, bel rumah berbunyi.

Ding-dong. Ding-dong. Suaranya terlalu ceria untuk pagi yang busuk ini.

Aku membuka pintu.

Dan dunia berhenti selama dua detik.

Berdiri di depan terasku adalah wanita itu.

Rambut panjang sepinggang. Wajah manis-manis munafik yang pernah kulihat di ruang inap saat Denis sakit waktu itu. Yang teringat dibenaku, dia yang lebih dipilih Denis untuk menemani Denis saat sakit.

Maya.

"Selamat pagi Bu," katanya. Suaranya lembut, dibuat-buat. "Saya Maya. Guru les dari Cerdas Bangsa. Pak Dafa yang booking saya untuk Denis."

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya. Menatap setiap inci wajahnya yang berani datang ke rumah istri sahnya.

"Silakan masuk... Bu Guru," ujarku. Kata "Bu Guru" sengaja kugigit. Sinis.

Maya melangkah masuk. Tas selempang, buku-buku, senyum yang terlalu percaya diri.

Tapi mataku tidak di wajahnya. Mataku turun. Ke pergelangan tangan kirinya.

Di sana.

Berkilau. Silver. Bermerk.

Jam tangan yang hilang dari nakas kamarku tiga bulan lalu. Sepertinya, sengaja dicuri Dafa dariku untuk diberikan pada Maya. Dasar rendahan.

Jam Limited edition. Aku sendiri yang pesan dari Singapura. Nomor seri 0087. Uangku sendiri, hadiah dari ayahku saat akhir tahun.

Sekarang jam itu melingkar manis di tangan pelakor.

Berani masuk ke rumahku, Mbak.

Pake jam curian pula. Rendahan.

Aku tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata.

"Silakan duduk, Bu Guru. Denis sudah menunggu."

Maya duduk di meja belajar Denis. Terlalu dekat. Bahunya menyentuh bahu Denis.

"Ya ampun, Denis ketemu lagi sama Bu Maya," katanya sambil mengusap rambut Denis. "Pinter pasti kayak Papanya. Senang gak ketemu Bu Maya lagi?"

Denis terkik. "Iya Bu Guru."

Aku berdiri di ambang pintu dapur. Memperhatikan. Mendengar.

Setiap kali Denis membuat kesalahan, Maya akan berbisik, "Nggak apa-apa, Sayang. Mirip Papanya waktu kecil dulu."

Mirip Papanya.

Kalimat itu seperti jarum yang ditusukkan pelan-pelan ke jantungku.

Gelas di tanganku berderit. Hampir pecah.

Satu jam berlalu. Maya tidak kunjung pamit.

"Biasanya satu jam, Bu," katanya saat aku melirik jam dinding. "Biar Denis nyerap materinya."

Materi tiga puluh menit dipanjangkan jadi sandiwara satu jam.

Maya lalu berdiri. Berkeliling.

"Bu, toiletnya di mana, ya?"

"Dapurnya boleh lihat? Denis suka jajan apa di rumah?"

"Foto ini keluarga ya, Bu? Bahagia banget keliatannya."

Dia berhenti di depan foto pernikahanku dengan Dafa. Tangannya mengangkat bingkai itu. Jempolnya mengelus wajah Dafa di foto.

Aku berjalan mendekat. Pura-pura mengambil buku di meja sebelahnya.

Sengaja. Aku menunduk. Menatap jam di tangannya dari jarak sedekat ini.

Nomor serinya tidak kelihatan. Tapi goresan kecil di bezel jam itu... aku hafal.

Goresan karena dulu pernah terbentur pintu mobil.

Aku menegakkan badan. Lalu tertawa. Pelan.

"Wah, jamnya bagus, Bu Guru. Kayak jam yang hilang di rumah ini."

Maya kaku. Sedetik. Lalu dia tertawa, menutupinya.

"Oh, iya ya Bu? Kebetulan mirip kali. Saya beli online, murah kok."

Bohong.

Baterainya saja harus ganti di service center resmi Singapura, Mbak. Online dari mana?

Aku hanya mengangguk. "Iya, kebetulan."

Amarahku kutelan. Bulat-bulat. Pahit.

Belum. Belum saatnya meledak. Tunggu bukti. Tunggu email itu.

Jam sebelas, Maya pamit. Sebelum pergi, dia berjongkok di depan Denis. Mencium keningnya.

"Jaga kesehatan ya, Sayang. Bu Guru sayang Denis."

Denis memeluknya. "Sampai jumpa Bu Guru."

Pintu tertutup. Aku mengunci dari dalam. Dua kali.

Lalu aku berlari ke kamar Denis. Membuka tasnya.

Permen. Stiker. Dan selembar kertas kecil, lipatan rapi.

Tulisan tangan Maya: "Untuk Papanya Denis. Terima kasih sudah percaya."

Aku meremas kertas itu sampai kusut. Melemparkannya ke tong sampah seperti melempar sampah.

Sore berganti malam. Malam berganti larut.

Aku duduk di tepi kasur. Refresh email. Refresh lagi. Kosong.

Jam sebelas malam Dafa pulang. Bau alkohol tipis.

"Gimana lesnya?" tanyanya, melepas dasi. "Maya ngajarnya enak kan?"

Aku menatap pisau di meja dapur. "Enak," jawabku datar. "Enak banget. Enak sampai aku mau ngiris lidah kamu karena bohong."

Dia tertegun. "Rin, kamu ngomong apa?"

Aku tidak menjawab. Aku masuk kamar. Mengunci pintu.

Duduk di lantai. Bersandar. Ponsel di genggaman.

Jam 04.30 subuh.

Ding.

Layar menyala, menyorot wajahku yang pucat.

Satu notifikasi. Satu baris subjek yang kutunggu dengan darah dan air mata:

"Hasil Tes DNA - Ririn/Denis"

Tanganku gemetar meraih ponsel. Jari telunjukku melayang di atas tombol "Buka".

Mata ini sudah tidak kuat. Tiga hari tidak tidur.

Tapi aku harus buka. Harus.

Aku menarik napas. Terakhir.

Lalu gelap.

Ponsel jatuh dari tanganku. Tubuhku ambruk di lantai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Baca Novel
baper parah suka banget
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Anak Selingkuhan Suamiku   125. Rumah

    AzkaHari kelulusan tiba lebih cepat dari yang terasa. Lapangan sekolah dipenuhi toga hitam dan wajah-wajah yang campur haru dan lega, orang tua berjejer di tribun sambil mengangkat ponsel, mengabadikan momen yang mereka tunggu bertahun-tahun.Azka berdiri di barisan depan, mencari-cari wajah keluarganya di antara kerumunan penonton. Ia menemukan mereka dengan mudah—Ririn yang melambai antusias, Rey di sampingnya menggendong Aira yang ikut melambai meski tidak sepenuhnya paham apa yang sedang dirayakan, dan Denis yang berdiri beberapa langkah dari mereka, sudah lebih dulu lulus dan sengaja datang untuk menyaksikan momen adiknya.Ketika namanya dipanggil untuk maju ke panggung, Azka melangkah dengan mantap, mengambil ijazahnya, lalu menoleh ke arah keluarganya yang bersorak paling keras di antara penonton lain.Sepulang dari acara, mereka merayakan dengan makan malam sederhana di rumah, memesan lebih banyak lauk dari biasanya sebagai bentuk perayaan kecil, persis seperti kebiasaan mer

  • Anak Selingkuhan Suamiku   124. Menutup

    Beberapa minggu setelah pameran lukisannya berlangsung sukses, hidup Denis perlahan menemukan ritme barunya. Gosip di sekolah sudah jauh mereda, digantikan obrolan tentang tugas akhir, ujian, dan rencana kelulusan yang semakin dekat.Namun ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya—kabar terakhir soal Maya, yang sejak malam ia pulang dari rumah itu, tidak pernah lagi ia dengar.Suatu sore, sepulang sekolah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak pernah menghubunginya.*"Denis, ini Bu RT dari daerah rumah ibumu dulu. Ibu titip nomor kamu ke saya, jaga-jaga kalau ada apa-apa. Ibu kamu, Maya, kemarin dibawa ke rumah sakit. Katanya sudah lama sakit tapi nggak pernah periksa. Kalau kamu mau, mungkin bisa sekadar dijenguk."*Denis menatap pesan itu lama, dadanya terasa berat oleh perasaan yang campur aduk—bukan lagi kemarahan yang dulu selalu muncul setiap kali nama itu disebut, melainkan sesuatu yang lebih rumit, semacam iba yang enggan ia akui sepenuhny

  • Anak Selingkuhan Suamiku   123. Rencana ke Depan

    Minggu sore itu, rumah terasa lebih santai dari biasanya. Tidak ada gosip yang perlu dipikirkan, tidak ada urusan sekolah yang mendesak—hanya keluarga yang berkumpul di ruang tengah, menikmati waktu yang jarang bisa mereka nikmati bersama tanpa terburu-buru.Aira duduk di karpet, sibuk menyusun puzzle bergambar kebun binatang, sesekali berteriak kegirangan setiap berhasil menemukan potongan yang pas. Denis duduk di sofa, sketsa barunya tergeletak di pangkuan, meski ia lebih banyak memperhatikan Aira daripada menggambar.Sifa datang sore itu, membawa sekotak kue yang katanya baru dicoba resepnya oleh ibunya. Ia disambut hangat, sudah dianggap seperti bagian dari keluarga sejak lama."Sifa, sini duduk," kata Ririn, menggeser posisi duduknya di sofa. "Kebetulan lagi santai semua."Sifa duduk di samping Azka, menyerahkan kotak kue kepada Ririn. "Ini oleh-oleh dari Mama, Tante. Katanya buat dicicipin.""Wah, makasih banyak," jawab Ririn, tersenyum, membuka kotak itu dan langsung mencium ar

  • Anak Selingkuhan Suamiku   122. Sisi Lain Cerita

    Beberapa hari setelah masa skorsing berakhir, Denis akhirnya membalas pesan Rendy, memutuskan untuk bertemu di kantin sekolah yang sudah sepi sepulang jam pelajaran.Rendy datang dengan wajah lebih tenang dari terakhir kali mereka bertemu di jalan waktu itu—tidak ada lagi nada mengejek dalam suaranya, hanya kecanggungan yang wajar di antara dua orang yang baru saja berdamai."Makasih mau ketemu," kata Rendy, duduk di seberang Denis, tangannya memutar-mutar botol minum tanpa benar-benar meminumnya. "Aku... beneran minta maaf soal waktu itu. Aku lampiasin emosi ke orang yang salah."Denis mengangguk pelan. "Ceritain aja. Aku pengen ngerti kenapa waktu itu kamu sampe segitunya."Rendy menghela napas panjang, seperti sudah menyiapkan cerita ini sejak lama tapi baru sekarang berani mengucapkannya. "Bokap gue kerja bareng Maya beberapa bulan lalu, buka usaha kecil-kecilan jualan sembako online. Maya yang ngajak duluan, bilang dia punya modal dari 'anak yang udah sukses'—maksudnya kamu, tern

  • Anak Selingkuhan Suamiku   121. Konsekuensi

    DenisMalam itu, setelah beberapa hari menimbang, Denis akhirnya duduk bersama Ririn, Rey, dan Azka di ruang keluarga, menceritakan detail kejadian di jalan pulang—Leo yang mendorongnya, Rendy yang menendang, dan ucapan-ucapan yang mereka lontarkan soal Maya dan asal-usulnya.Ririn mendengarkan dengan rahang mengeras, matanya berkaca-kaca menahan campuran marah dan sedih. "Kenapa nggak langsung cerita waktu itu?""Aku capek, Ma," jawab Denis, jujur. "Aku pikir kalau aku diem, semuanya bakal reda sendiri.""Kekerasan nggak boleh dibiarin reda sendiri, Denis," kata Rey, tegas. "Besok kita ke sekolah. Ketemu wali kelas, kalau perlu kepala sekolah."Azka menggenggam tangan kakaknya. "Aku temenin, Kak. Kita hadapin bareng."Denis mengangguk pelan, meski masih ada rasa cemas yang mengganjal di dadanya.---Keesokan harinya, Rey dan Ririn datang ke sekolah, ditemani Denis yang duduk di antara mereka di ruang kepala sekolah. Wali kelas Leo, Damar, dan Rendy juga hadir, wajah mereka tegang se

  • Anak Selingkuhan Suamiku   120. Kata-kata yang Tersembunyi

    Pagi setelah malam yang panjang itu, Denis bangun lebih siang dari biasanya. Tubuhnya terasa lebih ringan, meski matanya masih sedikit bengkak sisa tangisan semalam.Ia turun ke ruang makan, mendapati Ririn sudah menyiapkan sarapan seperti biasa—nasi goreng dengan telur ceplok, menu yang sama sejak bertahun-tahun lalu, meski sekarang dengan tambahan sosis dan kerupuk sebagai pelengkap."Tidur nyenyak?" tanya Ririn, tersenyum lembut, meski matanya masih menyisakan sedikit kelelahan dari malam sebelumnya."Lumayan, Ma," jawab Denis, duduk di kursinya.Azka muncul tidak lama kemudian, disusul Rey yang sengaja mengambil cuti sehari untuk memastikan suasana rumah benar-benar tenang sebelum semua orang kembali ke rutinitas masing-masing.Sarapan berlangsung lebih tenang dari biasanya, meski ada kecanggungan kecil yang masih tersisa di udara."Kak," kata Azka akhirnya, memutuskan untuk langsung bertanya. "Kemarin, pas di rumah Ibu kandung Kakak... Kakak sempet nyebut soal Oma Siti. Katanya d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status