ログインSebastian tidak langsung menjawab. Ia diam beberapa detik, seperti menimbang sesuatu di kepalanya.“Aku tahu ada yang tidak beres di keluarga Bawono,” ucapnya akhirnya. “Kalau aku mau, aku sudah bisa mencari tahu semuanya. Tapi aku tidak melakukannya. Sejak awal … aku memang tidak ingin terlibat.”Ia mengangkat pandangan. “Aku tidak bisa.”Nada suaranya pelan, tapi final.“Sekarang aku punya Lily. Ditambah ibunya … aku tidak bisa menarik diriku terlalu jauh. Aku tidak ingin mereka ikut terkena imbasnya.”“Kau tidak mengerti, Sebastian.” Liam condong ke depan, suaranya lebih mendesak. “Raharjo itu berbahaya. Dia bisa melakukan apa saja. Bahkan mencoba melenyapkanmu waktu itu.”“Justru karena aku tahu,” balas Sebastian tenang, “aku tidak mau ikut campur.” Ia menghela napas pendek. “Aku punya anak. Masih kecil. Aku hanya ingin memberinya hidup yang nyaman.”Liam terdiam.Bahunya perlahan turun, lalu ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya mengusap wajahnya lagi, lebih lam
Sebastian berdiri di depan cermin.Tatapannya menelusuri bayangan dirinya sendiri—wajah yang tetap tajam, garis rahang tegas, postur yang masih sempurna. Tidak ada yang berubah.Tidak ada yang berkurang.Jadi apa yang salah?Pintu di belakangnya terbuka pelan.Theo masuk tanpa banyak suara, seperti biasa. Pandangannya langsung jatuh pada Sebastian, alisnya terangkat tipis saat mengamati apa yang sedang dilakukan atasannya.“Jarang melihat Anda berdiri selama ini hanya untuk bercermin,” ucapnya santai.Sebastian tidak langsung menoleh. Tatapannya masih terpaku pada bayangannya sendiri.“Apa menurutmu penampilanku sudah menurun?”Alis Theo terangkat sedikit lebih tinggi. “Sejak kapan Anda mulai mempertanyakan hal seperti itu?”Sebastian berdecak pelan. “Aku bahkan jauh lebih baik dari mantan suaminya. Jauh di atas segalanya.”Ia berbalik, merentangkan tangan seolah menampilkan dirinya.“Katakan. Apa yang kurang dariku?”Theo mengamatinya sekilas, lalu menjawab tanpa beban, “Tidak ada.”
Malam trasa lebih mencekam bagi Amara di rumah Sebastian.Pasalnya, pria itu sudah mngatakan sejak sore tadi, kalau dia menunggu kepuitusannya malam ini.Jika dia tidak datang ke ruang kerjanya, mala pria itu akan menganggapnya setuju untuk keluar dari rumah ini dan meninggalkan Lily bersama.Dan di sinilah dia berada sekarang. Tepat di depan pintu ruang kerja Sebastian.Amara berhenti sejenak di depannya, menarik napas dalam, sebelum akhirnya mendorongnya perlahan.Sebastian sudah ada di sana.Duduk di kursi kerjanya dengan sikap malas. Ekspresinya dingin seperti biasa.“Masuk.” Suara Sebastian berat dan datar, seolah tidak ada sesuatu yang penting akan terjadi.Sementara Amara, setiap langkah yang ia ambil seperti sedang berjalan di tengah gunung es. Dinginnya samp[ai ke tulang.Bagaimana kalau Sebastian menolak dan mengusirnya malam ini juga?Semua pikiran buruk memenuhi kepalanya.Amara mendekat dengan ragu, berdiri tepat di depan meja Sebastian.“Jadi bagaimana?” Sebastian bertan
Sore itu datang lebih cepat dari biasanya.Nana bahkan belum sempat menyentuh cangkir tehnya ketika pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Suaranya keras, menghantam keheningan yang sejak tadi menggantung.Ia menoleh.Vivian berdiri di ambang pintu.Rapi seperti biasa, anggun seperti biasa, tapi ada sesuatu yang salah. Tatapannya terlalu tajam, napasnya sedikit tidak stabil, dan untuk pertama kalinya, Nana melihat ibunya tidak sepenuhnya memegang kendali.“Jadi ini hasilnya?”Suara Vivian rendah, tapi penuh tekanan.Nana tidak menjawab. Ia hanya meletakkan cangkirnya perlahan, jari-jarinya tetap tenang meski ia sudah tahu arah pembicaraan ini akan ke mana.Berita itu sudah menyebar ke mana-mana.Semua orang tahu Sebastian Hudson memiliki seorang anak.Dan anak itu bukan darinya.Vivian melangkah masuk tanpa menunggu undangan, sepatu haknya berbunyi pelan di lantai, setiap langkahnya terdengar semakin berat.“Lima tahun, Nana,” katanya, suaranya bergetar tipis, lebih karena menahan emos
Kabar mengenai Sebastian yang ternyata sudah memiliki anak membakar kota itu dalam sekejap. Ayahnya—Liam Hudson, bahkan langsung membanting ponselnya dengan marah. Sore itu juga dia menyuruh Asistennya untuk memanggil Sebastian pulang. Arah pembicaraan mereka jelas. Sedangkan Sebastian, sebelum dia mendapat telepon, dia sendiri sudah mengendarai mobilnya menuju rumah Liam. Ia tahu ini akan terjadi. Sebastian menarik napas panjang saat mobilnya berhenti di halaman rumah Liam Anthony. Ia sudah memperkirakan ledakan kemarahan ayahnya, jadi setiap langkah yang ia ambil hanya tenang dan tenang. Begitu pintu dibuka, Liam sudah berdiri di ruang tamu, tatapan tajam menatap Sebastian dengan kemarahan yang hampir terasa membakar udara. “Sebastian!” Suaranya meledak begitu ia melihat putranya melangkah masuk. “Apa yang kau lakukan?!” Sebastian menunduk sebentar, kemudian mengangkat wajahnya dengan tenang, namun matanya tetap memancarkan tekad. Ia tahu apa yang ia lakukan. “Sudah kuduga
Mobil itu berhenti halus di depan rumah.Mesinnya mati, tapi suasana di dalamnya tidak langsung berubah. Lily masih bercerita, suaranya ringan, penuh semangat, seolah perjalanan pulang ini tidak pernah dibayangi apa pun.Sebastian membiarkannya menyelesaikan kalimatnya sebelum membuka pintu.“Ayo turun.”Lily langsung bergerak, melompat kecil keluar mobil. Langkahnya cepat, hampir berlari menuju pintu utama seperti biasa.Pintu sudah terbuka.Amara berdiri di sana.Ia tidak bergerak sejak mereka tiba. Tangannya tergenggam di depan tubuhnya, tidak terlalu erat, tapi cukup untuk menunjukkan ketegangan yang belum sepenuhnya hilang. Tatapannya langsung jatuh pada Lily terlebih dulu.“Ibu!”Lily berlari memeluknya tanpa ragu.Amara membalas pelukan itu refleks. Tangannya mengusap punggung kecil itu pelan, napasnya sedikit tertahan sebelum akhirnya keluar perlahan.“Kamu sudah pulang ….” Suaranya lembut, tapi ada sesuatu yang tertahan di sana.“Sekolahnya gimana?” tanyanya, berusaha terdeng
Sebastian tidak pernah bangun sepagi ini tanpa dibangunkan.Biasanya alarm berbunyi berkali-kali pun masih ia abaikan. Tapi hari ini berbeda. Bahkan sebelum pukul lima, matanya sudah terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang masih gelap.Padahal ia baru tidur pukul tiga.Ia memejamkan mata lag
Makan malam di rumah itu kini terasa lebih lengkap.Noah duduk di sisi meja yang sama seperti biasanya. Lily di tengah, Amara di seberangnya. Pemandangan itu sudah menjadi rutinitas.Sarapan bersama, makan siang jika libur kerja, dan makan malam hampir setiap hari.Seolah-olah mereka memang keluarg
Ruang kerja Theo yang biasanya rapi dan serius pagi itu terasa sedikit kacau.Sebastian berbaring santai di sofa panjang dekat jendela. Kedua tangannya dilipat di belakang kepala, dijadikan bantal. Kakinya menyilang, ekspresinya datar seolah baru saja mengatakan hal paling biasa di dunia.Sementara
Mobil melaju tenang meninggalkan restoran.Noah menyetir dengan satu tangan, wajahnya sulit menyembunyikan kebahagiaan. Senyum tipis terus bertahan di bibirnya, seolah dunia baru saja memberinya segalanya kembali.Sesekali ia menoleh ke samping.Amara duduk diam di kursi penumpang. Tatapannya lurus







