Home / Lainnya / Anakku Terlalu Pelit / 5. Dibayar dengan Mental

Share

5. Dibayar dengan Mental

Author: Devie Putri
last update Last Updated: 2025-05-01 13:06:35

"Aku nggak mau kalau Ibu tinggal di rumah kita, Mas. Ngerawat orang tua itu susah. Sudahlah, biarkan saja dia di sini. Kan Mbak Wulan itu saudara tertua. Jadi dia paham lah gimana caranya merawat orang yang sudah tua," tolak Rani sambil melipat tangannya di depan dada.

Ekspresinya jelas-jelas menunjukkan penolakan. Sudah kuduga Rani akan berkata demikian. Sejak awal, aku tahu rencana membawa Ibu tinggal bersama mereka hanya akan menimbulkan pertengkaran baru.

"Tapi kan kamu enak. Ada yang bantu jagain Dara di rumah," bujuk Arya lagi. Suaminya itu belum menyerah. Wajahnya terlihat sabar, tapi ada nada putus asa di ujung suaranya.

Rani mendengus kesal. "Dara sudah besar, Mas. Aku merawatnya sendirian juga sanggup. Memangnya selama ini aku pernah ngeluh ke kamu soal ngurus Dara? Nggak, kan. Tapi untuk merawat Ibu, maaf Mas, aku nggak sanggup," tegasnya sekali lagi. Wajahnya ditekuk. Bola matanya beralih menatap tembok. 

Aku memperhatikan mereka dari ujung ruang tengah, pura-pura membaca majalah bekas, tapi telingaku tajam menangkap setiap nada ketegangan itu. Rumah ini memang sudah tak lagi tenang sejak Arya mulai membicarakan keinginannya membawa Ibu tinggal bersama mereka. 

"Kenapa nggak dicoba dulu? Satu minggu saja. Nanti kalau kamu nggak nyaman, kita bawa Ibu pulang ke sini lagi," Arya masih mencoba membujuk. Matanya memohon pengertian, tapi Rani tak bergeming. Ia malah membentak Arya balik. 

"Kamu pikir Ibu itu barang yang main dilempar-lempar saja, Mas?" Rani mendongak tajam. "Kamu bawa pulang, terus kalau nggak cocok dibawa balik? Kayak boneka aja!"

Aku nyaris tertawa mendengarnya. Wajah Rani yang merengut dan nada bicaranya yang setengah marah itu justru membuatku geli. Aku tidak heran. Bukan satu dua kali mereka berselisih paham soal ini. Arya terlalu naif jika mengira Rani akan dengan senang hati menerima kehadiran Ibu. Sejak awal, semua tahu itu hal mustahil.

"Paksa saja terus sampai dia mau," sindirku saat melewati mereka. Bahkan aku sengaja menertawakan sikap Arya. Seakan-akan aku sedang menonton sinetron dengan jalan cerita yang sudah kutebak dari awal.

Arya melirikku tajam, tapi tak berkata apa-apa. Ia tidak membalas sindiranku. Tidak akan pernah berani. Apalagi ini rumahku. Mana berani dia membuat masalah di rumah orang. 

"Sudah, sudah. Kalian jangan bertengkar! Ibu di sini saja. Ibu nggak akan ikut kalian. Ibu nggak tiap hari kok makan tempe dan nasi sisa. Kemarin itu daripada mubazir, jadi Ibu yang habiskan. Kadang Mbak-mu juga kasih lauk ayam goreng dan daging. Ini kan mendekati akhir bulan, jadi Mbak-mu harus berhemat," Ibu membelaku. Suaranya pelan, diikuti linangan air mata di kedua pipinya. Dan itu cukup untuk membuat suasana ruangan mengendur sedikit.

Aku hanya tersenyum simpul. Aku tidak butuh dibela. Ibu selalu mencoba menjadi penengah, walau seringkali dengan cara yang salah. Ia mencoba menunjukkan bahwa ia tidak keberatan tinggal bersamaku, meski kenyataannya ia sering menahan sakit dan kecewa akibat ulahku. Tentu saja. Lagian mana siap dia tinggal dengan menantu. 

"Apaan sih, Bu. Aku nggak butuh Ibu bela seperti itu. Kalau memang mereka mau bawa Ibu, kan bagus. Biar Ibu nggak terus-terusan tinggal sama anak durhaka sepertiku," ucapku sambil tersenyum sinis. 

Ryan, si anak bungsu, tiba-tiba muncul dari balik pintu dan menghampiri Ibu. Dipeluknya tubuh renta itu dari belakang. Ibu langsung mengusap air matanya. 

"Yakin Ibu nggak apa-apa tinggal di sini?" tanyanya sedikit berbisik di telinga Ibu. Tangannya belum melepaskan pelukan itu. 

Ibu menggeleng pelan. "Beneran kok. Ibu nggak apa-apa. Ibu senang tinggal di sini."

Aku tertawa dalam hati. Mana mungkin dia senang tinggal di sini. Yang ada dia terpaksa, karena menantu-menantunya selalu menolak Ibu tinggal di rumah mereka. 

"Kalau ada yang perlu Ibu katakan, katakan saja pada kami. Kami juga anak-anak Ibu."

Aku tertawa kecil. "Kami juga anak-anak Ibu," ledekku dalam hati, mengulang apa yang Ryan katakan. Mereka mengaku anak ibu juga, tapi tidak berani mengajak Ibu untuk tinggal di rumahnya. 

Ibu tersenyum simpul, matanya mengerjap, berusaha menahan air mata. Aku merasa geli sekaligus muak melihatnya. Mereka terlalu melodramatis. Seakan-akan aku menelantarkan Ibu dan memperlakukannya seperti pembantu.

"Masih mending aku memberinya makan dan tempat tinggal gratis. Nggak membiarkan Ibu kelaparan atau tidur di kolong jembatan. Sedurhaka-durhakanya aku seperti kata mereka, setidaknya aku nggak buang Ibu ke panti jompo." Aku mendumel dalam hati. 

Dulu waktu masih muda, ibu tidak pernah menggunakan hati nuraninya kepadaku. Sekarang ketika beliau sudah tua dan mulai rapuh, tiba-tiba kami semua harus berlomba menunjukkan siapa yang paling peduli. Tapi kenyataannya, tak ada yang benar-benar siap. Ujungnya, hanya rumahku yang dijadikan penampungan. 

"Katakan saja, Bu! Katakan semua apa yang Ibu alami di rumah ini seperti bagaimana Ibu ngadu ke tetangga," ucapku santai sambil mengunyah kacang oven. 

"Mbak!" Arya memperingatkan aku lagi. 

"Kenapa?" Aku menantangnya. Sambil berkacak pinggang, aku memberikan tatapan nyalang pada Arya. 

"Berhenti membuat Ibu tertekan seperti itu!" gertaknya. Tapi aku malah membalasnya dengan senyuman sinis.

"Mas, sudah." Ryan menengahi. Si bungsu itu memang selalu menjadi penengah saat kita berseteru. 

Rani hanya melirikku sekilas, lalu berdiri dan pamit ke dapur. Arya menyusul, meninggalkan ruang tamu yang hening kembali. 

Begitulah kami, anak-anak ibu. Berebut tidak mau mengurus ibu. Tak ada rumah yang benar-benar bisa menerimanya dengan tangan terbuka.

Dan aku? Aku mau menerima dia di rumahku karena terpaksa. Dan tentu tinggal di sini tidaklah gratis. Ibu harus membayarnya dengan mental, sesuai dengan apa yang sering dia lakukan kepadaku dulu. 

Karena suasana semakin menegang, satu per satu kenangan pahit itu kembali muncul dalam ingatanku. Saat Ibu sering memperlakukanku tidak adil. Seperti saat Ibu membelikan ayam goreng untuk Ryan dan Arya. Sedangkan aku menangis di dalam kamar sambil menahan rasa lapar. 

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anakku Terlalu Pelit   23. Sepotong Kue Hajatan

    Kutarik napas dalam-dalam. Udara di sini memang masih bersih, belum banyak tercemar polusi seperti di pusat kota, tapi tetap saja dadaku terasa sesak. Ada yang menekan di dalam sana—sesuatu yang tidak bisa kulihat tapi kurasakan jelas. Seperti gumpalan awan kelabu yang menggantung di langit-langit dada, siap menurunkan hujan air mata kapan saja.Aku melirik ke sekeliling. Jalan setapak menuju perpustakaan itu sunyi, hanya ada beberapa murid yang lalu-lalang. Tak satu pun dari mereka tahu bahwa aku sedang berperang dengan pikiranku sendiri.Kadang rasa khawatir ini membuatku sulit mengendalikan diri. Seolah ada bara yang tak kunjung padam di dalam hati. Ingin menangis, tapi di sini bukan tempat yang bagus untuk meluapkannya.Langkah kakiku berderap pelan, menyusuri lorong panjang menuju perpustakaan. Aroma buku tua dan AC yang sedikit bocor dari dalam sudah mulai tercium. Tapi justru di sela-sela kesunyian ini, kenangan masa kecilku kembali menyeruak, hadir dengan begitu jelas seolah b

  • Anakku Terlalu Pelit   22. Panggilan Ibu Kepala Sekolah

    "Harusnya tidak perlu kalau hanya untuk sepotong roti, Bu. Kecuali jika anak ibu terlalu pelit dan perhitungan," ujar Asih dengan nada dingin yang penuh sindiran. Ia memang selalu punya cara menyulut emosi, terutama emosiku."Sudah, sudah. Asih, ayo kita kembali ke depan!" akhirnya ibu kepala sekolah turun tangan, menengahi sebelum percakapan di dapur itu menjadi semakin tak terkendali."Ibu katanya tadi mau ke toilet," celetuk Kinanti dengan polos, entah sengaja atau tidak."Ndak usah. Nanti saja," sahut ibu kepala sekolah cepat-cepat, lalu pergi dengan langkah cepat kembali ke ruang utama.Satu per satu staf dan guru meninggalkan dapur. Beberapa yang tadinya hendak ke toilet mendadak berubah pikiran, mungkin karena ingin menghindari canggungnya suasana. Hening menggantung di udara seperti lem yang menempel di tenggorokan. Anak-anakku membantuku mengeluarkan suguhan ke meja tamu. Tapi saat acara selesai, aku sadar banyak piring masih penuh. Kue-kue yang sudah susah kusajikan tak ter

  • Anakku Terlalu Pelit   21. Pembelaan Ibuku

    Sedangkan yang lain masih tertegun berdiri di tempatnya, Asih langsung menyelonong melewatiku tanpa peduli pada tatapan semua orang. Dia melangkah cepat, nyaris tergesa, seolah ingin segera menghapus pemandangan yang tak layak dari depan matanya.Ia menghampiri ibu yang terduduk lemas di lantai. Ibu sedang berusaha membersihkan bungkus roti bluder yang jatuh dan kini kotor terkena debu. Tangannya gemetar, bukan hanya karena usia, tapi karena malu. Mata ibu menunduk, seakan ingin lenyap dari tempat itu."Ayo saya bantu bangun, Bu!" ucap Asih sembari meraih tangan ibu. Nadanya terdengar tegas, tapi juga menyiratkan amarah yang dipendam. Ia mengangkat tubuh ibu perlahan. Ibu berdiri dengan terbata, lalu meletakkan kembali roti bluder itu ke atas piring.“Jangan dikembalikan, Bu! Ambil saja. Biar saya yang bayar!” kata Asih, tajam.Tangannya menyelusup ke dalam tas selempang cokelatnya, lalu mengeluarkan dompet bermerk yang seolah ikut bicara bahwa dia punya cukup—atau lebih—untuk mengat

  • Anakku Terlalu Pelit   20. Reputasi Yang Hancur

    Satu minggu kemudian...Sejak pulang kerja, aku sibuk wira-wiri mengambil pesanan makanan untuk acara arisan guru hari ini. Beberapa penjual bersedia mengantar ke rumah, tapi ada juga yang menolak pengantaran, jadi aku harus mengambilnya sendiri. Badanku lelah, tapi kupaksakan demi jamuan yang sempurna. Aku ingin semuanya tampak rapi dan enak disajikan. Tidak boleh ada yang kurang."Satu, dua, tiga ..." Aku menghitung satu-satu makanan apa yang sudah tersaji di meja. Di ruang makan, beberapa buah segar sudah siap tersusun di atas meja. Anak-anak membantuku menatanya ke dalam piring-piring saji. Mereka tampak semangat, walaupun sesekali tangan mereka hendak mencomotnya. Kue-kue basah baru saja diambil oleh Danar dan langsung dipindahkan ke nampan panjang berlapis renda. Aku mengatur semuanya dengan detail, seolah ini bukan sekadar arisan, tapi pesta penting yang harus sempurna."Tinggal bluder yang belum datang," gumamku sambil melihat jam dinding."Tolong coba hubungi kontak karyawa

  • Anakku Terlalu Pelit   19. Musuh Kedua

    Pagi yang dimulai seperti biasa. Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri di balik jendela kamar, tapi suara aktivitas dari dapur dan jalanan kecil di depan rumah sudah mulai terdengar. Aku tengah bersiap untuk berangkat kerja. Baju kerja sudah rapi tergantung di gantungan belakang pintu, tas sudah aku susun sejak malam. Anak-anak sudah berangkat lebih dulu bersama ayahnya. Rumah terasa sedikit lebih sepi setelah kepergian mereka.Namun, ada satu suara yang sedari malam belum juga hilang—tangisan bayi yang memekakkan telinga.Sejak semalam, suara itu tak berhenti. Tangisan panjang, sesenggukan, lalu kembali meraung. Ibu bolak-balik ke ruang tamu, sesekali mengintip dari balik gorden. Wajahnya muram. Aku yang dari tadi hanya memperhatikan akhirnya membuka suara."Anak siapa sih yang nangis terus dari tadi malam, Bu? Bikin tidur nggak nyenyak," gerutuku sambil memijat pelipis. Mataku terasa berat. Kepala pun berdenyut. Rasanya aku hanya sempat tidur satu atau dua jam malam tadi."Ya

  • Anakku Terlalu Pelit   18. Mendapat Rejeki

    Tanpa mencium tangannya seperti biasa, aku menyalakan motor dan melesat pergi. Mood-ku sudah rusak sejak sore, dan sekarang makin keruh. Aku benci diceramahi. Aku bukan anak kecil. Aku tahu apa yang aku lakukan. Dan Lastri... dia memang sudah keterlaluan. Dia yang duluan memulai drama itu di depan ibu-ibu kompleks."Kenapa dia selalu dibela? Selalu dianggap baik sedangkan aku adalah sebaliknya. Padahal aku nggak pernah ngusik hidup orang lain. Soal bagaimana perlakuanku pada ibu, itu urusanku." Aku mendumel sepanjang jalan. Entahlah ... rasanya ibu dan suamiku selalu memihak pada Lastri. Padahal dia bukan siapa-siapa. Sengaja kupacu motor dengan kecepatan tinggi meski dingin angin terasa menyiksa. Sesampainya di rumah Kinanti, suasana lebih hangat. Rumah kecilnya penuh suara tawa dan obrolan para guru. Sejenak, beban yang menyesakkan dadaku sedikit terangkat."Kenapa, Buu, kok wajahnya ditekuk begitu? Biasanya datang sumringah," goda Kinanti yang menyambutku di depan. "Lagi bete,"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status