Aku mendengkus kesal sambil mengendalikan kemudi. Jalanan masih lengang, namun pikiranku terlalu riuh oleh ingatan masa lalu. Tumpukan rasa sakit itu tak pernah luntur sedikit pun meski tahun demi tahun berlalu.
Pagi ini, pikiranku kembali melayang ke masa kecilku, masa yang ingin kulupakan namun selalu datang menghantui di saat-saat paling rapuh seperti sekarang. Masa kecil yang tak seperti anak-anak lain. Masa kecil yang penuh luka karena cinta yang tidak dibagi rata.
"Andai hari itu, Ibu mau membagi ayam goreng yang sama pada anak-anaknya," gumamku sendiri. Lalu kepalaku memutar memori ingatan tentang satu kejadian menyakitkan di masa itu.
Di balik pintu kamar kecil rumah kami yang sempit dan pengap, aku dulu sering bersembunyi. Hari itu, aku menahan napas, berjongkok di balik pintu agar tak terlihat. Aku ingin mendengar, ingin memastikan bahwa kecurigaanku benar.
"Ibu darimana? Apa yang dia bawa dalam genggamannya?" pikirku sambil bersembunyi di balik pintu.
Ibu baru saja pulang entah dari mana, menggenggam erat kantong plastik hitam kecil yang tangannya. Dia tak memanggilku. Langsung menuju kamar adik-adikku, Arya dan Ryan, mengajak mereka lekas ke dapur.
"Sebenarnya apa yang Ibu bawa untuk Arya dan Ryan?" Aku semakin penasaran.
Aku mengintip dari sela pintu yang terbuka sedikit, menyaksikan ibu mengeluarkan dua potong ayam goreng dari dalam kantong dan meletakkannya ke atas piring mereka masing-masing.
Sebenarnya aku menunggu Ibu meneriakkan namaku. Memanggilku agar makan bersama kedua adikku. Namun seperti yang sudah-sudah, aku tidak pernah diberi jatah.
“Ayo, cepat makan! Habiskan! Sebelum Mbak kalian tahu,” kata ibu setengah berbisik tapi cukup jelas untuk kudengar. Mungkin Ibu pikir aku sedang tidur siang. Padahal diam-diam, aku mengintip mereka.
"Ibu nggak belikan buat Mbak Wulan?" tanya Arya, adikku yang pertama.
"Nggak. Uang ibu cuma cukup buat beli dua. Sudah. Makanlah! Jangan banyak tanya! Yang penting kalian bisa makan enak," tukasnya membuat mereka berdua tak lagi berani bertanya banyak atau sekedar menyebut namaku.
Dadaku sesak. Aku menggigit bibir, menahan isak. Kenapa selalu begitu? Selalu aku tidak diberi jatah makanan yang sama dengan adikku.
"Padahal perutku juga lapar sekali," rintihku lirih "Tapi Ibu selalu begitu. Dia nggak pernah sayang dengan aku seperti menyayangi mereka."
Perutku yang sudah sejak pagi kosong meronta tak karuan. Namun aku terlalu lelah untuk memprotes. Aku kembali ke atas tempat tidur, menarik selimut dan membenamkan wajah. Aku kencangkan ikat pinggangku untuk menahan lapar. Lalu aku tertidur karena lelah menangis.
Entah berapa lama aku terlelap, aku terbangun oleh rasa lapar yang kian menjadi. Aku bangkit, menyeret kaki menuju dapur dengan harapan ada sisa makanan. Kubuka tudung saji dan mendapati satu potong tempe goreng yang sudah dingin. Sedangkan di salah satu sudut meja, aku melihat piring bekas makan adik-adikku yang menyisakan tulang belulang di atasnya.
Dengan air mata kembali mengalir, aku makan dalam diam. Suapan demi suapan terasa seperti duri. Bukan karena rasa tempe yang hambar, tapi karena hati yang remuk.
“Kamu kenapa? Kok makan sambil nangis?” Suara ayah mengagetkanku. Aku lekas menoleh dan air mata turun semakin deras.
Ayah. Lelaki itu menatapku dengan wajah lelah sepulang kerja, namun ada kelembutan yang tak pernah kutemukan dari ibu. Aku menatapnya dengan mata basah, lalu memeluknya erat.
“Yah... nanti kalau ayah punya uang, beliin aku ayam goreng ya? Aku pengin sekali saja makan ayam goreng. Satu potong saja. Aku nggak minta banyak,” pintaku lirih, berharap permintaan kecilku bisa ia kabulkan.
Ayah mengusap kepalaku, senyum tipisnya membuatku merasa dilihat dan didengar.
“Iya, nanti ayah belikan. Sekarang makan yang ada dulu ya, Nak.”
Aku mengangguk senang. Tiga hari kemudian, sepulang kerja, ayah menepati janjinya. Dia membelikanku sepotong ayam goreng.
Aku melompat senang, segera menyiapkan nasi dan menyantapnya dengan lahap. Bumbu ayam yang sebenarnya rasanya biasa saja, entah mengapa terasa begitu lezat hari itu.
Namun kebahagiaanku tak bertahan lama.
Ibu datang dari belakang, langkahnya tergesa dan wajahnya merah padam. Tiba-tiba tangannya menggebrak meja makan hingga piringku bergetar dan separuh isinya tumpah ke atas meja.
“Ngapain kamu beliin dia ayam goreng? Cuma satu lagi. Terus mana buat Arya dan Ryan? Mana buat aku juga?” suaranya melengking, menyayat telinga dan hati.
Ayah menatap ibu dengan tenang, berusaha menahan amarah.
“Maaf, uangku hanya cukup buat membeli satu. Lain kali kalau aku ada rejeki lebih lagi akan aku belikan kalian semua ayam goreng.”
“Halah alasan. Kamu memang dari dulu cuma sayang sama Wulan. Jadi sekarang kamu mulai pilih kasih sama anak-anakmu?”
Aku hanya bisa menunduk. Tangan masih memegang sendok, namun ayam goreng di piring kini tak lagi menggugah selera. Ingin rasanya aku berkata bahwa aku tidak pernah minta lebih. Aku hanya ingin diperlakukan sama. Tapi suara itu terlalu berat untuk keluar dari mulut anak kecil sepertiku.
Ayah menghela napas panjang. “Sudahlah, Bu. Aku nggak ada maksud demikian."
"Sudah ... sudah ... Ayo Arya, Ryan, kita makan sama tempe saja. Ayahmu nggak sayang sama kalian berdua," ucap Ibu pada adik-adikku sambil berlalu pergi.
Aku meletakkan sendok makanku. Mulutku berhenti mengunyah. Aku tak habis pikir dengan sikap ibu. Bagaimana dia tega menuduh ayah pilih kasih, padahal dia yang selalu melakukannya kepadaku?
***
Kutarik napas dalam-dalam. Udara di sini memang masih bersih, belum banyak tercemar polusi seperti di pusat kota, tapi tetap saja dadaku terasa sesak. Ada yang menekan di dalam sana—sesuatu yang tidak bisa kulihat tapi kurasakan jelas. Seperti gumpalan awan kelabu yang menggantung di langit-langit dada, siap menurunkan hujan air mata kapan saja.Aku melirik ke sekeliling. Jalan setapak menuju perpustakaan itu sunyi, hanya ada beberapa murid yang lalu-lalang. Tak satu pun dari mereka tahu bahwa aku sedang berperang dengan pikiranku sendiri.Kadang rasa khawatir ini membuatku sulit mengendalikan diri. Seolah ada bara yang tak kunjung padam di dalam hati. Ingin menangis, tapi di sini bukan tempat yang bagus untuk meluapkannya.Langkah kakiku berderap pelan, menyusuri lorong panjang menuju perpustakaan. Aroma buku tua dan AC yang sedikit bocor dari dalam sudah mulai tercium. Tapi justru di sela-sela kesunyian ini, kenangan masa kecilku kembali menyeruak, hadir dengan begitu jelas seolah b
"Harusnya tidak perlu kalau hanya untuk sepotong roti, Bu. Kecuali jika anak ibu terlalu pelit dan perhitungan," ujar Asih dengan nada dingin yang penuh sindiran. Ia memang selalu punya cara menyulut emosi, terutama emosiku."Sudah, sudah. Asih, ayo kita kembali ke depan!" akhirnya ibu kepala sekolah turun tangan, menengahi sebelum percakapan di dapur itu menjadi semakin tak terkendali."Ibu katanya tadi mau ke toilet," celetuk Kinanti dengan polos, entah sengaja atau tidak."Ndak usah. Nanti saja," sahut ibu kepala sekolah cepat-cepat, lalu pergi dengan langkah cepat kembali ke ruang utama.Satu per satu staf dan guru meninggalkan dapur. Beberapa yang tadinya hendak ke toilet mendadak berubah pikiran, mungkin karena ingin menghindari canggungnya suasana. Hening menggantung di udara seperti lem yang menempel di tenggorokan. Anak-anakku membantuku mengeluarkan suguhan ke meja tamu. Tapi saat acara selesai, aku sadar banyak piring masih penuh. Kue-kue yang sudah susah kusajikan tak ter
Sedangkan yang lain masih tertegun berdiri di tempatnya, Asih langsung menyelonong melewatiku tanpa peduli pada tatapan semua orang. Dia melangkah cepat, nyaris tergesa, seolah ingin segera menghapus pemandangan yang tak layak dari depan matanya.Ia menghampiri ibu yang terduduk lemas di lantai. Ibu sedang berusaha membersihkan bungkus roti bluder yang jatuh dan kini kotor terkena debu. Tangannya gemetar, bukan hanya karena usia, tapi karena malu. Mata ibu menunduk, seakan ingin lenyap dari tempat itu."Ayo saya bantu bangun, Bu!" ucap Asih sembari meraih tangan ibu. Nadanya terdengar tegas, tapi juga menyiratkan amarah yang dipendam. Ia mengangkat tubuh ibu perlahan. Ibu berdiri dengan terbata, lalu meletakkan kembali roti bluder itu ke atas piring.“Jangan dikembalikan, Bu! Ambil saja. Biar saya yang bayar!” kata Asih, tajam.Tangannya menyelusup ke dalam tas selempang cokelatnya, lalu mengeluarkan dompet bermerk yang seolah ikut bicara bahwa dia punya cukup—atau lebih—untuk mengat
Satu minggu kemudian...Sejak pulang kerja, aku sibuk wira-wiri mengambil pesanan makanan untuk acara arisan guru hari ini. Beberapa penjual bersedia mengantar ke rumah, tapi ada juga yang menolak pengantaran, jadi aku harus mengambilnya sendiri. Badanku lelah, tapi kupaksakan demi jamuan yang sempurna. Aku ingin semuanya tampak rapi dan enak disajikan. Tidak boleh ada yang kurang."Satu, dua, tiga ..." Aku menghitung satu-satu makanan apa yang sudah tersaji di meja. Di ruang makan, beberapa buah segar sudah siap tersusun di atas meja. Anak-anak membantuku menatanya ke dalam piring-piring saji. Mereka tampak semangat, walaupun sesekali tangan mereka hendak mencomotnya. Kue-kue basah baru saja diambil oleh Danar dan langsung dipindahkan ke nampan panjang berlapis renda. Aku mengatur semuanya dengan detail, seolah ini bukan sekadar arisan, tapi pesta penting yang harus sempurna."Tinggal bluder yang belum datang," gumamku sambil melihat jam dinding."Tolong coba hubungi kontak karyawa
Pagi yang dimulai seperti biasa. Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri di balik jendela kamar, tapi suara aktivitas dari dapur dan jalanan kecil di depan rumah sudah mulai terdengar. Aku tengah bersiap untuk berangkat kerja. Baju kerja sudah rapi tergantung di gantungan belakang pintu, tas sudah aku susun sejak malam. Anak-anak sudah berangkat lebih dulu bersama ayahnya. Rumah terasa sedikit lebih sepi setelah kepergian mereka.Namun, ada satu suara yang sedari malam belum juga hilang—tangisan bayi yang memekakkan telinga.Sejak semalam, suara itu tak berhenti. Tangisan panjang, sesenggukan, lalu kembali meraung. Ibu bolak-balik ke ruang tamu, sesekali mengintip dari balik gorden. Wajahnya muram. Aku yang dari tadi hanya memperhatikan akhirnya membuka suara."Anak siapa sih yang nangis terus dari tadi malam, Bu? Bikin tidur nggak nyenyak," gerutuku sambil memijat pelipis. Mataku terasa berat. Kepala pun berdenyut. Rasanya aku hanya sempat tidur satu atau dua jam malam tadi."Ya
Tanpa mencium tangannya seperti biasa, aku menyalakan motor dan melesat pergi. Mood-ku sudah rusak sejak sore, dan sekarang makin keruh. Aku benci diceramahi. Aku bukan anak kecil. Aku tahu apa yang aku lakukan. Dan Lastri... dia memang sudah keterlaluan. Dia yang duluan memulai drama itu di depan ibu-ibu kompleks."Kenapa dia selalu dibela? Selalu dianggap baik sedangkan aku adalah sebaliknya. Padahal aku nggak pernah ngusik hidup orang lain. Soal bagaimana perlakuanku pada ibu, itu urusanku." Aku mendumel sepanjang jalan. Entahlah ... rasanya ibu dan suamiku selalu memihak pada Lastri. Padahal dia bukan siapa-siapa. Sengaja kupacu motor dengan kecepatan tinggi meski dingin angin terasa menyiksa. Sesampainya di rumah Kinanti, suasana lebih hangat. Rumah kecilnya penuh suara tawa dan obrolan para guru. Sejenak, beban yang menyesakkan dadaku sedikit terangkat."Kenapa, Buu, kok wajahnya ditekuk begitu? Biasanya datang sumringah," goda Kinanti yang menyambutku di depan. "Lagi bete,"