تسجيل الدخولBAB 2
“Nona?” “Nona Vale?” Anchia mengangkat kepalanya dan tersenyum pada pelayan yang berdiri di sisi meja bulat jamuan teh sorenya. Pelayan itu menatap dengan wajah cemas pada Anchia yang akhir-akhir ini sering melamun dan tidak fokus saat dipanggil. “Anda baik-baik saja?” tanya pelayan itu yang kemudian langsung diangguki oleh Anchia. Alasan Anchia tidak bisa fokus karena tiba-tiba saja ia terbangun lagi di kastel besar Frederika setelah kepalanya terpisah dari tubuh. Mungkin sekitar seminggu yang lalu. Sampai sekarang saja Anchia bisa merasakan sakit akibat pisau besar itu di lehernya. Bahkan umpatan dan kutukan yang ia layangkan masih belum kering di lidah. Bagaimana ini bisa terjadi? Saat tersadar ada yang memanggil, Anchia terbangun dari tidur dan menyadari entah bagaimana dirinya masih hidup. Padahal baru saja pisau besar dan tajam dari tiang pancung memisahkan kepalanya dari leher. Begitu memegang leher ia langsung berlari dari tempat tidur untuk melihat dirinya di cermin. Waktu telah kembali saat ia berusia 17 tahun. Awalnya Anchia pikir kalau dirinya berhalusinasi atau sedang bermimpi. Namun, ada sebuah tanda melingkar di pergelangan kaki kirinya. Anchia ingat sekali kalau itu adalah bekas luka saat ia di penjara dan di rantai. Cukup lama sampai Anchia bisa menerima kondisi. Ia baru sempat mencerna sebagian keadaan sampai saat ini. Setengahnya lagi hanya tersisa kemarahan dan ingatan atas rasa sakitnya. Kemudian Anchia sendiri berpikir apa dewa mendengar kutukannya? Atau karena dewa tidak mau memasukkan sampah yang mengutuk kekaisaran yang akan dipimpin Grand Duke Tierry ke akhirat? Baik dewa atau orang-orang yang tersenyum untuk Anchia, mereka semua sialan. Mulai sekarang Anchia takkan percaya dewa. “Aku akan masuk sekarang,” kata Anchia pada pelayannya itu dan segera berdiri untuk menyudahi minum teh sore yang sama sekali tidak menyenangkan. “Tidak usah diantar. Aku bisa pergi sendiri. Bereskan saja yang ada di sini.” Anchia meninggalkan meja itu dan pelayan yang membungkuk untuknya. Anchia sempat berpikir bahwa mungkin dewa mengembalikan Anchia ke masa lalu untuk balas dendam. Benar. Karena bagaimanapun dewa tidak membuatkan takdir Anchia agak berbeda. Mereka hanya mengembalikan Anchia ke usianya yang 17 tahun. Ia tidak bisa menghindar untuk menjadi Valecia di usia 11 tahun. Entah itu mimpi atau regresi, ia tidak peduli. Apa pun namanya Anchia akan menggunakan kehidupan ini dengan baik dan mewujudkan kutukan yang pernah ia ucapkan. Kalau dipikir-pikir, alasan hal ini bisa terjadi apakah karena di detik kematian ia sempat berharap bisa hidup bahagia jika terlahir kembali? Tetapi tampaknya harapan itu terlalu muluk. “Ayah?” panggil Anchia ketika melihat Duke Frederika sedang berjalan menuju ruang kerjanya. Dengan mulut manis, dulu pria itu menyuruh Anchia memanggilnya dengan sebutan itu. “Selamat datang, Ayah. Pekerjaannya lancar?” Rodigo Frederika. Serigala jantan yang menyembunyikan dirinya di balik bulu domba putih dan cantik. Terlihat di depan seperti pribadi yang dihormati dan sayang keluarga. Nyatanya Rodigo jauh lebih sampah dari sampah-sampah yang pernah ada. Dan ... Anchia memang semua kartu As orang ini. Mungkin itu adalah alasan utama Rodigo mau membunuh Anchia. “Vale.” Rodigo menyentuh pundak Anchia dan tersenyum manis. “Ayah menyesal tidak bisa menemanimu minum teh. Grand Duke Muda punya banyak hal untuk dibicarakan.” “Pembicaraan Anda dan Tuan Tierry lebih penting, Ayah.” Anchia memberikan senyum kecilnya yang manis seperti biasa. Seakan tidak pernah ada hal besar yang menyakitinya atau membunuhnya. Rodigo mengangguk. “Ada banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan. Kau tidak keberatan jika Ayah pergi sekarang?” “Tentu.” Anchia tersenyum sampai matanya tertutup. “Jangan sampai saya menghambat Anda, Ayah.” “Istirahatlah, Sayang. Kita bertemu saat makan malam.” Rodigo memberikan kecupan di puncak kepala Anchia sebelum berbalik dan kembali berjalan menuju ruang kerja bersama ajudan yang selalu mengikutinya. Anchia mengangkat tangan untuk menyentuh tempat yang tadi dicium oleh si Keparat itu. Tangannya terkepal karena merasa kecupan itu sepanas api yang dapat membakar Anchia. “Tersenyumlah yang puas, Rodigo. Akan kubuat kau menangis darah seperti yang kau lakukan padaku,” gumam Anchia dengan pandangan tajam. Ia bersumpah akan membalas dua kali lebih banyak dari rasa sakit yang didapatnya. *** Anchia menghela napas dan bersandar di kursi setelah menyelesaikan catatan ke dalam bukunya. Ringkasan penting kehidupannya yang pertama, mati mengenaskan itu. Anchia mencatat apa-apa saja hal di masa lalu yang bisa menjadi variabel di masa depan agar hidupnya bisa lebih baik. Ia langsung kembali setelah makan malam dengan Rodigo. Rasanya mau muntah di depan pria itu yang bersandiwara layaknya seorang ayah yang baik, padahal dia menganggap Anchia adalah pengganti anaknya. Kenapa dulu Anchia bisa tertipu dengan kasih sayang palsu itu? Apa karena Anchia tidak pernah merasakan cinta seseorang? Benar. Kali ini Anchia takkan mendambakan cinta. “Kalian menginginkan kekaisaran ini ‘kan Rodigo?” Anchia tertawa pelan. “Akan kuhancurkan harapan itu sampai tak bersisa.” Pertama-tama, apa yang harus Anchia lakukan? Di masa lalu, Anchia punya orang-orang kepercayaan yang berbakat. Orang-orang tulus yang bekerja untuknya dengan senang hati. Tetapi mereka mati satu per satu di tangan Grand Duke Tierry yang membasmi mereka secara diam-diam. Untuk sekerang sepertinya Anchia harus mulai lebih awal agar bisa mengumpulkan dan merekrut mereka lagi. Kali ini Anchia akan melindungi mereka, menyembunyikan mereka dengan baik agar tidak mati dua kali. Anchia menarik laci meja belajarnya, mendapati sekantung penuh koin emas dan cek kosong. Ia menyeringai kecil. Ada gunanya juga Anchia tidak menggunakan anggarannya sampai berusia 17 tahun. Namun, sekarang Anchia harus menggunakan anggaran 7 tahunnya yang sudah ditabung dengan baik. Rodigo takkan mengetahui setiap transaksi Anchia. Karena seminggu ini ia sudah meminta pelayannya untuk pergi ke bank agar bisa mengambil isi dari brankas Valecia Frederika. Takkan terjadi masalah karena Rodigo tidak mengawasi anggaran Anchia yang telah dikeluarkannya selama 3 tahun terakhir. Baguslah. Dengan begitu Anchia bebas menggunakan uangnya. “Kalau begitu, haruskah kita pergi sekarang?” tanya Anchia pada pelayannya yang sejak tadi ada di ruangan itu sambil memegang jubah hitam. Ia berdiri dari kursi dan mengaitkan kantung uang berserta cek ke sabuk di pinggangnya. “Anda akan kembali sebelum fajar ‘kan, Nona?” tanya pelayan itu. Dia mendekati Anchia untuk memasangkan jubah. “Kau kembali saja ke kamar seolah sudah menyelesaikan tugas. Bersikaplah biasa. Kau paham, Iren?” Iren, pelayan ini tahu rahasia Anchia. Atau mungkin satu-satunya orang yang takkan melupakan bahwa Anchia bukanlah Valecia Frederika yang asli. Karena bagaimanapun mereka berasal dari wilayah yang sama dan kalangan yang sama. Anchia membawanya sebagai syarat untuk setuju pada keinginan Rodigo agar bisa mengadopsinya. “Hati-hatilah, Anchia,” bisik Iren sambil memegang sisi jubah yang baru saja talinya selesai diikat. Wanita itu lebih tua 3 tahun dari Anchia. Karena mereka tinggal di gang dan rumah yang sama, Anchia sudah menganggapnya sebagai kakak. Wanita ini juga mati bersamanya di masa lalu. Dia mati di hari penyergapan Anchia. Iren mati karena mencegah orang-orang Rodigo menangkap Anchia. Dia orang kepercayaan Anchia yang mati tepat di depan matanya. Dari itu Anchia sempat menangis saat melihat Iren pertama kali setelah terbangun dari hukum pancung tersebut. Kali ini ia takkan membiarkan Iren mati lagi. “Tenang saja.” Anchia membiarkan Iren memeriksa ikatan tali jubah di lehernya sekali lagi. “Aku bisa melindungi diri. Aku juga membawa artefak penyamaran. Tidak akan ada yang bisa mengenali aku.” Iren mengangguk. “Pulang segera setelah urusanmu selesai.” *** Artefak penyamaran. Sebuah permata berbentuk oval berwarna hijau. Permata zamrud yang memiliki khasiat untuk penyamaran. Di level tertinggi artefak ini bisa menyamarkan rambut, mata, dan suara. Bahkan bisa menyamarkan usia seseorang. Artefak ini ilegal karena tidak punya izin resmi dari kekaisaran. Mungkin karena tidak pernah ada benda seperti itu yang beredar di kekaisaran, sebab hanya Anchia yang memiliknya. Lebih tepatnya tidak sengaja memiliki. Di masa lalu Anchia sebelum bertemu dengan Rodigo, ia pernah bertemu dengan seorang pria berusia 13 tahun. Dia mengalami luka parah sampai Anchia sendiri berpikir pria itu hanya bisa mati. Tetapi Anchia tetap berusaha menolongnya. Hal mengejutkannya, warna rambut dan mata orang itu langsung berubah saat zamrud ini jatuh dari saku pria itu. Anchia sempat membantu mengobatinya yang terluka. Tetapi begitu ia keluar sebentar, pria itu menghilang. Jadi ... artefak yang Anchia dapat sempat digunakan untuk penyamaran ketika mencopet. Mau bagaimana lagi, ia butuh biaya untuk hidup. Jangan salahkan dirinya. Rodeo, sebuah rumah lelang ilegal milik Rodigo Frederika yang juga disponsori oleh Orlando Tierry. Orang yang akan menjadi suami Anchia di masa depan. Anchia akan memukul mereka dari sini dulu. Di masa lalu Anchia mengetahui rumah lelang ini setelah berusia 20 tahun saat ia tak sengaja tersesat. Saat masuk, sungguh pemandangan yang mengerikan. Anchia memuntahkan semua isi perutnya ketika keluar. Sekarang ia akan masuk 3 tahun lebih awal. Anchia menarik napas dalam-dalam, memusatkan pikiran pada artefak yang digenggamnya. Membayangkan penampilan asli Anchia yang bukan Valecia. Seorang wanita berambut keperakan dengan mata biru cerah. Artefak itu bersinar sebentar dan rambut Anchia berubah menjadi rambut aslinya yang berwarna perak, menjuntai dari dalam jubah. Sudah 7 tahun lamanya Anchia membuang penampilan asli dirinya dan berubah jadi Valecia. Sampai harus mengecat rambut jadi hitam setiap kali memanjang dan memakai kontak lens setiap saat. Menyebalkan. Setelah perubahannya cukup, Anchia memasukkan artefak ke dalam kantung dan mengenakkan topengnya. Menyelip di antara kerumunan orang-orang berjubah dan topeng yang masuk ke rumah lelang. Ia sempat diam-diam menarik nomor lelang dari kerumunan. “Sekarang, mari kita lihat. Seberapa buruknya tempat ini.”BAB 14Anchia sudah menyadarinya sejak kembali dari istana. Perasaannya bahagia dan berbunga-bunga. Padahal ia tidak melakukan apa pun. Tidak secara teknis, tetapi ada orang yang bisa bergerak untuknya.2 hari berturut-turut Rodigo kelabakan karena transaksi dengan jumlah besarnya digagalkan oleh Marquess Venatici. Rombongan pasukan marquess yang kembali dari Pelabuhan Selatan baru saja tiba pagi ini. Canes Venatici membawa banyak penjahat dan seorang Baron dari pelabuhan menuju istana kekaisaran.Wah, itu jadi pukulan telak untuk Rodigo dan Orlando. Haruskah Anchia tertawa sekarang? Oh, bukan. Harusnya ia prihatin karena ayah dan calon tunangannya kehilangan banyak uang untuk transaksi itu. Dengan kerugian dan kekesalan besar, apa pesta debut yang akan Anchia gelar sebagai Valecia bisa berjalan normal? “Ayah, ini Vale. Boleh saya masuk?” Anchia mengetuk pintu ruang kerja Rodigo. Ia sengaja datang untuk memastikan sendiri wajah kesal pria bajingan itu. Pintu dibuka oleh kepala pelay
BAB 13 Tok! Tok! “Yang Mulia, ini saya Fagos.” “Masuklah.” Lukas berbalik ke arah pintu setelah mempersilakan Fagos untuk masuk. “Bagaimana?” Fagos mengangguk. “Seperti yang Anda katakan. Ada transaksi mencurigakan di pelabuhan pada kapal yang berlayar dari Osirus.” Lagi-lagi benar. Lukas tidak meragukan apa yang dikatakan oleh Anchia, tetapi ia langsung berangkat ke Pelabuhan Utara demi membuktikan bahwa informasi yang dikatakan oleh Anchia itu benar. Dengan begitu Lukas bisa percaya tentang Valecia Frederika. Informasi yang dikatakan oleh Anchia itu akurat. Beruntungnya Lukas, tempat ini tak sampai memakan perjalanan berhari-hari dari ibukota. 2 hari perjalanan dari ibukota, mereka sudah sampai ke pelabuhan. Setelah memastikan kebenarannya, Lukas harus membereskan orang-orang ini dan segera kembali ke ibukota. Lukas melirik undangan yang ada di nakas tempat tidur. Ia harus menghadiri debut Valecia Frederika di kediaman Frederika. Atau bisakah disebut sebagai debut Anchia?
BAB 12 Oh, sungguh pertanyaan yang berbahaya, pikir Anchia. Tetapi justru pertanyaan itulah yang membuat Anchia ingin berteriak dan menari dengan girang karena berhasil memancing sisi bejat dari Orlando. Terlihat sekali mata pria itu dipenuhi kobaran ambisi. “Ha~” Anchia menghela napas dengan sengaja, memberikan wajah sedih pada Orlando. “Kekaisaran ini bisa punah jika Baginda tidak kunjung menunjuk putra mahkota.” Orlando menatap Anchia dengan tajam. Mungkin ada perasaan tidak suka dari pria itu karena berpikir kalau rakyat jelata tidak pantas mengatakan kalimat tersebut. “Saya harap Anda bisa menjadi kaisar di masa depan, Yang Mulia,” kata Anchia kemudian. Sepulang dari sini ia akan memuntahkan isi perutnya karena kalimat menjijikkan ini. “Orang baik seperti Anda harus memimpin kekaisaran.” Tiba-tiba saja tawa bahagia kelua
BAB 11 Anchia duduk berhadapan dengan Canes Venatici. Ia masih belum membuka percakapan. Entah kenapa rasanya pria itu sekarang punya aura yang berbeda dengan Canes tempo hari. Bukan karena penampilannya yang lebih santai, tetapi pria ini tak setajam sebelumnya. Apa karena dia merasa sudah bertemu dengan Anchia sebanyak 2 kali makanya lebih memilih untuk melonggarkan diri? “Saya tidak menyangka Anda akan datang lagi dalam waktu singkat,” kata Canes. “Elijah bilang Anda butuh bantuan mendesak.” Anchia menatap Canes sebentar dan membuka tudung jubahnya. Pria itu agak terkejut yang justru membuat Anchia heran. Tidak hanya nada bicaranya yang sedikit melembut, tetapi dia juga heran pada penampilan Anchia? Padahal mereka sudah bertemu dua kali. “Saya butuh sedikit bantuan.” Anchia mengulurkan kontrak kepemilikannya atas Valank pad
BAB 10Anchia tersenyum saat mendorong pintu kedai untuk masuk. Ia sengaja datang terlambat agar Silfah gelisah menunggu dalam pemikiran apa ia akan datang atau tidak. Benar saja. Pria itu sudah duduk menunggu di meja pertemuan pertama mereka.“Selamat malam, Silfah,” sapa Anchia dari balik jubahnya yang menutupi wajah. “Apa aku terlambat?”Mata Anchia dengan tajam melihat ke meja. Ada 2 gelas minuman. Yang satu kosong dan satunya lagi sisa setengah. Silfah sudah menunggu dalam gelisah sampai harus meredakan perasaannya dengan minum bir.“Ah, apa kau mabuk? Kalau begitu kita tidak akan bisa bicara. Kita jadwalkan lain kali saja.” Anchia bersiap untuk berbalik dan hendak pergi untuk mengetes kesadaran Silfah, tetapi ia tahu kalau pria itu tidak bisa melewatkan kesempatan ini.“Saya menerima tawaran Anda, Nona!” Silfah mencekal tangan Anchia.Anchia melihat ke arah pergelangan tangan dengan pandangan tajam. Ia tahu kalau Silfah tidak mabuk. Ia bahkan tahu kalau pria itu tak akan melewat
BAB 9Iren menghela napas, menutup pintu kamar Anchia. Sudah 2 minggu sejak Anchia tiba-tiba bangun dan menangis kencang memeluknya. Setelah itu Anchia berubah drastis. Saat ditanya, wanita itu hanya bilang kalau pernah mimpi buruk tentang kematiannya dan Iren. Dari itu tiba-tiba saja Anchia memutuskan untuk berubah.Dia selalu keluar larut malam yang Iren sendiri tidak tahu Anchia pergi ke mana. Ditambah lagi beberapa kali Anchia memintanya melakukan sesuatu yang aneh. Iren tidak curiga. Bagaimanapun ia ada di sini untuk mendukung Anchia apa pun yang ingin dilakukan wanita itu. Karena mereka hanya memiliki satu sama lain di kediaman Frederika yang asing ini. Anchia pun dengan jelas meminta Iren menjadi orangnya.Apa pun yang dilakukan Anchia nanti, Iren ingin jadi orang pertama yang mendukung dan membelanya. Meski ia terkejut setengah mati melihat ada 2 pria asing yang masuk ke kamar Anchia. Lalu wanita itu hanya memberikan penjelasan singkat bahwa kedua orang itu juga akan jadi ora







