Share

BAB 2

last update publish date: 2026-06-29 22:31:32

BAB 2

 

“Nona?”

 

“Nona Vale?”

 

Anchia mengangkat kepalanya dan tersenyum pada pelayan yang berdiri di sisi meja bulat jamuan teh sorenya. Pelayan itu menatap dengan wajah cemas pada Anchia yang akhir-akhir ini sering melamun dan tidak fokus saat dipanggil.

 

“Anda baik-baik saja?” tanya pelayan itu yang kemudian langsung diangguki oleh Anchia.

 

Alasan Anchia tidak bisa fokus karena tiba-tiba saja ia terbangun lagi di kastel besar Frederika setelah kepalanya terpisah dari tubuh. Mungkin sekitar seminggu yang lalu. Sampai sekarang saja Anchia bisa merasakan sakit akibat pisau besar itu di lehernya. Bahkan umpatan dan kutukan yang ia layangkan masih belum kering di lidah.

 

Bagaimana ini bisa terjadi?

 

Saat tersadar ada yang memanggil, Anchia terbangun dari tidur dan menyadari entah bagaimana dirinya masih hidup. Padahal baru saja pisau besar dan tajam dari tiang pancung memisahkan kepalanya dari leher. Begitu memegang leher ia langsung berlari dari tempat tidur untuk melihat dirinya di cermin. Waktu telah kembali saat ia berusia 17 tahun.

 

Awalnya Anchia pikir kalau dirinya berhalusinasi atau sedang bermimpi. Namun, ada sebuah tanda melingkar di pergelangan kaki kirinya. Anchia ingat sekali kalau itu adalah bekas luka saat ia di penjara dan di rantai.

 

Cukup lama sampai Anchia bisa menerima kondisi. Ia baru sempat mencerna sebagian keadaan sampai saat ini. Setengahnya lagi hanya tersisa kemarahan dan ingatan atas rasa sakitnya.

 

Kemudian Anchia sendiri berpikir apa dewa mendengar kutukannya? Atau karena dewa tidak mau memasukkan sampah yang mengutuk kekaisaran yang akan dipimpin Grand Duke Tierry ke akhirat? Baik dewa atau orang-orang yang tersenyum untuk Anchia, mereka semua sialan. Mulai sekarang Anchia takkan percaya dewa.

 

“Aku akan masuk sekarang,” kata Anchia pada pelayannya itu dan segera berdiri untuk menyudahi minum teh sore yang sama sekali tidak menyenangkan. “Tidak usah diantar. Aku bisa pergi sendiri. Bereskan saja yang ada di sini.”

 

Anchia meninggalkan meja itu dan pelayan yang membungkuk untuknya.

 

Anchia sempat berpikir bahwa mungkin dewa mengembalikan Anchia ke masa lalu untuk balas dendam. Benar. Karena bagaimanapun dewa tidak membuatkan takdir Anchia agak berbeda. Mereka hanya mengembalikan Anchia ke usianya yang 17 tahun. Ia tidak bisa menghindar untuk menjadi Valecia di usia 11 tahun.

 

Entah itu mimpi atau regresi, ia tidak peduli. Apa pun namanya Anchia akan menggunakan kehidupan ini dengan baik dan mewujudkan kutukan yang pernah ia ucapkan. Kalau dipikir-pikir, alasan hal ini bisa terjadi apakah karena di detik kematian ia sempat berharap bisa hidup bahagia jika terlahir kembali? Tetapi tampaknya harapan itu terlalu muluk.

 

“Ayah?” panggil Anchia ketika melihat Duke Frederika sedang berjalan menuju ruang kerjanya. Dengan mulut manis, dulu pria itu menyuruh Anchia memanggilnya dengan sebutan itu. “Selamat datang, Ayah. Pekerjaannya lancar?”

 

Rodigo Frederika. Serigala jantan yang menyembunyikan dirinya di balik bulu domba putih dan cantik. Terlihat di depan seperti pribadi yang dihormati dan sayang keluarga. Nyatanya Rodigo jauh lebih sampah dari sampah-sampah yang pernah ada.

 

Dan ... Anchia memang semua kartu As orang ini. Mungkin itu adalah alasan utama Rodigo mau membunuh Anchia.

 

“Vale.” Rodigo menyentuh pundak Anchia dan tersenyum manis. “Ayah menyesal tidak bisa menemanimu minum teh. Grand Duke Muda punya banyak hal untuk dibicarakan.”

 

“Pembicaraan Anda dan Tuan Tierry lebih penting, Ayah.” Anchia memberikan senyum kecilnya yang manis seperti biasa. Seakan tidak pernah ada hal besar yang menyakitinya atau membunuhnya.

 

Rodigo mengangguk. “Ada banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan. Kau tidak keberatan jika Ayah pergi sekarang?”

 

“Tentu.” Anchia tersenyum sampai matanya tertutup. “Jangan sampai saya menghambat Anda, Ayah.”

 

“Istirahatlah, Sayang. Kita bertemu saat makan malam.” Rodigo memberikan kecupan di puncak kepala Anchia sebelum berbalik dan kembali berjalan menuju ruang kerja bersama ajudan yang selalu mengikutinya.

 

Anchia mengangkat tangan untuk menyentuh tempat yang tadi dicium oleh si Keparat itu. Tangannya terkepal karena merasa kecupan itu sepanas api yang dapat membakar Anchia.

 

“Tersenyumlah yang puas, Rodigo. Akan kubuat kau menangis darah seperti yang kau lakukan padaku,” gumam Anchia dengan pandangan tajam. Ia bersumpah akan membalas dua kali lebih banyak dari rasa sakit yang didapatnya.

***

 

Anchia menghela napas dan bersandar di kursi setelah menyelesaikan catatan ke dalam bukunya. Ringkasan penting kehidupannya yang pertama, mati mengenaskan itu. Anchia mencatat apa-apa saja hal di masa lalu yang bisa menjadi variabel di masa depan agar hidupnya bisa lebih baik.

 

Ia langsung kembali setelah makan malam dengan Rodigo. Rasanya mau muntah di depan pria itu yang bersandiwara layaknya seorang ayah yang baik, padahal dia menganggap Anchia adalah pengganti anaknya. Kenapa dulu Anchia bisa tertipu dengan kasih sayang palsu itu? Apa karena Anchia tidak pernah merasakan cinta seseorang?

 

Benar. Kali ini Anchia takkan mendambakan cinta.

 

“Kalian menginginkan kekaisaran ini ‘kan Rodigo?” Anchia tertawa pelan. “Akan kuhancurkan harapan itu sampai tak bersisa.”

 

Pertama-tama, apa yang harus Anchia lakukan?

 

Di masa lalu, Anchia punya orang-orang kepercayaan yang berbakat. Orang-orang tulus yang bekerja untuknya dengan senang hati. Tetapi mereka mati satu per satu di tangan Grand Duke Tierry yang membasmi mereka secara diam-diam. Untuk sekerang sepertinya Anchia harus mulai lebih awal agar bisa mengumpulkan dan merekrut mereka lagi.

 

Kali ini Anchia akan melindungi mereka, menyembunyikan mereka dengan baik agar tidak mati dua kali.

 

Anchia menarik laci meja belajarnya, mendapati sekantung penuh koin emas dan cek kosong. Ia menyeringai kecil. Ada gunanya juga Anchia tidak menggunakan anggarannya sampai berusia 17 tahun. Namun, sekarang Anchia harus menggunakan anggaran 7 tahunnya yang sudah ditabung dengan baik.

 

Rodigo takkan mengetahui setiap transaksi Anchia. Karena seminggu ini ia sudah meminta pelayannya untuk pergi ke bank agar bisa mengambil isi dari brankas Valecia Frederika. Takkan terjadi masalah karena Rodigo tidak mengawasi anggaran Anchia yang telah dikeluarkannya selama 3 tahun terakhir.

 

Baguslah. Dengan begitu Anchia bebas menggunakan uangnya.

 

“Kalau begitu, haruskah kita pergi sekarang?” tanya Anchia pada pelayannya yang sejak tadi ada di ruangan itu sambil memegang jubah hitam. Ia berdiri dari kursi dan mengaitkan kantung uang berserta cek ke sabuk di pinggangnya.

 

“Anda akan kembali sebelum fajar ‘kan, Nona?” tanya pelayan itu. Dia mendekati Anchia untuk memasangkan jubah.

 

“Kau kembali saja ke kamar seolah sudah menyelesaikan tugas. Bersikaplah biasa. Kau paham, Iren?”

 

Iren, pelayan ini tahu rahasia Anchia. Atau mungkin satu-satunya orang yang takkan melupakan bahwa Anchia bukanlah Valecia Frederika yang asli. Karena bagaimanapun mereka berasal dari wilayah yang sama dan kalangan yang sama. Anchia membawanya sebagai syarat untuk setuju pada keinginan Rodigo agar bisa mengadopsinya.

 

“Hati-hatilah, Anchia,” bisik Iren sambil memegang sisi jubah yang baru saja talinya selesai diikat. Wanita itu lebih tua 3 tahun dari Anchia. Karena mereka tinggal di gang dan rumah yang sama, Anchia sudah menganggapnya sebagai kakak.

 

Wanita ini juga mati bersamanya di masa lalu. Dia mati di hari penyergapan Anchia. Iren mati karena mencegah orang-orang Rodigo menangkap Anchia. Dia orang kepercayaan Anchia yang mati tepat di depan matanya. Dari itu Anchia sempat menangis saat melihat Iren pertama kali setelah terbangun dari hukum pancung tersebut. Kali ini ia takkan membiarkan Iren mati lagi.

 

“Tenang saja.” Anchia membiarkan Iren memeriksa ikatan tali jubah di lehernya sekali lagi. “Aku bisa melindungi diri. Aku juga membawa artefak penyamaran. Tidak akan ada yang bisa mengenali aku.”

 

Iren mengangguk. “Pulang segera setelah urusanmu selesai.”

***

 

Artefak penyamaran. Sebuah permata berbentuk oval berwarna hijau. Permata zamrud yang memiliki khasiat untuk penyamaran. Di level tertinggi artefak ini bisa menyamarkan rambut, mata, dan suara. Bahkan bisa menyamarkan usia seseorang.

 

Artefak ini ilegal karena tidak punya izin resmi dari kekaisaran. Mungkin karena tidak pernah ada benda seperti itu yang beredar di kekaisaran, sebab hanya Anchia yang memiliknya. Lebih tepatnya tidak sengaja memiliki. Di masa lalu Anchia sebelum bertemu dengan Rodigo, ia pernah bertemu dengan seorang pria berusia 13 tahun. Dia mengalami luka parah sampai Anchia sendiri berpikir pria itu hanya bisa mati. Tetapi Anchia tetap berusaha menolongnya. Hal mengejutkannya, warna rambut dan mata orang itu langsung berubah saat zamrud ini jatuh dari saku pria itu.

 

Anchia sempat membantu mengobatinya yang terluka. Tetapi begitu ia keluar sebentar, pria itu menghilang. Jadi ... artefak yang Anchia dapat sempat digunakan untuk penyamaran ketika mencopet. Mau bagaimana lagi, ia butuh biaya untuk hidup. Jangan salahkan dirinya.

 

Rodeo, sebuah rumah lelang ilegal milik Rodigo Frederika yang juga disponsori oleh Orlando Tierry. Orang yang akan menjadi suami Anchia di masa depan. Anchia akan memukul mereka dari sini dulu.

 

Di masa lalu Anchia mengetahui rumah lelang ini setelah berusia 20 tahun saat ia tak sengaja tersesat. Saat masuk, sungguh pemandangan yang mengerikan. Anchia memuntahkan semua isi perutnya ketika keluar.

 

Sekarang ia akan masuk 3 tahun lebih awal.

 

Anchia menarik napas dalam-dalam, memusatkan pikiran pada artefak yang digenggamnya. Membayangkan penampilan asli Anchia yang bukan Valecia. Seorang wanita berambut keperakan dengan mata biru cerah. Artefak itu bersinar sebentar dan rambut Anchia berubah menjadi rambut aslinya yang berwarna perak, menjuntai dari dalam jubah.

 

Sudah 7 tahun lamanya Anchia membuang penampilan asli dirinya dan berubah jadi Valecia. Sampai harus mengecat rambut jadi hitam setiap kali memanjang dan memakai kontak lens setiap saat. Menyebalkan.

 

Setelah perubahannya cukup, Anchia memasukkan artefak ke dalam kantung dan mengenakkan topengnya. Menyelip di antara kerumunan orang-orang berjubah dan topeng yang masuk ke rumah lelang. Ia sempat diam-diam menarik nomor lelang dari kerumunan.

 

“Sekarang, mari kita lihat. Seberapa buruknya tempat ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 47

    BAB 47 Mendengar kata 'Panhagant' tersebut, mendadak saja raut wajah Elijah jadi agak suram. Wanita itu keluar dari balik meja bar dan mengisyaratkan pada Lukas bahwa mereka harus naik ke atas untuk membicarakan hal yang dipertanyakan oleh Anchia. Mendapati isyarat tersebut, Anchia berdiri dari duduknya dan melihat Lukas. Mereka bertiga tanpa suara pun naik ke lantai atas melalui panel rahasia di dinding seperti biasa. Dalam diam saling mengekori hingga masuk ke ruang kerja. Rupanya di ruangan itu ada Canes yang sedang berbaring santai di sofa sambil membaca sebuah catatan. Melihat Lukas, Anchia, dan Elijah masuk, pria itu langsung duduk dan mengayunkan kertas. “Ada laporan dari Bris,” kata Canes langsung tembak. “Fiona akan bergerak ke Panhagant.” Elijah melirik Anchia. Rupanya karena hal itu Anchia bertanya mengenai Panhagant? “Wanita itu akan pergi ke Panhagant untuk mencari seseorang. Saya mendengarnya dari Orlando,” kata Anchia kemudian. Lukas sudah menatapnya. “Dari i

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 46

    BAB 46 “Selamat malam, Elijah.” Anchia masuk ke bangunan Venatici dan langsung menghampiri bar. Menyapa wanita yang biasa menyambutnya sambil membuka tudung jubah. Meski begitu Anchia tidak bisa tersenyum dengan gamblang entah kenapa. Ia hanya merasa bahwa dirinya yang sebagai Anchia adalah perwujudan sebuah dendam. Sebelum dendam itu usai, mungkin Anchia tak akan bisa tersenyum atau tertawa dengan bebas tanpa sandiwara. “Anda datang lebih awal. Pasti banyak yang ingin dibicarakan.” Elijah tersenyum manis pada Anchia yang baru saja duduk di salah satu kursi bar. Menyodorkan segelas jus yang baru saja dituangkannya untuk Anchia. “Minumlah dulu atau Anda mau langsung ke atas sekarang?” “Terima kasih. Saya akan ke atas setelah minum.” Anchia mengangguk. “Tapi ada sesuatu yang ingin saya tanyakan dulu pada Elijah.” Sejenak Elijah mengerutkan kening. Tidak pernah sebelumnya Anchia menanyakan pertanyaan pribad

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 45

    BAB 45“... karena sejak awal juga anak itu adalah pilihan Valecia.”Kalimat itu masih membekas di ingatan Anchia. Bahkan setelah ia berdiri di balkon kamarnya dan melihat kepergian Orlando tanpa pria itu berniat menyapa tunangan palsunya. Tangan Anchia terkepal lagi di atas pembatas balkon yang terbuat dari pualam itu.Di kehidupan sebelumnya bahkan sampai saat ini Anchia selalu bertanya-tanya kenapa dirinya yang dipilih oleh Rodigo untuk menggantikan posisi Valecia. Padahal Anchia hanya anak jalanan yang tidak berpendidikan. Ia bahkan tidak anggun sama sekali. Keahlian Anchia adalah memungut rerumputan dan sesekali mencuri kalau lapar.Ternyata memang sejak awal Vale sudah mengincar Anchia. Tetapi ... kenapa?Di mana Anchia bisa mencari jawaban untuk hal ini selain bertanya langsung pada Valecia. Wanita jahat itu tidak akan tiba-tiba baik hati dan memberitahu Anchia alasan kenapa memilihnya untuk bersandiwara.“Chia?” Iren memanggil dengan lirih sambil menyentuh pundak Anchia.“Aku

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 44

    BAB 44“Sepertinya suasana hati Anda sedang bagus.” Elijah meletakkan minuman di depan Lukas yang baru saja kembali entah dari mana. Yang jelas pasti ada sesuatu yang terjadi. Sebab sudah hampir beberapa tahun terakhir ia tidak pernah melihat tuannya itu berwajah sesenang sekarang.Bukan berarti Lukas selalu terlihat murung. Hanya saja hampir beberapa tahun setelah memutuskan membangun serikat informasi ini, Lukas sudah tidak lagi menunjukkan wajah bahagia. Mungkin lebih tepatnya setelah hampir mati terakhir kali.Elijah turut senang.“Begitulah,” jawab Lukas seadanya.“Anda sudah berbaikan?” Elijah memunggungi Lukas untuk mengelap kembali gelas-gelas minuman yang basah. Untuk sekarang hanya tugas itu yang bisa Elijah kerjakan dari balik meja bar.Senyum di wajah Lukas sedikit surut karena perkataan Elijah. “Yah, kami tidak bertengkar sebenarnya. Hanya sedikit salah paham saja. Tetapi tidak apa-apa.”Elijah tertawa, lalu kembali berbalik pada Lukas. Dengan lekat menatap tuannya itu sa

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 43

    BAB 43 “Nah, Anchia. Bagaimana kau tahu bahwa di balik cangkang Canes itu adalah diriku?” Anchia mendengkus. Ternyata memang Lukas masih penasaran bagaimana caranya Anchia bisa tahu bahwa Lukas dan Canes adalah orang yang berbeda. “Anda dan Marquess punya aura yang berbeda. Mudah saja. Saya lebih sering berbicara pada Anda ketimbang orang lain di sana. Tiba-tiba aura Anda yang dominan dan berat itu berubah. Lalu itu terjadi beberapa kali.” “Tapi bukan berarti kau tahu itu aku,” bantah Lukas. “Benar.” Anchia mengangguk. “Jika saja Anda tidak muncul di tengah kota hari itu, mungkin saya masih bisa mengira bahwa perbedaan aura itu adalah hal yang biasa terjadi. Anda tahu bahwa aura yang Anda miliki tidak dimiliki orang lain bahkan oleh Grand Duke Tierry.” Kening Lukas berkerut. “Tidak semua orang memiliki aura kepemimpinan. Bahkan satu-satunya orang yang setara dengan

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 42

    BAB 42“Anda akan pergi sekarang?” Iren melihat ke arah jendela yang matahari masih terang. Masih paruh sore untuk di bilang malam. Tidak biasanya Anchia akan keluar di jam begini sejak beberapa bulan terakhir. “Duke akan kembali beberapa jam lagi, Nona.”Anchia mengabaikan Iren dan terus mengganti pakaiannya dengan gaun biasa yang sering dipakainya untuk keluar sebagai Anchia. Setelah itu mengenakkan jubah. Sejenak Anchia melirik pada Iren dan berubah wujud menggunakan artefak.“Jika Duke bertanya, bilang saja aku tidak enak badan,” jawab Anchia sambil menutup kepalanya dengan jubah. “Kali ini Jiel yang akan menyamar menjadi aku dan tidur saja di ranjang.”Tepat ketika Anchia menyebut nama Jiel, pria itu masuk melalui pintu penghubung balkon bersama Sion. Karena sedikit kebingungan Jiel menoleh pada Sion, sejenak saling pandang.“Sion akan pergi bersamaku,” kata Anchia sambil tersenyum pada Sion. Ia juga belum bilang kerja bagus atas tugas sebelumnya, mengantarkan pesan untuk Lukas.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status