LOGIN
DISCLAIMER:
Cerita hanya karangan fiktif belaka. Lokasi, nama, bahkan hukum yang tertera di cerita tidak ada hubungannya dengan dunia nyata. Semua hal dikarang dan dibangun sendiri oleh penulis sebagai penyokong jalannya cerita. BAB 1 Di mana letak salahnya? Anchia hidup sesuai keinginan sang ayah. Menjadi seorang wanita bangsawan terhormat, anggun dan paling disegani. Ia tumbuh dan banyak belajar karena keinginan orang yang dipanggilnya ‘Ayah’ itu. Anchia menghabiskan waktu remajanya untuk mendekam di ruang belajar dan perpustakaan. Anchia menjadi bunga dalam pergaulan sosialita, menjadi sosok yang berwibawa dan elegan. Hingga tidak ada wanita lain yang bisa mendongakkan kepalanya lebih tinggi dari Anchia. Bahkan Anchia menikah dengan grand duke yang digadang akan menjadi penerus kaisar berikutnya dan menjadi grand duchess sesuai keinginan keluarganya. Tetapi kenapa bisa sampai seperti ini? Apa yang salah pada dirinya sampai berakhir di penjara bawah tanah yang gelap dan lembap ini? Kenapa Anchia bisa berada di balik jeruji hitam yang dingin dan berbau lembab? Salah satu tempat yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan untuk datang. Tempat di mana para penjahat dikurung dan disiksa. “Aku sudah menunggu-nunggu hari seperti ini datang.” Anchia yang berada di balik jeruji besi itu mendongak dengan wajah yang sudah berantakan penuh jejak air mata. Jika saja yang keluar dari matanya adalah darah, mungkin sekarang ia lebih terlihat seperti hantu. Tidak hanya itu, ada beberapa goresan halus kecil yang mendiami sekujur wajah yang sebelumnya mulus. Bahkan ada jejak darah kering dari luka kecil di wajahnya yang sudah terdapat kehitaman akibat debu basah di dalam sel. “Orang sepertimu pantas mendapatkannya, Anchia.” Sambil tertawa orang itu makin mendekat pada sel dan membuka tudung jubah hijau gelap yang dikenakannya. Bahkan sekarang, jubah itu terlihat sangat mewah ketimbang gaun Anchia yang sudah compang-camping. Anchia berpegangan pada besi penjara, berusaha menarik dirinya untuk berdiri meski kakinya dirantai dengan ketat. Rasa perih akibat ketatnya rantai yang melukai dan rasa dingin besi itu tidak lagi Anchia hiraukan. “Aku tidak percaya kau merasa bahagia.” Wanita berambut hitam yang berdiri di sisi luar penjara itu semakin tertawa kencang, terus mengejek Anchia. Mata biru yang gelap itu terlihat seperti iblis yang memandang remeh Anchia. Di setiap kedalaman dan pekat mata itu seakan menyedot Anchia untuk terus tenggelam ke dasar putus asa. “Aku sudah lama menanti waktu di mana kau mati. Kau sudah terlalu larut karena kubiarkan berperan sebagai diriku. Kau benar-benar terlena menjadi Valecia.” Tawa wanita itu terhenti dan senyum di wajahnya menghilang. Yang tersisa hanya tatapan tajam dan sinis menusuk. Valecia Frederika. Wanita itu adalah putri tunggal keluarga Duke Frederika. Wanita berambut hitam pekat dengan mata biru gelap dan kulit sepucat mayat. Wanita itu juga adalah orang yang dikabarkan sedang melakukan penyembuhan di wilayah Frederika karena sakit keras pada usia 8 tahun. Namun, Valecia kembali ke ibu kota ketika usianya 11 tahun. Sayangnya yang kembali bukan Valecia Frederika yang asli. Melainkan Anchia yang ciri fisiknya sama dengan Valencia. Memiliki postur tubuh, suara, hingga cara bicara yang sama. Bahkan warna mata. Hanya saja warna mata Anchia jauh lebih cerah ketimbang putri Duke Frederika yang asli. Warna rambut Anchia juga keperakan yang sangat berlawanan dengan Valecia asli. Mungkin semua tragedi ini dimulai pada saat itu. Ketika Anchia yang berusia 11 tahun tidak sengaja bertemu dengan Duke Rodigo Frederika saat coba merampoknya di jalanan. Pria itu menangis memeluknya dan bilang kalau Anchia sangat mirip mendiang putrinya. Pria itu entah bagaimana berhasil menarik simpati Anchia dan sedikit perasaan polos anak gelandangan. Lalu setelah itu Rodigo mengadopsi Anchia yang anak jalanan untuk menjadi anaknya, lebih tepat untuk bisa menggantikan peran putrinya. Menjadi Valecia Frederika. Ia dibawa pulang dan mengecat rambut, belajar etika bangsawan untuk menggantikan tempat Valecia Frederika. “Apa kau sangat menyukai menjadi diriku?” Valecia memegang jeruji besi itu, membuat Anchia merosot jatuh. Sambil mendengkus wanita itu berjongkok. “ Menerima kasih sayang Ayahku dan menikahi kekasihku. Seharusnya kau bisa mati dengan apa yang sudah kau dapat selama ini.” Bahu Anchia meluruh oleh rasa sakit di dalam hatinya. Mereka mempermainkan Anchia. “Yah, walau sebenarnya belum waktunya untuk menyingkirkanmu. Tapi kau sudah banyak tahu. Sebelum kami yang hancur, lebih baik kau saja yang mati.” Anchia merapatkan rahang hingga giginya bergemeletuk akibat amarah. Tangannya keluar urat dan buku jarinya memutih karena kencang menggenggam jeruji sel. “Kalian semua keparat,” kutuknya melalui gigi-gigi yang terkatup rapat. Valecia berdiri dengan senyuman. “Sampai jumpa di tiang pancung, Valecia Palsu.” *** Anchia dengan mata nyalang menatap orang-orang yang berdiri di depan sana, melihat dengan mata yang seakan menyuruhnya untuk cepat mati. Ia sakit hati. Perasaannya menggelegak karena panas amarah. Anchia dikhianati oleh orang-orang yang dicintainya. Suaminya sang grand duke. Bahkan Duke Frederika yang sudah dianggapnya seperti ayah. Mereka menatap muak pada Anchia. “Kalian,” gumam Anchia. Matanya sudah menggenang air dan pikirannya berkabut. Dengan posisi berlutut dan tangan seutuhnya diikat ke belakang, lehernya dibelenggu dalam pasung tiang pancung. “Tertawalah kalian semua! Kekaisaran ini akan hancur!” Anchia menangkap seringai remeh dari suaminya. Tak jauh dari sana ada seorang wanita berjubah. Wanita yang selama ini ternyata selalu mengawasinya dari balik layar, Valecia Frederika yang asli. Anchia tahu semua rencana orang-orang ini. Rencana jahat mereka. Dari itu mereka semua tidak tahan untuk tak membunuh Anchia agar bisa menyelamatkan diri. “Kau terlalu banyak bicara, Penipu!” Grand Duke sialan itu berteriak pada Anchia. “Kau memanfaatkan posisiku yang kehilangan seorang putri untuk masuk dan berpura-pura jadi dia,” tambah Rodigo Frederika. “Kau memang pantas dihukum mati.” Air mata Anchia jatuh. Kedua pria itu. Apa sejak awal Grand Duke Tierry tahu kalau Valecia tidak mati dan bekerja sama dengan Rodigo untuk menipu seluruh kekaisaran dan menjadikan Anchia sebagai tumbal demi menduduki posisi tertinggi kekaisaran yang kehilangan putra mahkota? Ah, benar. Tak satu pun dari mereka tulus pada Anchia. Tidak mungkin orang sepintar Duke Frederika tidak bisa mengenali anaknya sendiri jika memang Anchia menyamar tanpa sepengetahuan pria itu. “Satu hari pun,” kata Anchia. Mungkin ini akan menjadi kalimat terakhir untuknya sebelum menghadapi kematian. “Demi dewa, tak sehari pun kubiarkan kalian bahagia! Demi dewa, bahkan setelah aku mati. Akan aku kutuk setiap langkah kalian penuh penderitaan sampai terasa mati jauh lebih baik.” Grand Duke Tierry mengangkat tangan untuk memberikan isyarat agar pisau besar itu diangkat supaya mudah dijatuhkan. Mungkin juga sudah muak mendengar ucapan Anchia. Atau mungkin takut ia akan mengoceh sesuatu yang menjadi vonis kematian semua orang. “Aku akan menghantui kalian semua sampai kalian mati menderita! Bahkan sampai kita bertemu di neraka, takkan kulepaskan kalian!”BAB 47 Mendengar kata 'Panhagant' tersebut, mendadak saja raut wajah Elijah jadi agak suram. Wanita itu keluar dari balik meja bar dan mengisyaratkan pada Lukas bahwa mereka harus naik ke atas untuk membicarakan hal yang dipertanyakan oleh Anchia. Mendapati isyarat tersebut, Anchia berdiri dari duduknya dan melihat Lukas. Mereka bertiga tanpa suara pun naik ke lantai atas melalui panel rahasia di dinding seperti biasa. Dalam diam saling mengekori hingga masuk ke ruang kerja. Rupanya di ruangan itu ada Canes yang sedang berbaring santai di sofa sambil membaca sebuah catatan. Melihat Lukas, Anchia, dan Elijah masuk, pria itu langsung duduk dan mengayunkan kertas. “Ada laporan dari Bris,” kata Canes langsung tembak. “Fiona akan bergerak ke Panhagant.” Elijah melirik Anchia. Rupanya karena hal itu Anchia bertanya mengenai Panhagant? “Wanita itu akan pergi ke Panhagant untuk mencari seseorang. Saya mendengarnya dari Orlando,” kata Anchia kemudian. Lukas sudah menatapnya. “Dari i
BAB 46 “Selamat malam, Elijah.” Anchia masuk ke bangunan Venatici dan langsung menghampiri bar. Menyapa wanita yang biasa menyambutnya sambil membuka tudung jubah. Meski begitu Anchia tidak bisa tersenyum dengan gamblang entah kenapa. Ia hanya merasa bahwa dirinya yang sebagai Anchia adalah perwujudan sebuah dendam. Sebelum dendam itu usai, mungkin Anchia tak akan bisa tersenyum atau tertawa dengan bebas tanpa sandiwara. “Anda datang lebih awal. Pasti banyak yang ingin dibicarakan.” Elijah tersenyum manis pada Anchia yang baru saja duduk di salah satu kursi bar. Menyodorkan segelas jus yang baru saja dituangkannya untuk Anchia. “Minumlah dulu atau Anda mau langsung ke atas sekarang?” “Terima kasih. Saya akan ke atas setelah minum.” Anchia mengangguk. “Tapi ada sesuatu yang ingin saya tanyakan dulu pada Elijah.” Sejenak Elijah mengerutkan kening. Tidak pernah sebelumnya Anchia menanyakan pertanyaan pribad
BAB 45“... karena sejak awal juga anak itu adalah pilihan Valecia.”Kalimat itu masih membekas di ingatan Anchia. Bahkan setelah ia berdiri di balkon kamarnya dan melihat kepergian Orlando tanpa pria itu berniat menyapa tunangan palsunya. Tangan Anchia terkepal lagi di atas pembatas balkon yang terbuat dari pualam itu.Di kehidupan sebelumnya bahkan sampai saat ini Anchia selalu bertanya-tanya kenapa dirinya yang dipilih oleh Rodigo untuk menggantikan posisi Valecia. Padahal Anchia hanya anak jalanan yang tidak berpendidikan. Ia bahkan tidak anggun sama sekali. Keahlian Anchia adalah memungut rerumputan dan sesekali mencuri kalau lapar.Ternyata memang sejak awal Vale sudah mengincar Anchia. Tetapi ... kenapa?Di mana Anchia bisa mencari jawaban untuk hal ini selain bertanya langsung pada Valecia. Wanita jahat itu tidak akan tiba-tiba baik hati dan memberitahu Anchia alasan kenapa memilihnya untuk bersandiwara.“Chia?” Iren memanggil dengan lirih sambil menyentuh pundak Anchia.“Aku
BAB 44“Sepertinya suasana hati Anda sedang bagus.” Elijah meletakkan minuman di depan Lukas yang baru saja kembali entah dari mana. Yang jelas pasti ada sesuatu yang terjadi. Sebab sudah hampir beberapa tahun terakhir ia tidak pernah melihat tuannya itu berwajah sesenang sekarang.Bukan berarti Lukas selalu terlihat murung. Hanya saja hampir beberapa tahun setelah memutuskan membangun serikat informasi ini, Lukas sudah tidak lagi menunjukkan wajah bahagia. Mungkin lebih tepatnya setelah hampir mati terakhir kali.Elijah turut senang.“Begitulah,” jawab Lukas seadanya.“Anda sudah berbaikan?” Elijah memunggungi Lukas untuk mengelap kembali gelas-gelas minuman yang basah. Untuk sekarang hanya tugas itu yang bisa Elijah kerjakan dari balik meja bar.Senyum di wajah Lukas sedikit surut karena perkataan Elijah. “Yah, kami tidak bertengkar sebenarnya. Hanya sedikit salah paham saja. Tetapi tidak apa-apa.”Elijah tertawa, lalu kembali berbalik pada Lukas. Dengan lekat menatap tuannya itu sa
BAB 43 “Nah, Anchia. Bagaimana kau tahu bahwa di balik cangkang Canes itu adalah diriku?” Anchia mendengkus. Ternyata memang Lukas masih penasaran bagaimana caranya Anchia bisa tahu bahwa Lukas dan Canes adalah orang yang berbeda. “Anda dan Marquess punya aura yang berbeda. Mudah saja. Saya lebih sering berbicara pada Anda ketimbang orang lain di sana. Tiba-tiba aura Anda yang dominan dan berat itu berubah. Lalu itu terjadi beberapa kali.” “Tapi bukan berarti kau tahu itu aku,” bantah Lukas. “Benar.” Anchia mengangguk. “Jika saja Anda tidak muncul di tengah kota hari itu, mungkin saya masih bisa mengira bahwa perbedaan aura itu adalah hal yang biasa terjadi. Anda tahu bahwa aura yang Anda miliki tidak dimiliki orang lain bahkan oleh Grand Duke Tierry.” Kening Lukas berkerut. “Tidak semua orang memiliki aura kepemimpinan. Bahkan satu-satunya orang yang setara dengan
BAB 42“Anda akan pergi sekarang?” Iren melihat ke arah jendela yang matahari masih terang. Masih paruh sore untuk di bilang malam. Tidak biasanya Anchia akan keluar di jam begini sejak beberapa bulan terakhir. “Duke akan kembali beberapa jam lagi, Nona.”Anchia mengabaikan Iren dan terus mengganti pakaiannya dengan gaun biasa yang sering dipakainya untuk keluar sebagai Anchia. Setelah itu mengenakkan jubah. Sejenak Anchia melirik pada Iren dan berubah wujud menggunakan artefak.“Jika Duke bertanya, bilang saja aku tidak enak badan,” jawab Anchia sambil menutup kepalanya dengan jubah. “Kali ini Jiel yang akan menyamar menjadi aku dan tidur saja di ranjang.”Tepat ketika Anchia menyebut nama Jiel, pria itu masuk melalui pintu penghubung balkon bersama Sion. Karena sedikit kebingungan Jiel menoleh pada Sion, sejenak saling pandang.“Sion akan pergi bersamaku,” kata Anchia sambil tersenyum pada Sion. Ia juga belum bilang kerja bagus atas tugas sebelumnya, mengantarkan pesan untuk Lukas.







