Partager

Anchia (Dendam Yang Belum Usai)
Anchia (Dendam Yang Belum Usai)
Auteur: Viellaris Morgen

BAB 1

last update Date de publication: 2026-06-29 18:12:24

BAB 1

Di mana letak salahnya?

Anchia hidup sesuai keinginan sang ayah. Menjadi seorang wanita bangsawan terhormat, anggun dan paling disegani. Ia tumbuh dan banyak belajar karena keinginan orang yang dipanggilnya ‘Ayah’ itu. Anchia menghabiskan waktu remajanya untuk mendekam di ruang belajar dan perpustakaan. Anchia menjadi bunga dalam pergaulan sosialita, menjadi sosok yang berwibawa dan elegan. Hingga tidak ada wanita lain yang bisa mendongakkan kepalanya lebih tinggi dari Anchia.

Bahkan Anchia menikah dengan grand duke yang digadang akan menjadi penerus kaisar berikutnya dan menjadi grand duchess sesuai keinginan keluarganya.

Tetapi kenapa bisa sampai seperti ini? Apa yang salah pada dirinya sampai berakhir di penjara bawah tanah yang gelap dan lembap ini?

Kenapa Anchia bisa berada di balik jeruji hitam yang dingin dan berbau lembab? Salah satu tempat yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan untuk datang. Tempat di mana para penjahat dikurung dan disiksa.

“Aku sudah menunggu-nunggu hari seperti ini datang.”

Anchia yang berada di balik jeruji besi itu mendongak dengan wajah yang sudah berantakan penuh jejak air mata. Jika saja yang keluar dari matanya adalah darah, mungkin sekarang ia lebih terlihat seperti hantu. Tidak hanya itu, ada beberapa goresan halus kecil yang mendiami sekujur wajah yang sebelumnya mulus. Bahkan ada jejak darah kering dari luka kecil di wajahnya yang sudah terdapat kehitaman akibat debu basah di dalam sel.

“Orang sepertimu pantas mendapatkannya, Anchia.” Sambil tertawa orang itu makin mendekat pada sel dan membuka tudung jubah hijau gelap yang dikenakannya.

Bahkan sekarang, jubah itu terlihat sangat mewah ketimbang gaun Anchia yang sudah compang-camping.

Anchia berpegangan pada besi penjara, berusaha menarik dirinya untuk berdiri meski kakinya dirantai dengan ketat. Rasa perih akibat ketatnya rantai yang melukai dan rasa dingin besi itu tidak lagi Anchia hiraukan. “Aku tidak percaya kau merasa bahagia.”

Wanita berambut hitam yang berdiri di sisi luar penjara itu semakin tertawa kencang, terus mengejek Anchia. Mata biru yang gelap itu terlihat seperti iblis yang memandang remeh Anchia. Di setiap kedalaman dan pekat mata itu seakan menyedot Anchia untuk terus tenggelam ke dasar putus asa.

“Aku sudah lama menanti waktu di mana kau mati. Kau sudah terlalu larut karena kubiarkan berperan sebagai diriku. Kau benar-benar terlena menjadi Valecia.” Tawa wanita itu terhenti dan senyum di wajahnya menghilang. Yang tersisa hanya tatapan tajam dan sinis menusuk.

Valecia Frederika.

Wanita itu adalah putri tunggal keluarga Duke Frederika. Wanita berambut hitam pekat dengan mata biru gelap dan kulit sepucat mayat. Wanita itu juga adalah orang yang dikabarkan sedang melakukan penyembuhan di wilayah Frederika karena sakit keras pada usia 8 tahun. Namun, Valecia kembali ke ibu kota ketika usianya 11 tahun.

Sayangnya yang kembali bukan Valecia Frederika yang asli. Melainkan Anchia yang ciri fisiknya sama dengan Valencia. Memiliki postur tubuh, suara, hingga cara bicara yang sama. Bahkan warna mata. Hanya saja warna mata Anchia jauh lebih cerah ketimbang putri Duke Frederika yang asli. Warna rambut Anchia juga keperakan yang sangat berlawanan dengan Valecia asli.

Mungkin semua tragedi ini dimulai pada saat itu. Ketika Anchia yang berusia 11 tahun tidak sengaja bertemu dengan Duke Rodigo Frederika saat coba merampoknya di jalanan. Pria itu menangis memeluknya dan bilang kalau Anchia sangat mirip mendiang putrinya.

Pria itu entah bagaimana berhasil menarik simpati Anchia dan sedikit perasaan polos anak gelandangan. Lalu setelah itu Rodigo mengadopsi Anchia yang anak jalanan untuk menjadi anaknya, lebih tepat untuk bisa menggantikan peran putrinya. Menjadi Valecia Frederika. Ia dibawa pulang dan mengecat rambut, belajar etika bangsawan untuk menggantikan tempat Valecia Frederika.

“Apa kau sangat menyukai menjadi diriku?” Valecia memegang jeruji besi itu, membuat Anchia merosot jatuh. Sambil mendengkus wanita itu berjongkok. “ Menerima kasih sayang Ayahku dan menikahi kekasihku. Seharusnya kau bisa mati dengan apa yang sudah kau dapat selama ini.”

Bahu Anchia meluruh oleh rasa sakit di dalam hatinya. Mereka mempermainkan Anchia.

“Yah, walau sebenarnya belum waktunya untuk menyingkirkanmu. Tapi kau sudah banyak tahu. Sebelum kami yang hancur, lebih baik kau saja yang mati.”

Anchia merapatkan rahang hingga giginya bergemeletuk akibat amarah. Tangannya keluar urat dan buku jarinya memutih karena kencang menggenggam jeruji sel. “Kalian semua keparat,” kutuknya melalui gigi-gigi yang terkatup rapat.

Valecia berdiri dengan senyuman. “Sampai jumpa di tiang pancung, Valecia Palsu.”

***

Anchia dengan mata nyalang menatap orang-orang yang berdiri di depan sana, melihat dengan mata yang seakan menyuruhnya untuk cepat mati. Ia sakit hati. Perasaannya menggelegak karena panas amarah.

Anchia dikhianati oleh orang-orang yang dicintainya. Suaminya sang grand duke. Bahkan Duke Frederika yang sudah dianggapnya seperti ayah. Mereka menatap muak pada Anchia.

“Kalian,” gumam Anchia. Matanya sudah menggenang air dan pikirannya berkabut. Dengan posisi berlutut dan tangan seutuhnya diikat ke belakang, lehernya dibelenggu dalam pasung tiang pancung. “Tertawalah kalian semua! Kekaisaran ini akan hancur!”

Anchia menangkap seringai remeh dari suaminya. Tak jauh dari sana ada seorang wanita berjubah. Wanita yang selama ini ternyata selalu mengawasinya dari balik layar, Valecia Frederika yang asli.

Anchia tahu semua rencana orang-orang ini. Rencana jahat mereka. Dari itu mereka semua tidak tahan untuk tak membunuh Anchia agar bisa menyelamatkan diri.

“Kau terlalu banyak bicara, Penipu!” Grand Duke sialan itu berteriak pada Anchia.

“Kau memanfaatkan posisiku yang kehilangan seorang putri untuk masuk dan berpura-pura jadi dia,” tambah Rodigo Frederika. “Kau memang pantas dihukum mati.”

Air mata Anchia jatuh. Kedua pria itu. Apa sejak awal Grand Duke Tierry tahu kalau Valecia tidak mati dan bekerja sama dengan Rodigo untuk menipu seluruh kekaisaran dan menjadikan Anchia sebagai tumbal demi menduduki posisi tertinggi kekaisaran yang kehilangan putra mahkota?

Ah, benar. Tak satu pun dari mereka tulus pada Anchia. Tidak mungkin orang sepintar Duke Frederika tidak bisa mengenali anaknya sendiri jika memang Anchia menyamar tanpa sepengetahuan pria itu.

“Satu hari pun,” kata Anchia. Mungkin ini akan menjadi kalimat terakhir untuknya sebelum menghadapi kematian. “Demi dewa, tak sehari pun kubiarkan kalian bahagia! Demi dewa, bahkan setelah aku mati. Akan aku kutuk setiap langkah kalian penuh penderitaan sampai terasa mati jauh lebih baik.”

Grand Duke Tierry mengangkat tangan untuk memberikan isyarat agar pisau besar itu diangkat supaya mudah dijatuhkan. Mungkin juga sudah muak mendengar ucapan Anchia. Atau mungkin takut ia akan mengoceh sesuatu yang menjadi vonis kematian semua orang.

“Aku akan menghantui kalian semua sampai kalian mati menderita! Bahkan sampai kita bertemu di neraka, takkan kulepaskan kalian!”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 14

    BAB 14Anchia sudah menyadarinya sejak kembali dari istana. Perasaannya bahagia dan berbunga-bunga. Padahal ia tidak melakukan apa pun. Tidak secara teknis, tetapi ada orang yang bisa bergerak untuknya.2 hari berturut-turut Rodigo kelabakan karena transaksi dengan jumlah besarnya digagalkan oleh Marquess Venatici. Rombongan pasukan marquess yang kembali dari Pelabuhan Selatan baru saja tiba pagi ini. Canes Venatici membawa banyak penjahat dan seorang Baron dari pelabuhan menuju istana kekaisaran.Wah, itu jadi pukulan telak untuk Rodigo dan Orlando. Haruskah Anchia tertawa sekarang? Oh, bukan. Harusnya ia prihatin karena ayah dan calon tunangannya kehilangan banyak uang untuk transaksi itu. Dengan kerugian dan kekesalan besar, apa pesta debut yang akan Anchia gelar sebagai Valecia bisa berjalan normal? “Ayah, ini Vale. Boleh saya masuk?” Anchia mengetuk pintu ruang kerja Rodigo. Ia sengaja datang untuk memastikan sendiri wajah kesal pria bajingan itu. Pintu dibuka oleh kepala pelay

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 13

    BAB 13 Tok! Tok! “Yang Mulia, ini saya Fagos.” “Masuklah.” Lukas berbalik ke arah pintu setelah mempersilakan Fagos untuk masuk. “Bagaimana?” Fagos mengangguk. “Seperti yang Anda katakan. Ada transaksi mencurigakan di pelabuhan pada kapal yang berlayar dari Osirus.” Lagi-lagi benar. Lukas tidak meragukan apa yang dikatakan oleh Anchia, tetapi ia langsung berangkat ke Pelabuhan Utara demi membuktikan bahwa informasi yang dikatakan oleh Anchia itu benar. Dengan begitu Lukas bisa percaya tentang Valecia Frederika. Informasi yang dikatakan oleh Anchia itu akurat. Beruntungnya Lukas, tempat ini tak sampai memakan perjalanan berhari-hari dari ibukota. 2 hari perjalanan dari ibukota, mereka sudah sampai ke pelabuhan. Setelah memastikan kebenarannya, Lukas harus membereskan orang-orang ini dan segera kembali ke ibukota. Lukas melirik undangan yang ada di nakas tempat tidur. Ia harus menghadiri debut Valecia Frederika di kediaman Frederika. Atau bisakah disebut sebagai debut Anchia?

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 12

    BAB 12 Oh, sungguh pertanyaan yang berbahaya, pikir Anchia. Tetapi justru pertanyaan itulah yang membuat Anchia ingin berteriak dan menari dengan girang karena berhasil memancing sisi bejat dari Orlando. Terlihat sekali mata pria itu dipenuhi kobaran ambisi. “Ha~” Anchia menghela napas dengan sengaja, memberikan wajah sedih pada Orlando. “Kekaisaran ini bisa punah jika Baginda tidak kunjung menunjuk putra mahkota.” Orlando menatap Anchia dengan tajam. Mungkin ada perasaan tidak suka dari pria itu karena berpikir kalau rakyat jelata tidak pantas mengatakan kalimat tersebut. “Saya harap Anda bisa menjadi kaisar di masa depan, Yang Mulia,” kata Anchia kemudian. Sepulang dari sini ia akan memuntahkan isi perutnya karena kalimat menjijikkan ini. “Orang baik seperti Anda harus memimpin kekaisaran.” Tiba-tiba saja tawa bahagia kelua

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 11

    BAB 11 Anchia duduk berhadapan dengan Canes Venatici. Ia masih belum membuka percakapan. Entah kenapa rasanya pria itu sekarang punya aura yang berbeda dengan Canes tempo hari. Bukan karena penampilannya yang lebih santai, tetapi pria ini tak setajam sebelumnya. Apa karena dia merasa sudah bertemu dengan Anchia sebanyak 2 kali makanya lebih memilih untuk melonggarkan diri? “Saya tidak menyangka Anda akan datang lagi dalam waktu singkat,” kata Canes. “Elijah bilang Anda butuh bantuan mendesak.” Anchia menatap Canes sebentar dan membuka tudung jubahnya. Pria itu agak terkejut yang justru membuat Anchia heran. Tidak hanya nada bicaranya yang sedikit melembut, tetapi dia juga heran pada penampilan Anchia? Padahal mereka sudah bertemu dua kali. “Saya butuh sedikit bantuan.” Anchia mengulurkan kontrak kepemilikannya atas Valank pad

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 10

    BAB 10Anchia tersenyum saat mendorong pintu kedai untuk masuk. Ia sengaja datang terlambat agar Silfah gelisah menunggu dalam pemikiran apa ia akan datang atau tidak. Benar saja. Pria itu sudah duduk menunggu di meja pertemuan pertama mereka.“Selamat malam, Silfah,” sapa Anchia dari balik jubahnya yang menutupi wajah. “Apa aku terlambat?”Mata Anchia dengan tajam melihat ke meja. Ada 2 gelas minuman. Yang satu kosong dan satunya lagi sisa setengah. Silfah sudah menunggu dalam gelisah sampai harus meredakan perasaannya dengan minum bir.“Ah, apa kau mabuk? Kalau begitu kita tidak akan bisa bicara. Kita jadwalkan lain kali saja.” Anchia bersiap untuk berbalik dan hendak pergi untuk mengetes kesadaran Silfah, tetapi ia tahu kalau pria itu tidak bisa melewatkan kesempatan ini.“Saya menerima tawaran Anda, Nona!” Silfah mencekal tangan Anchia.Anchia melihat ke arah pergelangan tangan dengan pandangan tajam. Ia tahu kalau Silfah tidak mabuk. Ia bahkan tahu kalau pria itu tak akan melewat

  • Anchia (Dendam Yang Belum Usai)   BAB 9

    BAB 9Iren menghela napas, menutup pintu kamar Anchia. Sudah 2 minggu sejak Anchia tiba-tiba bangun dan menangis kencang memeluknya. Setelah itu Anchia berubah drastis. Saat ditanya, wanita itu hanya bilang kalau pernah mimpi buruk tentang kematiannya dan Iren. Dari itu tiba-tiba saja Anchia memutuskan untuk berubah.Dia selalu keluar larut malam yang Iren sendiri tidak tahu Anchia pergi ke mana. Ditambah lagi beberapa kali Anchia memintanya melakukan sesuatu yang aneh. Iren tidak curiga. Bagaimanapun ia ada di sini untuk mendukung Anchia apa pun yang ingin dilakukan wanita itu. Karena mereka hanya memiliki satu sama lain di kediaman Frederika yang asing ini. Anchia pun dengan jelas meminta Iren menjadi orangnya.Apa pun yang dilakukan Anchia nanti, Iren ingin jadi orang pertama yang mendukung dan membelanya. Meski ia terkejut setengah mati melihat ada 2 pria asing yang masuk ke kamar Anchia. Lalu wanita itu hanya memberikan penjelasan singkat bahwa kedua orang itu juga akan jadi ora

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status