Se connecterBAB 3
“Benar ini tempatnya, Fagos?” Pria berambut cokelat terang yang bernama Fagos itu mengangguk. “Benar, Yang Mulia.” “Ayo masuk.” “Anda tidak menyamar?” Fagos agak sedikit syok menyadari bahwa atasannya itu tidak mengeluarkan artefak penyamaran. “Bagaimana jika ada yang mengenali Anda?” Pria yang dipanggil ‘Yang Mulia’ itu menyeringai. “Tidak ada yang mengenaliku di kekaisaran ini, Fagos. Buang jauh-jauh kekhawatiranmu itu.” Tanpa memedulikan Fagos, pria itu melangkah dengan santai menuju pintu masuk Rodeo sambil mengenakkan topengnya dan mengambil nomor lelang sebelum akhirnya duduk di bangku paling belakang dan paling atas. Ikut berbaur dengan pendatang yang lain. Tempat busuk ini bahkan lebih busuk ketika sudah sampai di dalamnya dan melihat langsung. Yah, ia tidak tertarik untuk ikut lelang. Ia datang hanya mau melihat sudah separah apa sepak terjang tempat ini. Eksploitasinya sudah sejauh mana untuk tetap dibiarkan. Tetapi, dari pada membiarkannya, ia berniat memukul dengan keras tempat ini sampai berantakan. Frederika adalah pemilik tempat dan pelelangan ini. Sementara Tierry adalah penyokong yang ikut andil dalam kebusukan serta kejahatan yang bersarang di dalam sini. Mereka adalah orang-orang yang sangat ingin ia habisi. “Katanya di tempat ini hanya melelang barang-barang antik dari luar negeri,” bisik Fagos yang tidak mau mengganggu orang lain. “Kita lihat saja nanti.” Tidak mungkin hanya barang antik biasa. Banyak kasus yang terjadi di luar negeri di sekeliling Kekaisaran Sirius. Kekaisaran ini hanya dikelilingi oleh negara-negara kecil, tetapi negara-negara itu kaya sumber daya dan harta leluhur yang berharga. Tidak menutup kemungkinan kedua ular rakus itu tak tertarik. Dan jika memang hanya barang antik yang dilelang, tidak mungkin mereka mengadakan pelelangan dengan waktu rahasia dan tempat tersembunyi. Apalagi sampai mengenakan topeng dan menyembunyikan identitas tamu rapat-rapat. Sepanjang pelelangan yang berlangsung, tempat ini benar-benar membosankan. Memang benar apa yang dikatakan Fagos. Mereka melelang barang-barang antik. Hanya saja barang antik yang dimaksud bisa saja adalah harta rampasan atau sejenisnya yang didapat melalui jalur kotor. Namun, saat mereka berdua berdiri untuk meninggalkan tempat karena terlalu bosan, teriakan si pembawa acara di atas panggung malah mencuri perhatian. “Ini dia barang lelang terakhir yang sangat langkah! Kembaran Aquilla!” Suara hiruk pikuk yang awalnya hening terdengar makin kencang. Orang-orang sibuk berceloteh mengenai kandang besar yang ada di atas panggung. Di dalam sana bukan barang atau binatang. Tetapi manusia dan si pembawa acara itu menyebutnya ‘barang’. Sudah pasti mereka dilelang untuk dijadikan budak. “Y-Yang Mulia?” *** Anchia melotot begitu melihat kain penutup besar yang tadinya menutupi kandang di atas panggung itu dibuka. Tangannya terkepal dan rahangnya mengencang karena marah. Ia sudah tahu kalau tempat ini busuk. Tetapi sekarang jadi makin busuk dan Anchia bahkan akan muntah. Bisa-bisanya mereka melelang dan menjual manusia lain? Lalu apa tadi katanya? Aquilla? Itu adalah salah satu ras dari suku di sebuah negara gurun. Bisa-bisanya Frederika dan Tierry menculik suku dari negara lain untuk dijual? Memangnya mereka kurang biadab apa lagi? Aquilla adalah salah satu ras paling langkah di bagian selatan negara gurun. Ras itu menciptakan manusia yang memiliki mata elang yang mampu membaca masa depan atau menyelam ke masa lalu seseorang. Mereka adalah ras berharga bagi negara. Lalu mereka dilelang di sini? Meski Anchia tidak mendapatkan apa yang ia cari di tempat ini, ia harus menyelamatkan kedua orang yang disebut ‘barang’ itu apa pun yang terjadi. Lebih bijak untuk membebaskan mereka. Hati Anchia bilang begitu walau pun ia tidak menemukan alasan bagus kenapa otaknya berpikiran seperti itu. “Saya akan buka harganya mulai dari dua ribu keping emas,” kata si Pembawa Acara. “Dua ribu lima ratus emas!” “Tiga ribu emas!” “Tiga ribu lima ratus emas!” “Lima ribu emas!” Sialan, maki Anchia dalam hati. Tawarannya terus naik. Apa karena kedua remaja di dalam kandang itu adalah Aquilla yang terkenal? “Lima belas ribu emas!” Orang-orang langsung menoleh pada si penawar yang mengangkat papan nomor ‘100’ itu. Berdiri di barisan paling belakang. “Lima belas ribu emas!” pekik pembawa acara. Sudah pasti pria itu bersorak girang mendapatkan uang sebanyak itu. “Apa ada tawaran lain.” Anchia yang merasa bahwa kedua remaja tak berdaya itu sama seperti dirinya, dikurung tanpa kebebasan pun akhirnya mengangkat papan. Tidak masalah jika ia mempertaruhkan semuanya di sini. Mempertaruhkan pada variabel yang tak pernah muncul di kehidupan sebelumnya. Bisa saja dengan membebaskan kembaran Aquilla itu ia bisa mendapatkan kemudahan suatu hari. “Tiga puluh ribu emas,” kata Anchia dengan santai. Orang-orang terkesiap mendengar tawarannya. Itu berjumlah dua kali lipat dari tawaran sebelumnya. Dalam hati Anchia menangis karena dalam beberapa menit saja ia menghabiskan uang sebanyak ini. Itu tabungan anggarannya selama satu tahun penuh. “Tidak apa-apa, Anchia. Mari nanti kita hasilkan lagi lebih banyak,” gumam Anchia pada dirinya sendiri. “Tiga puluh ribu emas! Ada tawaran lagi?” Pembawa acara itu berteriak. Orang yang tadi menawar 15 ribu pun menurunkan papan dan ruangan jadi hening. Palu lelang dipukul sebagai pengesahan bahwa Anchia memenangkan kembar Aquilla itu. “Terjual! Kembar Aquilla terjual dengan harga tiga puluh ribu emas oleh pelanggan nomor empat puluh empat!” Bahkan Anchia bisa mendengar nada bahagia pria pembawa acara. Dia bisa menjerit pada Rodigo dan Orlando saking bahagianya. “Dengan begitu acara hari ini akan ditutup. Bagi para pelelang untuk mengambil barang Anda setelah ruang dikosongkan. Terima kasih!” *** Anchia menyerahkan cek dengan jumlah 30 ribu emas pada penyelenggara acara dan membawa kedua kembar Aquilla itu meninggalkan Rodeo yang busuk. Begitu sampai di sebuah tempat sepi, Anchia melepaskan tali dari tangannya. Berbalik melihat kembar Aquilla yang masih memakai kalung pengekang sihir yang akan meledak jika mereka melawan atau kabur. Anchia menghela napas saat menyingkap tudung jubah dan membuka topengnya. Menunjukkan wajah aslinya, bukan wajah Valecia. Tetapi benar-benar Anchia. Berkacak pinggang dan sempat memijat sedikit pangkal hidungnya sebelum memutuskan. Kembar itu waspada dan bersiap akan menyerang Anchia. “Tenanglah. Aku bukan orang jahat,” kata Anchia. Kalau sekarang memang bukan, tetapi tidak ada yang bisa menjamin nanti. Mungkin ia akan jadi orang jahat bagi targetnya. “Aku membakar uang sebanyak itu hanya untuk menyelamatkan kalian.” Anchia mengeluarkan pisau kecil dari kantung uangnya. Kemudian menyayat telapak tangan kirinya. Meneteskan darah ke kalung sihir masing-masing kembar Aquilla itu yang memang sudah disetel akan lepas jika terkena darah dari majikan yang membeli mereka. “Sekarang pergilah,” kata Anchia. “Kembalilah ke gurun dan jangan sampai tertangkap lagi. Aku tidak mau membuang uangku lagi untuk ini.” “Kau membeli kami untuk kabur?” tanya salah seorang Aquilla yang matanya hitam redup dan berambut pendek. “Memangnya untuk apa lagi? Aku hanya berpikir manusia tak seharusnya dianggap seperti barang.” Karena hal itu mengingatkan Anchia pada dirinya. Ia tak ubah hanya barang yang dibuat oleh Rodigo Frederika untuk menggantikan putrinya Valecia. Ketika sudah tak berguna, Anchia dihancurkan sampai tidak bersisa. Dibuang dan dienyahkan dari dunia. “Pergilah. Tolong, selamatkan rekan kalian yang masih ada di dalam. Jangan muncul lagi di depanku. Paham?” kata Anchia. Kemudian tidak sengaja bergumam halus, “Kalau bisa sekalian saja buat kacau di sana.” Anchia berbalik, melangkah pergi untuk meninggalkan kedua kembar itu yang langsung pergi juga untuk melaksanakan apa yang ia katakan. Anchia segara mengambil kembali artefak sihir dari kantung. Ia harus kembali ke rumah secepatnya agar Iren tidak khawatir. Ia menggenggam lagi artefak dan membayangkan penampilan Valecia. Rambut hitam lurus dan mata biru gelap. Tetapi meski ada cahaya yang meliputi, penampilan Anchia tidak berubah. “Kenapa tidak berubah?” Anchia jadi panik sendiri. Ia tidak bisa kembali ke rumah dalam keadaan seperti ini. “Wah, bahaya sekali.” Anchia membeku mendengar teguran itu. Ia melirik ke belakang di sisi bahunya, seorang pria berdiri di belakangnya, tepat di atas pundaknya sambil melihat pada artefak zamrud yang ada di telapak tangan Anchia. “Artefak sihir penyamaran tidak bisa digunakan kembali jika belum tiga jam dari perubahan pertama,” kata pria itu. Menunjuk ke batu yang Anchia genggam. “Artefak sihir penyamaran yang langkah. Anda punya artefak yang bisa memenggal kepala Anda.” Anchia segara mundur menjauh. Menggenggam batu itu di kedua tangannya. Menatap waspada pada pria berambut merah gelap dengan mata keemasan. Ada tahi lalat di bawah mata kanannya. “Siapa Anda?” tanya Anchia. Bagaimana pria ini bisa tahu bahwa dirinya menggunakan artefak sihir langkah? Sesaat ia merasa dirinya gemetar. Tetapi tidak ada lagi hal yang harus ditakutinya di dunia ini. Anchia sudah pernah mati sekali. Pria itu tersenyum dan mengedikkan bahu. “Orang-orang memanggilku Lukas.” Anchia harus kabur sekarang. “Karena Anda sudah membebaskan orang-orang Aquilla itu, aku bisa membantu sedikit,” kata Lukas pada Anchia dan perlahan mendekat. “Berikan tangan Anda.” Anchia tidak kunjung bergerak. Ia tidak mau mengambil risiko mati kedua kali sebelum membalas dendam. “Anda mau pulang ‘kan? Tentu Anda tidak bisa pulang dengan penampilan seperti ini. Benar?” Anchia mencoba mengatur ekspresinya sedatar mungkin. Lalu mengulurkan tangannya pada Lukas. “Bisa Anda bayangkan penampilan Anda sebelumnya?” pinta Lukas. Anchia mengangguk dan memejamkan mata. Membayangkan penampilan Valecia yang cantik berambut hitam lurus dan panjang, serta mata biru gelapnya yang dalam dan misterius. “Nah, sudah.” Anchia membuka mata dan mengecek rambutnya yang benar sudah kembali hitam. “Terima kasih. Kalau begitu saya permisi. Selamat malam.” Tanpa menunggu tanggapan dari Lukas, Anchia langsung melarikan diri. Kalau pria itu tahu tentang artefak penyamaran yang tidak edar, itu berarti dia bukan orang sembarangan. Demi menciptakan variabel tanpa kematian, Anchia harus menjauhi orang-orang berbahaya yang tidak ada dalam garis kehidupan masa lalunya. “Yang Mulia!” Lukas melirik pada Fagos yang nyaris kehabisan napas karena mengejarnya. “Anda tidak boleh berkeliaran dengan tampilan asli Anda, Yang Mulia.” Lukas melihat ke arah perginya wanita tadi. “Fagos, kau tahu keluarga mana yang punya karakteristik rambut hitam?” Fagos terdiam sejenak, menimbang. “Maksud Anda keluarga Frederika?” “Pria itu punya anak?” Fagos mengangguk. “Putri Valecia Frederika.”BAB 14Anchia sudah menyadarinya sejak kembali dari istana. Perasaannya bahagia dan berbunga-bunga. Padahal ia tidak melakukan apa pun. Tidak secara teknis, tetapi ada orang yang bisa bergerak untuknya.2 hari berturut-turut Rodigo kelabakan karena transaksi dengan jumlah besarnya digagalkan oleh Marquess Venatici. Rombongan pasukan marquess yang kembali dari Pelabuhan Selatan baru saja tiba pagi ini. Canes Venatici membawa banyak penjahat dan seorang Baron dari pelabuhan menuju istana kekaisaran.Wah, itu jadi pukulan telak untuk Rodigo dan Orlando. Haruskah Anchia tertawa sekarang? Oh, bukan. Harusnya ia prihatin karena ayah dan calon tunangannya kehilangan banyak uang untuk transaksi itu. Dengan kerugian dan kekesalan besar, apa pesta debut yang akan Anchia gelar sebagai Valecia bisa berjalan normal? “Ayah, ini Vale. Boleh saya masuk?” Anchia mengetuk pintu ruang kerja Rodigo. Ia sengaja datang untuk memastikan sendiri wajah kesal pria bajingan itu. Pintu dibuka oleh kepala pelay
BAB 13 Tok! Tok! “Yang Mulia, ini saya Fagos.” “Masuklah.” Lukas berbalik ke arah pintu setelah mempersilakan Fagos untuk masuk. “Bagaimana?” Fagos mengangguk. “Seperti yang Anda katakan. Ada transaksi mencurigakan di pelabuhan pada kapal yang berlayar dari Osirus.” Lagi-lagi benar. Lukas tidak meragukan apa yang dikatakan oleh Anchia, tetapi ia langsung berangkat ke Pelabuhan Utara demi membuktikan bahwa informasi yang dikatakan oleh Anchia itu benar. Dengan begitu Lukas bisa percaya tentang Valecia Frederika. Informasi yang dikatakan oleh Anchia itu akurat. Beruntungnya Lukas, tempat ini tak sampai memakan perjalanan berhari-hari dari ibukota. 2 hari perjalanan dari ibukota, mereka sudah sampai ke pelabuhan. Setelah memastikan kebenarannya, Lukas harus membereskan orang-orang ini dan segera kembali ke ibukota. Lukas melirik undangan yang ada di nakas tempat tidur. Ia harus menghadiri debut Valecia Frederika di kediaman Frederika. Atau bisakah disebut sebagai debut Anchia?
BAB 12 Oh, sungguh pertanyaan yang berbahaya, pikir Anchia. Tetapi justru pertanyaan itulah yang membuat Anchia ingin berteriak dan menari dengan girang karena berhasil memancing sisi bejat dari Orlando. Terlihat sekali mata pria itu dipenuhi kobaran ambisi. “Ha~” Anchia menghela napas dengan sengaja, memberikan wajah sedih pada Orlando. “Kekaisaran ini bisa punah jika Baginda tidak kunjung menunjuk putra mahkota.” Orlando menatap Anchia dengan tajam. Mungkin ada perasaan tidak suka dari pria itu karena berpikir kalau rakyat jelata tidak pantas mengatakan kalimat tersebut. “Saya harap Anda bisa menjadi kaisar di masa depan, Yang Mulia,” kata Anchia kemudian. Sepulang dari sini ia akan memuntahkan isi perutnya karena kalimat menjijikkan ini. “Orang baik seperti Anda harus memimpin kekaisaran.” Tiba-tiba saja tawa bahagia kelua
BAB 11 Anchia duduk berhadapan dengan Canes Venatici. Ia masih belum membuka percakapan. Entah kenapa rasanya pria itu sekarang punya aura yang berbeda dengan Canes tempo hari. Bukan karena penampilannya yang lebih santai, tetapi pria ini tak setajam sebelumnya. Apa karena dia merasa sudah bertemu dengan Anchia sebanyak 2 kali makanya lebih memilih untuk melonggarkan diri? “Saya tidak menyangka Anda akan datang lagi dalam waktu singkat,” kata Canes. “Elijah bilang Anda butuh bantuan mendesak.” Anchia menatap Canes sebentar dan membuka tudung jubahnya. Pria itu agak terkejut yang justru membuat Anchia heran. Tidak hanya nada bicaranya yang sedikit melembut, tetapi dia juga heran pada penampilan Anchia? Padahal mereka sudah bertemu dua kali. “Saya butuh sedikit bantuan.” Anchia mengulurkan kontrak kepemilikannya atas Valank pad
BAB 10Anchia tersenyum saat mendorong pintu kedai untuk masuk. Ia sengaja datang terlambat agar Silfah gelisah menunggu dalam pemikiran apa ia akan datang atau tidak. Benar saja. Pria itu sudah duduk menunggu di meja pertemuan pertama mereka.“Selamat malam, Silfah,” sapa Anchia dari balik jubahnya yang menutupi wajah. “Apa aku terlambat?”Mata Anchia dengan tajam melihat ke meja. Ada 2 gelas minuman. Yang satu kosong dan satunya lagi sisa setengah. Silfah sudah menunggu dalam gelisah sampai harus meredakan perasaannya dengan minum bir.“Ah, apa kau mabuk? Kalau begitu kita tidak akan bisa bicara. Kita jadwalkan lain kali saja.” Anchia bersiap untuk berbalik dan hendak pergi untuk mengetes kesadaran Silfah, tetapi ia tahu kalau pria itu tidak bisa melewatkan kesempatan ini.“Saya menerima tawaran Anda, Nona!” Silfah mencekal tangan Anchia.Anchia melihat ke arah pergelangan tangan dengan pandangan tajam. Ia tahu kalau Silfah tidak mabuk. Ia bahkan tahu kalau pria itu tak akan melewat
BAB 9Iren menghela napas, menutup pintu kamar Anchia. Sudah 2 minggu sejak Anchia tiba-tiba bangun dan menangis kencang memeluknya. Setelah itu Anchia berubah drastis. Saat ditanya, wanita itu hanya bilang kalau pernah mimpi buruk tentang kematiannya dan Iren. Dari itu tiba-tiba saja Anchia memutuskan untuk berubah.Dia selalu keluar larut malam yang Iren sendiri tidak tahu Anchia pergi ke mana. Ditambah lagi beberapa kali Anchia memintanya melakukan sesuatu yang aneh. Iren tidak curiga. Bagaimanapun ia ada di sini untuk mendukung Anchia apa pun yang ingin dilakukan wanita itu. Karena mereka hanya memiliki satu sama lain di kediaman Frederika yang asing ini. Anchia pun dengan jelas meminta Iren menjadi orangnya.Apa pun yang dilakukan Anchia nanti, Iren ingin jadi orang pertama yang mendukung dan membelanya. Meski ia terkejut setengah mati melihat ada 2 pria asing yang masuk ke kamar Anchia. Lalu wanita itu hanya memberikan penjelasan singkat bahwa kedua orang itu juga akan jadi ora







