Beranda / Romansa / Andai Waktu Berpihak / Bab 1 - Kedai Senja

Share

Andai Waktu Berpihak
Andai Waktu Berpihak
Penulis: Arcelia V

Bab 1 - Kedai Senja

Penulis: Arcelia V
last update Tanggal publikasi: 2026-09-22 13:41:55

“Kala...”

Suara itu.

Suara yang selama bertahun-tahun berusaha ia lupakan, dengan seenaknya datang merubuhkan seluruh pertahanan yang selama ini sulit ia bangun.

Anehnya, hanya dengan satu panggilan, semua kenangan yang selama ini ia kubur kembali bermunculan. Suara tawa, percakapan panjang, tatapan hangat, hingga hari ketika mereka harus memilih jalan masing-masing.

Kala menelan ludah.

“Ka-kamu basah.”

Suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan.

Axel menunduk sebentar, lalu melihat pakaian yang sedikit basah.

“Iya... sedikit.”

Ia tersenyum tipis. Senyum yang terlihat dipaksakan. Tangannya menyapu rambut basah yang menempel di dahi.

Untuk beberapa detik, Axel hanya berdiri di sana.

Seolah ia pun tidak tahu harus mengatakan apa kepada perempuan yang selama ini hanya bisa ia temui di dalam ingatan.

“Kamu selalu nggak pakai payung,” ujar Kala akhirnya.

“Hujannya datang tiba-tiba. Nggak bilang-bilang dulu.”

Axel tertawa kecil.

Tanpa sadar, sudut bibir Kala ikut terangkat.

Namun senyum itu hanya bertahan sebentar.

Ia segera menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan perasaan yang kembali berdesir di dalam dada.

Perasaan yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu.

“Kamu masih sering datang ke sini?” tanya Axel.

Ia menarik kursi di depan Kala, lalu duduk di sana.

Di meja yang sama.

Tempat yang sama.

Seperti tidak pernah ada jarak bertahun-tahun di antara mereka.

Kala menatapnya sesaat.

“Kamu juga?”

Axel mengangguk.

“Iya.”

Hening.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Hanya suara hujan yang menjadi pengisi jarak di antara mereka.

Kala tidak tahu mengapa ia masih duduk di sana. Bukankah ia sadar kalau semua ceritanya sudah lama berlalu? Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Kala justru sulit mengendalikan perasaannya.

“Kamu apa kabar?” tanya Axel pelan.

Axel menatapnya cukup lama.

“Aku... baik.”

Jawaban yang singkat untuk sebuah pertanyaan, padahal Kala ingin bercerita banyak hal.

Axel menghela napas.

“Aku nggak nyangka kita bakal ketemu lagi di tempat ini.”

Tatapannya beralih pada jendela.

“Aku juga nggak pernah benar-benar bisa lupa sama semuanya.” ucap Axel lagi.

Mata Kala mulai terasa panas.

Ia berkedip cepat, berusaha menahan air mata yang menggenang.

“Aku baru saja kehilangan suamiku.”

Axel langsung terdiam.

Wajahnya berubah, tetapi Kala tidak mampu membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Axel.

“Oh...”

Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Axel mengalihkan pandangan.

Entah mengapa, reaksi itu justru membuat hati Kala terasa sedikit sesak. Mungkin Axel memang sudah tidak peduli lagi.

Mungkin selama ini hanya dirinya yang masih terjebak dalam kenangan.

“Kenapa kamu masih datang ke tempat ini?” tanya Kala, berusaha terdengar biasa.

Ia kemudian memberanikan diri bertanya sesuatu yang sejak tadi mengganjal pikirannya.

“Bagaimana kabar istrimu?”

Axel tersenyum hambar.

“Kamu pasti bahagia, ya?”

Axel menggeleng pelan.

“Gimana bisa aku sebebas itu mencintai perempuan lain, Kal?”

Tatapan Kala terangkat.

Axel menatap cangkir di atas meja.

“Awalnya aku juga berusaha keras. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Aku pikir aku bisa belajar mencintai dia.”

Ia terdiam sebentar.

“Tapi mungkin memang aku dan dia nggak pernah ditakdirkan untuk jalan bersama.”

“Jadi... selama ini kamu nggak pernah benar-benar bahagia?”

Axel menggeleng.

“Dari awal aku nggak pernah benar-benar bahagia.”

Kala diam.

“Thalia... dia nggak pernah benar-benar mencintai aku."

Axel menarik napas panjang.

“Dia selingkuh, Kal.”

Mata Kala membulat.

“Istri kamu selingkuh?”

Axel mengangguk.

“Lelaki sesayang kamu, dia selingkuhin? Kok bisa?”

“Kamu nggak percaya?”

“Bukan gitu.” Kala menunduk. “Mungkin kamu yang awalnya nggak bisa membuka hati untuk dia. Jadi dia capek sendirian?”

Axel hanya mengangkat bahu.

“Mungkin.”

Ia memalingkan wajah ke arah jendela.

“Tapi... ya sudahlah. Aku nggak peduli lagi.”

Kala bisa merasakan kalau lelaki itu memang tak ingin membahas hal selain mereka berdua.

Kala memahaminya.

“Selama ini, suamiku memang baik sama aku,” ujar Kala pelan. Jemarinya memainkan sendok kecil di dalam cangkir. “Regi orang yang sangat baik. Dia selalu berusaha membuatku bahagia.”

Kala menunduk.

“Tapi mungkin memang sudah menjadi jalan hidupku untuk berpisah dengannya seperti ini. Dia sakit, dan aku bahkan nggak tahu kalau dia punya penyakit itu.”

Axel menatapnya lekat.

“Apa kamu... mencintai suami kamu?”

Pertanyaan itu membuat tangan Kala berhenti bergerak.

Ia mengangkat wajah.

Tatapan Axel begitu dalam, seolah jawaban yang akan keluar dari bibir Kala adalah sesuatu yang sangat penting baginya.

“Aku nggak tahu.”

Suara Kala bergetar.

“Mungkin aku jahat. Regi orang yang baik. Aku menghargainya. Tapi... aku nggak pernah bisa sepenuhnya menyerahkan hatiku kepada dia.”

Axel terdiam.

Lalu sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.

“Intinya, kamu masih sayang sama aku, kan?”

Kala menggigit bibir.

Ia ingin menyangkal.

Namun tidak ada satu pun kebohongan yang mampu keluar dari mulutnya.

“Tapi rasanya percuma aja nggak sih, Xel.”

“Kita bisa coba lagi dari awal.”

Kala menggeleng kecil.

“Kalau dulu kita menyerah karena dunia kita berbeda, sekarang aku nggak mau menyerah lagi.”

Axel menatapnya penuh keyakinan.

“Kamu mau, kan?”

Kala menarik napas panjang.

“Aku nggak yakin bisa kalau kamu tetap seperti dulu.”

“Aku mau belajar.”

Axel menggenggam kedua tangannya sendiri.

“Aku mau berusaha, walaupun semuanya terasa mustahil.”

Kala menatapnya lama.

Di dalam hatinya, satu pertanyaan terus berputar.

Apakah langkah ini benar?

Atau pertemuan mereka malam ini justru sebuah kesalahan?

Ia tahu dunia mereka terlalu jauh berbeda.

Keluarga Axel menjunjung tinggi tradisi lama yang keras. Aturan yang tak mudah ditawar. Nama baik yang harus dijaga dengan cara apa pun.

Sementara keluarga Kala juga hidup dengan adat dan tuntutan yang tak kalah kuat.

Bagaimana mungkin dua dunia yang berbeda itu bisa kembali dipersatukan?

“Jawab aku,” ujar Axel. “Kamu mau?”

Ia menatap Kala dalam-dalam.

“Aku cuma butuh dukungan kamu. Kalau kamu mendukung aku, aku akan lawan seluruh dunia yang menentang kita.”

Axel terdiam.

“Kecuali...”

Kala mengerutkan kening.

“Kecuali apa?”

“Jawab aku dulu.”

Kala memejamkan mata.

Pertemuannya dengan Axel sore ini membuat hati yang telah mati bertahun-tahun perlahan kembali hidup.

Kala membenci perasaan itu.

Namun di saat yang sama, ia juga sangat merindukannya.

Kala menarik napas, bersiap memberikan jawaban.

Namun sebelum bibirnya sempat terbuka, pintu kedai kembali berderit.

Kali ini bukan angin yang masuk.

Sosok itu berdiri di ambang pintu.

Rambutnya basah. Napasnya berat. Tatapannya tajam dan wajahnya mengeras begitu melihat Kala duduk berhadapan dengan Axel.

Kala terdiam.

Darahnya seolah berhenti mengalir.

Ia mengenal sosok itu.

Mertuanya.

Dan saat itu Kala merasa kalau pertemuannya dengan Axel sore ini akan berubah menjadi sebuah masalah besar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 8 - Kebersamaan yang Singkat

    Baru beberapa jam Axel membawa Kala pergi bersamanya, berita mengenai Axel sudah menyebar kemana-mana. Narasi bahwa Axel seorang penculik dan predator wanita sudah tertanam kuat di kepala masyarakat seluruh Kota.Berulang kali ponsel Kala pun berdering, bahkan beberapa pesan masuk memenuhi notifikasi layar ponselnya. Namun, Kala mengabaikannya meski itu dari papanya sendiri. "Aku gak suka kamu kayak gini," kata Kala cemberut. Axel tersenyum tipis. "Terus kamu pengen aku kayak gimana barusan?" Nadanya begitu lembut. "Iya ngapain kek, jangan mau dipukulin gitu aja. Kamu kan gak salah!"Kala marah sambil mengompres wajah Axel yang memar bekas dipukuli tadi. "Aw!" Axel meringis. "Pelan-pelan," katanya lagi. "Salah sendiri kenapa pasrah aja sewaktu dipukuli tadi,""Aku cuma kasihan sama orang-orang itu, gak salah apa-apa tapi masa aku pukuli?""Kenapa kamu gak langsung bawa aku lari aja tadi, daripada kamu dipukuli sampai memar-memar kayak gini?!" Kala masih cemberut, tapi sebenarnya

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 7 - Drama Mertua Licik

    Kedua pria itu segera menyeret Axel keluar, dan memisahkan Kala dari sisinya. "Jangan sentuh aku!" bentak Kala pada kedua pria yang sedang memeganginya. "Lepasin!"Sementara Kala berusaha untuk melepaskan cengkeraman kedua orang yang memeganginya. Axel sudah dibawa oleh orang-orang itu menjauh darinya dan ia dipukuli oleh massa. "Axel!" Kala menjerit karena tak tahan melihat kekasih hatinya disakiti. "Aku bersumpah kalau Axel sampai kenapa-kenapa aku bakal bikin perhitungan sama kalian semua!" teriak Kala memberi ancaman. Kala berontak, ia kembali melakukan hal yang sama seperti apa yang telah ia lakukan pada papa mertuanya. Seperti pahlawan di televisi, Kala menendang satu-satu kedua orang yang menghalanginya. Entah darimana wanita itu mempelajari ilmu bela diri. "Axel.. "Kala berlari menghampiri kekasih hatinya. "Minggir kalian semua, minggir!"Reaksi wanita itu benar-benar diluar dugaan. Namun orang-orang masih mengabaikannya, malah tubuh Kala ikut tertimpuk oleh batu dan me

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 6 - Pria Itu Mengurungnya

    "Diam kamu di sini!" bentak Pak Gandi sambil membanting tubuh Kala ke lantai. Kala berontak, ia berusaha berdiri lagi meski ada bagian lututnya yang sakit. "Papa bawa aku kemana? Ini dimana, Pa?" teriak Kala dengan raut wajah penuh rasa takut. "Percuma kamu teriak, gak akan ada satu orang pun yang dengar!" jawab mertuanya sambil tertawa bercampur amarah. Kala menangis. Ia tak mengerti kenapa papa mertuanya bersikap aneh dan tak seperti biasanya. Dan, beberapa detik kemudian.. Tangan kasarnya itu mendarat di dagu Kala, memaksa Kala untuk membalas tatapannya, meski ia tahu kalau Kala sedang menangis. "Gak usah nangis, sayang... " katanya sambil tersenyum, nadanya lembut selembut sutera. Namun, Kala sudah terlanjur jijik. Ia memalingkan mukanya lagi."Diam, jangan menoleh." Pria tua itu menahannya. "Jangan buang muka sama papa, sayang.." katanya lagi sambil duduk di samping Kala. Jaraknya begitu dekat, sangat dekat hingga membuat Kala semakin takut dan ingin lari."Lepasin aku,

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 5 - Mertua Aneh

    "Mapnya udah aku titip di Kak Has-,"Ucapan Kala terhenti karena Pak Gandi langsung menyeret tangan Kala dan masuk ke dalam ruangannya. "Apa-apan sih, Pa?" Kala marah, lalu menepis kasar tangan sang mertua dari lengan kanannya. "Diam!" bentak Pak Gandi dengan rahang mengeras. "Kamu jangan dulu pulang, bantuin papa periksa beberapa berkas di sini," titahnya seraya mengajak Kala untuk duduk. Kala menyipitkan mata, menatap lurus-lurus sang mertua."Papa kenapa sih, pa? Lagian kan masih ada pegawai yang emang kerja di sini!" jawab Kala semakin kesal. "Kerja mereka gak bagus!" kilah Pak Gandi ketus. "Udah, kamu gak usah banyak omong. Mereka gak bakalan protes!""Tapi aku gak ngerti, Pa... " Kala masih berusaha untuk menolak. "Buka-buka aja, yang penting kamu tetap diam disini!""Mertua aneh!" Kala membatin, matanya mendelik tajam pada sosok pria tua di seberangnya. Tak mungkin kalau Kala tak menceritakan hal ini pada Axel, ia merogoh saku jaketnya dan segera mengirimkan pesan pada Ax

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 4 - Dibalik Pintu

    "Kal, bisa tolong ambilkan papa air minum?" Tak seperti biasanya Pak Gandi meminta tolong pada Kala untuk urusan itu. Tentu saja Kala sedikit kebingungan sewaktu mendengar perintah tersebut. Kala hanya diam membisu. Bertanya-tanya sendiri apa mungkin karena mama mertuanya tak ada? "Kal, kamu dengar gak? Kamu lagi ngapain di sana?" seru mertuanya lagi. Kala segera mengenakan jilbabnya, lalu keluar kamar untuk menemui sang papa mertua di ruang depan. "Kenapa kamu lama sekali?" ujar Pak Gandi menyipitkan mata begitu Kala datang menghampirinya. "Kenapa juga di rumah masih pakai jilbab?" tanyanya kesal. "Kok?" Kala heran dengan sikap Pak Gandi baru-baru ini. Biasanya beliau tak pernah bersikap tidak sopan seperti itu. "Kenapa papa suruh aku buka jilbabku?" tanya Kala dengan nada sedikit meninggi. "Ini rumah saya, jadi kamu harus ikut aturan yang saya bikin!" sentak Pak Gandi sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Kelakuan Pak Gandi benar-benar membuat Kala tak habis pikir. Se

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 3 - Di Depan Pintu

    "Maaf kalau saya lancang, tapi saya gak tega melihat Kala diperlakukan kasar oleh bapak mertuanya."Jantung Kala berdebar kencang tak karuan. Ia takut kalau kedua keluarganya akan semakin mempersulit kehidupan Axel nanti. "Xel, udah. Tolong kamu pergi aja, aku yakin semuanya akan aman kalau kamu bisa pergi dari sini," ucap Kala dengan berderai air mata, memohon. "Kal, gak bisa." balas Axel tegas. "Kalau aja pertemuan pertama kita tadi berkesan baik, kayaknya aku gak akan sampai segila ini." tuturnya jujur. "Tapi aku gak mau kalau kamu sampai kenapa-kenapa, aku gak bisa lihat itu, Xel... "Mereka berdua lupa kalau semua keluarga memperhatikan, tanpa sadar tangan sang ayah Kala mendarat di pipi wanita berlesung itu. Hingga Kala meringis kesakitan. "Apa-apaan kamu?" bentak sang Ayah. "Apa Ayah gak salah dengar?""Kala cinta sama Axel, Yah... Perasaan itu masih ada sampai sekarang, Kala juga gak ngerti... " Kala menangis hingga terisak. Pak Gandi langsung menggebrak meja. "Sudah say

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status