بيت / Romansa / Andai Waktu Berpihak / Bab 2 - Penjara Kala

مشاركة

Bab 2 - Penjara Kala

مؤلف: Arcelia V
last update تاريخ النشر: 2026-09-22 13:42:19

“Papa...?”

Kala menelan ludah. Dadanya terasa sesak ketika melihat sosok Pak Gandi berdiri di ambang pintu kedai dengan wajah penuh kemarahan.

Sejak enam bulan kepergian Regi, ayah mendiang suaminya itu memang melarang keras Kala dekat dengan lelaki mana pun. Bahkan sekadar berteman pun selalu dipermasalahkan, apalagi jika sampai berniat untuk menikah lagi.

“Sudah Papa duga kamu pasti pergi ke tempat ini. Ayo pulang!”

Pak Gandi langsung meraih pergelangan tangan Kala.

“Ta-tapi, Pa—”

“Gak ada tapi-tapian!”

Cengkeramannya semakin kuat. Kulit pergelangan tangan Kala memerah, tetapi pandangan Kala justru tertuju pada tatapan Pak Gandi yang mengarah tajam kepada Axel. Tatapannya seakan ingin membakar Axel hidup-hidup.

“Dan kamu,” desis Pak Gandi. “Jangan pernah macam-macam dengan menantu saya.”

Axel tidak bergerak. Ia hanya menatap Pak Gandi dengan tenang, tapi dingin.

Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.

“Mohon maaf sebelumnya, Pak,” ujar Axel. “Tapi Bapak tidak berhak bersikap kasar kepada Kala.”

“Memangnya kamu ini siapa?”

Suara Pak Gandi meledak di tengah kedai.

Beberapa pelanggan langsung menoleh. Pelayan di balik meja kasir bahkan menghentikan aktivitasnya.

“Berani sekali kamu mengatur saya! Dia itu menantu saya!”

Kala menunduk. Wajahnya panas menahan malu.

“Pa, tolong...” Suaranya bergetar. “Jangan di sini.”

“Kenapa? Kamu malu?”

Pak Gandi menatap wanita berbaju putih tajam.

“Seharusnya kamu sadar diri, Kala! Jadi perempuan itu jangan bikin malu keluarga! Regi belum genap enam bulan pergi, tapi kamu sudah berani bertemu lelaki lain!”

“Pa, suamiku sudah gak ada.”

Kala memberanikan diri, mengangkat wajahnya.

“Aku kehilangan dia. Aku juga berduka. Tapi masa dukaku juga udah habis, apa harus setelah ini hidupku papa atur?"

“Jangan membantah!”

“Aku cuma bertemu teman lama, Pa...”

“Teman lama?”

Pak Gandi mendengus.

“Kalau cuma teman, kenapa kamu terlihat seperti orang yang baru ketemu lagi sama orang paling istimewa?”

Kala terdiam.

Pertanyaan itu menusuk tepat ke tempat yang paling ingin ia sembunyikan.

Axel melangkah maju satu langkah.

“Pak, Bapak boleh mengatakan apa pun tentang saya. Tapi jangan merendahkan Kala di depan banyak orang.”

“Kamu gak usah ikut campur!”

Pak Gandi langsung menyeret Kala keluar.

Kala sempat menoleh kepada Axel.

Tatapan mereka bertemu.

Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tidak satu pun berhasil keluar dari mulutnya.

Axel berdiri beberapa detik, kemudian mengambil dompet dan meninggalkan sejumlah uang di atas meja. Ia tidak mungkin membiarkan Kala pergi begitu saja.

Di luar, hujan masih turun deras.

“Ngapain kamu masih ngikutin saya?” bentak Pak Gandi ketika melihat Axel mendekat.

“Saya hanya ingin memastikan Kala baik-baik saja.”

“Ini urusan keluarga saya!”

“Kalau Bapak sampai memperlakukannya dengan kasar, saya gak akan tinggal diam!”

Pak Gandi menatap Axel dengan geram.

“Berani sekali kamu melawan saya!”

Kala yang masih berdiri di sampingnya hanya bisa menunduk.

“Pa, cukup...” Kala bersuara.

Namun Pak Gandi tidak mendengarkan.

Ia membuka pintu mobil, lalu mendorong Kala masuk.

“Masuk!”

Kala hampir kehilangan keseimbangan.

Axel langsung maju, tetapi Kala menggeleng pelan.

Jangan.

Hanya satu kata yang terbaca dari tatapannya.

Axel berhenti.

Pak Gandi masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, lalu melaju meninggalkan kedai.

Namun beberapa detik kemudian, Kala melihat sebuah motor mengikuti mereka dari kejauhan.

Axel.

Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan.

Bukan karena takut kepada Pak Gandi. Melainkan karena ia takut Axel akan mendapatkan masalah hanya karena dirinya.

“Kala!”

Suara Pak Gandi yang sedang mengemudi membuatnya tersentak.

“Kamu kenapa nangis begitu?”

Kala menghapus air matanya.

“Aku gak apa-apa.”

“Kamu nangisin lelaki itu? Jangan-jangan kamu yang membuat Regi sakit sampai meninggal karena ini!"

Kala membeku.

“Aku nggak bunuh Regi!” Kala membantah, ia merasa dituduh yang sama sekali tak pernah ia lakukan.

Pak Gandi menoleh dengan tatapan dingin.

“Jangan ngelak kamu!”

“Aku nggak pernah melakukan apa pun kepada Regi.”

“Lalu siapa lelaki itu?”

Pak Gandi tertawa sinis.

“Selingkuhanmu, kan?”

Kala menggigit bibir.

“Regi belum lama dikuburkan, tapi kamu sudah mencari pengganti.”

“Dia bukan penggantiku.”

“Terus apa? Gak usah muna kamu!”

Kala tidak menjawab.

Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu harus menyebut Axel sebagai apa.

Mantan kekasih? Lelaki yang masih ia cintai? Atau seseorang yang seharusnya sudah menjadi bagian dari masa lalu?

Pak Gandi menekan pedal gas lebih dalam.

“Siapa sebenarnya lelaki itu? Berani sekali dia mengikuti kita.”

Tangan Kala menyentuh gagang pintu.

Sedikit saja ia membuka pintu itu, ia bisa melarikan diri. Tapi tak ia lakukan, karena ia merasa bahwa keluarga Regi pasti akan menganggapnya tidak tahu diri. Orang tuanya pun mungkin akan merasa semakin kecewa.

Kala memejamkan mata.

Ia hanya bisa berdoa agar Axel tidak melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian, mungkin sekitar sepuluh menit, mobil berhenti di depan rumah Pak Gandi.

Pintu dibuka kasar.

“Turun!”

Kala baru saja menginjakkan kaki ketika Pak Gandi menarik lengannya. Ia tersandung dan jatuh di dekat teras, hingga membuat robekan sedikit pada roknya.

“Ada apa, Pa?”

Bu Hani--istrinya keluar dari dalam rumah. Wajahnya langsung berubah ketika melihat Kala.

“Kenapa Kala diseret seperti itu, Pa?”

“Gak usah ikut campur, Ma!”

Pak Gandi berkacak pinggang.

“Dia sudah bikin malu keluarga kita!”

Bu Hani membantu Kala berdiri.

“Kamu kenapa, Kala?”

Kala menggeleng sambil terisak.

“Aku nggak berbuat apa-apa, Ma. Aku cuma pergi ke kedai, terus nggak sengaja ketemu teman lama.”

“Teman lama?”

Pak Gandi tertawa hambar.

“Kalau cuma teman, kenapa kamu nangis-nangis kayak gitu tadi?”

Kala terdiam.

Tak lama, terdengar suara pintu pagar dibanting keras.

Semua kepala menoleh, tak terkecuali Pak Gandi.

Tubuh Kala seakan membeku setelah melihat sosok yang berdiri di balik pagar itu.

Axel.

“Laki-laki itu lagi...” gumam Pak Gandi.

Ia kemudian menatap Kala.

“Kamu masuk sekarang!”

Bu Hani menarik lengan Kala.

Namun sebelum Kala sempat melangkah, Axel sudah mendekat. Ia meraih tangan Kala dan menariknya perlahan menjauh dari Bu Hani. Kemudian berdiri di depan Kala, melindunginya.

“Kurang ajar!”

Pak Gandi melangkah maju.

“Kamu berani masuk ke rumah saya?”

“Saya tidak datang untuk mencari masalah, Pak.”

Axel menatapnya lurus.

“Saya datang karena saya tidak bisa meninggalkan Kala dalam keadaan seperti ini.”

“Dia bukan urusanmu!”

“Jelas ini urusan saya, Pak.”

Suara Axel tetap tenang.

“Dia berhak menentukan hidupnya sendiri.”

Pak Gandi mengepalkan tangan.

“Memangnya kamu tahu apa keinginan menantu saya?”

Mertua Kala itu pun merogoh ponselnya.

“Orang tua kamu harus tahu tentang ini. Saya curiga kalian sudah lama berhubungan. Bahkan mungkin karena ulah kalian anak saya tiba-tiba sakit dan mati!”

Kala langsung menggeleng.

“Nggak, Pa. Jangan!”

Namun Pak Gandi sudah menghubungi Pak Ivan.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Namun tak ada jawaban.

“Sial!”

Pak Gandi menurunkan ponselnya.

Belum sempat ia menelepon kembali, suara kendaraan terdengar dari luar pagar.

Sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Pintu pagar terbuka.

Kala menahan napas.

Ayah dan ibunya turun dari mobil.

Wajah Pak Ivan terlihat keras.

“Kala...”

Tidak ada kehangatan dalam panggilan itu. Kemudian tatapannya beralih kepada Axel. Keningnya berkerut.

“Kamu...”

Pak Ivan menatap mereka satu per satu.

“Ada apa ini sebenarnya?”

Pak Gandi segera mengambil kesempatan.

“Saya hanya keberatan kalau Kala dekat dengan lelaki lain. Regi belum lama berpulang, Pak.”

Pak Ivan terdiam.

Tatapannya kembali kepada Kala.

Untuk sesaat, wajahnya melunak.

Kala tahu.

Ayahnya mulai mempercayai cerita yang dibuat oleh ayah mertuanya.

Axel maju selangkah.

“Saya yakin Bapak masih ingat siapa saya.”

Pak Ivan mengangkat wajah.

“Saya lelaki yang dulu Bapak pisahkan dari putri Bapak.”

Suasana mendadak sunyi.

Wajah Pak Ivan berubah.

“Kamu...”

Suaranya terdengar berat.

“Kamu masih berani datang ke sini?"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 8 - Kebersamaan yang Singkat

    Baru beberapa jam Axel membawa Kala pergi bersamanya, berita mengenai Axel sudah menyebar kemana-mana. Narasi bahwa Axel seorang penculik dan predator wanita sudah tertanam kuat di kepala masyarakat seluruh Kota.Berulang kali ponsel Kala pun berdering, bahkan beberapa pesan masuk memenuhi notifikasi layar ponselnya. Namun, Kala mengabaikannya meski itu dari papanya sendiri. "Aku gak suka kamu kayak gini," kata Kala cemberut. Axel tersenyum tipis. "Terus kamu pengen aku kayak gimana barusan?" Nadanya begitu lembut. "Iya ngapain kek, jangan mau dipukulin gitu aja. Kamu kan gak salah!"Kala marah sambil mengompres wajah Axel yang memar bekas dipukuli tadi. "Aw!" Axel meringis. "Pelan-pelan," katanya lagi. "Salah sendiri kenapa pasrah aja sewaktu dipukuli tadi,""Aku cuma kasihan sama orang-orang itu, gak salah apa-apa tapi masa aku pukuli?""Kenapa kamu gak langsung bawa aku lari aja tadi, daripada kamu dipukuli sampai memar-memar kayak gini?!" Kala masih cemberut, tapi sebenarnya

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 7 - Drama Mertua Licik

    Kedua pria itu segera menyeret Axel keluar, dan memisahkan Kala dari sisinya. "Jangan sentuh aku!" bentak Kala pada kedua pria yang sedang memeganginya. "Lepasin!"Sementara Kala berusaha untuk melepaskan cengkeraman kedua orang yang memeganginya. Axel sudah dibawa oleh orang-orang itu menjauh darinya dan ia dipukuli oleh massa. "Axel!" Kala menjerit karena tak tahan melihat kekasih hatinya disakiti. "Aku bersumpah kalau Axel sampai kenapa-kenapa aku bakal bikin perhitungan sama kalian semua!" teriak Kala memberi ancaman. Kala berontak, ia kembali melakukan hal yang sama seperti apa yang telah ia lakukan pada papa mertuanya. Seperti pahlawan di televisi, Kala menendang satu-satu kedua orang yang menghalanginya. Entah darimana wanita itu mempelajari ilmu bela diri. "Axel.. "Kala berlari menghampiri kekasih hatinya. "Minggir kalian semua, minggir!"Reaksi wanita itu benar-benar diluar dugaan. Namun orang-orang masih mengabaikannya, malah tubuh Kala ikut tertimpuk oleh batu dan me

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 6 - Pria Itu Mengurungnya

    "Diam kamu di sini!" bentak Pak Gandi sambil membanting tubuh Kala ke lantai. Kala berontak, ia berusaha berdiri lagi meski ada bagian lututnya yang sakit. "Papa bawa aku kemana? Ini dimana, Pa?" teriak Kala dengan raut wajah penuh rasa takut. "Percuma kamu teriak, gak akan ada satu orang pun yang dengar!" jawab mertuanya sambil tertawa bercampur amarah. Kala menangis. Ia tak mengerti kenapa papa mertuanya bersikap aneh dan tak seperti biasanya. Dan, beberapa detik kemudian.. Tangan kasarnya itu mendarat di dagu Kala, memaksa Kala untuk membalas tatapannya, meski ia tahu kalau Kala sedang menangis. "Gak usah nangis, sayang... " katanya sambil tersenyum, nadanya lembut selembut sutera. Namun, Kala sudah terlanjur jijik. Ia memalingkan mukanya lagi."Diam, jangan menoleh." Pria tua itu menahannya. "Jangan buang muka sama papa, sayang.." katanya lagi sambil duduk di samping Kala. Jaraknya begitu dekat, sangat dekat hingga membuat Kala semakin takut dan ingin lari."Lepasin aku,

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 5 - Mertua Aneh

    "Mapnya udah aku titip di Kak Has-,"Ucapan Kala terhenti karena Pak Gandi langsung menyeret tangan Kala dan masuk ke dalam ruangannya. "Apa-apan sih, Pa?" Kala marah, lalu menepis kasar tangan sang mertua dari lengan kanannya. "Diam!" bentak Pak Gandi dengan rahang mengeras. "Kamu jangan dulu pulang, bantuin papa periksa beberapa berkas di sini," titahnya seraya mengajak Kala untuk duduk. Kala menyipitkan mata, menatap lurus-lurus sang mertua."Papa kenapa sih, pa? Lagian kan masih ada pegawai yang emang kerja di sini!" jawab Kala semakin kesal. "Kerja mereka gak bagus!" kilah Pak Gandi ketus. "Udah, kamu gak usah banyak omong. Mereka gak bakalan protes!""Tapi aku gak ngerti, Pa... " Kala masih berusaha untuk menolak. "Buka-buka aja, yang penting kamu tetap diam disini!""Mertua aneh!" Kala membatin, matanya mendelik tajam pada sosok pria tua di seberangnya. Tak mungkin kalau Kala tak menceritakan hal ini pada Axel, ia merogoh saku jaketnya dan segera mengirimkan pesan pada Ax

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 4 - Dibalik Pintu

    "Kal, bisa tolong ambilkan papa air minum?" Tak seperti biasanya Pak Gandi meminta tolong pada Kala untuk urusan itu. Tentu saja Kala sedikit kebingungan sewaktu mendengar perintah tersebut. Kala hanya diam membisu. Bertanya-tanya sendiri apa mungkin karena mama mertuanya tak ada? "Kal, kamu dengar gak? Kamu lagi ngapain di sana?" seru mertuanya lagi. Kala segera mengenakan jilbabnya, lalu keluar kamar untuk menemui sang papa mertua di ruang depan. "Kenapa kamu lama sekali?" ujar Pak Gandi menyipitkan mata begitu Kala datang menghampirinya. "Kenapa juga di rumah masih pakai jilbab?" tanyanya kesal. "Kok?" Kala heran dengan sikap Pak Gandi baru-baru ini. Biasanya beliau tak pernah bersikap tidak sopan seperti itu. "Kenapa papa suruh aku buka jilbabku?" tanya Kala dengan nada sedikit meninggi. "Ini rumah saya, jadi kamu harus ikut aturan yang saya bikin!" sentak Pak Gandi sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Kelakuan Pak Gandi benar-benar membuat Kala tak habis pikir. Se

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 3 - Di Depan Pintu

    "Maaf kalau saya lancang, tapi saya gak tega melihat Kala diperlakukan kasar oleh bapak mertuanya."Jantung Kala berdebar kencang tak karuan. Ia takut kalau kedua keluarganya akan semakin mempersulit kehidupan Axel nanti. "Xel, udah. Tolong kamu pergi aja, aku yakin semuanya akan aman kalau kamu bisa pergi dari sini," ucap Kala dengan berderai air mata, memohon. "Kal, gak bisa." balas Axel tegas. "Kalau aja pertemuan pertama kita tadi berkesan baik, kayaknya aku gak akan sampai segila ini." tuturnya jujur. "Tapi aku gak mau kalau kamu sampai kenapa-kenapa, aku gak bisa lihat itu, Xel... "Mereka berdua lupa kalau semua keluarga memperhatikan, tanpa sadar tangan sang ayah Kala mendarat di pipi wanita berlesung itu. Hingga Kala meringis kesakitan. "Apa-apaan kamu?" bentak sang Ayah. "Apa Ayah gak salah dengar?""Kala cinta sama Axel, Yah... Perasaan itu masih ada sampai sekarang, Kala juga gak ngerti... " Kala menangis hingga terisak. Pak Gandi langsung menggebrak meja. "Sudah say

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status