LOGINIstriku lupa logout dari WhatsApp Web di komputerku. Saat aku sedang membantunya logout, sebuah pesan grup muncul di layar. [ Untuk rayakan Andri naik jabatan, ayo kita makan bersama malam ini. ] Aku mengklik pesan itu karena penasaran. Ada empat orang di dalam grup itu, yaitu ayahku, ibuku, istriku, dan adik sepupuku, Andriyan. Istriku membalas. [ Cuma kita berempat? Nggak ajak Evander? ] [ Siapa suruh dia selalu begitu perhitungan? Dia bahkan mau rebutan sebuah apel dengan Andri. ] Aku pun tercengang. Ternyata, aku sudah lama menjadi orang luar dalam keluarga ini.
View MoreAku mengencangkan cengkeramanku pada tali ranselku dan menarik napas dalam-dalam. "Aku baik-baik saja di luar sana. Aku punya pekerjaan tetap, juga punya tempat tinggal. Kamu nggak perlu khawatir.""Tapi Ibu merindukanmu!"Aku tidak menjawab dan berjalan keluar dari kamar rawat inap.Elena menyusulku. "Vander, kembalilah. Ayah dan Ibu sangat merindukanmu."Aku mencibir, "Merindukanku? Mau aku kembali dan lanjut jadi putra 'pengertian' seperti dulu?"Dia membuka mulutnya, tetapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.Aku berjalan keluar dari gerbang rumah sakit. Cahaya matahari sangat menyilaukan.Ponselku bergetar. Itu adalah pesan dari Julian.[ Kita dapat pesanan besar lagi. Kapan kamu akan kembali? ]Aku membalas. [ Besok. ]Malam itu, aku tinggal di hotel. Tiba-tiba, terdengar bel pintu. Saat aku membuka pintu, orang tuaku dan Elena sedang berdiri di luar. Mata mereka terlihat merah dan bengkak."Vander, kami boleh masuk?" Aku tidak mengatakan apa pun, hanya memiringkan tubuh
Andriyan memiliki seorang "sahabat karib" yang tahu segalanya tentangnya. Ketika keduanya berselisih karena seorang wanita, orang itu pun menguak semua perbuatannya. Ironis sekali. Orang yang melukaiku pada akhirnya hancur karena ulahnya sendiri.Saat melihat postingan itu, Elena sangat tercengang. Dia menunjukkan ponsel itu kepada Andriyan dan bertanya apakah semua itu benar.Reaksi pertama Andriyan adalah menyangkalnya dengan mengatakan bahwa akun tersebut bukan miliknya, melainkan direkayasa oleh orang lain. Namun, salah satu akun itu terikat pada nomor ponselnya. Dia tidak bisa membantah bukti kuat ini.Elena langsung menangis. Dia menangis dengan begitu sedih sambil berkata, "Andri, memangnya aku nggak cukup baik terhadapmu? Kenapa kamu harus berbuat begitu? Vander itu suamiku, kenapa kamu ...."Andriyan juga menangis. Kali ini, bukan karena ingin berpura-pura kasihan, melainkan karena histeris. "Kak Elena, aku cuma terlalu takut! Aku takut kalian nggak menginginkanku lagi karena
Jika hal seperti itu terjadi dulu, aku mungkin akan menangis karena sedih. Sekarang, aku hanya merasa itu sangat konyol.Andriyan selalu melakukan trik ini. Dia akan selalu berpura-pura menjadi korban, lalu membuat semua orang berpikir itu adalah salahku. Namun, aku tak menyangka akan melihat nama familier di kolom komentar. Itu adalah nama akun ibuku. Dia tidak tahu bahwa itu adalah akun kedua Andriyan dan mengira itu hanyalah postingan seorang blogger asing.[ Yang kamu bilang benar. Putraku juga begitu nggak pengertian. Alangkah baiknya kalau dia sepengertian kamu. ]Saat membaca komentar itu, jariku terasa dingin. Ternyata di hati ibuku, aku memang orang seperti itu.Aku meletakkan ponselku dan berdiri lama di balkon. Aku teringat kejadian semasa kecil. Ketika aku demam, ibuku senantiasa tinggal di samping tempat tidurku dan mengganti kompres handuk di dahiku berulang kali. Saat itu, aku berpikir bahwa ibuku akan mencintaiku seumur hidup. Sekarang, aku baru tahu bahwa cinta bisa
Aku mencengkeram ponsel erat-erat, tetapi tidak menyahut. Aku tidak mempunyai adik.Ibuku berkata dengan suara tercekat, "Ngomong, dong! Kamu ada di mana? Ibu akan menjemputmu."Aku menyahut dengan acuh tak acuh, "Nggak usah. Aku ada di luar kota dan nggak akan kembali dalam waktu dekat."Ada keheningan di ujung telepon selama beberapa detik. Kemudian, terdengar suara ibuku yang mengandung rasa tidak percaya. "Apa maksudmu? Kamu pergi ke luar kota sendirian? Apa kamu gila? Kamu sendiri ...."Aku menyela ucapannya dengan tenang, "Aku bukan sedang minta izin. Aku cuma memberi tahu."Suaranya tiba-tiba meninggi. "Evander! Kembali sekarang juga! Apa-apaan kamu! Kami cuma nggak ajak kamu keluar makan sekali. Apa kamu perlu buat keributan sebesar ini?"Aku tidak mengatakan apa-apa.Ibuku mungkin mengira hatiku sudah tergerak. Nadanya sedikit melunak. "Sudahlah. Cepat kembali. Ibu akan buatkan iga asam manis kesukaanmu. Lena juga sudah sadari kesalahannya. Setelah kamu kembali, kita sekeluarg
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.