LOGINBentrokan antara pedang fusi bintang neutron dan tendril-tendril antimateri menciptakan badai super-nova mini yang terperangkap dalam radius puluhan ribu kilometer.Cahaya keemasan beradu dengan pusaran hitam legam, melepaskan gelombang radiasi yang menyapu sisa-sisa asteroid Sabuk Kuiper hingga tak bersisa. Di bumi, sirine evakuasi meraung-raung saat Neo-Aegis diguncang gempa bumi skala rendah, efek rambatan gravitasi kosmik dari pertarungan dua raksasa di ujung tata surya.Di tengah badai Ketiadaan, tubuh fisik Vael Adiwangsa terombang-ambing.Zirah obsidiannya memancarkan uap mendidih. Darah hitam pekat mengalir dari hidung, mata, dan telinganya. Vael memaksakan Leviathan-Zero untuk menahan tebasan avatar cahaya Kaisar Valerius, namun secara logika fisika, Vael tahu ia sedang kalah telak.Avatar Valerius mendapatkan suplai energi absolut dari Monolith Penuaian—sebuah cincin super-struktur yang menyedot energi bintang inti secara berkelanjutan. Sementara Vael, ia hanya seorang pemud
Satu Katedral Dreadnought runtuh menjadi rongsokan pijar di tengah ruang hampa, memicu kepanikan yang merambat layaknya virus di seluruh jaringan saraf Armada Suci Kekaisaran Valen. Namun bagi Vael Adiwangsa, kehancuran satu kapal raksasa itu barulah sebuah hidangan pembuka.Di atas bahu Aegis-Prime, Vael melayang naik, melepaskan pijakannya dari titan tersebut. Zirah obsidiannya yang sempat retak akibat menahan tiga balok neutron kini menyatu kembali. Darah yang menetes dari sela-sela zirahnya tidak membeku di ruang hampa; darah itu mendidih, menguap menjadi kabut berwarna ungu kemerahan yang perlahan menyelimuti tubuhnya.Di dalam dadanya, reaktor biologis tempat ia mengurung Leviathan-Zero berdetak dengan irama yang merobek kewarasan.Selama lima bulan terakhir, Vael telah merantai insting purba itu. Ia menjinakkannya dengan emosi fana, memaksanya tunduk pada logika seorang manusia. Namun hari ini, di tengah Sabuk Kuiper yang dipenuhi oleh miliaran kapal pemuja kesempurnaan palsu,
Tiga pilar cahaya yang ditembakkan oleh Dreadnought katedral Kekaisaran Valen bukanlah plasma, laser, maupun api konvensional. Itu adalah bintang neutron yang dikompresi menjadi cairan gravitasi dan dilepaskan dalam bentuk balok energi murni.Saat ketiga laras raksasa itu memuntahkan isinya, ruang hampa di Sabuk Kuiper seolah melengkung ke dalam. Tidak ada suara ledakan yang terdengar oleh telinga biologis, tetapi sebuah jeritan elektromagnetik yang memekakkan jiwa menyapu seluruh armada gabungan bumi. Sabuk asteroid beku di jalur tembakan itu tidak hancur menjadi serpihan; mereka terhapus dari eksistensi, diubah menjadi debu sub-atomik dalam hitungan milidetik.Di atas bahu Aegis-Prime, Vael Adiwangsa membentangkan kedua tangannya."Tahan!" raung Vael, suaranya tumpang tindih dengan resonansi purba Leviathan-Zero yang bergejolak di dalam darahnya.Titan raksasa setinggi lima ratus meter itu mengangkat lengan baja dan lengan kristal pualamnya ke depan. Ketiga kapal perang Leviathan di
"Tembak!"Perintah Vael Adiwangsa memecah keheningan absolut di Sabuk Kuiper, memicu ledakan kinetik dan energi yang merobek ruang hampa.Namun, yang pertama kali bergerak bukanlah senjata pemusnah dari armada Kekaisaran Valen. Yang menyalak lebih dulu adalah meriam-meriam pembelah atom dari lima kapal penjelajah hibrida kelas Pionir.Kelima kapal penjelajah bumi itu tidak meluncur dalam formasi lurus yang kaku. Mengingat doktrin yang diteriakkan Vael di ruang simulator berhari-hari lalu, para pilot Enforcers dan navigator Aethel membuang seluruh insting gravitasi atmosferik mereka. Di ruang hampa, tidak ada hambatan udara, tidak ada gaya angkat, dan tidak ada atas atau bawah."Pionir Skuadron, pisahkan formasi! Mode sumbu bebas!" raung Kapten Vyr dari anjungan Pionir-1, tangannya menari di atas konsol kristal astrogasi dengan kecepatan yang membuat pandangan kabur.Kelima kapal sepanjang dua ratus meter itu seketika pecah dari formasi anak panah mereka. Mereka mematikan pendorong uta
Luka bakar akibat menelan fusi termal murni itu tidak membunuh Vael Adiwangsa, namun meninggalkan jejak yang tak akan pernah bisa dihapus.Di dalam ruang medis Sektor Nol yang berbau antiseptik dan ozon, Vael duduk di tepi ranjang logam, menatap kedua lengannya. Zirah obsidian organiknya telah kembali bersembunyi di balik dagingnya, namun kulit manusiawinya kini dihiasi oleh pola-pola hitam legam yang menyerupai abu vulkanik, menyatu secara permanen dengan garis-garis petir keperakan di urat nadinya. Luka itu tidak terasa sakit lagi; sel-sel Mesin Pemakan Dewa telah menjahit ulang jaringan biologisnya dengan kecepatan komputasi."Estetika yang menarik," komentar Vael datar, mengepalkan dan membuka jari-jarinya untuk memastikan motorik sarafnya berfungsi seratus persen.Direktur Elena Aris berdiri di depannya, menempelkan plester medis sintetis di bahu Vael yang masih sedikit memerah. Lingkaran hitam di bawah mata Elena terlihat semakin pekat. Ilmuwan itu belum tidur selama empat puluh
Hujan badai menghantam Neo-Aegis seolah langit sedang berusaha mencuci debu industri dari jalanan betonnya. Dua puluh delapan hari sebelum kedatangan Armada Suci Utama Kekaisaran Valen, kota itu bernapas dalam ritme kepanikan yang terorganisir.Vael Adiwangsa berdiri di balkon basah fasilitas komando Sektor Nol, membiarkan rintik hujan sedingin es membasahi kemeja taktisnya. Di bawah sana, galangan kapal antarbintang bersinar terang oleh jutaan lampu sorot holografis. Lima lambung kapal penjelajah kelas Pionir telah terbentuk sempurna, bagaikan lima pedang raksasa yang menancap di dada bumi, siap dicabut untuk membelah langit. Di lambung utama Pionir-1, Reaktor Korosi—jantung pembuat amunisi Pecah-Pualam—baru saja selesai diinstalasi.Namun, kedamaian malam yang dingin itu terkoyak dalam seperseribu detik.BZZZZ-WUUUSHHH!Bukan suara ledakan mesiu, melainkan suara udara yang divakumkan secara paksa, diikuti oleh gelombang kejut termal yang meretakkan kaca-kaca anti-peluru di seluruh f







