Home / Fantasi / Anomali Sang Pewaris / Klinik Ujung Jalan

Share

Klinik Ujung Jalan

Author: Rjm10
last update publish date: 2026-09-22 22:32:47

Kaelen menatap uluran tangan Lyra sejenak, lalu melirik belati beracun di tangannya sendiri. Di tempat seperti Distrik Bawah, kebaikan orang asing adalah mitos mematikan. Namun, pandangannya yang mulai mengabur dan darah yang terus merembes dari balik jubahnya adalah realita yang tak bisa dibantah.

Ia mengabaikan tangan Lyra, menggunakan dinding bata kotor untuk menopang tubuhnya berdiri. "Berapa bayaranmu?" tanyanya dengan suara serak.

Lyra menarik kembali tangannya, mendengus pelan sambil memutar bola mata. "Menarik. Hampir mati tapi masih arogan. Tenang saja, Tuan Muda. Aku tidak butuh koin perunggumu yang berlumur darah itu. Aku butuh sesuatu yang lebih berharga: informasi. Tapi itu nanti, setelah kau berhenti meneteskan darah di wilayah kekuasaanku."

Gadis itu berbalik dan mulai berjalan menembus gang sempit, memberi isyarat dengan kepalanya agar Kaelen mengikuti.

Perjalanan menembus Sektor Empat Distrik Bawah terasa seperti menyelami perut monster mesin raksasa. Udara dipenuhi kabut asap berbau belerang dari pipa-pipa uap ilegal yang berdesis di atas kepala mereka.

Kaelen memaksakan kakinya melangkah, mengikuti sosok Lyra yang bergerak lincah menghindari genangan limbah fosfor dan pemabuk yang tergeletak di pinggir jalan.

Setiap kali Kaelen menarik napas, rasa sakit di dadanya mengingatkannya pada dua hal: tulang rusuknya yang remuk akibat cambuk Paman Varian, dan energi asing dari peluru angin yang tadi ia serap. Energi itu terasa seperti racun yang menggerogoti pembuluh darahnya.

Kekuatan "menelan" ini jelas bukan sekadar menyerap; tubuhnya dipaksa mencerna sihir yang bukan miliknya.

"Kita sampai," ujar Lyra tiba-tiba, berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat dengan coretan grafiti neon pudar bertuliskan Bengkel & Perbaikan Onderdil.

Lyra mengetuk pintu itu dengan pola ritmis. Dua ketukan cepat, jeda, tiga ketukan lambat.

Sebuah celah kecil terbuka di tengah pintu. Sepasang mata mekanik berwarna merah memindai mereka dari balik baja. Bunyi gerendel berat ditarik, dan pintu terbuka, memperlihatkan ruangan pengap yang dipenuhi bau alkohol medis, oli mesin, dan darah.

"Lyra," sapa seorang pria tua bungkuk dengan kacamata pembesar tebal dan satu lengan prostetik tembaga. "Kukira kau sudah mati minggu lalu. Siapa mayat hidup yang kau bawa ini?"

"Mayat hidup yang masih punya uang, Dokter Silas," jawab Lyra santai, melangkah masuk dan menunjuk Kaelen. "Luka memar parah, patah tulang rusuk, dan... entahlah, dia terlihat seperti baru saja menelan kristal mana mentah."

Silas mendekati Kaelen. Tanpa basa-basi, pria tua itu merobek sisa jubah kotor yang menutupi dada Kaelen. Ia berdecak melihat luka bakar berbentuk cambuk yang tercetak hitam di kulit pemuda itu.

"Luka dari sihir api murni tingkat tinggi. Anak ini membuat marah orang-orang dari Tingkat Atas," gumam Silas. Ia berbalik, mengambil sebuah suntikan besi berisi cairan keperakan yang berpendar. "Tahan napasmu, Nak. Ramuan penyembuh ini akan terasa sedikit membakar."

Silas menusukkan jarum itu tepat ke sekitar luka di dada Kaelen dan menekan pendorongnya. Cairan sihir penyembuh itu mengalir masuk.

Namun, bukannya mereda, rasa sakit yang jauh lebih dahsyat meledak di dada Kaelen.

Tubuh Kaelen tersentak hebat, menabrak meja operasi di belakangnya. Pusaran kabut hitam keunguan tiba-tiba keluar dari dadanya, bereaksi agresif terhadap cairan perak tersebut. Ramuan penyembuh ajaib itu langsung diurai, ditelan habis oleh kabut tersebut dalam hitungan detik.

Silas terpelanting ke belakang, menjatuhkan suntikannya. Mata mekaniknya berputar liar memindai anomali di depannya. Lyra melompat mundur, tangannya refleks mencabut pistol pelumpuh dari balik jaketnya.

Kaelen terbatuk keras, memuntahkan cairan hitam pekat. Pusaran itu mereda, kembali masuk ke pori-porinya.

"Demi dewa-dewa mesin..." Silas berbisik dengan suara gemetar, menatap Kaelen seolah melihat iblis. "Kau... tubuhmu memakan sihir penyembuh itu. Inti jiwamu... kau bukan mage ataupun ksatria. Kau adalah sebuah Null."

Kaelen mengangkat wajahnya yang pucat. "Bisa kau obati dengan cara biasa atau tidak, Dokter?" desisnya menahan sakit.

"Bisa. Aku harus menjahit dan mengoperasi tulangmu secara manual tanpa bantuan sihir maupun bius," jawab Silas, masih terlihat terguncang. "Tapi itu bukan masalah terbesarmu, Nak. Inti jiwamu tidak stabil. Kau menyerap terlalu banyak mana asing.

Jika kau tidak menemukan cara untuk melepaskan atau menstabilkan energi yang kau telan itu, tubuhmu akan meledak menjadi debu dalam waktu kurang dari tiga hari."

Kaelen terdiam, mengepalkan tangannya. Tiga hari. Waktu yang sangat sempit untuk bertahan hidup, apalagi merencanakan balas dendam.

Namun, belum sempat Kaelen mencerna kenyataan itu, sebuah ledakan keras mengguncang bangunan tersebut.

Pintu besi berkarat di depan terlempar ke dalam, menabrak dinding hingga hancur berantakan. Asap mengepul tebal menutupi pintu masuk. Dari balik kepulan debu itu, tiga bayangan tinggi melangkah masuk. Mereka mengenakan jubah abu-abu dengan lambang anjing berkepala dua di dada kiri mereka.

Pemburu Bayaran Klan Adiwangsa. Paman Varian rupanya tidak membuang waktu.

"Klinik ilegal yang bagus," ucap salah satu dari mereka, menarik pedang panjang yang mulai memancarkan aura api biru. "Bakar tempat ini. Jangan sisakan satu pun tulang untuk dikubur."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anomali Sang Pewaris   Api Suci dan Baja Ketiadaan

    Lonceng peringatan bergema membelah malam, suaranya lebih tajam daripada rentetan senapan mesin. Lampu-lampu sorot magis yang tadinya memancarkan cahaya putih kini berubah menjadi merah darah, menyapu seluruh area sektor terdalam bagai mata iblis raksasa yang mencari mangsa."Rencana siluman dibatalkan!" teriak Lyra. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia melemparkan bom asap beracun yang sedari tadi digenggamnya ke arah jembatan.BUM!Asap hijau pekat meledak, menelan keempat Inkuisitor yang menjaga penghalang cahaya. Namun, pasukan elit Kekaisaran Pusat itu bukanlah kroco jalanan dari Distrik Bawah. Dari dalam kepulan asap, pendar cahaya putih yang membutakan menyala terang, membakar habis partikel racun itu seketika. Topeng perak mereka sama sekali tidak tertembus asap."Biar kutebak, racun tidak mempan terhadap orang suci?!" rutuk Lyra, melompat mundur sambil mencabut kedua belatinya."Mundur, Lyra. Mereka milikku," suara Kaelen terdengar menggema, berat, dan tanpa sedikit pun ke

  • Anomali Sang Pewaris   Penyusup dalam Pasir

    Kekaisaran Pusat tidak pernah bergerak tanpa kepastian absolut. Melihat puluhan ribu pasukan Garda Matahari berkemah di dasar Kawah Hitam, Silas tahu bahwa titah dari Sang Kaisar Agung bukan sekadar pencarian buta. Mereka tahu persis apa yang terkubur di bawah sana. "Ini bunuh diri," Silas memijat pelipisnya, menatap layar radarnya yang kini dipenuhi titik merah tak terhitung jumlahnya. "Kaelen, mereka itu Garda Matahari. Mereka bukan ksatria klan bangsawan biasa yang mengandalkan sihir elemen. Mereka adalah pasukan elit langsung di bawah komando Kaisar. Senjata mereka dilapisi Aura Suci energi murni yang dirancang untuk membakar apa pun yang menyerapnya. Jika kau mencoba menelan serangan mereka, artefak di dadamu akan kelebihan beban dalam hitungan detik." Lyra menyipitkan mata, menatap kamp militer raksasa di bawah dari balik teropong jarak jauhnya. "Bukan cuma itu. Lihat kapal-kapal yang bersandar di tebing. Itu bukan kapal layar udara milik Klan Angin. Itu Dreadnought berten

  • Anomali Sang Pewaris   Debu dan Mesin

    Mesin uap raksasa itu mengaum parau, membelah kesunyian padang gurun yang membentang tanpa batas. Kendaraan itu dulunya adalah pengangkut bijih besi raksasa dari tambang Sektor Empat, namun mekanik Rexor telah merombaknya dalam waktu semalam. Lambungnya kini dilapisi pelat baja setebal tiga inci, jendelanya diganti dengan celah pandang berlapis kaca anti-peluru, dan cerobongnya terus memuntahkan asap hitam pekat yang langsung tersapu oleh angin kering padang belantara. Mereka telah meninggalkan perbatasan wilayah Klan Adiwangsa sejak tiga hari yang lalu, melaju terus ke arah barat menjauhi peradaban. Di dalam kabin yang pengap dan berbau oli terbakar, Lyra mengemudikan monster besi itu dengan kedua tangan mencengkeram kemudi yang berat. Peluh membasahi dahi gadis itu. Mengemudi melintasi Gurun Abu, zona transisi menuju Kawah Hitam, bukanlah tugas untuk mereka yang bermental lemah. Tidak ada jalan setapak. Hanya lautan pasir kelabu, bongkahan batu obsidian sebesar rumah, dan bad

  • Anomali Sang Pewaris   Hujan Bangkai di Langit Utara

    Sebelas Sky-Galleon yang tersisa menggantung membeku di udara. Awan badai yang mereka bawa kini terasa seperti kain kafan yang menyelimuti armada mereka sendiri. Dari atas geladak kapal-kapal itu, para ksatria Klan Aero menatap horor ke bawah, menyaksikan kapal bendera kebanggaan mereka hancur, dan kapten mereka tewas di tangan satu manusia tanpa elemen. Kepanikan menyebar dengan cepat bagai api liar. "Fokuskan seluruh meriam angin ke bangkai kapal utama!" Terdengar raungan perintah dari kapal kedua yang kini mengambil alih komando. "Tembakkan meriam Aero-Burst! Ratakan pemakan dewa itu menjadi debu!" Puluhan laras meriam magis dari sebelas kapal yang melayang itu serentak menyala hijau menyilaukan, mengunci target tepat ke arah Kaelen yang masih berdiri di atas geladak kapal yang hancur. Di pelataran bawah, Komandan Kael memucat. "Dia tidak akan bisa menelan tembakan meriam sebanyak itu sekaligus! Rexor, tembakkan rantai penarik lagi!" "Rantainya putus saat bantingan tadi, Pak

  • Anomali Sang Pewaris   Badai yang Terluka

    Angin bertiup tidak wajar di pelataran Kastil Adiwangsa. Udara yang tadinya pengap oleh asap mesin uap kini tersapu bersih oleh hembusan badai buatan yang membawa bau ozon dan embun beku. Di atas sana, awan kelabu bergulung liar, membentuk pusaran raksasa yang menutupi sisa-sisa sinar matahari pagi. Kaelen melangkah keluar dari sayap perpustakaan, disambut oleh kepanikan yang terstruktur. Di bawah komando Rexor, para preman Sektor Empat berteriak kasar sambil mendorong meriam-meriam anti-udara bertenaga uap ke posisi tembak. Di sisi lain, Komandan Kael berdiri di atas reruntuhan patung pualam, meneriakkan perintah baris-berbaris kepada mantan ksatria Ignis yang kini memanggul senapan laras panjang buatan pandai besi bawah tanah. Gesekan antara kedua kubu menghilang seketika, digantikan oleh insting primitif untuk bertahan hidup dari ancaman yang jauh lebih besar di atas kepala mereka. Dari balik pusaran awan kelabu, moncong-moncong kapal kayu raksasa mulai menembus langit. Sky-Ga

  • Anomali Sang Pewaris   Gesekan Baja dan Halaman Usang

    Pelataran pualam Kastil Adiwangsa yang dulunya suci kini tampak seperti pabrik besi berantakan. Asap hitam dari mesin-mesin uap portabel membumbung ke udara, mengotori patung-patung marmer yang tersisa. Bau keringat, mesiu, dan oli mesin menggantikan aroma kemenyan magis yang selama ratusan tahun melekat di tempat itu. Di tengah pelataran, Kaelen berdiri mengawasi kekacauan yang sedang ia paksa menjadi sebuah tatanan. Di sebelah kirinya, barisan preman Sektor Empat berbaris acak-acakan, menguap dan meludah sembarangan. Di sebelah kanannya, sisa-sisa ksatria Ignis berdiri tegak dengan postur militer sempurna, meski wajah mereka memucat menahan beban senapan uap laras panjang yang sama sekali tidak mereka pahami cara kerjanya. "Ini bencana," komentar Lyra yang berdiri di samping Kaelen, mengunyah sepotong dendeng kering. "Ksatria-ksatria itu memegang senapan seperti memegang sapu lidi, dan anak buah Rexor tidak tahu bedanya baris-berbaris dengan antrean pembagian jatah minuman keras

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status