MasukTerdengar suara berisik, hingga membangunkan seorang gadis cantik. Dengan perlahan ia membuka matanya, gadis itu terkejut melihat sekelilingnya. Dirinya merasa begitu asing dengan tempatnya berada, bahkan dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
"Kenapa aku di sini? Bukannya aku sudah mati?" tanya gadis itu dari dalam hati. "Nona Grizella sudah bangun? Nona butuh sesuatu?" tanya para perempuan berseragam seperti pelayan, sepertinya mereka ada pelayan. Beberapa pelayan tampak pergi dari ruangan itu. Gadis itu tampak memegang kepalanya yang mendadak terasa pusing, ia masih sangat bingung dengan apa yang terjadi padanya. "Akhirnya lo bangun juga, Zella. Gue kira lo nggak akan bangun lagi, mungkin kita semua akan tenang jika hal itu terjadi," kata seorang pria yang baru masuk ke dalam ruangan itu di susul oleh beberapa orang. "Zella? Siapa Zella, aku Fera," ujar gadis itu berbicara di dalam hati. "Jaga bicara kamu, Darren! Kamu nggak seharusnya berbicara seperti itu sama adik kita," ujar pria tampan yang langsung bisa membuat gadis itu terpanah. Memang pria bermulut tajam juga tampan, tetapi pria yang kedua ini lebih tempat bahkan terlihat begitu sempurna di mata gadis itu. Pria itu berjalan menghampiri sang gadis dengan wajah khawatir. "Gimana keadaan kamu sekarang, Zella?" "Siapa kamu? Aku di mana? Kalian siapa?" tanya gadis itu dengan wajah kebingungan. "Enggak usah pura-pura amnesia deh, Zell. Enggak akan ada yang percaya juga," balas pria tampan lainnya yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh pria tampan yang membela gadis itu. "Aku nggak amnesia, aku memang nggak kenal sama kalian semua. Aku juga nggak tau aku di mana." "Sepertinya Zella benar-benar amnesia, wajah bingungnya terlihat sekali," gumam pria itu yang masih terdengar di telinga sang gadis. "Shaka kamu telpon dokter Andin, katakan Zella sudah sadar tapi tidak ingat dengan siapa-siapa," titah pria itu dengan tegas. "Baik Bang Zio." Tidak perlu waktu lama, Dokter cantik yang bernama Dokter Andin datang untuk memeriksa gadis itu. Sang gadis masih bingung dengan yang terjadi, karena terus dipanggil Zella padahal dirinya yakin namanya adalah Ferandha Carissa bukan Zella. "Sepertinya Nona Grizella memang amnesia, mungkin karena terkena sesuatu di kepalanya sampai akhirnya jadi amnesia," ujar Dokter Andin memberitahu dengan bahasa yang mudah dipahami. Setelah memeriksa keadaan gadis itu, Dokter Andin segera pergi dari ruangan itu. Sedangkan pria yang tadi meminta kedatangan Dokter Andin. "Kamu mungkin bingung dengan apa yang terjadi, biar saya jelasin ya. Kamu mengalami amnesia, Zella. Nama kamu itu Grizella Lucelia Syailendra," ucap pria yang dipanggil Bang Zio itu dengan lembut. "Aku bukan Grizella, aku Fera. Kamu pasti salah mengenali orang," balas gadis itu yang mengaku dirinya adalah Fera. "Siapa lagi Fera itu? Lo itu Grizella, nggak usah ngaku-ngaku jadi orang lain deh," ucap seorang pria yang tadi sejak kedatangannya sudah berbicara tidak enak pada gadis itu. "Kamu, Grizella Lucelia Syailendra. Kamu itu adik kami, kamu bukan Fera. Saya nggak akan salah mengenali kamu, Zella," tegasnya. Fera yakin dirinya adalah Fera, tetapi ia bingung sekali kenapa ia dipanggil Zella. Semua orang di ruang ini juga kekeh memanggilnya Zella. "Boleh aku ambilkan aku cermin," pinta Fera. Dengan sigap, pria itu mengaku sebagai Kakak Zella itu mengambilkan Cermin dan diberikan pada Fera. Saat bercermin, Fera begitu terkejut ternyata ia melihat wajahnya berbeda bukan seperti wajahnya sendiri. Bahkan wajahnya terlihat lebih muda dari sebelumnya. "Apakah aku mengalami transmigrasi? Apa sekarang aku berada ditubuh gadis yang bernama Zella?" tanyanya di dalam hati. Mengenai transmigrasi, Fera jelas sudah sangat familiar mengenai hal itu. Karena ia sudah membaca beberapa novel yang bertemakan transmigrasi, tetapi yang dirinya tidak habis pikir. Kenapa sekarang ia malah mengalaminya sendiri. Fera baru ingat, bahwa nama Grizella Lucelia Syailendra adalah nama tokoh antagonis di novel yang tadi baru ia baca. Apakah dirinya harus terjebak di dalam tubuh karakter yang paling dibencinya. "Argh!!" teriak Fera sambil menjambak rambutnya, melihat yang dilakukan oleh gadis itu. Semua orang jelas sangatlah terkejut. "Apa ada yang sakit?" tanya pria yang dipanggil Bang Zio itu dengan perhatian. "Jika aku adalah Grizella Lucelia Syailendra, lalu kalian semua itu siapa?" tanya Fera dengan penasaran. "Saya, Arzio Marva Syailendra. Kamu dan adik saya yang lain biasa memanggil saya Bang Zio," kata Zio memperkenalkan dirinya. Fera membulatkan matanya, karena ia merasa senang sekali bisa melihat visual asli karakter kesukaannya. "Tuan Muda Zio." "Ya, orang juga memanggil saya seperti itu." "Lalu mereka itu siapa?" tanya Fera sambil menunjuk dua pria yang sejak tadi terlihat sangat tidak menyukainya, bahkan mungkin membencinya. "Yang ada di sebelah kanan saya itu Darren Revaldo Syailendra. Adik pertama saya, yang berarti Kakak kedua kamu. Kamu biasa memanggilnya Bang Darren. Sedangkan sebelah kiri saya, itu Shaka Kailash Syailendra, Adik kedua saya, kamu memanggilnya Bang Shaka," ucap Zio panjang lebar memperkenalkan kedua adiknya pada Fera. "Udahkan perkenalannya, kalau gitu aku pergi dulu, Bang," pamit Darren yang diikuti oleh Shaka juga. Sebelum Darren dan Shaka keluar dari kamar yang di duga sebagai kamar Zella, pasangan paruh baya masuk. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu, langsung memeluk Fera yang kini berada di tubuh Zella. "Mama seneng banget, sayang. Akhirnya kamu sadar juga." Fera terdiam, gadis itu hanya bisa mematung saat dipeluk oleh wanita paruh baya itu. Ia merasakan pelukan begitu tulus, pelukan dari seorang Ibu yang sudah lama tidak dirasakannya. Tanpa sadar Fera mengeluarkan air mata, tetapi segera ia hapuskan. "Zella amnesia, Ma," beritahu Zio pada sang Mama. "Zella sayang, ini Mama. Maaf, ya selama ini Mama sibuk banget, Mama janji akan berusaha luangkan waktu buat kamu." Fera hanya bisa diam mengangguk. Gadis itu tau, menurut novel yang ia baca. Nyonya Metha Syailendra yang tidak lain adalah Mama Zella. Sangat menyayangi putra maupun putrinya, tetapi ia memang sangat sibuk karena seorang pebisnis sukses seperti suaminya yaitu Arlen Syailendra. "Kamu kok diem aja, sayang? Ada yang sakit?" tanya Arlen perhatian. Fera merasa terharu, setelah sekian lama akhirnya mendapatkan perhatian dari sosok orang tua. Sudah bertahun-tahun Fera hidup sebatang kara, karena kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan 20 tahun lalu. Walau dalam beberapa tahun, Fera sempat tinggal bersama dengan Talia. Lebih tepatnya sebelum Talia menikah. Sebenarnya, Fera mempunyai banyak Om Tante. Namun, mereka terlalu serakah. Mereka hanya menginginkan harta peninggalan orang tua, tetapi tidak mau mengurus Fera. Hingga akhirnya Fera lebih memilih tinggal sendiri lebih bebas, walaupun begitu Fera tau batasan jadi hidupnya tetap terarah. "Mungkin Zella masih pusing, Pa. Mending kita pergi dari kamarnya, kita biarin Zela istirahat," ujar Zio selaku putra sulung Arlen. Sesuai dengan ucapan Zio, semua orang akhirnya keluar dari kamar Zella.Yudha diam saja, tidak menjawab pertanyaan Reno."Yud, jangan diem aja. Lo jawab pertanyaan Reno," paksa Tio."Tuan, sebaiknya Anda segera menyelesaikan pembayaran. Jika sudah, Anda bisa mengobrol sepuas Anda," tagih Pelayan itu."Kamu bisa sabar nggak sih! Saya pasti akan bayar kok!" bentak Yudha. Bukan hanya pelayan yang kaget mendengar bentakan Yudha, sahabat-sahabat Yudha pun juga ikut kaget."Gimana mau bayar, orang uangnya aja nggak ada. Kalian pinjemin dulu aja uang ke Yudha, atau kalian pilih patungan. Dari pada kalian semua masuk penjara, karena nggak bisa bayar tagihannya. Aku sih nggak ikut makan, jadi nggak bakalan di penjara," ujar Zella dengan begitu santainya.Sahabat-sahabat Yudha jelas langsung ilfe pada Yudha, mereka selama ini percaya bahwa Yudha orang kaya. Padahal kenyataannya bukan seperti itu."Sayang, kamu jangan nakut-nakutin dong. Gimana kalau kamu bantuin bayar dulu, kamu 'kan bisa telpon saudara kamu. Mereka 'kan kaya pasti mau bayarin dulu tagihannya, bagi
Bukan langsung makan, mereka malah menatap semua makanannya dengan tatapan kelaparan. "Ayo di makan, jangan bengong aja," ajak Yudha pada sahabat-sahabatnya. Semuanya makan dengan lahap kecuali Zella, ia hanya memperhatikan mereka yang makan dengan lahap seperti orang yang tidak pernah makan. "Kamu nggak makan, Zella?" tanya Kartika sok perhatian. Padahal gadis itu tadi habis suap-suapan dengan pacar Zella, mereka melakukan itu dengan dalih saling mencoba makanan masing-masing. Padahal kalau mau mencoba tidak perlu suap-suapan segala. "Enggak, aku tiba-tiba nggak nafsu makan," balas Zella. Padahal ia sengaja tidak ingin makan, walaupun sudah pesan. Agar saat dipaksa membayar, Zella berdalih ia tidak makan jadi tidak mau membayar. "Kalau gitu, makanan kamu buat aku ya," kata Kartika tidak tahu malu. "Iya, kamu makan aja." Kartika serius dengan ucapannya, memakan makanan milik Zella. Gadis itu tidak tahu saja, bahwa harga makanan yang Zella pesan sangatlah mahal. Mungkin jika tahu,
Baru saja Zella memejamkan mata, tetapi ponselnya malah berbunyi hingga membuatnya membuka mata kembali. Zella ingin menghiraukan nada dering ponselnya yang terus berbunyi tanpa henti, hingga ia akhirnya mengambil ponselnya. Gadis itu melihat siapakah yang menghubungi malam-malam.Terdapat nama Yudha di ponselnya, ternyata pria yang menjadi pacar Zella-lah yang menghubungi gadis itu saat hari sudah larut malam. Zella malas sekali mengangkat telponnya, tetapi ia teringat ingin memberikan pelajaran pada pria itu."Halo ini siapa ya?" tanya Zella sengaja, Zella memang tahu siapa Yudha. Namun, ia tidak tahu bagaimana rupanya karena memang belum sempat mencari tahu."Sayang, aku dengar kamu udah sadar makanya aku telpon kamu. Aku seneng banget akhirnya kamu sadar juga, kamu enggak kangen sama aku?" Mendengar suara Yudha yang dibuat sok lembut, Zella mendadak mual rasanya ingin muntah."Kamu siapa ya? Kok berani-beraninya manggil saya sayang." "Ini aku pacar kamu, masa kamu lupa saya aku s
Zio memang mencintai seorang gadis dalam diam, gadis yang beruntung itu adalah Ferandha Carissa. Zio mencintainya sebelum Ferandha menjadi artis terkenal, tetapi pria itu tidak berani bertemu maupun mendekati Fera padahal Zio bukanlah orang sembarangan. Zio adalah seorang Tuan Muda Syailendra, jelas hartanya sangat banyak.Namun, bukan insecure alasan Zio tidak berani mendekati Fera. Zio tau ia sudah dijodohkan dengan Adeeva, saat dirinya berniat mendekati Fera. Perjodohan yang diatur oleh kedua orang tuanya, tentu tidak akan mudah ditentang. Apalagi perjodohan yang ia jalani adalah perjodohan bisnis.Zio tidak ingin gegabah mendekati Fera, apalagi ia tahu dirinya sudah dijodohkan dengan gadis lain. Pria itu tidak ingin gadis yang ia cintai merasa ditinggalkan, jika saat itu ia benar-benar mendekati Fera dan berhasil mendapatkan hati Fera. Sedangkan mereka tidak dapat bersatu karena terhalang restu.Padahal belum tentu saat Zio mendekati Fera, gadis itu bisa luluh dan menerima cintany
"Kalau itu keputusan lo, gue nggak bisa mencegahnya," kata Talia. Prita melihat jam yang melingkar ditangannya. "Gue ada kerjaan, Tal. Lo mau pulang kapan? Gue pergi sekarang soalnya.""Gue mau di sini dulu, Prit. Lo kalau mau pergi-pergi aja," ujar Talia dengan santai."Lo serius? Emang lo enggak ke rumah sakit, bukannya anak lo masuk rumah sakit ya kemarin?""Gue serius, iya Clara memang masih di rumah sakit tapikan ada Papanya. Suami gue udah kasih waktu gue buat berduka, jadi mungkin besok gue baru balik ke rumah.""Yaudah, gue pergi dulu ya. Lo ati-ati ya di sini, kalau ada apa-apa lo bisa hubungi gue," pamit Prita sebelum berlalu dari hadapan Talia.Setelah kepergian Prita, suasana di rumah Fera terasa begitu sepi karena memang hanya Talia di sana."Rumah ini bakal tetap jadi rumah kenangan kita, Fer. Gue enggak akan biarin rumah ini dijual atau diambil alih oleh orang yang enggak bertanggung jawab, karena gue tau selain banyak kenangannya. Rumah ini adalah rumah peninggalan ora
Zella merasa sudah waktunya ia pergi dari pemakaman, sekarang bukan saatnya ia bersedih-sedih lagi. Mau tidak mau gadis itu harus menerima kenyataan."Selamat tinggal, Fera," pamitnya sebelum pergi.Setelah memastikan tidak ada orang sama sekali, Zio berjalan mendekati makam Fera. Pria itu menangis tersedu-sedu. "Kita bahkan belum pernah bicara berdua lagi Fer, setelah waktu, tapi sekarang kamu malah pergi dari hidupku. Kenapa kamu harus pergi sekarang? Padahal aku mempunyai rencana untuk menemui kamu sebentar lagi, setelah sekian lama aku baru berani bertemu kamu. Ternyata semua sudah terlambat."Zio yang mempunyai sifat kaku dan dingin, ternyata ia bisa terlihat sangat hancur di depan makam Fera. Padahal Zio dan Fera tidak memiliki hubungan apapun.***Zella kembali ke mobil, di sana sudah ada Pak Jono yang sejak tadi menunggunya. "Pak Jono antarkan saya ke suatu tempat," pintanya saat sudah masuk mobil."Baik, Nona.""Ingat, jangan beritahu siapapun kalau saya ke makam lalu ke te
"Ayo kita makan, ngobrolnya nanti aja," titah Arlen selaku tertua di antara mereka.Adeeva kebetulan duduk di samping kanan Fera, tiba-tiba menyenggol Fera yang sedang mengambil mangkuk berisi kuah panas. Kuah panas itu malah tumpah di baju Adeeva."Aduh panas!" teriak Adeeva langsung bangkit dari
"Ada yang perlu saya bantu, Nona? Jika tidak, saya akan segera pergi dari kamar Nona." Ratih berkata setelah bangkit dari ranjang Zella."Tunggu, sebentar." Fera bingung, cara ia mengatakannya. Tadi ia sudah menolak makanannya, sekarang ia lapar apalagi makanannya terlihat sangat menggiurkan.Ratih
Fera kini hanya bisa meratapi nasibnya, semua yang terjadi tidak dapat dipercaya oleh akal pikirannya. Bagaimana tidak, ia kecelakaan dikira tidak akan meninggal dunia menyusul kedua orang tuanya. Akan tetapi, dirinya malah masuk ke dalam novel.Banyak pertanyaan dibenak Fera, mengenai alasan terja
Seorang gadis cantik, terlihat tengah mengkhayal di dalam kamarnya. Sampai suara ketukan pintu terdengar begitu nyaring, hingga khayalannya langsung buyar."Ganggu orang lagi mengkhayal aja," keluh gadis itu yang tidak lain adalah Ferandha Carissa. Ferandha atau kerap disapa Fera adalah seorang art







