Home / Romansa / Antagonis Kesayangan Tuan Muda / Chapter 1. Feranda Carissa

Share

Antagonis Kesayangan Tuan Muda
Antagonis Kesayangan Tuan Muda
Author: Fha_rissa

Chapter 1. Feranda Carissa

Author: Fha_rissa
last update publish date: 2026-06-08 19:44:22

Seorang gadis cantik, terlihat tengah mengkhayal di dalam kamarnya. Sampai suara ketukan pintu terdengar begitu nyaring, hingga khayalannya langsung buyar.

"Ganggu orang lagi mengkhayal aja," keluh gadis itu yang tidak lain adalah Ferandha Carissa. Ferandha atau kerap disapa Fera adalah seorang artis papan atas.

"Fera bangun! Enggak liat udah jam berapa?" Talia– Asisten Fera berteriak sambil terus mengetuk pintu kamar majikannya.

"Apa sih Tal! Gue udah bangun kali, lo lagi ngapain sih ketuk-ketuk gitu. Padahal lo bisa tinggal masuk ke kamar gue kayak biasanya, toh gue nggak kunci kamar," balasnya dengan jengah.

"Lupa gue, Fer. Gue kira kamarnya lo kunci kayak kemarin. Lo juga sih, Fer. Enggak liat jam apa gimana? Sekarang udah pukul berapa, lo itu harus syuting tau nggak sih. Kalau udah bangun, harusnya lo udah siap di depan tinggal berangkat. Enggak perlu gue teriak-teriak panggilin lo. Atau lo lupa ada syuting hari ini?"

Talia memang Asisten Fera, tetapi Fera tidak menganggapnya sebagai Asisten melainkan sahabat. Karena Talia sudah lama bekerja dengan Fera, bahkan sejak pertama Fera me jadi Artis.

Talia sendiri usianya 3 tahun lebih tua dari Fera, tetapi Talia lebih nyaman dipanggil nama oleh Fera tanpa embel-embel apapun. Talia sudah menikah dan punya anak, tetapi ia tidak pernah melalaikan tugasnya sebagi Asisten artis besar.

Fera dan Talia kenal karena keduanya pernah sama-sama bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Tentu Fera tidak bisa langsung menjadi artis, Fera melakukan berbagai cara agar bisa tercapai.

Sampai ada suatu casting pemeran pembantu yang Fera ikuti, sutradara dan produser melihat Fera akting sangat bagus menurut mereka Fera layak menjadi pemeran utama di film yang mereka garap. Apalagi Fera memang sangat cantik, mereka juga mempertimbangkan Fera yang pernah menjadi figuran, foto model dan bintang iklan.

Fera awalnya mengajak Talia untuk ikut dengannya, tetapi Talia sama sekali tidak berminat untuk menjadi seorang artis. Dirinya sadar, tidak bisa akting dan juga tidak secantik Fera. Akhirnya, Fera yang ingin membantu perekonomian keluarga Talia. Meminta Talia menjadi Asistennya saja, gadis itu tahu bahwa teman kerjanya membutuhkan banyak uang untuk membiayai pengobatan Ibunya serta membiayai sekolah keempat adiknya.

Untuk tawaran menjadi Asisten seorang artis, jelas Talia tidak akan menolaknya. Walau saat itu Fera juga tidak bisa memberikan gaji yang banyak, tetapi Talia tetap bersyukur karena pekerjaan yang diberikan Fera tidaklah sulit.

"Kalau gue nggak lagi pengen sendiri juga nggak akan kunci pintu kok. Gue nggak lupa, tapi gue lagi males aja, Tal. Gue tuh lagi asyik baca novel 'Panah Asrama Tuan Muda' ceritanya seru banget. Gue bahkan mengkhayal punya suami kayak Tuan Muda Zio," ujar Fera panjang lebar.

"Lo nggak bisa seenaknya bilang males, ini itu hari pertama syuting sinetron. Bisa dicap gak profesional kalau lo sampe gak ikut syuting di hari pertama," omel Talia pada majikan sekaligus sahabatnya. "Lagian apa serunya novel kayak gitu? Inget Fer, novel itu cuma bikinan manusia. Nggak bakal ada cowok sesempurna Tuan Zio-lo itu."

Mendengar ucapan Talia, Fera hanya bisa memanyunkan bibirnya. Talia menarik tangan Fera untuk segera bersiap-siap, ia tidak ingin Fera sampai terlambat ke tempat syuting.

Fera menghela napas panjang, sebelum akhirnya bangkit dari ranjangnya. Ia tidak akan bisa melawan Talia. Sebenarnya yang membuat Fera malas untuk syuting karena lawan mainnya ada artis senior yang tidak suka padanya, merasa tersaingi dengannya. Padahal ia tidak pernah melakukan apapun yang bisa merugikan artis itu.

Sebenernya Wenda–artis senior yang tidak suka dengan Fera, bukan lawan main Fera. Karena lawan main Fera berhalangan hadir, jadi sutradara malah menggantikannya dengan Wenda. Sedangkan Fera sudah tanda tangan kontrak, tidak mungkin ia membatalkannya begitu saja hanya karena tidak ingin syuting dengan Wenda.

***

Fera tidak perlu waktu lama untuk bersiap-siap, ia sudah siap untuk pergi syuting walaupun dengan wajah ditekuk.

"Fer, nanti biar gue yang nyupirin ya. Pak Dodi lagi izin nggak masuk soalnya," ucap Talia memberitahu Fera saat mereka sudah keluar rumah Fera.

"Terserah lo aja, Tal," jawab Fera tanpa minat. Fera malah asyik membaca novel online kesukaannya. Talia langsung mengeluarkan mobil Fera dari garasi.

Fera membuka pintu, langsung masuk ke mobilnya. Saat Talia hendak mengemudikan mobil, ponsel Talia tiba-tiba berbunyi. Talia ingin mengabaikannya. Namun, Fera berkata, "Angkat aja sebentar, nggak akan telat kok."

Talia akhirnya mengangkat telponnya, ternyata pengasuh anaknya yang menelpon mengabarkan anaknya kejang-kejang di sekolah padahal tadi saat berangkat baik-baik saja.

Fera tidak menguping pembicaraan Asistennya, tetapi ia bisa melihat raut wajah khawatir sang asisten. "Kenapa?"

"Clara– anak gue kejang-kejang di sekolah, tadi pengasuhnya yang ngabarin. Sekarang mereka udah perjalanan ke rumah sakit," jawab Talia dengan terisak. Fera langsung memeluk sahabatnya. "Lo yang tenang, jangan panik. Gue tau lo pasti khawatir banget sama anak lo, dari pada panik mending sekarang kita susulin ke rumah sakit. Biar gue yang nyetir."

"Terus lo gimana syutingnya, Fer?" ucap Talia tidak enak, jika karenanya Fera sampai dicap tidak profesional.

"Gue bakal bilang ke Kak Prita, bahwa gue bakal telat sampai ke lokasi syutingnya." Prita sendiri adalah Manager Fera.

"Lo tetap ke lokasi syutingnya, biar gue aja yang ke rumah sakit naik taksi aja. Gue nggak mau lo sampe kena masalah, karena masalah keluarga gue. Apalagi Wenda pasti seneng liat lo nggak profesional."

Fera menatap tajam Talia. "Gue nggak peduli apa kata orang Tal. Gue cuma mau pastiin lo sampai ke rumah sakit dengan selamat, lo lagi panik. Lo butuh gue. Kalaupun gue harus dipecat atau kena denda karena keterlambatan gue, gue nggak masalah."

Percuma berdebat dengan Fera, Talia hanya bisa mengangguk setuju untuk saat ini. Jika urusan keluarga, Fera tidak akan memperdulikan apapun termasuk pekerjaannya. Sekalipun yang dimaksud adalah keluarga Talia, karena Fera memang sebatang kara.

Fera dan Talia akhirnya bertukar tempat, Fera yang akhirnya mengemudikan mobilnya dengan cepat. Sedangkan Talia sedang berusaha menghubungi sang suami, wanita itu tidak tahu suaminya sudah atau belum sampai di rumah sakit.

***

Setelah mengantarkan Talia ke rumah sakit dengan selamat, serta menunggu kondisi Clara– putri Talia lebih baik. Fera baru berangkat ke lokasi syuting, ia mengemudikan mobilnya dengan pelan karena ia merasa tidak perlu terburu-buru ke lokasi syuting. Tadi ia sudah meminta izin pada Prita, bahwa dirinya akan datang sedikit terlambat.

Ditengah perjalanan, Fera merasa mobilnya tidak enak. Ia bingung, kenapa mobilnya tiba-tiba bermasalah padahal tadi mobilnya baik-baik saja saat ia kendarai ke rumah sakit.

Saat hendak mengerem, ternyata mobilnya tidak dapat di rem padahal jalanan sedang ramai. Gadis itu langsung panik, hingga tanpa sadar menepikan mobilnya dan berakhir menabrak pohon. Lalu Fera tidak sadarkan diri.

"Jika memang sudah saatnya aku bertemu dengan Mama, Papa. Aku siap, tuhan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antagonis Kesayangan Tuan Muda   Chapter 6. Ferandha Benar-benar Sudah Tiada

    "Kita keliling rumahnya besok aja, saya mendadak enggak enak badan jadi ingin istirahat," ucap Zio sebelum berlalu dari hadapan semua orang.Mendengar hal itu, Fera jadi khawatir pada Zio. Gadis itu jadi bertanya-tanya, kenapa Zio bisa tiba-tiba enggak enak badan? Apakah setelah mendengar kabar duka itu, pria itu jadi sedih dan langsung tidak enak badan.Fera memilih kembali ke kamar saja, begitu juga yang lain. Hima, Franda dan Rion malam ini memang menginap di kediaman Syailendra.Di dalam kamarnya Fera termenung, ia pun tidak baik-baik saja setelah mendengar bahwa gadis yang memiliki nama yang persis seperti namanya telah meninggal dunia karena kecelakaan.Ratih masuk ke kamar Fera, Fera sengaja tidak menutup pintu karena tahu Ratih akan segera datang ke kamarnya."Mana perekam suaranya?" Ratih langsung memberikan apa yang Fera minta."Tadi aman 'kan saat kamu taruh dan ambil perekam suaranya nggak ada curiga?" tanya Fera.

  • Antagonis Kesayangan Tuan Muda   Chapter 5. Drama Adeeva

    "Ayo kita makan, ngobrolnya nanti aja," titah Arlen selaku tertua di antara mereka.Adeeva kebetulan duduk di samping kanan Fera, tiba-tiba menyenggol Fera yang sedang mengambil mangkuk berisi kuah panas. Kuah panas itu malah tumpah di baju Adeeva."Aduh panas!" teriak Adeeva langsung bangkit dari kursinya. Melihat baju Adeeva terkena kuah panas, jelas semua orang jadi panik. Tak terkecuali Zio, tetapi Darren yang terlihat lebih panik. "Pelayan ambilkan kain cepet!"Pelayan yang mendengar perintah dari Tuan Mudanya, langsung bergegas mengambilkannya dan memberikannya pada Darren. Darren langsung membantu membersihkan baju Adeeva yang terkena kuah panas. "Ayo kita ke rumah sakit," ajak Darren."Enggak usah, aku udah gak papa. Paling melepuh dikit doang kok," balas Adeeva. Dengan emosi memuncak, Darren menghampiri Fera. Pria itu menampar Fera dengan keras."Darren!" teriak Metha, Arlen bahkan Zio.Fera yang berada di tubuh Zella, memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Darren. Pad

  • Antagonis Kesayangan Tuan Muda   Chapter 4. Bertemu Dengan Zella

    "Ada yang perlu saya bantu, Nona? Jika tidak, saya akan segera pergi dari kamar Nona." Ratih berkata setelah bangkit dari ranjang Zella."Tunggu, sebentar." Fera bingung, cara ia mengatakannya. Tadi ia sudah menolak makanannya, sekarang ia lapar apalagi makanannya terlihat sangat menggiurkan.Ratih menurut, ia menunggu perintah dari sang Nona. "Bawa sini makanannya, biar saya makan saja. Obatnya sekalian."Ratih tersenyum kecil, ia langsung mengambilkan nampan berisi makanan serta obatnya. Nampan tadi ditaruh di nakas oleh Ratih. "Nona makanannya sudah dingin, bagaimana jika makanannya saya ambilkan yang baru saja.""Tidak usah, saya mau itu saja." Mau tidak mau, Ratih memberikannya makannya. Sepertinya mendengar jawaban dari Ratih, membuat tenaganya terkuras habis. Hingga membuat Fera kelaparan.***Seorang gadis cantik sedang berada di sebuah taman yang sangat indah, ia melihat ke sekeliling untuk mengagumi pemandangan yang ada di hadapannya."Indah sekali, sebenarnya aku ini sedang

  • Antagonis Kesayangan Tuan Muda   Chapter 3. Orang Kepercayaan Zella

    Fera kini hanya bisa meratapi nasibnya, semua yang terjadi tidak dapat dipercaya oleh akal pikirannya. Bagaimana tidak, ia kecelakaan dikira tidak akan meninggal dunia menyusul kedua orang tuanya. Akan tetapi, dirinya malah masuk ke dalam novel.Banyak pertanyaan dibenak Fera, mengenai alasan terjadi transmigrasi pada dirinya. Apa yang harus ia lakukan setelah menjadi Zella? Sedangkan Fera tahu, di dalam novel Zella adalah tokoh antagonis yang dibenci oleh semua orang termasuk keluarganya sendiri. Terlihat dari sikap Darren dan Shaka tidak senang atas sadarnya Zella.Sebelum memutuskan untuk melakukan apa, Fera ingin mencari tahu apa yang terjadi pada Zella sampai gadis itu tidak sadarkan diri. Hingga saat membuka mata, jiwa orang lain yang ada di dalam tubuh Zella. Orang itu adalah Fera.Terdengar suara ketukan berulang, membuat Fera yang sedang berpikir mendadak hilang konsentrasinya."Masuk," ujar Fera malas.Masuklah seorang gadis muda dengan pakaian pelayan sambil membawa makana

  • Antagonis Kesayangan Tuan Muda   Chapter 2. Grizella Lucelia Syailendra

    Terdengar suara berisik, hingga membangunkan seorang gadis cantik. Dengan perlahan ia membuka matanya, gadis itu terkejut melihat sekelilingnya. Dirinya merasa begitu asing dengan tempatnya berada, bahkan dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya."Kenapa aku di sini? Bukannya aku sudah mati?" tanya gadis itu dari dalam hati."Nona Grizella sudah bangun? Nona butuh sesuatu?" tanya para perempuan berseragam seperti pelayan, sepertinya mereka ada pelayan. Beberapa pelayan tampak pergi dari ruangan itu. Gadis itu tampak memegang kepalanya yang mendadak terasa pusing, ia masih sangat bingung dengan apa yang terjadi padanya."Akhirnya lo bangun juga, Zella. Gue kira lo nggak akan bangun lagi, mungkin kita semua akan tenang jika hal itu terjadi," kata seorang pria yang baru masuk ke dalam ruangan itu di susul oleh beberapa orang."Zella? Siapa Zella, aku Fera," ujar gadis itu berbicara di dalam hati."Jaga bicara kamu, Darren! Kamu nggak seharusnya berbicara seperti itu sama adik kita,

  • Antagonis Kesayangan Tuan Muda   Chapter 1. Feranda Carissa

    Seorang gadis cantik, terlihat tengah mengkhayal di dalam kamarnya. Sampai suara ketukan pintu terdengar begitu nyaring, hingga khayalannya langsung buyar."Ganggu orang lagi mengkhayal aja," keluh gadis itu yang tidak lain adalah Ferandha Carissa. Ferandha atau kerap disapa Fera adalah seorang artis papan atas."Fera bangun! Enggak liat udah jam berapa?" Talia– Asisten Fera berteriak sambil terus mengetuk pintu kamar majikannya."Apa sih Tal! Gue udah bangun kali, lo lagi ngapain sih ketuk-ketuk gitu. Padahal lo bisa tinggal masuk ke kamar gue kayak biasanya, toh gue nggak kunci kamar," balasnya dengan jengah."Lupa gue, Fer. Gue kira kamarnya lo kunci kayak kemarin. Lo juga sih, Fer. Enggak liat jam apa gimana? Sekarang udah pukul berapa, lo itu harus syuting tau nggak sih. Kalau udah bangun, harusnya lo udah siap di depan tinggal berangkat. Enggak perlu gue teriak-teriak panggilin lo. Atau lo lupa ada syuting hari ini?"Talia memang Asisten Fera, tetapi Fera tidak menganggapnya seb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status