เข้าสู่ระบบYudha diam saja, tidak menjawab pertanyaan Reno."Yud, jangan diem aja. Lo jawab pertanyaan Reno," paksa Tio."Tuan, sebaiknya Anda segera menyelesaikan pembayaran. Jika sudah, Anda bisa mengobrol sepuas Anda," tagih Pelayan itu."Kamu bisa sabar nggak sih! Saya pasti akan bayar kok!" bentak Yudha. Bukan hanya pelayan yang kaget mendengar bentakan Yudha, sahabat-sahabat Yudha pun juga ikut kaget."Gimana mau bayar, orang uangnya aja nggak ada. Kalian pinjemin dulu aja uang ke Yudha, atau kalian pilih patungan. Dari pada kalian semua masuk penjara, karena nggak bisa bayar tagihannya. Aku sih nggak ikut makan, jadi nggak bakalan di penjara," ujar Zella dengan begitu santainya.Sahabat-sahabat Yudha jelas langsung ilfe pada Yudha, mereka selama ini percaya bahwa Yudha orang kaya. Padahal kenyataannya bukan seperti itu."Sayang, kamu jangan nakut-nakutin dong. Gimana kalau kamu bantuin bayar dulu, kamu 'kan bisa telpon saudara kamu. Mereka 'kan kaya pasti mau bayarin dulu tagihannya, bagi
Bukan langsung makan, mereka malah menatap semua makanannya dengan tatapan kelaparan. "Ayo di makan, jangan bengong aja," ajak Yudha pada sahabat-sahabatnya. Semuanya makan dengan lahap kecuali Zella, ia hanya memperhatikan mereka yang makan dengan lahap seperti orang yang tidak pernah makan. "Kamu nggak makan, Zella?" tanya Kartika sok perhatian. Padahal gadis itu tadi habis suap-suapan dengan pacar Zella, mereka melakukan itu dengan dalih saling mencoba makanan masing-masing. Padahal kalau mau mencoba tidak perlu suap-suapan segala. "Enggak, aku tiba-tiba nggak nafsu makan," balas Zella. Padahal ia sengaja tidak ingin makan, walaupun sudah pesan. Agar saat dipaksa membayar, Zella berdalih ia tidak makan jadi tidak mau membayar. "Kalau gitu, makanan kamu buat aku ya," kata Kartika tidak tahu malu. "Iya, kamu makan aja." Kartika serius dengan ucapannya, memakan makanan milik Zella. Gadis itu tidak tahu saja, bahwa harga makanan yang Zella pesan sangatlah mahal. Mungkin jika tahu,
Baru saja Zella memejamkan mata, tetapi ponselnya malah berbunyi hingga membuatnya membuka mata kembali. Zella ingin menghiraukan nada dering ponselnya yang terus berbunyi tanpa henti, hingga ia akhirnya mengambil ponselnya. Gadis itu melihat siapakah yang menghubungi malam-malam.Terdapat nama Yudha di ponselnya, ternyata pria yang menjadi pacar Zella-lah yang menghubungi gadis itu saat hari sudah larut malam. Zella malas sekali mengangkat telponnya, tetapi ia teringat ingin memberikan pelajaran pada pria itu."Halo ini siapa ya?" tanya Zella sengaja, Zella memang tahu siapa Yudha. Namun, ia tidak tahu bagaimana rupanya karena memang belum sempat mencari tahu."Sayang, aku dengar kamu udah sadar makanya aku telpon kamu. Aku seneng banget akhirnya kamu sadar juga, kamu enggak kangen sama aku?" Mendengar suara Yudha yang dibuat sok lembut, Zella mendadak mual rasanya ingin muntah."Kamu siapa ya? Kok berani-beraninya manggil saya sayang." "Ini aku pacar kamu, masa kamu lupa saya aku s
Zio memang mencintai seorang gadis dalam diam, gadis yang beruntung itu adalah Ferandha Carissa. Zio mencintainya sebelum Ferandha menjadi artis terkenal, tetapi pria itu tidak berani bertemu maupun mendekati Fera padahal Zio bukanlah orang sembarangan. Zio adalah seorang Tuan Muda Syailendra, jelas hartanya sangat banyak.Namun, bukan insecure alasan Zio tidak berani mendekati Fera. Zio tau ia sudah dijodohkan dengan Adeeva, saat dirinya berniat mendekati Fera. Perjodohan yang diatur oleh kedua orang tuanya, tentu tidak akan mudah ditentang. Apalagi perjodohan yang ia jalani adalah perjodohan bisnis.Zio tidak ingin gegabah mendekati Fera, apalagi ia tahu dirinya sudah dijodohkan dengan gadis lain. Pria itu tidak ingin gadis yang ia cintai merasa ditinggalkan, jika saat itu ia benar-benar mendekati Fera dan berhasil mendapatkan hati Fera. Sedangkan mereka tidak dapat bersatu karena terhalang restu.Padahal belum tentu saat Zio mendekati Fera, gadis itu bisa luluh dan menerima cintany
"Kalau itu keputusan lo, gue nggak bisa mencegahnya," kata Talia. Prita melihat jam yang melingkar ditangannya. "Gue ada kerjaan, Tal. Lo mau pulang kapan? Gue pergi sekarang soalnya.""Gue mau di sini dulu, Prit. Lo kalau mau pergi-pergi aja," ujar Talia dengan santai."Lo serius? Emang lo enggak ke rumah sakit, bukannya anak lo masuk rumah sakit ya kemarin?""Gue serius, iya Clara memang masih di rumah sakit tapikan ada Papanya. Suami gue udah kasih waktu gue buat berduka, jadi mungkin besok gue baru balik ke rumah.""Yaudah, gue pergi dulu ya. Lo ati-ati ya di sini, kalau ada apa-apa lo bisa hubungi gue," pamit Prita sebelum berlalu dari hadapan Talia.Setelah kepergian Prita, suasana di rumah Fera terasa begitu sepi karena memang hanya Talia di sana."Rumah ini bakal tetap jadi rumah kenangan kita, Fer. Gue enggak akan biarin rumah ini dijual atau diambil alih oleh orang yang enggak bertanggung jawab, karena gue tau selain banyak kenangannya. Rumah ini adalah rumah peninggalan ora
Zella merasa sudah waktunya ia pergi dari pemakaman, sekarang bukan saatnya ia bersedih-sedih lagi. Mau tidak mau gadis itu harus menerima kenyataan."Selamat tinggal, Fera," pamitnya sebelum pergi.Setelah memastikan tidak ada orang sama sekali, Zio berjalan mendekati makam Fera. Pria itu menangis tersedu-sedu. "Kita bahkan belum pernah bicara berdua lagi Fer, setelah waktu, tapi sekarang kamu malah pergi dari hidupku. Kenapa kamu harus pergi sekarang? Padahal aku mempunyai rencana untuk menemui kamu sebentar lagi, setelah sekian lama aku baru berani bertemu kamu. Ternyata semua sudah terlambat."Zio yang mempunyai sifat kaku dan dingin, ternyata ia bisa terlihat sangat hancur di depan makam Fera. Padahal Zio dan Fera tidak memiliki hubungan apapun.***Zella kembali ke mobil, di sana sudah ada Pak Jono yang sejak tadi menunggunya. "Pak Jono antarkan saya ke suatu tempat," pintanya saat sudah masuk mobil."Baik, Nona.""Ingat, jangan beritahu siapapun kalau saya ke makam lalu ke te
Fera sudah memutuskan sesuatu, demi menuntaskan keraguannya. Ia ingin pergi ke pemakaman, melihat sendiri tubuhnya akan di makamkan. Menurut informasi, besok pagi baru di makamkan. "Sekarang aku mau tidur, besok pagi aku harus pergi ke makam," katanya dengan bersemangat. Fera mencoba memejamkan ma
"Kita keliling rumahnya besok aja, saya mendadak enggak enak badan jadi ingin istirahat," ucap Zio sebelum berlalu dari hadapan semua orang.Mendengar hal itu, Fera jadi khawatir pada Zio. Gadis itu jadi bertanya-tanya, kenapa Zio bisa tiba-tiba enggak enak badan? Apakah setelah mendenga
"Ayo kita makan, ngobrolnya nanti aja," titah Arlen selaku tertua di antara mereka.Adeeva kebetulan duduk di samping kanan Fera, tiba-tiba menyenggol Fera yang sedang mengambil mangkuk berisi kuah panas. Kuah panas itu malah tumpah di baju Adeeva."Aduh panas!" teriak Adeeva langsung bangkit dari
"Ada yang perlu saya bantu, Nona? Jika tidak, saya akan segera pergi dari kamar Nona." Ratih berkata setelah bangkit dari ranjang Zella."Tunggu, sebentar." Fera bingung, cara ia mengatakannya. Tadi ia sudah menolak makanannya, sekarang ia lapar apalagi makanannya terlihat sangat menggiurkan.Ratih







