Se connecter"Ada yang perlu saya bantu, Nona? Jika tidak, saya akan segera pergi dari kamar Nona." Ratih berkata setelah bangkit dari ranjang Zella.
"Tunggu, sebentar." Fera bingung, cara ia mengatakannya. Tadi ia sudah menolak makanannya, sekarang ia lapar apalagi makanannya terlihat sangat menggiurkan. Ratih menurut, ia menunggu perintah dari sang Nona. "Bawa sini makanannya, biar saya makan saja. Obatnya sekalian." Ratih tersenyum kecil, ia langsung mengambilkan nampan berisi makanan serta obatnya. Nampan tadi ditaruh di nakas oleh Ratih. "Nona makanannya sudah dingin, bagaimana jika makanannya saya ambilkan yang baru saja." "Tidak usah, saya mau itu saja." Mau tidak mau, Ratih memberikannya makannya. Sepertinya mendengar jawaban dari Ratih, membuat tenaganya terkuras habis. Hingga membuat Fera kelaparan. *** Seorang gadis cantik sedang berada di sebuah taman yang sangat indah, ia melihat ke sekeliling untuk mengagumi pemandangan yang ada di hadapannya. "Indah sekali, sebenarnya aku ini sedang di mana?" "Yang jelas kita tidak sedang berada di dunia." Hingga tiba-tiba muncul seorang gadis lain yang lebih muda, dan menggunakan baju putih-putih seperti gadis itu. "Hai Kak," sapa gadis yang lebih muda "Kamu nyapa aku?" tanya gadis yang lebih tua. Gadis yang lebih muda itu tersenyum lalu mengangguk. "Tapi aku nggak kenal sama kamu." "Aku kenal sama Kak Fera kok, aku Zella. Grizella Lucelia Syailendra," ujar gadis yang mengaku bernama Zella itu. Ternyata dua gadis berbeda usia itu adalah Zella dan Fera. "Akhirnya kita bertemu Zella, kamu kembalilah ke tubuhmu. Biar aku bisa kembali ke tubuhku lagi, aku nggak bisa terus menerus berada di tubuh yang bukan milikku," balas Fera dengan wajah berbinar. "Aku nggak mau kembali, Kak. Aku mau tetap di sini, aku udah nggak mau hidup di dunia. Semua orang nggak ada yang sayang sama aku." Zella menangis, ia sudah kekeh tidak ingin kembali ke dunia yang di dalamnya tidak ada yang perduli padanya. Bahkan saat kematiannya pun, bukannya sedih mereka malah bahagia seperti sudah terbebas dari beban. "Kamu salah, keluarga kamu apalagi Mama kamu itu sangat sayang sama kamu, Zella," balas Fera tidak terima, karena ia sendiri bisa merasakan kasih sayang dari Nyonya Metha. "Mama memang sayang sama aku, aku tau kok Kak. Tapi Mama nggak pernah percaya sama aku," ujar Zella mulai terisak. "Dalam hal apa?" "Mama nggak pernah percaya sama aku, kalau Kak Adeeva itu bukan perempuan baik. Kak Adeeva itu licik dan jahat, Bang Zio nggak pantas mempunyai pasangan seperti Kak Adeeva. Bang Zio pantas mendapatkan pasangan yang baik!" teriaknya. "Kamu mungkin hanya salah paham, Zella. Adeeva nggak seburuk itu kok." "Memang semua orang nggak ada yang percaya sama aku! Termasuk Kak Fera juga nggak percaya sama ucapanku, lalu buat apa aku hidup. Bukankah jika aku mati, semua orang akan bahagia apalagi Kak Adeeva." Sekarang Fera bingung harus percaya pada Zella, atau percaya dengan apa yang ia baca. Sampai akhirnya ia berkata. "Aku percaya sama kamu kok. Jadi kamu kembali ya, jangan biarkan orang yang membencimu bahagia atas kematianmu, Zell." "Aku nggak mau kembali, Kak. Tolong jaga tubuhku, aku percaya sama Kak Fera. Kak Fera harus berhati-hati sama Kak Adeeva, karena Kak Adeeva memang terlihat baik padahal sangat licik dan suka playing victim," kata Zella sebelum menghilang dari hadapan Fera secara tiba-tiba. "Zella!" teriak Fera memanggil Zella, tetapi gadis itu tidak lagi muncul di hadapan Fera. "Zella!" teriak Fera keras. Nafas Fera terengah-engah, ia baru saja membuka matanya. Ternyata tadi dirinya bertemu dengan Zella di dalam mimpi, tetapi menurut Fera terasa begitu nyata. Fera mengatur nafasnya perlahan, baru ia mengambil minumnya yang ada di nakas. Ucapan Zella tadi terus terngiang-giang di telinga Fera, hingga membuat gadis itu penasaran dengan kebenaran soal Adeeva. Benarkah seperti yang Zella katakan, atau ternyata selama ini Zella yang salah karena terlalu membenci Adeeva tanpa sebab. Fera jelas bisa menilai jika kedua Kakak Zella memang terang-terangan tidak menyukai Zella, tetapi untuk Tuan Muda Zio— Kakak pertama Zella sikapnya masih abu-abu sekali. Fera bertekad untuk membuat semua orang menyayangi Zella, mungkin setelah semua orang menyayangi gadis itu. Zella bisa berubah pikiran dan mau kembali ke dunia, sedangkan Fera sendiri bisa kembali ke tubuhnya sendiri. "Aku berjanji akan membuat semua orang menyayangimu Zella, kamu akan menjadi antagonis yang disayangi. Bahkan mereka tidak akan membiarkanmu pergi dari hidup mereka," janji Fera pada Zella maupun dirinya sendiri. Terdengar suara ketukan, Fera menduga yang mengetuk pintu adalah Ratih. "Masuk aja, Ratih." "Nona Muda, Anda dipanggil oleh Tuan Arlen untuk ikut makan malam bersama," kata Ratih. Benar, yang mengetuk pintu memang Ratih. Dengan malas, Fera bangkit dari ranjangnya. Untung tadi dia sudah mandi, hingga membuatnya berani keluar kamar. *** Fera ke ruang makan di temani oleh Ratih, sebagai anggota keluarga yang baru. Tentu Fera tidak mengetahui letak ruang makannya. "Zella sayang, sini duduk dekat Mama," pinta Metha. Fera memperhatikan semua orang yang tengah berada di meja makan, ada beberapa orang yang tidak ia kenal. "Malah ngelamun lagi, lo mau duduk apa enggak? Kalau nggak mau, nggak usah duduk. Enggak usah ikut makan malam sekalian," ketus Darren. Dengan ragu-ragu, Fera berjalan mendekati meja makan. Kebetulan kursi di samping Metha kosong, mau tidak mau Fera akhirnya duduk di sana. "Hai Zella, gimana kondisi kamu sekarang?" tanya seorang gadis yang tidak dikenali oleh Fera. Fera diam saja, karena ia tidak mengenal gadis itu. Hingga Metha memperkenalkannya. "Zella, kenalin ini Adeeva calon istri Abang kamu Zio. Yang berarti calon Kakak ipar kamu. Sedangkan yang disebelahnya itu Rion, Hima sama Franda, mereka bertiga itu keponakan Papa. Jadi mereka adalah sepupu kamu." "Hai semua, salam kenal ya. Maaf, aku amnesia. Jadi enggak ingat sama kalian semua," sapa Fera dengan tersenyum manis. Semua orang yang berada di meja makan jelas terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Fera yang dikira Zella, karena Zella biasanya tidak akan bersikap baik pada mereka. "Cih paling juga cuma pura-pura baik doang, nanti juga balik lagi ke setelannya," gumam Hima pelan, tetapi masih terdengar di telinga Fera. Hima terlihat jelas tidak menyukai Zella. "Hima jaga bicara kamu, jangan sampai Om dan Tante dengar ucapan kamu," tegur Rion pada sang adik. Hima memang adik kandung Rion, Rion sendiri adalah sahabat Zio dari kecil. Bahkan sekarang Rion bekerja sebagai asisten pribadi Zio, padahal jika mau ia bisa menjadi direktur di perusahaan keluarganya sendiri. Fera diam-diam memperhatikan gadis yang bernama Adeeva, menurutnya Adeeva tidak sepolos yang terlihat. Tidak seperti Franda, apa mungkin ucapan Zella itu benar. Adeeva bermuka dua dan playing victim.Yudha diam saja, tidak menjawab pertanyaan Reno."Yud, jangan diem aja. Lo jawab pertanyaan Reno," paksa Tio."Tuan, sebaiknya Anda segera menyelesaikan pembayaran. Jika sudah, Anda bisa mengobrol sepuas Anda," tagih Pelayan itu."Kamu bisa sabar nggak sih! Saya pasti akan bayar kok!" bentak Yudha. Bukan hanya pelayan yang kaget mendengar bentakan Yudha, sahabat-sahabat Yudha pun juga ikut kaget."Gimana mau bayar, orang uangnya aja nggak ada. Kalian pinjemin dulu aja uang ke Yudha, atau kalian pilih patungan. Dari pada kalian semua masuk penjara, karena nggak bisa bayar tagihannya. Aku sih nggak ikut makan, jadi nggak bakalan di penjara," ujar Zella dengan begitu santainya.Sahabat-sahabat Yudha jelas langsung ilfe pada Yudha, mereka selama ini percaya bahwa Yudha orang kaya. Padahal kenyataannya bukan seperti itu."Sayang, kamu jangan nakut-nakutin dong. Gimana kalau kamu bantuin bayar dulu, kamu 'kan bisa telpon saudara kamu. Mereka 'kan kaya pasti mau bayarin dulu tagihannya, bagi
Bukan langsung makan, mereka malah menatap semua makanannya dengan tatapan kelaparan. "Ayo di makan, jangan bengong aja," ajak Yudha pada sahabat-sahabatnya. Semuanya makan dengan lahap kecuali Zella, ia hanya memperhatikan mereka yang makan dengan lahap seperti orang yang tidak pernah makan. "Kamu nggak makan, Zella?" tanya Kartika sok perhatian. Padahal gadis itu tadi habis suap-suapan dengan pacar Zella, mereka melakukan itu dengan dalih saling mencoba makanan masing-masing. Padahal kalau mau mencoba tidak perlu suap-suapan segala. "Enggak, aku tiba-tiba nggak nafsu makan," balas Zella. Padahal ia sengaja tidak ingin makan, walaupun sudah pesan. Agar saat dipaksa membayar, Zella berdalih ia tidak makan jadi tidak mau membayar. "Kalau gitu, makanan kamu buat aku ya," kata Kartika tidak tahu malu. "Iya, kamu makan aja." Kartika serius dengan ucapannya, memakan makanan milik Zella. Gadis itu tidak tahu saja, bahwa harga makanan yang Zella pesan sangatlah mahal. Mungkin jika tahu,
Baru saja Zella memejamkan mata, tetapi ponselnya malah berbunyi hingga membuatnya membuka mata kembali. Zella ingin menghiraukan nada dering ponselnya yang terus berbunyi tanpa henti, hingga ia akhirnya mengambil ponselnya. Gadis itu melihat siapakah yang menghubungi malam-malam.Terdapat nama Yudha di ponselnya, ternyata pria yang menjadi pacar Zella-lah yang menghubungi gadis itu saat hari sudah larut malam. Zella malas sekali mengangkat telponnya, tetapi ia teringat ingin memberikan pelajaran pada pria itu."Halo ini siapa ya?" tanya Zella sengaja, Zella memang tahu siapa Yudha. Namun, ia tidak tahu bagaimana rupanya karena memang belum sempat mencari tahu."Sayang, aku dengar kamu udah sadar makanya aku telpon kamu. Aku seneng banget akhirnya kamu sadar juga, kamu enggak kangen sama aku?" Mendengar suara Yudha yang dibuat sok lembut, Zella mendadak mual rasanya ingin muntah."Kamu siapa ya? Kok berani-beraninya manggil saya sayang." "Ini aku pacar kamu, masa kamu lupa saya aku s
Zio memang mencintai seorang gadis dalam diam, gadis yang beruntung itu adalah Ferandha Carissa. Zio mencintainya sebelum Ferandha menjadi artis terkenal, tetapi pria itu tidak berani bertemu maupun mendekati Fera padahal Zio bukanlah orang sembarangan. Zio adalah seorang Tuan Muda Syailendra, jelas hartanya sangat banyak.Namun, bukan insecure alasan Zio tidak berani mendekati Fera. Zio tau ia sudah dijodohkan dengan Adeeva, saat dirinya berniat mendekati Fera. Perjodohan yang diatur oleh kedua orang tuanya, tentu tidak akan mudah ditentang. Apalagi perjodohan yang ia jalani adalah perjodohan bisnis.Zio tidak ingin gegabah mendekati Fera, apalagi ia tahu dirinya sudah dijodohkan dengan gadis lain. Pria itu tidak ingin gadis yang ia cintai merasa ditinggalkan, jika saat itu ia benar-benar mendekati Fera dan berhasil mendapatkan hati Fera. Sedangkan mereka tidak dapat bersatu karena terhalang restu.Padahal belum tentu saat Zio mendekati Fera, gadis itu bisa luluh dan menerima cintany
"Kalau itu keputusan lo, gue nggak bisa mencegahnya," kata Talia. Prita melihat jam yang melingkar ditangannya. "Gue ada kerjaan, Tal. Lo mau pulang kapan? Gue pergi sekarang soalnya.""Gue mau di sini dulu, Prit. Lo kalau mau pergi-pergi aja," ujar Talia dengan santai."Lo serius? Emang lo enggak ke rumah sakit, bukannya anak lo masuk rumah sakit ya kemarin?""Gue serius, iya Clara memang masih di rumah sakit tapikan ada Papanya. Suami gue udah kasih waktu gue buat berduka, jadi mungkin besok gue baru balik ke rumah.""Yaudah, gue pergi dulu ya. Lo ati-ati ya di sini, kalau ada apa-apa lo bisa hubungi gue," pamit Prita sebelum berlalu dari hadapan Talia.Setelah kepergian Prita, suasana di rumah Fera terasa begitu sepi karena memang hanya Talia di sana."Rumah ini bakal tetap jadi rumah kenangan kita, Fer. Gue enggak akan biarin rumah ini dijual atau diambil alih oleh orang yang enggak bertanggung jawab, karena gue tau selain banyak kenangannya. Rumah ini adalah rumah peninggalan ora
Zella merasa sudah waktunya ia pergi dari pemakaman, sekarang bukan saatnya ia bersedih-sedih lagi. Mau tidak mau gadis itu harus menerima kenyataan."Selamat tinggal, Fera," pamitnya sebelum pergi.Setelah memastikan tidak ada orang sama sekali, Zio berjalan mendekati makam Fera. Pria itu menangis tersedu-sedu. "Kita bahkan belum pernah bicara berdua lagi Fer, setelah waktu, tapi sekarang kamu malah pergi dari hidupku. Kenapa kamu harus pergi sekarang? Padahal aku mempunyai rencana untuk menemui kamu sebentar lagi, setelah sekian lama aku baru berani bertemu kamu. Ternyata semua sudah terlambat."Zio yang mempunyai sifat kaku dan dingin, ternyata ia bisa terlihat sangat hancur di depan makam Fera. Padahal Zio dan Fera tidak memiliki hubungan apapun.***Zella kembali ke mobil, di sana sudah ada Pak Jono yang sejak tadi menunggunya. "Pak Jono antarkan saya ke suatu tempat," pintanya saat sudah masuk mobil."Baik, Nona.""Ingat, jangan beritahu siapapun kalau saya ke makam lalu ke te
"Ayo kita makan, ngobrolnya nanti aja," titah Arlen selaku tertua di antara mereka.Adeeva kebetulan duduk di samping kanan Fera, tiba-tiba menyenggol Fera yang sedang mengambil mangkuk berisi kuah panas. Kuah panas itu malah tumpah di baju Adeeva."Aduh panas!" teriak Adeeva langsung bangkit dari
Fera kini hanya bisa meratapi nasibnya, semua yang terjadi tidak dapat dipercaya oleh akal pikirannya. Bagaimana tidak, ia kecelakaan dikira tidak akan meninggal dunia menyusul kedua orang tuanya. Akan tetapi, dirinya malah masuk ke dalam novel.Banyak pertanyaan dibenak Fera, mengenai alasan terja
Terdengar suara berisik, hingga membangunkan seorang gadis cantik. Dengan perlahan ia membuka matanya, gadis itu terkejut melihat sekelilingnya. Dirinya merasa begitu asing dengan tempatnya berada, bahkan dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya."Kenapa aku di sini? Bukannya aku sudah mati?" t
Seorang gadis cantik, terlihat tengah mengkhayal di dalam kamarnya. Sampai suara ketukan pintu terdengar begitu nyaring, hingga khayalannya langsung buyar."Ganggu orang lagi mengkhayal aja," keluh gadis itu yang tidak lain adalah Ferandha Carissa. Ferandha atau kerap disapa Fera adalah seorang art







