Share

Asih Saja Usaha

Penulis: Erna Azura
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-22 22:57:39

Sore menjelang malam di rumah utama keluarga Maverick, langit Jakarta mulai bergradasi jingga dan di ruang kerja pribadi Kenzo Maverick—CEO GZ Corp—aroma kopi hitam dan kayu tua berbaur dalam atmosfer yang elegan dan tenang. Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama saat pintu dibuka sedikit keras.

Cantik masuk tanpa salam, langsung menutup pintu di belakangnya.

Daddy Kenzo mendongak dari balik laptop. “Putri Daddy yang paling cantik, baru satu hari nanganin Horizon One, wajahnya tampak muram gini?”

“Don’t play nice, Daddy,” ujar Cantik tajam, menjatuhkan tablet ke meja kerja Kenzo. “Kenapa aku enggak dikasih tahu kalau dia yang jadi Vice Project Director dari LZ Corp?”

Daddy Kenzo menyandarkan punggung ke kursi, menautkan jari-jarinya di atas meja. Tatapannya tidak terkejut karena memang sudah tahu lebih dulu.

Beliau tampak tenang, seperti sudah menanti pertanyaan itu datang.

“Because I know you’d react like this.”

“Exactly!” Cantik membentak pelan. “Ini bukan sekadar proyek biasa. Ini kerja sama besar yang bawa nama perusahaan besar. Dan Daddy menaruh aku satu tim dengan orang yang—” Cantika kehilangan kata untuk mendeskripsikan Ezra.

“Yang kamu tolak seribu kali sejak usia sembilan tahun?” sela Kenzo ringan, tapi tepat sasaran.

Cantik terdiam sejenak, matanya menyipit. “Delapan puluh kali. Sekalian saja Daddy tambahkan ke laporan tahunan keluarga.”

Kenzo tertawa. “Sayang, om Nico yang minta Ezra terlibat atas permintaan tante Ayara yang ingin Ezra pulang … kata om Nico, hanya ini cara agar Ezra mau pulang.”

Cantik memutar mata. “Oh, great. Sekarang aku jadi pion reuni keluarga besar elite Indonesia.”

Daddy Kenzo berdiri, menghampiri putrinya. Tangannya menepuk bahu Cantik perlahan.

“Listen, Cantik. Ezra bukan anak kemarin sore. Dia lulusan terbaik dari Lausanne, dia punya pengalaman proyek multinasional dan dia bukan anak kecil lagi yang cuma bisanya ngeledekin kamu.”

Cantik menghela napas berat, lalu menjatuhkan diri di sofa kulit tua di tengah ruangan.

“Aku cuma enggak suka dikerjai kayak gini. Kayak semua orang tahu kecuali aku.” Bibir Cantika cemburu, kedua tangannya terlipat di depan dada.

“Karena kamu pasti lari saat tahu kalau Ezra adalah partner kamu,” ujar Kenzo lembut. “Dan kali ini kamu harus hadapi. Sebagai wakil GZ Corp. Sebagai profesional. Dan sebagai wanita dewasa yang katanya udah enggak baperan kaya dulu lagi.”

Cantik menyipitkan mata. “Pasti Daddy dan mommy Jill berkomplot, kan?”

Kenzo tersenyum. “Mommy kamu bahkan lebih bersemangat dari Daddy.”

Cantik meringis kesal. “Daddy… kalau Cantik resign dari proyek itu, Daddy tetap bangga sama aku, kan?”

Kenzo pura-pura berpikir. “Tergantung. Resign karena alasan profesional atau trauma masa kecil yang belum kelar?”

Cantik menghela napas, lalu berdiri.

“Aku enggak akan mundur. Tapi jangan salahkan aku kalau suatu hari proyek itu meledak.”

Kenzo menepuk bahunya sekali lagi. “Kalau sampai meledak pastikan kamu yang berdiri paling tinggi di reruntuhannya.”

Cantik tersenyum sinis. “Spoken like a true CEO.”

Lalu ia keluar ruangan, langkahnya lebih tenang—tapi pikirannya tidak.

Di kamarnya, Cantika menanggalkan pakaian sambil menatap cermin.

Benaknya terus berpikir tentang kembalinya Ezra yang sudah pasti bukan hanya untuk proyek ini.

Dan Daddy tahu itu.

Dan Mommy Jill tahu itu.

Dan mungkin bagian dari dirinya juga tahu. Tapi belum siap mengakuinya.

Cantika mengembuskan nafas gusar, dia membalikan badan lalu masuk ke kamar mandi, bersiap untuk makan malam.

***

Pagi hari di rumah utama keluarga Lazuardy terasa seperti satu episode sitkom, dengan interior modern klasik yang tidak pernah cukup tenang selama ada empat pria Lazuardy di dalamnya—apalagi jika salah satu dari mereka baru pulang dari luar negeri.

“EZRAAAA! Turun sekarang atau Mama naik dan gunting kartu kredit kamu!” Suara lantang Mama Ayara menggema dari dapur, diiringi aroma waffle dan kopi yang menguar dari balik meja island marmer.

Ezra muncul sepuluh detik kemudian, rambut masih sedikit berantakan, mengenakan kaos putih dan celana training. “Pagi, Mama. Mama terlihat … sangat bersemangat hari ini.”

Mama Ayara tersenyum lebar. “Tentu saja! Anakku yang sulung akhirnya kembali ke tanah air setelah empat tahun jadi warga kehormatan Swiss!”

Ezra terkekeh dan langsung mencium pipi ibunya. “I missed you too, Ma.”

Dari ujung meja makan, Rex menenggak susu langsung dari botol. “Iya iya, drama. Baru juga dua hari pulang udah kayak balik dari perang.”

Axel duduk di seberangnya, memutar sendok di dalam semangkuk sereal. “Eh, yang bikin heboh tuh bukan bang Ezra-nya. Tapi fakta bahwa bang Ezra akan satu proyek bareng si cantik.”

Ezra langsung menoleh tajam. “Dari mana kalian tahu?”

Rex mengangkat alis. “Please. Seluruh pengusaha di Jakarta dan satu kota juga udah tahu. Bahkan asisten rumah tangga kita bilang ‘Wah, akhirnya mas Ezra ketemu mbak Cantik lagi, semoga enggak berantem terus.’”

Ayara ikut tertawa. “Kamu harusnya lihat reaksi Cantik kalau tahu kamu yang jadi partnernya. Muka anak itu pasti berubah jadi firewall.”

Ezra menyandarkan diri di kursi sambil mengelus wajahnya. “Terima kasih untuk sarapan dan tekanan darah tinggi gratisnya.”

Papa Nico muncul dari balik koridor, mengenakan setelan jas abu muda, membawa tablet. Ia hanya melirik semua kekacauan itu sebentar sebelum duduk tenang di ujung meja.

“Jadi,” katanya sambil menyesap kopi, “how’s the first day? Berapa kali kalian nyindir satu sama lain?”

Ezra menyipit. “Tiga kali aku nyindir. Dua kali dia nyolot balik. Satu kali aku hampir kena tatapan laser yang bikin aku ngerasa kayak bocah lima tahun.”

Rex bersiul. “Cepet banget upgrade-nya. Dulu cuma dilempar es krim, sekarang dilempar ego.”

“Dan presentasi lo jelek, ya?” tanya Axel polos. “Soalnya Cantik Maverick itu jenius. Jadi pasti lo keliatan kayak anak magang.”

Ezra melotot. “Excuse me, gue lulusan terbaik dari Lausanne.”

“Dan lulusan terbaik di sini juga bisa salah nyebut regulasi cross-licensing jadi cross-dressing di depan tamu investor,” sahut Rex, membuat mama Ayara tertawa terpingkal.

Papa Nico tak bisa menahan senyum. “Kamu yang minta ambil proyek ini, Ezra. Jadi kamu yang harus bikin ini berhasil. Termasuk hubunganmu sama Cantik.”

Ezra mengangguk, meski dengan mulut mengunyah waffle. “I know. I’m ready.”

Rex menyeringai. “Ready to be rejected again?”

Axel menimpali, “Or ready to be ghosted for the 81st time?”

Ezra meletakkan garpu. “Kalian berdua lupa ya siapa yang paling berkuasa soal pembagian kamar, N*****x password, dan akses Wi-Fi rumah?”

Rex dan Axel langsung bungkam.

Ayara tersenyum penuh kebanggaan. “Aduh, senangnya lihat tiga anak Mama ngumpul lengkap begini. Kayak keluarga drama Korea, tapi versi lebih ganteng.”

Ezra menatap ibunya, lalu menoleh ke adik-adiknya. “Yah, kalau kita ini drama Korea, berarti kalian berdua adalah pemeran figuran yang dibunuh di episode satu.”

Rex dan Axel langsung lempar roti ke arah Ezra.

Dan tawa pun pecah di meja makan keluarga Lazuardy pagi itu.

***

Ezra melangkah ringan melewati lobby, dia melihat mobil Cantika sudah terparkir di sana jadi gadis itu pasti sudah datang.

Dari dulu Cantika selalu perfeksionis, dia tidak pernah terlambat.

Sampai di lantai tujuh belas, langkah Ezra berhenti tepat di sebrang ruangan Cantika yang dikelilingi dinding kaca.

Bibirnya tersenyum dan matanya menatap teduh gadis cantik yang belum pernah bisa dia lupakan sejak usia sembilan tahun.

“Pagi, Pak …,” sapa Andi sekretarisnya.

“Eh … Pagi, Ndi.” Ezra mengerjap, dia tampak terkejut.

“Mau sarapan sehat atau omelannya bu Cantika, Pak?” Andi berkelakar membuat Ezra terkekeh.

“Sarapan sehat dulu lah, menyiapkan mental untuk nanti siang,” balas Ezra sambil melanjutkan langkah menuju ruangannya diikuti Andi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Antara Ambisi dan Cinta   Tamat

    Pagi itu, sinar matahari jatuh lembut di halaman belakang rumah keluarga Lazuardi. Burung-burung kecil berkicau di pepohonan flamboyan, sementara Mama Ayara duduk di kursi rotan, menikmati teh melati sambil membaca undangan lelang di London. Udara sejuk selepas hujan semalam membuat segala hal terasa damai — hingga dering ponselnya memecah keheningan. Nama Niscala Ezra Lazuardi muncul di layar. Senyum tipis mengembang di bibir Ayara. “Akhirnya anak ini ingat menelepon mamanya,” gumam beliau gemas, lalu menekan tombol hijau. “Pagi, sayang. Kamu enggak kerja hari ini?” “Enggak, Ma. Aku di rumah sama Cantika.” Suara Ezra terdengar lebih lembut dari biasanya, nyaris seperti anak kecil yang ingin mengabarkan sesuatu. “Ada apa? Kok kedengarannya… bahagia banget?” tanya Ayara sambil meletakkan cangkir tehnya. Beberapa detik sunyi, hanya terdengar tarikan napas panjang di ujung telepon. Lalu suara Ezra pecah dengan nada b

  • Antara Ambisi dan Cinta   Bersama-Sama

    Weekend itu, suasana di rumah mereka terasa lebih hangat dan nyaman dari biasanya. Matahari menembus tirai tipis ruang tengah, memantul di ubin marmer yang hangat oleh cahaya. Televisi layar besar yang nyaris menutupi seluruh tembok itu menyala menyajikan film kartun, terdengar tawa Nayaka dan Selena yang berebut mainan, sementara aroma roti panggang memenuhi udara dari arah dapur. Di depan jendela besar kamar utama, Cantika menatap kosong kalender di tangannya— tanggal-tanggal yang ia lingkari dengan spidol merah tampak seperti tanda rahasia kecil yang hanya ia mengerti. Hari ini genap dua minggu sejak ia terlambat datang bulan. Hatinya berdebar tak karuan. Ia menatap bayangan sendiri di kaca—kulitnya sedikit pucat, matanya lebih lembut, dan ada sesuatu di wajahnya yang membuatnya sulit menolak kenyataan: mungkin, dirinya sedang mengandung lagi. Ia menatap langit di luar sana, menarik napas panjang. “Jangan dulu terlalu berharap,” gumamnya. Tapi bibirnya sudah melen

  • Antara Ambisi dan Cinta   Tempat Aman

    Udara pagi di rumah itu berembus tenang. Dari jendela kamar utama, sinar matahari menembus tirai tipis berwarna krem, menimpa wajah Elara yang duduk di sisi ranjang. Rambutnya dikepang longgar ke satu sisi, tubuhnya dibalut kaus longgar dan celana jogger, siap untuk sesi fisioterapi pertamanya sejak kembali ke rumah. Meskipun dia sudah ingat semua tapi harus dijalani demi agar suaminya masih percaya kalau dia hilang ingatan. Terkadang Elara berpikir apakah ini adil untuk Alvaro? Tapi Elara takut kalau ketika tahu dirinya sudah tidak hilang ingatan, Alvaro akan kembali seperti dulu. Di meja kecil di dekat tempat tidur, ada segelas air putih, setumpuk obat, dan bunga mawar putih dalam vas kaca. Aroma segarnya berpadu dengan bau antiseptik dari salep yang biasa dioleskan di pelipisnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. “Pagi, sayang.” Suara Alvaro datang dari ambang pintu. Pria itu baru selesai menelepon dokter untuk datang ke rumah.

  • Antara Ambisi dan Cinta   Membangun Masa Depan Bersama

    Pagi itu aroma kopi baru diseduh bercampur dengan suara renyah tawa si kembar yang bermain di karpet ruang tengah. Selena sedang asyik menepuk mainan berbentuk kupu-kupu, sementara Nayaka memegangi telapak tangan Ezra yang jongkok di depannya, mencoba belajar berdiri. “Ayo, Nak. Satu… dua….” Ezra menghitung sambil mengangkat sedikit tubuh kecil itu. “Kamu pasti bisa.” Nayaka terhuyung, hampir jatuh, tapi Ezra cepat menangkapnya dan mengangkatnya tinggi ke udara. Tawa Nayaka pecah, menggelegar seperti lonceng kecil di pagi hari. Cantika yang baru turun dari lantai dua berhenti di anak tangga terakhir, menatap pemandangan itu dengan dada hangat. Sudah lama sekali ia tidak melihat Ezra tertawa seperti itu—tawa tanpa beban, tawa seorang ayah yang benar-benar bahagia bermain bersama anaknya. Ezra berbalik dan melihat Cantika. Ia tersenyum, lalu mengangkat Nayaka. “Lihat, sayang. Dia udah bisa berdiri tanpa pegangan selama dua detik. Dua detik!”

  • Antara Ambisi dan Cinta   Baru Menyadari

    Pagi itu tampak cerah karena hujan semalam baru saja reda. Embun masih menempel di kaca jendela ruang rawat Elara. Udara rumah sakit yang biasanya terasa pengap, pagi itu justru berbau segar—mungkin karena raut lega di wajah perawat yang datang membawa kabar bahwa, “Ibu Elara sudah diizinkan pulang hari ini.” Elara menoleh cepat dari atas ranjangnya, mata bulatnya membesar, lalu perlahan tersenyum kecil—senyum yang bahkan membuat perawat itu ikut lega. “Benarkah?” suaranya lembut, nyaris tak percaya. “Benar, Bu. Dokter bilang kondisi Ibu stabil, dan masa pemulihan bisa dilanjutkan di rumah. Hanya saja, tetap perlu kontrol rutin.” Sebelum Elara sempat menanggapi, pintu kamar mandi terbuka. Alvaro muncul dengan tubuh segar dan pakaian baru membuatnya terlihat … tampan dan lebih muda. “Sayang, aku dengar kamu boleh pulang?” suaranya seperti anak kecil yang menemukan hadiah, terdengar bahagia. Elara menoleh, tersenyum ragu tapi manis. “Iya, barusan dikasih tahu.” Alvaro

  • Antara Ambisi dan Cinta   Percaya

    Langit sore mulai menguning saat langkah berat Alvaro bergema di lorong rumah sakit. Nafasnya memburu, dasinya miring, kemejanya tak lagi serapi biasanya. Seorang perawat di depan nurse station bahkan sempat memanggil untuk menginformasikan update kondisi Elara. “Pak Alvaro, tolong tenang dulu—” “Tadi siang istri saya kambuh, iya?!” Suara Alvaro meninggi, setengah panik. “Iya, Pak,” jawab perawat sopan, “Ibu Elara sempat mengalami serangan nyeri kepala akut, tapi sekarang sudah tertangani. Dokter bilang reaksi itu muncul karena—” Namun kalimat itu tak selesai. Alvaro sudah berlari menuju ruang VIP tempat Elara dirawat. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya. Tangan Alvaro bergetar saat memutar gagang pintu. Dan begitu pintu terbuka, seluruh nadinya seperti kehilangan tenaga. Elara tengah duduk bersandar di kepala ranjang yang dibuat tegak, masih pucat tapi tersenyum kecil ketika mengetahui kedatangannya. “Mas….” Suaranya lembut, menenangkan. “Aku baik-baik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status