Home / Romansa / Antara Ambisi dan Cinta / Proyek Kolaborasi

Share

Antara Ambisi dan Cinta
Antara Ambisi dan Cinta
Author: Erna Azura

Proyek Kolaborasi

Author: Erna Azura
last update Last Updated: 2025-09-22 22:57:07

Suara langkah sepatu heels Cantika menggema di koridor kaca lantai 17—lantai paling bergengsi di Gedung Centris Tower, tempat divisi proyek kolaborasi antara GZ Corp dan LZ Corp akan dibentuk.

Pagi ini Cleosana Cantika Maverick mengenakan setelan krem lembut, rambutnya disanggul rapi dan wajahnya seperti biasa selalu terlihat anggun dan cantik sesuai namanya.

Cantik sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa. Bukan lagi anak kecil yang kesal karena diejek “sok cantik” oleh bocah tengil bernama Ezra di sekolah dasar.

Dan tentu saja, bukan perempuan yang masih menanti siapa pun dari masa lalu.

“Ada meeting pagi ini, Mbak Cantik. Tim joint project sudah sampai di ruang rapat,” lapor Trina-sang sekretaris sambil menyodorkan tablet agenda.

Cantik mengangguk dan melangkah masuk ke ruang rapat besar yang memuat delapan kursi kulit dan dinding LCD lebar.

Matanya langsung tertumbuk pada satu sosok pria yang berdiri sambil berbincang dengan manajer dari timnya. Tinggi, gagah, jas abu senada dengan dasi navy, dan … senyumnya itu.

Senyum yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan Cantik.

“Ezra,” gumam Cantik nyaris tanpa suara.

Jantung Cantika berdetak sangat kencang, nafasnya mulai memburu.

Ingatannya ditarik mundur kembali ke usia sembilan tahun di mana pertama kali bertemu Ezra lalu momen-momen kesengsaraan dirinya di masa sekolah sejak SD, SMP, SMA hingga kuliah yang memuat keisengan Ezra melintas dalam kaset rusak dalam benaknya.

Sebelum sempat Cantika mencerna semua ini, pria itu pun menoleh, seperti telinga dan nalurinya masih peka akan suara Cantika meski hanya sebuah lirihan bahkan setelah bertahun-tahun.

“Cleosana Cantika Maverick,” sahut Ezra sambil berjalan mendekat. Wajahnya lebih dewasa dari terakhir kali Cantik melihatnya—saat wisuda sarjana ketika untuk ke seribu kalinya dia menolak pria itu.

“Aku enggak pernah menyangka kamu yang akan memimpin tim dari GZ Corp,” lanjut Ezra, masih dengan senyum tipis yang Cantik kenal baik—senyum yang dulu sering muncul sebelum Ezra membuatnya naik darah.

Dan tentunya ucapan Ezra itu adalah sebuah dusta.

Dia tahu kalau Cantika yang akan memimpin project dari GZ Corp karena sang papa langsung yang memberitahunya hanya agar dia kembali ke Indonesia atas keinginan sang mama yang sangat merindukannya.

“Aku juga enggak nyangka kamu kembali,” jawab Cantik datar. Tangannya bersedekap, tubuhnya tegak. Tidak ada senyum, hanya profesionalisme.

Dan Cantika memang jujur, dia tidak pernah tahu kalau LZ Corp akan mengutus Ezra.

“Aku pikir kamu masih di Zurich, menyelesaikan S2 sambil … menyembuhkan hati yang tersakiti?” Cantika menaikkan satu alisnya, dia sedang bersarkasme.

Ezra tersenyum miring. “Well, kalau kamu tahu hatiku tersakiti, berarti kamu tahu kamu penyebabnya?”

Cantik mendesis pelan. “Don’t start.” Tatapannya tampak membunuh.

Ezra mengangkat kedua jarinya. “Peace. Aku cuma mau bilang kalau … senang akhirnya kita bisa kerja bareng. Mungkin sekarang kamu bisa lihat aku lebih dari sekadar bocah yang dulu ngatain kamu ‘sok cantik’.”

Cantika masih menatapnya tajam. “Aku akan menilai kamu dari hasil pekerjaan, bukan nostalgia yang basi.”

Tiba-tiba, pintu terbuka. Direktur proyek masuk dan memulai sesi perkenalan formal. Namun atmosfer di dalam ruangan terasa lebih padat dari sebelumnya.

Cantik duduk di ujung kiri, Ezra di kanan. Mereka seolah diberi jarak oleh waktu—tapi masih diikat oleh sejarah.

Dan kini sejarah itu harus bekerja sama. Dalam satu proyek. Dalam satu ruangan. Setiap hari.

Tapi satu hal yang Ezra tahu pasti, ia belum menyerah. Tidak setelah dua puluh satu tahun. Tidak setelah menyiapkan diri menjadi pria yang pantas.

Sementara Cantik menegaskan pada dirinya sendiri kalau ini hanya kerja profesional. Jaga jarak. Dan jangan—sekali pun—jatuh cinta pada si pengganggu masa kecil itu.

“Selamat pagi semuanya. Terima kasih sudah hadir. Hari ini kita akan membahas rencana tahap awal integrasi proyek HorizonOne dari sisi pengembangan dan eksekusi lapangan,” ujar bapak Hartanto, Project Director yang ditunjuk secara netral.

“Sebelum masuk ke teknis, saya minta perwakilan dari GZ Corp dan LZ Corp menyampaikan overview singkat.”

“Ladies first,” ujar pak Hartanto, mempersilakan.

Cantik bangkit dengan elegan, mengangguk. “Terima kasih, Pak Hartanto.”

Ia melangkah ke depan layar presentasi dan mulai memaparkan dengan suara tenang tapi tegas. Slide demi slide berjalan mulus. Semua mata tertuju padanya—termasuk satu pasang mata yang tidak pernah berhenti menatap sejak awal.

“…dan dari sisi distribusi sumber daya, kami sudah mengatur alokasi divisi, termasuk legal dan compliance, untuk memastikan semua proses tetap sesuai regulasi dan tidak bentrok dengan kepentingan internal.”

Begitu Cantik duduk kembali, giliran Ezra berdiri. Ia tidak membuka laptop, hanya satu map di tangannya.

“Terima kasih, Pak Hartanto. Saya Ezra dari LZ Corp. Pendek saja, saya yakin kerja sama ini bisa berjalan lancar selama dua hal dijaga yaitu transparansi dan fleksibilitas. Dua hal yang, well … terkadang sulit ditemukan dalam sistem yang terlalu kaku.”

Cantik menoleh cepat. Sorot matanya tajam.

Ezra masih melanjutkan. “Kami ingin tim GZ Corp terbuka terhadap metode kerja hybrid dan tidak terjebak dalam kerangka birokrasi yang lambat.”

“Metode kami jelas dan sudah terbukti efisien,” sela Cantik, suaranya tenang tapi terdengar menekan. “Kami tidak bermain-main dengan standar hanya demi terlihat fleksibel.”

Ezra menoleh, masih tersenyum. “Tentu, tapi standar bukan berarti tak bisa disesuaikan. Proyek sebesar ini perlu kelincahan, bukan sekadar kekakuan yang dibungkus kata ‘sistematis’.”

Cantik bersedekap. “Dan kelincahan tanpa dasar hanya membuat proyek ini seperti eksperimen dadakan,” balasnya dingin.

Suasana dalam ruangan mulai berubah. Tim masing-masing menahan napas, menatap dua Vice Project Director yang sejak tadi tampaknya saling serang.

Pak Hartanto mengangkat tangan, menengahi.

“Tenang, tenang. Justru perbedaan perspektif inilah yang membuat kolaborasi ini menarik. Saya yakin dengan kedewasaan kalian berdua, kita bisa temukan titik tengah.”

Cantik mengalihkan pandangan. Ezra kembali ke kursinya.

Tapi saat semua kembali fokus ke slide presentasi berikutnya, Ezra melempar kertas yang dia bentuk seperti pesawat ke arah Cantik lalu berbisik pelan,“Dulu kamu juga suka debat kayak gini, tapi abis itu tetap makan es krim sama aku.”

Cantik menatap dingin. “Dulu kamu masih lucu. Sekarang kamu cuma menyebalkan.”

Ezra tertawa lirih. “Aku anggap itu kemajuan.”

Setelah rapat selesai, Cantika melangkah keluar ruang rapat dengan wajah datarnya yang khas. Stilettonya beradu dengan lantai marmer, meninggalkan bunyi ritmis yang cepat, terdengar kesal.

Ezra tentu saja menyusul di belakangnya.

“Cantik,” panggil Ezra pelan.

Cantik tidak berhenti. Ia hanya mempercepat langkah.

“Cleosana Cantika Maverick,” ulang Ezra dengan nada lebih keras namun tetap tenang.

Langkah Cantik terhenti. Ia berbalik cepat.

“Don’t panggil aku pakai nama lengkap kayak orang baru kenal,” semburnya tajam.

Ezra menaikkan alis. “Tapi kamu ‘kan memang memperlakukanku seperti orang baru kenal.”

“Kamu juga ‘kan memperlakukanku seperti anak magang yang enggak ngerti sistem,” balas Cantik, suaranya ditahan agar tidak membentak di lorong terbuka.

Ezra tertawa kecil, mengangkat tangan. “Touché. Tapi jujur, aku kagum tadi sama presentasi kamu—kalau enggak tahu kamu dulu tukang ngambek waktu sering aku godain, aku pasti udah ciut.”

“Kamu masih suka ngomong asal ya?” Cantik mendesis. “Apa semua cewek kamu godain kayak gini setelah kamu balik dari Swiss?”

Ezra menyipitkan mata, mendekat satu langkah. “Enggak semua cewek, Cantik. Hanya satu yang dari dulu enggak pernah bisa aku buat berhenti marah, tapi tetap aku kejar.”

Cantik menatapnya tajam. Wajahnya tak berubah, tapi bibirnya sedikit menegang.

“Aku bukan remaja lagi, Ezra. Dan kamu juga bukan anak kecil yang bisa menang karena berhasil membuat orang lain tertawa. Ini dunia profesional. Kita kerja, bukan bernostalgia.”

Ezra mendekat lagi, cukup dekat hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar percakapan itu.

“Kalau kamu pikir aku balik ke sini cuma buat nostalgia, kamu salah besar,” bisiknya. “Aku balik karena aku siap. Siap untuk proyek ini. Siap untuk semua hal yang dulu kamu bilang belum pantas.”

Cantik menghela napas pelan, menguasai emosinya.

“Lalu kita lihat aja seberapa siap kamu,” balasnya dingin. “Kita mulai audit mingguan Senin pagi pukul tujuh. Jangan telat.”

Ia kembali berjalan, meninggalkan Ezra berdiri di tengah koridor dengan senyum miringnya yang mulai memudar.

Karena kali ini, Ezra tahu, medan perang yang ia hadapi bukan sekadar ruang rapat. Tapi benteng hati seorang perempuan yang sulit sekali ditembus.

Dan Ezra? Ia akan menghancurkan benteng itu. Bukan untuk menaklukkan Cantik, tapi untuk membuktikan bahwa ia adalah satu-satunya yang tulus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Syarilln
awal yg menarik.... di beranda seliweran kisah2... q baca sinopsisnya selalu ada yg kurang... browsing lah nama Erna Azura.. nah ada judul baru cus aq baca
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Antara Ambisi dan Cinta   Tamat

    Pagi itu, sinar matahari jatuh lembut di halaman belakang rumah keluarga Lazuardi. Burung-burung kecil berkicau di pepohonan flamboyan, sementara Mama Ayara duduk di kursi rotan, menikmati teh melati sambil membaca undangan lelang di London. Udara sejuk selepas hujan semalam membuat segala hal terasa damai — hingga dering ponselnya memecah keheningan. Nama Niscala Ezra Lazuardi muncul di layar. Senyum tipis mengembang di bibir Ayara. “Akhirnya anak ini ingat menelepon mamanya,” gumam beliau gemas, lalu menekan tombol hijau. “Pagi, sayang. Kamu enggak kerja hari ini?” “Enggak, Ma. Aku di rumah sama Cantika.” Suara Ezra terdengar lebih lembut dari biasanya, nyaris seperti anak kecil yang ingin mengabarkan sesuatu. “Ada apa? Kok kedengarannya… bahagia banget?” tanya Ayara sambil meletakkan cangkir tehnya. Beberapa detik sunyi, hanya terdengar tarikan napas panjang di ujung telepon. Lalu suara Ezra pecah dengan nada b

  • Antara Ambisi dan Cinta   Bersama-Sama

    Weekend itu, suasana di rumah mereka terasa lebih hangat dan nyaman dari biasanya. Matahari menembus tirai tipis ruang tengah, memantul di ubin marmer yang hangat oleh cahaya. Televisi layar besar yang nyaris menutupi seluruh tembok itu menyala menyajikan film kartun, terdengar tawa Nayaka dan Selena yang berebut mainan, sementara aroma roti panggang memenuhi udara dari arah dapur. Di depan jendela besar kamar utama, Cantika menatap kosong kalender di tangannya— tanggal-tanggal yang ia lingkari dengan spidol merah tampak seperti tanda rahasia kecil yang hanya ia mengerti. Hari ini genap dua minggu sejak ia terlambat datang bulan. Hatinya berdebar tak karuan. Ia menatap bayangan sendiri di kaca—kulitnya sedikit pucat, matanya lebih lembut, dan ada sesuatu di wajahnya yang membuatnya sulit menolak kenyataan: mungkin, dirinya sedang mengandung lagi. Ia menatap langit di luar sana, menarik napas panjang. “Jangan dulu terlalu berharap,” gumamnya. Tapi bibirnya sudah melen

  • Antara Ambisi dan Cinta   Tempat Aman

    Udara pagi di rumah itu berembus tenang. Dari jendela kamar utama, sinar matahari menembus tirai tipis berwarna krem, menimpa wajah Elara yang duduk di sisi ranjang. Rambutnya dikepang longgar ke satu sisi, tubuhnya dibalut kaus longgar dan celana jogger, siap untuk sesi fisioterapi pertamanya sejak kembali ke rumah. Meskipun dia sudah ingat semua tapi harus dijalani demi agar suaminya masih percaya kalau dia hilang ingatan. Terkadang Elara berpikir apakah ini adil untuk Alvaro? Tapi Elara takut kalau ketika tahu dirinya sudah tidak hilang ingatan, Alvaro akan kembali seperti dulu. Di meja kecil di dekat tempat tidur, ada segelas air putih, setumpuk obat, dan bunga mawar putih dalam vas kaca. Aroma segarnya berpadu dengan bau antiseptik dari salep yang biasa dioleskan di pelipisnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. “Pagi, sayang.” Suara Alvaro datang dari ambang pintu. Pria itu baru selesai menelepon dokter untuk datang ke rumah.

  • Antara Ambisi dan Cinta   Membangun Masa Depan Bersama

    Pagi itu aroma kopi baru diseduh bercampur dengan suara renyah tawa si kembar yang bermain di karpet ruang tengah. Selena sedang asyik menepuk mainan berbentuk kupu-kupu, sementara Nayaka memegangi telapak tangan Ezra yang jongkok di depannya, mencoba belajar berdiri. “Ayo, Nak. Satu… dua….” Ezra menghitung sambil mengangkat sedikit tubuh kecil itu. “Kamu pasti bisa.” Nayaka terhuyung, hampir jatuh, tapi Ezra cepat menangkapnya dan mengangkatnya tinggi ke udara. Tawa Nayaka pecah, menggelegar seperti lonceng kecil di pagi hari. Cantika yang baru turun dari lantai dua berhenti di anak tangga terakhir, menatap pemandangan itu dengan dada hangat. Sudah lama sekali ia tidak melihat Ezra tertawa seperti itu—tawa tanpa beban, tawa seorang ayah yang benar-benar bahagia bermain bersama anaknya. Ezra berbalik dan melihat Cantika. Ia tersenyum, lalu mengangkat Nayaka. “Lihat, sayang. Dia udah bisa berdiri tanpa pegangan selama dua detik. Dua detik!”

  • Antara Ambisi dan Cinta   Baru Menyadari

    Pagi itu tampak cerah karena hujan semalam baru saja reda. Embun masih menempel di kaca jendela ruang rawat Elara. Udara rumah sakit yang biasanya terasa pengap, pagi itu justru berbau segar—mungkin karena raut lega di wajah perawat yang datang membawa kabar bahwa, “Ibu Elara sudah diizinkan pulang hari ini.” Elara menoleh cepat dari atas ranjangnya, mata bulatnya membesar, lalu perlahan tersenyum kecil—senyum yang bahkan membuat perawat itu ikut lega. “Benarkah?” suaranya lembut, nyaris tak percaya. “Benar, Bu. Dokter bilang kondisi Ibu stabil, dan masa pemulihan bisa dilanjutkan di rumah. Hanya saja, tetap perlu kontrol rutin.” Sebelum Elara sempat menanggapi, pintu kamar mandi terbuka. Alvaro muncul dengan tubuh segar dan pakaian baru membuatnya terlihat … tampan dan lebih muda. “Sayang, aku dengar kamu boleh pulang?” suaranya seperti anak kecil yang menemukan hadiah, terdengar bahagia. Elara menoleh, tersenyum ragu tapi manis. “Iya, barusan dikasih tahu.” Alvaro

  • Antara Ambisi dan Cinta   Percaya

    Langit sore mulai menguning saat langkah berat Alvaro bergema di lorong rumah sakit. Nafasnya memburu, dasinya miring, kemejanya tak lagi serapi biasanya. Seorang perawat di depan nurse station bahkan sempat memanggil untuk menginformasikan update kondisi Elara. “Pak Alvaro, tolong tenang dulu—” “Tadi siang istri saya kambuh, iya?!” Suara Alvaro meninggi, setengah panik. “Iya, Pak,” jawab perawat sopan, “Ibu Elara sempat mengalami serangan nyeri kepala akut, tapi sekarang sudah tertangani. Dokter bilang reaksi itu muncul karena—” Namun kalimat itu tak selesai. Alvaro sudah berlari menuju ruang VIP tempat Elara dirawat. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya. Tangan Alvaro bergetar saat memutar gagang pintu. Dan begitu pintu terbuka, seluruh nadinya seperti kehilangan tenaga. Elara tengah duduk bersandar di kepala ranjang yang dibuat tegak, masih pucat tapi tersenyum kecil ketika mengetahui kedatangannya. “Mas….” Suaranya lembut, menenangkan. “Aku baik-baik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status