Share

2. Dasar Siput

Ananta, ialah namanya. Seorang penulis di sebuah perusahaan penerbit. Pagi ini, seperti biasa ia memencet setiap alarm yang dipasangnya sebanyak tiga kali.

"Ananta, ayo bangun! Alarm kamu udah bunyi entah berapa kali. Masih belum bangun juga?" Ibunya masuk ke dalam kamarnya. Menggeser tirai jendela sedikit, supaya cahaya matahari bisa masuk. Menghangatkan kamarnya.

"Iya, ma. Ini aku bangun." Ananta duduk di atas tempat tidurnya. Rambutnya yang lurus sebahu tergerai indah. Tak kusut sama sekali. Keturunan keluarga.

Semua anggota keluarganya termasuk dirinya, mempunyai rambut lurus berwarna hitam legam. Bahkan hanya disapu dengan tangan saja, sudah rapi. Sisir saja tak ada gunanya di rumah mereka.

"Sarapan bentar lagi siap ya! Mama ke dapur dulu."

"Iya."

Berbeda dengan kamar Gracia. Kamarnya Ananta terbilang kecil. Hanya sebuah tempat tidur, lemari baju, meja rias, dan sebuah meja belajar. Namun, jika dibandingkan. Kamar Ananta jauh lebih rapi dan bersih.

Walaupun ya memang, mereka memiliki kesamaan yaitu pemalas. Di kamarnya masih ada beberapa sudut yang bisa menjadi sarang makhluk hidup lainnya. Laba-laba masih saja nakal untuk membuat rumahnya di sudut lemari.

Yang tentu saja akan dibersihkan Ananta setahun sekali. Tepatnya saat pergantian tahun. Jadi, laba-labanya hanya bisa numpang nginap di kamarnya setahun. Kalau mau perpanjang kontrak nginap. Tunggu rasa malasnya memuncak saja.

Setelah ia sudah tersadar dari alam mimpinya. Ia beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan santai ke luar kamar. Mengambil peralatan mandinya. Lalu, merangsek masuk ke dalam kamar mandi. Namun, terkunci dari dalam.

"Papa lagi di dalam. Kamu gosok gigi di bak cuci piring aja ya. Sini, mama udah cuci semua piring. Jadi, udah gak kotor."

Kamar mandi di rumah mereka hanya satu. Jadi harus berbagi. Itulah drama yang terjadi hampir setiap pagi.

"Ok"

Dua puluh menit kemudian, dengan terburu-buru ia memakai baju kerjanya. Sebuah kemeja dengan celana panjang hitamnya. Simpel.

"Ma, nanti sepertinya aku lembur lagi," Ia menyeruput susunya. Susu yang telah dicampur oatmeal. Sedang tangan satunya tidak sabar mengambil roti tawar.

"Sudah beberapa hari ini kamu lembur terus. Apa ada teman lain juga yang lembur? Atau hanya kamu?"

"Yah, gak semua lembur sih. Ada satu dua orang aja. Soalnya kami harus kejar deadline majalah yang harus selesai akhir bulan ini." Ia mengoleskan selai srikaya ke atas rotinya. Memakannya dengan lahap.

"Perlu mama siapin bekal?"

"Gampang itu. Biasa kantor ada kasih cemilan kecil kok. Stok snack di laci kantorku juga masih ada."

"Okelah. Tapi kalau mau makanan. Nanti ibu minta ojek antarin ya!"

"Siap bosku!"

Pukul 07.30, skuter merahnya sudah bergabung ke jalanan utama. Udara di pagi ini terasa sejuk menusuk ke tulang. Habis diguyur hujan semalaman.

Sepanjang perjalanan, nampak beberapa orang mengenakan mantel. Pasti ada daerah yang hujan sekarang, pikirnya.

Ia sampai di kantor sekitar pukul 07.45. Waktu yang aman untuk menaruh jempolnya di mesin absen. Tak perlu antri. Kecuali jika ia sampai pukul 07.55. Sudah pasti antrian panjang akan terjadi. Itulah drama yang sering terjadi di kantornya.

Drama selanjutnya adalah, ia perlu melewati rintangan beberapa orang untuk sampai ke mejanya. Malas jika harus bertegur sapa dengan yang lain. Apalagi jika itu hanya basa-basi, seperti...

"Pagi sekali kamu datang!"

"Hai, pendiam!"

"Projekmu gimana? Belum kelar-kelar?"

Yah, atau mungkin itu bukan basa-basi. Lebih tepatnya teguran mungkin.

Introvert. Mereka tidak tahu saja, ia bisa ekstrovet ke orang yang sudah dikenal. Yah, sudahlah.

Menyapa orang masih tugas ringan baginya. Tetapi, mengobrol yang lama dengan orang adalah beban baginya.

Ia berhasil melewati rintangan karyawan-karyawan lainnya. Akhirnya, ia bisa bernapas lega. Duduk di meja kesayangannya. Membuka lacinya, mengambil tag namanya. Mengalungkannya di leher.

"Ana, revisi lagi ini. Saya udah tambahin beberapa catatan yang bisa kamu pakai. Fokus, An. Tumben kau gak fokus. Biasa pemilihan kata-katamu tuh bagus loh. Sekarang kok nggak. Kalimat kau tuh biasa berdaging. Sekarang malah kopong." tegur Bu Lina, kepala editor.

"Iya bu. Saya revisi lagi ya!"

"Daging loh ingat daging, ya!"

"Iya bu!"

Bu Lina beranjak pergi. Matanya awas memandang kiri kanan. Keluar ruangan. Masuk ke ruang editor. Celingak-celinguk. Lalu, keluar lagi. Menyenderkan tubuhnya ke pintu. Seperti ada yang sedang ditunggu.

Ananta menyenderkan punggungnya ke kursi. Matanya menatap langit-langit. Satu tarikan napasnya dalam-dalam. Dihempaskannya kemudian dengan sangat berat.

Ini sudah revisi ketujuh, ayo semangat Ananta!

Tek..tek..tek

Inspirasi datang. Saat ia mulai mengetik. Fokus diarahkannya ke layar komputer.

Untungnya kali ini revisinya tak banyak.

Tak lama kemudian suara printer terdengar. Yang artinya dua kemungkinan. Artikelnya diterima atau direvisi lagi. Ia membaca kembali, takut-takut ada yang salah eja. Atau tanpa sengaja ia malah terketik bos galak. Bisa ditegur habis-habisan nanti.

Fokusnya terarah, sampai sebuah suara melengking dari Bu Lina terdengar, "Kau telat lagi Gracia!"

***

"Hei, gimana revisi tadi? Aman?" tanya Gracia penuh tahu. Pertanyaannya kurang terdengar jelas. Karena ia baru saja memasukkan segenggam penuh kentang goreng ke mulutnya.

"Untuk sekarang sih masih aman. Nggak tahu deh artikel selanjutnya." Ia menaikkan kedua bahunya. Kembali menyenderkan punggungnya di kursi kantin.

"Kau juga sih..udah tahu Bu Lina gayanya kayak gimana. Masih aja salah."

"Iya-iya. Aku salah. Tapi deadlinenya begitu banyak. Sebentar-bentar artikel tentang binatang, lalu bisnis, kolom opini, artikel kesehatan. Ini otak cuman satu, Gracia!"

"Hahaha. Itu kan udah kerjaan dari beberapa bulan yang lalu juga. Kamunya aja yang siput." Komentarnya tanpa difilter. Orang yang sangat blak-blakan.

Ananta tak banyak berkomentar. Pikirnya memang sepatutnya dirinya dibilang siput. Benar juga apa kata Gracia. Semua artikel itu sudah dicanangkan di program kerja tahunan. Namun, masih saja ia keteteran.

Dasar siput!

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status