MasukSaka POV
Hari pertama semester lima, kelas sudah terisi wajah-wajah lama. Keceriaan bekas liburan masih terdengar di sana-sini, termasuk dari bangku belakangku yang diisi oleh Rio dan pacarnya, Feni. Lima menit lagi bel kuliah pertama akan berbunyi.
Aku tidak mengharapkan ada wajah lain lagi yang masuk ke dalam kelas kecuali wajah Bu Ratmi, dosen kami, tapi ternyata aku salah. Seorang perempuan setengah berlari masuk lalu duduk di
Saka POV“Ciee... pacaran terus sekarang...” teriak Devan, salah satu teman Saskia.“Mau tauuu aja,” balas Agnia sambil menyerahkan kunci motornya padaku. Dia melambai pada Devan yang melangkah menuju motornya sendiri. “Kita ambil helm-mu dulu di kos-an ya?”“Oke.” Aku menegakkan motor matic Agnia lalu mengendarainya setelah Agnia menaikkan tubuhnya di jok belakang. “Bagaimana kabar teman-temanmu?”“Mereka baik, ada apa tanya mereka?” Tangan Agnia memegang kaos bajuku. Kadang, tangannya memegang sedikit punggung atau pinggangku jika dia perlukan. Aku tidak pernah meminta ataupun melarangnya.“Tidak. Apa mereka mengira kita... pacaran?” Kami masih berada di jalanan sekitar kampus yang belum terlalu ramai. Suaraku sepertinya masih bisa didengar jelas oleh Agnia.“Mereka hanya menebak-nebak. Aku tidak pernah mengiyakan. Aku t
Saka POVSudah seminggu sejak aku mengunjungi Saskia yang terakhir, aku belum mendengar kabarnya lagi hingga ayah Saskia menghubungiku. Demi kesehatan Saskia, aku dilarang mengunjunginya lagi hingga batas waktu yang belum ditentukan.Saskia baik-baik saja, kata ayahnya, dia hanya perlu waktu untuk mencerna segalanya secara perlahan. Saat aku bertanya lebih lanjut, ayahnya enggan menjelaskan. Beliau hanya memintaku menunggu kabar dari Palagan, dan yang penting, tidak menunjukkan wajahku di depan Saskia.Apa dia semakin memburuk? Aku teringat Arjuna. Selama ini aku semakin jarang mengingatnya, hanya saat bersama Saskia. Apa yang akan Arjuna lakukan kalau tahu aku memperburuk kondisi Saskia? Mungkin dia akan memukulku. Aku berharap dia bisa memukulku.“Ayo jalan-jalan setelah kuliah nanti?” Agnia sudah berdiri di sebelahku. Sepertinya dia baru datang.“Kemana
Saka POV“Meja nomor 17,” Seno memberikan satu nampan berisi dua steak dan dua milkshake padaku.Minggu memang selalu ramai, tapi Minggu ini bisa dikatakan ramai sekali. Mungkin karena sudah mendekati akhir semester, atau mungkin karena mendekati akhir bulan. Bukan hanya hari ini saja, tapi dari Sabtu kemarin.Aku sedikit lega memutuskan untuk tidak mengunjungi Palagan minggu ini. Setidaknya restoran ramai, itu berarti aku akan mendapatkan bonus meski tidak bisa dikatakan banyak.Setelah kuletakkan pesanan di meja nomor 17, aku beralih ke meja di sisi kiri yang sudah ditinggalkan oleh pengunjung. Kuambil piring dan gelas kotor untuk dibawa ke dalam. Jika tak ada halangan, mungkin saat ini Saskia sudah berada di tengah keluarganya. Dekat dengan orang-orang yang lebih mengasihinya.Semoga dia sudah bisa melupakan Arjuna, atau setidaknya dia tidak akan menunggu-nunggu Arjuna gadungannya ini datang ke sana. Tak ada kabar dari keluarga Saskia. Itu berarti semuanya baik-baik saja. Tapi mema
Saka POVSejak ada Agnia, hari-hariku di kampus menjadi sangat berbeda. Tak ada lagi Saka yang lebih suka sendiri. Selalu ada Agnia di sampingku, atau... lebih baik lagi, saat dia berbicara dengan teman-teman kami, dia mengajakku.Bagi mahasiswa yang tidak mengenal Agnia, pasti mengira dia bukanlah mahasiswa yang baru bergabung. Agnia memang memiliki kemampuan untuk beradaptasi yang baik meski dia tetap selektif untuk memilih siapa yang bisa dia sebut sebagai sahabat. Mungkin dia akan menyebut namaku, dan mungkin Feni.Sejak kencan kami akhir pekan kemarin, kami semakin dekat di kampus. Bahkan Bayu sempat bertanya apakah aku dan Agnia sudah berpacaran. Aku tentu tidak bercerita padanya apa yang terjadi di antara kami waktu itu. Tapi kami memang tidak berpacaran. Perlu lebih dari sekadar mengatakan suka untuk bisa berpacaran.Agnia tidak pernah membahasnya lagi. Dia tidak bertanya padaku, atau membahas soal kencan kami, tapi kami semakin dekat. Meski begitu aku tidak bisa menghapus bay
Agnia POVAneh sekali rasanya setelah aku mengatakan pada Saka kalau aku suka padanya. Sebenarnya ini bukan kali pertama, sebelumnya seingatku aku sudah pernah berkata padanya. Di depan Bayu, iya, sepertinya di depan Bayu. Tapi tidak seperti ini.Kali ini aku benar-benar yakin aku menyukainya sebagai seorang laki-laki, bukan teman. Laki-laki yang aku ingin hanya melihatku sebagai perempuannya, hanya aku saja.Aku merasa aneh karena perasaanku campur aduk. Aku merasa gugup. Tak kusangka aku akan mengatakan hal ini pada laki-laki. Aku merasa senang, karena aku ingin Saka tahu kalau aku menyukainya, dan sudah aku lakukan. Aku merasa khawatir, karena aku tahu Saka menyukai orang lain.Tapi pada akhirnya, aku merasa lega. Ya, lega. Apapun nanti, setidaknya Saka tahu perasaanku padanya. Aku memacu motorku lebih kencang, merasakan terpaan angin malam di kota Sibaru.Rumah masih gelap saat aku masu
Setelah puding di meja habis, aku dan Agnia membereskan meja. Membawa piring-piring kotor ke dapur bawah lalu mencucinya. Agnia membuatkan kami kopi. Kini kami duduk bersebelahan di kursi panjang balkon. Melihat jalanan sepi di depan kami dan atap-atap rumah tetangga dari sela-sela neon box.“Tidak kencan yang buruk, kan?”“Sama sekali tidak. Apa yang biasanya kamu lakukan di siang hari seperti ini?”“Kuliah. Kalau hari libur, aku akan membantu ayahku di kafe.”“Oh iya. Kafe. Kenapa tutup?”“Ayahku memilih bekerja di kapal.”“Apa terlalu sepi di sini?”“Tidak juga. Kafe ini sudah lumayan lama, sudah punya pelanggannya sendiri.”“Sayang juga, ya...”“Ya, begitulah. Tapi aku tidak bisa mengelolanya sendiri. Ada yang biasa membantu ayah, aku sudah menganggapnya keluarga. Tapi sepertinya dia juga akan kewalahan







