Teilen

19. Jejak yang Pudar

last update Veröffentlichungsdatum: 07.05.2026 18:37:45

Saka POV

“Meja nomor 17,” Seno memberikan satu nampan berisi dua steak dan dua milkshake padaku.

Minggu memang selalu ramai, tapi Minggu ini bisa dikatakan ramai sekali. Mungkin karena sudah mendekati akhir semester, atau mungkin karena mendekati akhir bulan. Bukan hanya hari ini saja, tapi dari Sabtu kemarin.

Aku sedikit lega memutuskan untuk tidak mengunjungi Palagan minggu ini. Setidaknya restoran ramai, itu berarti aku akan mendapatkan bonus meski tidak bisa dikatakan banyak.

Setelah kuleta
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Antara Hati dan Janji   28b. Cerita Dari Desa

    Dari Winota ke Prapen tidak terlalu jauh meski juga tidak bisa dibilang dekat. Tiga setengah jam perjalanan menggunakan bus. Aku berangkat cukup pagi agar sampai di sana tidak terlalu siang apalagi sore.Aku tidak menghubungi Agnia. Entah apa yang aku harapkan. Jika Agnia tidak sedang di rumahnya, ya sudah. Tapi niatku bulat, aku ingin menemuinya. Dari Prapen, aku bisa langsung naik kereta menuju Sibaru. Aku sudah melihat jadwal keretanya. Ada kereta malam.Ternyata aku baru sampai di terminal Prapen pukul 12 lebih 15 menit. Aku makan di warung sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan desa. Aku katakan pada kondekturnya di mana aku ingin turun dan memintanya mengingatkanku agar tidak terlewat.Sekitar 30 menit kondektur itu meneriakkan nama pemberhentianku dan memberi kode padaku untuk turun.Sejak terminal Prapen hingga ke sini, pemandangannya memang menyenangkan. Bus melewati persawahan yang membentan

  • Antara Hati dan Janji   28. Cerita Dari Desa

    Saka POV“Saka, tolong antar ini ke rumah Bu Asih ya,” kata Ibu sambil menunjuk kotak kardus yang sudah ditutup kembali menggunakan lakban. Di dalamnya, aku tebak pasti berisi sembako pesanan Bu Asih di toko kami.“Baik, Bu.” Aku segera meletakkan bolpoin yang kugenggam lalu melangkah mengangkat kotak kardus tadi. Cukup berat memang, namun tak seberapa. Kutaruh di bagian depan motor matic yang memang biasa digunakan untuk mengantar barang.“Setelah itu pulang saja. Ibu juga mau nutup toko habis ini,” teriak Ibu dari dalam.“Ya, Bu,” jawabku. Toko grosir di dalam pasar memang hanya berjualan hingga siang hari. Pukul 2 biasanya Ibu dan Ayah sudah bersiap menutupnya. Ini sudah pukul 2 lebih 5 menit.Aku menjalankan motorku menuju rumah Bu Asih. Rumah itu sudah kuhapal betul, karena Riana, teman sekelasku dulu, tinggal di sana. Kami sekelas sejak SD hingga SMA.

  • Antara Hati dan Janji   27. Di Antara Langit dan Rindu

    Saka POVKujejakkan kakiku ke tanah keras Gunung Argopuro. Sudah 3 jam kami mendaki gunung dengan ketinggian 3.524 mdpl ini. Jika tak ada halangan, kami akan sampai puncaknya sebelum matahari terbit, bahkan mungkin ketika hari masih gelap. Semoga tak ada halangan. Semoga semua baik-baik saja.Hasil ujian sudah diumumkan. Cukup baik untukku dan Agnia. Kami bisa mengambil semua jatah mata kuliah di semester berikutnya. Saat mengambil hasil ujian dan menandatangani rencana kuliah semester depan, adalah saat terakhir aku bertemu Agnia sebelum masa liburan dimulai.Dia akan pulang ke rumah neneknya keesokan hari. Aku bertanya apa dia butuh bantuan untuk membawa barang ke stasiun kereta, tapi dia menjawab kalau dia sudah mengirimkan barang dan oleh-oleh yang akan dibawanya sehingga tak ada barang berat yang menyulitkannya besok.Setelah itu, kami langsung berpisah. Dalam hatiku aku tak ingin lebih menyulitkan Agnia. Dia benar, berpisah selama masa liburan mungkin akan membantu kami untuk ke

  • Antara Hati dan Janji   26B. Menjaga Hati

    Senin sudah tak ada perkuliahan. Aku dan Agnia membuat janji untuk bertemu pukul 10 untuk melihat beberapa informasi mengenai hasil ujian. Karena tak bisa menemukannya di mana pun, aku meneleponnya. Ternyata dia menungguku di kantin.Saat aku menyusulnya di kantin, Agnia sedang menyantap sotonya. Pasti dia tidak sarapan di rumah. Ada sedikit rasa kesal timbul dalam hatiku.“Sudah lama?”Dia menggeleng. “Aku memang mau makan dulu,” jawabnya sambil mengunyah. Aku mengambil duduk di depannya. Kantin cukup ramai siang ini. Aku memperhatikannya makan. Agnia sepertinya tahu kalau dia diperhatikan.“Aku tahu apa yang kau pikirkan,” katanya. “Bahan makananku habis. Aku malas belanja. Jadi aku sudah berencana untuk datang lebih pagi lalu sarapan dulu.”“Jam 10 untuk sarapan? Kita kan mau makan siang nanti.”“Ya, nggak apa-apa kan. Makan siang jam 1. Perutku pasti sudah mu

  • Antara Hati dan Janji   26. Menjaga Hati

    Saka POVMemasuki masa ujian, semua mahasiswa seperti memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Restoran di siang hari semakin sepi, namun kafe yang menyediakan tempat makan yang nyaman dan WiFi menjadi diserbu.Aku mengambil izin kerja minggu lalu, namun sepertinya aku tak bisa izin lagi minggu ini karena mereka kekurangan orang untuk membantu sementara para mahasiswa yang bekerja sama-sama meminta izin untuk belajar.Aku sudah tidak membuka email untuk mencari balasan Saskia. Jika dia mengirim, pasti akan ada notifikasi di ponselku; aku tak perlu mengeceknya setiap hari. Semakin hari aku pun semakin lupa mengenai email itu, tahu kalau Saskia sudah lebih baik saat ini saja sudah membuatku lega.Aku dan Agnia terkadang bertemu jika kami memiliki ujian di kelas yang sama. Tapi tak banyak waktu untuk kami bisa berbincang. Meski aku dan dia sama-sama datang lebih pagi pun, dia selalu menggunakan waktu untuk membaca buku

  • Antara Hati dan Janji   25B. Pergeseran Rasa

    Saat jam makan siang, seperti biasa, kami makan bersama. Agnia berkata dia sangat lapar hari ini, mungkin tidak sempat sarapan pagi tadi. Tapi aku tidak menanyakan itu padanya, meski begitu sepertinya itu membuat selera makanku hilang.Buat apa dia memesan bahan makanan pada Mas Bas kalau pada akhirnya dia tidak menggunakannya untuk sarapan?“Tidak kau habiskan makanmu? Tumben,” katanya sambil menghabiskan nasi rames yang tinggal sesuap.“Perutku penuh,” jawabku sekenanya.“Oh ya? Sakit?”“Tidak. Hanya tidak ingin makan lagi.” Meski begitu aku masih mencoba menyuap sisa lauk yang ada. Bagaimanapun, tak baik menyisakan makanan, apalagi untuk alasan yang tak jelas. Tiba-tiba aku merasa dahiku hangat, telapak tangan Agnia sudah menempel di dahiku.“Tidak demam.” Hingga Agnia mengambil tangannya kembali, tubuhku sama sekali tidak bergerak.“Aku t

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status