Chapter: EpilogTiga bulan kemudian“Ayo, Bi,” seru Nindya sembari duduk di teras rumahnya. Ia memandangi rumput yang baru saja ditanam di taman kecil di depannya. Masih belum menyebar sempurna namun sudah terlihat menghijau di sana-sini.Di dekat dinding, tanaman sansivera menghiasi, membuat dinding itu terlihat lebih hidup dan menyegarkan. Di depan rumahnya, terlihat rumah-rumah tetangganya yang dipisahkan oleh jalan blok perumahan.Sejak perceraiannya dengan Bima, Nindya pindah ke rumah ini. Sebuah perumahan yang tak terlalu dekat dari kota Jakarta namun menawarkan suasana yang lebih tenang. Rumahnya dengan Bima sedang dalam proses jual-beli.Rumah ini lebih kecil, hanya berisi satu kamar utama dan satu kamar tambahan yang dipakai Bi Ijah. Masih ada halaman sisa di bagian belakang yang bisa ia pakai jika ingin menambah bangunan. Namun Nindya tak menghendakinya.Ia ingin kehidupan yang baru, kehidupan yang lebih bermakna untuk dirinya sendiri.Ijah keluar sambil membawa sebuah tas kecil. Pakaiannya
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-17
Chapter: Chapter 53Langit Jakarta menumpahkan gerimis di Minggu siang saat Nindya mengendarai mobilnya. Sudah beberapa hari Jakarta terang benderang di kala siang. Gerimis ini seakan perlawanan terakhir musim hujan yang belum mau berlalu.Dari balik kacamatanya Nindya melihat jalanan Jakarta yang lebih lengang dari biasanya. Ingatannya melayang pada pembicaraannya dengan Dharma Singgih, pengacaranya melalui sambungan telepon beberapa hari lalu.Pengacara itu menyarankan Nindya untuk bernegosiasi dengan Bima jika tak ingin persidangan menjadi panjang. Akan lebih mudah jika Bima juga menginginkan perceraian. Apalagi Nindya tak ingin terlalu sering membawa nama Nico di persidangan, meski Laras sudah bersedia menjadi saksi.Hakim bisa saja bersimpati pada Bima yang ingin mempertahankan pernikahan. Bima pun tak melanjutkan perselingkuhan. Posisi Nindya bisa sulit, meski tetap ada kemungkinan hakim akan mengabulkan gugatan.Dengan penuh kehati-hatian, Nindya membelokkan setirnya ke jalan pemukiman. Mobilnya m
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-14
Chapter: Chapter 52Langit Jakarta tampak cerah dari jendela kantor Nindya. Sepertinya musim kemarau akan datang lebih cepat. Nindya membuka tirai jendelanya lebih lebar, membiarkan sinar matahari menimpa pojok-pojok ruangan.Dari tempat ia berdiri, Nindya bisa melihat atap-atap bangunan di sekitarnya. Saat melihat atap restoran, ia teringat Haris. Apakah Haris masih makan siang di sana setiap Senin?Nindya berjalan kembali ke kursinya. Ditatapnya layar laptop yang sedari tadi menampilkan baris-baris judul buku yang akan diterbitkan bulan ini. Semua sudah dikurasi, Nindya hanya perlu membaca resume dari editor, lalu menyesuaikan tanggal terbit dan promosinya.Hari ini adalah jadwal mediasi pertama perceraiannya dengan Bima. Nindya menunggu kabar dari pengacaranya sambil berusaha berkonsentrasi pada layar laptopnya.Seperti yang ia sangka, tiga jam kemudian, pengacaranya menyampaikan kalau Bima tidak bersedia menceraikan Nindya. Mediasi pertama gagal, mediasi kedua dijadwalkan sepuluh hari kemudian.Nindy
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-12
Chapter: Chapter 51Nindya memegang sebuah amplop putih besar yang sudah dikirim ke alamat rumahnya sejak dua hari lalu. Ia tak perlu membukanya untuk tahu berisi apa amplop itu. Logo Pengadilan Agama tampak di kiri atas beserta alamat jelasnya.Lamat-lamat ia mendengar suara Bi Ijah menyapu halaman depan, sedangkan dari dalam, tak ada suara sama sekali selain kipas angin di sisi dapur yang sering dipakai Bi Ijah saat beristirahat. Rumahnya lengang, namun hatinya lapang.Bima pasti juga sudah menerima surat undangan mediasi yang dikirim pengadilan. Sudah satu minggu sejak pengacaranya mendaftarkan permohonan cerainya. Sejak itu, komunikasi mereka tidak terlalu berjalan lancar.Nindya menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. Dengan perlahan dibukanya amplop putih yang berisi kertas putih di dalamnya. Dibacanya perlahan.Undangan mediasi pertama, satu minggu lagi. Ia melipat suratnya dan mengembalikan kembali ke dalam amplop.Pada Bi Ijah sudah ia ceritakan semua yang terjadi. Meski tak banyak bertanya, n
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-10
Chapter: Chapter 50Pukul setengah sembilan pagi, galeri sudah mulai hidup. Cahaya matahari menembus kaca besar di dinding depan, memantul di lantai marmer yang mengilat, menghadirkan bayangan panjang dari instalasi seni yang dipajang. Udara masih segar, bercampur aroma cat minyak yang samar-samar tercium dari ruang penyimpanan, dan wangi kopi yang baru saja diseduh dari pantry kecil di pojok.Seorang pegawai kebersihan sibuk menata meja resepsionis dan membersihkan kaca display. Suara kain setengah basah yang bergesekan dengan permukaan meja terdengar kontras dengan musik instrumental lembut yang diputar pelan dari speaker. Suasana terasa damai, seperti lembar kertas kosong yang menunggu untuk diisi.Di salah satu ruang kelas yang berada di sisi kanan galeri, Laras sedang menyiapkan peralatannya. Kuas, kertas, dan cat air sudah tersusun rapi di atas meja panjang. Ia merapikan kursi-kursi, sesekali melirik jam dinding, memastikan semuanya siap sebelum para murid datang.Menjelang pukul sembilan, kelas su
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-04
Chapter: Chapter 49Mobil Nindya perlahan masuk ke halaman rumah besar milik Dewi Kencana. Dilihatnya sekeliling. Hanya ada mobil Dewi dan Laras, tak ada milik Bima, atau dia belum datang?Nindya menghentikan mobilnya dengan hati-hati. Tak ada rintik hujan malam ini seperti satu bulan lalu saat dia datang bersama Bima. Malam ini gelap seperti biasa, dengan angin yang bisa dirasakan menyapu helai rambut di telinganya.Belum sempat ia menekan bel rumah, pintu sudah dibuka dari dalam.“Sendirian, Mbak?” tanya Sumi yang muncul dari balik pintu.Nindya tersenyum ringan. “Iya.” Diulurkannya sebuah bingkisan berisi batik pada Sumi. “Ini buat kamu, dari Jogja.”Senyum lebar menghiasi wajah Sumi. Segera diambilnya bingkisan dari Nindya. “Terima kasih, Mbak Nindya.” Beriringan mereka masuk ke dalam.Dewi menutup buku yang sedang dibacanya setelah ia melihat Nindya masuk ke ruang keluarga. Suara celoteh Nico yang sedang dipangku Laras pun mendadak diam mendengar derap lan
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-03
Antara Hati dan Janji
Saka selalu percaya bahwa cinta pertamanya, Saskia, adalah kisah yang sudah selesai. Namun, saat Saskia muncul kembali di hidupnya dengan luka-luka yang tak pernah sembuh, Saka terjebak dalam janji lama yang mengikat dan tak mudah dilepaskan. Meski hatinya mulai berlabuh pada Agnia, gadis sederhana yang membuatnya merasa utuh, bayang-bayang Saskia terus mengusik, menuntut sesuatu yang pernah ia janjikan.
Di antara dua wanita yang mewakili masa lalu dan masa depan, Saka berjuang menemukan pilihannya. Tapi, seberapa besar harga yang harus ia bayar untuk akhirnya mampu menjalani pilihan tersebut?
Kadang, pilihan terdalam kita bukanlah antara benar dan salah... tapi antara hati dan janji.
อ่าน
Chapter: 10. AgniaSaka POVHari pertama semester lima, kelas sudah terisi wajah-wajah lama. Keceriaan bekas liburan masih terdengar di sana-sini, termasuk dari bangku belakangku yang diisi oleh Rio dan pacarnya, Feni. Lima menit lagi bel kuliah pertama akan berbunyi.Aku tidak mengharapkan ada wajah lain lagi yang masuk ke dalam kelas kecuali wajah Bu Ratmi, dosen kami, tapi ternyata aku salah. Seorang perempuan setengah berlari masuk lalu duduk di sebelahku, di kursi Arjuna. Dia merapikan jaketnya lalu meletakkan tas sebelum menoleh padaku.“Hai... Agnia...” sepertinya dia baru saja menyebutkan namanya.“Saka,” aku mengikuti. Dia tersenyum.“Kau mahasiswa baru?” tanyaku, sebenarnya aku lebih khawatir kalau dia salah masuk kelas.Dia menoleh kembali padaku. “Tidak. Aku cuti selama satu tahun, seharusnya aku kakak seniormu.” Agnia menambahkan senyumnya
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-24
Chapter: 9. Di Balik Bayang-BayangSaka POVBangku kananku masih selalu kosong seperti biasa, apalagi jika aku duduk di depan, tempat yang biasa aku dan Arjuna pakai. Namun di luar jam kuliah, aku tidak selalu sendirian. Aku pergi ke kantin bersama Rio dan ketiga teman kami lainnya.Aku tertawa jauh lebih sering dibandingkan saat bersama Arjuna. Kami terlihat biasa saja seperti kebanyakan mahasiswa lainnya, tapi sebenarnya aku merasa kesepian. Kehilangan Arjuna baru aku rasakan akhir-akhir ini, membuatku bertanya apa sebenarnya perannya dalam hidupku.Semakin aku tertawa, semakin aku merasa kesepian. Mungkin dengan Arjuna aku tidak perlu mencoba tertawa, menjadi orang lain. Mungkin dia bisa menerimaku apa adanya, sama seperti dia menerima Saskia.Saskia.Winda dan beberapa teman sefakultasnya akan berkunjung ke rumahnya, menjenguk. Winda janji akan memberi kabar setelah bertemu Saskia. Harusnya sore ini mereka sudah tiba kembali ke Sibaru
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-23
Chapter: 8. Jejak yang HilangSaka POVHari pertama di semester 3. Hari pertama di kampus tanpa Arjuna. Semua temanku tersenyum lalu memelukku, menepuk-nepuk punggungku, mengucapkan bela sungkawa secara langsung. Aku tidak merasa berhak menerimanya.Sebagian besar tidak datang ke pemakaman Arjuna karena sedang liburan di rumah-rumah mereka. Hanya perwakilan dari fakultas dan komunitas pecinta alam yang hadir. Aku sendiri tidak datang. Aku terus meyakinkan diriku kalau aku tidak bisa datang.Ayahku memerlukanku, begitu juga dengan ibu dan Sita. Toko kami sudah dibuka dan mereka kekurangan orang karena ayah di rumah sakit. Aku tidak bisa datang. Tapi jika saja aku mau meminta izin pada keluargaku, menceritakan yang sebenarnya, pasti mereka menyuruhku datang. Namun aku tidak melakukannya.Selain bangku kananku yang kosong, semua berjalan seperti biasa. Teman-temanku hanya lebih pendiam jika dekat denganku namun selebihnya semua tertawa seperti biasanya. Aku ingin tertawa seperti mereka, namun aku tidak tahu apa yang
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-22
Chapter: 7. KepergianSaka POVSemester 2 sudah berakhir. Di sini aku bukanlah murid terbaik seperti di kampung, tapi setidaknya aku termasuk mahasiswa dengan pencapaian di atas rata-rata. Selain itu, dengan bekerja, aku bisa menabung.Setelah memiliki laptop, aku bisa menyisihkan uangku untuk kebutuhan lainnya. Kadang, Arjuna membiarkanku membayar makanan yang kami pesan saat kami pergi bersama, meski tetap saja dia yang lebih banyak melakukannya.Aku sudah memberitahu Ayah kalau liburan semester 2 nanti aku akan pulang terlambat. Kami, mahasiswa junior, akhirnya akan merasakan naik gunung bersama anggota pecinta alam lainnya.Gunung Magelung kali ini. Gunung dengan ketinggian 1.745 mdpl itu akan menjadi gunung pertama yang didaki Arjuna dan para pendaki pemula lainnya yang akan ikut serta. Magelung sengaja dipilih karena jalur pendakian yang tidak terlalu terjal dan relatif lebih aman.Aku sendiri sudah sering mendaki gunung yang lebih tinggi dan menantang dari Magelung, tapi tetap saja, ini adalah penga
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-17
Chapter: 6. Janji di KetinggianSaka POVLiburan semester lalu, aku pulang ke rumah. Itu adalah pulang kampung pertama sejak aku kuliah di Sibaru. Menghemat uang adalah alasan utama aku tak banyak bepergian. Kini di semester dua, aku sudah bisa membeli laptop. Bukan hanya dari uang hasil bekerja, ayah juga memberiku uang sebelum aku kembali.Meski aku tidak bercerita apa-apa, rupanya ayahku tahu apa yang aku butuhkan. Dia memberiku uang sehingga dengan ditambah seluruh uang tabunganku, aku bisa memiliki laptop dan sebuah printer paling murah. Kini aku tak perlu merepotkan Arjuna atau ke persewaan komputer untuk mencari materi kuliah atau mengerjakan tugas.Kabar menggembirakan lainnya datang dari komunitas pecinta alam yang aku ikuti. Kami akhirnya akan naik gunung akhir semester ini. Tentu berita ini aku sampaikan pada Arjuna karena dia ingin ikut ketika aku naik gunung.Arjuna sendiri bukan anggota komunitas, tapi acara ini tidak tertutup untuk mahasiswa lain asalkan mau menaati peraturan yang ada. Arjuna menyambu
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-17
Chapter: 5. Berdebar Dalam DiamSaka POVSudah lebih dari dua minggu sejak pertemuanku dengan Saskia dan Winda yang pertama. Sore ini, setelah kuliah, Arjuna mengajakku untuk menemaninya lagi bersama Saskia dan Winda. Ini adalah ajakan Arjuna yang ketiga setelah sebelumnya aku tolak dengan berbagai alasan.Selama itu, Winda dan aku kadang bertukar pesan. Selalu Winda yang memulai lebih dulu. Pernah satu kali kami bertemu di kantin kampus. Winda bertanya mengapa aku tidak ikut main bersama Arjuna kala itu.Akhirnya, aku menceritakan padanya bahwa aku harus membagi waktu dan tenagaku antara kuliah dan bekerja sehingga tak banyak waktu dan tenaga tersisa untuk bersenang-senang. Aku bisa melihat wajah Winda yang terkejut.Tapi di luar dugaanku, dia tetap ramah dan tetap berkirim pesan padaku. Winda bahkan lebih aktif mengajakku ikut kali ini dibandingkan Arjuna.Aku berjalan ke pelataran parkir mobil yang dikatakan oleh Arjuna tadi. Di jam terakhir, kami memiliki mata kuliah yang berbeda sehingga dia memintaku untuk lan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-17
Chapter: Chapter 9 - FaraFara – FlashbackAku menatap angka-angka di hadapanku, namun pikiranku entah ke mana. Kalau Pak Ridho tidak mengubah posisi duduknya, aku pasti masih terus mengulang-ulang apa yang aku lihat sekarang.Lembaran final billing dari vendor lighting, harusnya aku tinggal transfer saja, namun mereka meminta revisi karena ada biaya tambahan. Aku memejamkan sejenak mataku untuk mengusir bayangan diriku berdiri di depan Pandu dan mengajaknya makan malam tadi.“Ini saja perubahannya, kan?” tanyaku setelah beberapa saat membaca kembali. Tak terlalu banyak karena memang hanya sedikit penambahan tak terduga di event kemarin. Tak perlu meminta dari client karena kami selalu memiliki budget untuk hal tak terduga begini.Setelah konfirmasi ke kantor untuk pembayaran akhir, aku berjalan ke luar dari kantor Pak Ridho. Tengkukku masih dingin, beberapa bagian tubuhku pun seperti masih berusaha beradaptasi dengan apa yang tadi aku lakukan.Mengajak Pandu makan malam? Mengajak ex-client makan malam? What ha
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-18
Chapter: Chapter 8 - PanduPandu POV – FlashbackSemua pakaian sudah masuk ke dalam koper berukuran 18 inch. Makan siang dengan Nizar nanti adalah kegiatan terakhirku di Jogja sebelum aku ke stasiun sore lalu kembali ke Jakarta.Aku sengaja memilih perjalanan dengan kereta, lebih lambat, lebih bisa diprediksi, lebih tenang. Sebagian lagi, mungkin karena aku tak ingin terlalu cepat untuk pulang. ‘Pulang’ kata yang bagiku jauh dari makna yang sebenarnya.Satu per satu foto bergulir di layar LED kamera manualku. Setidaknya ada banyak jejak kehidupan yang sudah aku bingkai di sini.Aku hampir menekan tombol ‘erase’ saat satu gambar terdisplay dengan background yang kurang ‘bersih’. Alih-alih menekannya, jariku memperbesar gambar itu. Ada harapan tertentu yang menarikku melakukannya.Kemeja putih itu mengingatkanku pada seseorang. Fara. Dan memang dia di sana, cukup jauh di belakang patung kayu berbentuk elang yang menjadi hiasan ruang tengah resort.Dia membelakangi kamera, namun karena dia menghadap ke samping, se
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-15
Chapter: Chapter 7 - FaraFara POV – Flashback Tak kunjung ada nada sambung dari nomor Pak Nizar, kepalaku sudah mau pecah rasanya. Kenapa tak ada yang memberi tahuku soal ini. Sebuah hadiah besar, sepeda motor, berpita, dari keluarga owner. Apa ini bagian dari acara? Doorprize atau apa? Sambungannya terhenti karena tak diangkat. Sialan! Lalu otakku memberi kilatan ingatan yang sangat berguna. Coretan di notebook yang aku pikir tak akan pernah aku gunakan. Buru-buru aku buka dan kutekan nomornya. Semoga dia bisa membantu sebelum aku harus menemui Pak Nizar secara langsung yang berarti berjalan ke deretan depan tamu, meminta arahan saat hari-H. Sungguh tidak profesional. Aku menekan tombol dial. Tadi aku melihatnya duduk di sebelah Pak Nizar, sepertinya dia cukup penting. Tapi ingatan itu langsung hilang setelah sambungan teleponku diangkat. “Halo, Pandu ... Halo ...” hanya suara musik dan MC yang aku dengar dari telepon. Sepertinya dia pun kesulitan mendengar suaraku. Mungkin memang aku harus ke sana. Nam
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-05
Chapter: Chapter 6 - PanduChapter 6Pandu POV – FlashbackTak ada satu pun yang akan datang ke Jogja untuk peresmian besok. Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak juga Lena. Bagi Papa resort ini tak lebih dari kios kecil jika dibandingkan dengan aset-asetnya yang lain. Sedangkan Mama, akan selalu berada di belakang suaminya, di mana pun itu.Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Bukan karena terkejut, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.Apa yang aku rasakan sekarang mirip ketika dulu tak ada yang datang saat koleksi foto-fotoku dipajang dalam sebuah pameran kontemporer. Hanya Diana yang datang bersama teman-temannya, membanggakanku sebagai kakaknya.Lena tak seperti Mama. Dia lebih mirip partner dibanding istri. Dia baru bisa keluar kota seminggu lagi. Itu pun jika salon barunya sudah cukup stabil untuk ditinggal. Dan tanpa Lena, tentu saja, tak ada Fero.Dia tangguh sebagai seorang pengusaha. Sering kulihat tatapan kagum Papa padanya. Mungkin Papa berharap Lena-
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-22
Chapter: Chapter 5 - FaraFara POV – FlashbackResort masih cukup sepi saat aku dan para tim mulai bekerja pagi ini. Hanya beberapa tamu yang sedang sarapan terlihat lalu lalang memilih menu. Belum banyak karena memang belum dibuka secara resmi.H-3 selalu menjadi fase yang rawan. Terlalu dekat untuk bersantai namun juga terlalu jauh untuk panik. Kertas layout yang aku bawa sudah penuh coretan pensil.“Fer, ikut aku.” Feri langsung menghentikan pekerjaannya lalu mengikutiku.Aku berjalan dari pintu masuk, berhenti, lalu berjalan lagi ke arah kursi VIP, dan mengulang dari awal. Feri mengikutiku tanpa banyak tanya, mereka sudah paham cara kerjaku.“Jalur VIP terlalu sempit. Kalau ada yang berhenti di sini, yang di belakang akan kebingungan.” Feri mengangguk. Kami berdiskusi singkat sebelum akhirnya sepakat.Aku sedikit jongkok menyerupai orang duduk di kursi pada beberapa titik, memastikan pandangan para tamu nantinya ke arah panggung tak terhalang apa pun. Aku tak peduli mungkin beberapa pasang mata melihat ke
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-22
Chapter: Chapter 4 - PanduPandu POV – FlashbackPuluhan ikan koi berebut butir-butir pelet ikan yang aku tebarkan. Suara kecipak air menghiasi pagiku yang damai. Aku masih mengenakan celana pendek dan kaos semalam, bukan kemeja atau jas. Slow morning, kenyamanan yang sangat jarang aku rasakan.Menunggu jam delapan bisa terasa sangat lamban, namun jika aku menelepon terlalu pagi, Fero pasti masih mandi atau sarapan.“Halo, Fero,” sapaku setelah telepon diterima. Mbak Nani, pengasuh Fero sudah tahu jadwal kami.“Papa!” sapanya meriah dengan wajah yang memenuhi layar ponsel. “Liat ikan!” Wajah Fero menjadi terlalu dekat, hanya satu matanya yang aku lihat jelas.“Ngobrol sama Papa dulu,” kataku. Layarnya bergoyang-goyang. Lalu terlihat Fero yang sudah duduk di playmat-nya. Pasti Nani mendudukkannya.“Fero sarapan apa tadi?”“Ayam goleng.”“Habis makannya?”“Abis.” Kepalanya oleng ke kiri.Nani mengoreksi, ada wortel yang tidak Fero makan. Fero memang agak susah makan sayur, mirip Mamanya.“Papa pulang,” katanya sa
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-22