Share

2. Awal Perantauan

Author: Alexa Rd
last update publish date: 2026-04-17 15:03:24

Saka POV

Dua Tahun yang Lalu

Saat aku membuka pintu kamar kos yang akan aku huni selama kurang lebih 3,5 tahun ke depan, hanya ada sebuah tempat tidur berukuran single, satu meja belajar dengan kursi kayu keras, dan sebuah almari. Kipas angin dinding terpasang di salah satu pembatas antara kamar mahasiswa yang lainnya.

Sementara untuk mandi, kami akan menggunakan kamar mandi bersama yang letaknya ada di pojok setiap lantai kos-kosan dengan dua lantai ini. Bukan sebuah kos mewah, tapi juga tidak terlalu buruk untuk anak laki-laki pertama dari sebuah keluarga sederhana di pedesaan.

Kuletakkan kedua tas ransel di atas tempat tidur. Hanya dua tas ini yang aku bawa untuk menampung baju dan perlengkapan lainnya. Saat aku membuka jendela dan pintu kedua di kamar ini, angin segar masuk dari luar.

Ini adalah alasan kenapa aku memilih kamar kos ini di antara pilihan lainnya. Ada balkon kecil yang tidak terhubung dengan pintu masuk kamar. Tak ada meja kursi di sini, namun ada jemuran untuk pakaian. Di kanan kiri yang hanya terpisah tembok setengah badan, aku bisa melihat balkon mahasiswa lainnya.

“Hai,” sapa tetangga di sebelah kanan kamarku.

“Hai.” Aku mendekat, kuulurkan tanganku. “Saka.”

Dia memindahkan batang rokok yang sedang ia hisap ke dalam mulutnya lalu menggunakan tangannya yang kini bebas untuk menjabat tanganku. “Edo. Jurusan apa?”

“Akuntansi. Kau?”

“Teknik Mesin. Mahasiswa baru ya? Asal mana? Aku dari Botang.”

“Botang? Jauh juga. Aku dari Winota, pernah dengar?” Dia menggeleng. Tak aneh, dia sendiri dari luar pulau dan Winota memang hanya sebuah kabupaten yang tidak terlalu populer.

Aku membiarkan pintu dan jendela balkon terbuka. Dari pembicaraanku dengan Edo, aku menyimpulkan kalau aku adalah satu-satunya mahasiswa baru di lantai 2 kos ini. Edo sendiri baru semester 3 dan dia tak terlalu mengenal mahasiswa di lantai 1.

Hanya ada 8 kamar di setiap lantai, dengan masing-masing 3 kamar mandi. Tak terlalu ramai, namun juga tidak bisa dibilang sedikit. Hari belum terlalu siang, namun aku malas untuk berbenah.

Kurebahkan tubuhku di atas kasur per yang sudah diberi seprei bersih lengkap dengan satu bantal dan gulingnya. Perjalanan berjam-jam menggunakan bus tadi pagi membuatku cepat terlelap.

Hari Ini adalah Hari Pertama Kuliah Setelah Masa Orientasi, aku memilih duduk di bangku paling depan di mata kuliah pertama ini. Menyelesaikan study secepat mungkin adalah hal yang sangat ditekankan oleh kedua orang tuaku, alasannya tentu adalah faktor ekonomi. Masih ada adik perempuanku yang 2 tahun lagi juga akan menyusul masuk kuliah.

Sepuluh menit sebelum jam kuliah di mulai, kelas sudah hampir penuh. Deret depan rupanya tidak terlalu disukai oleh para mahasiswa baru, sebelah kananku masih kosong dari tadi. Baru setelah tersisa 5 menit, datanglah mahasiswa yang terburu-buru dan langsung duduk di kursi paling dekat dengan pintu, di sebelahku.

“Hai, Arjuna,” Dia menyebutkan namanya lalu tersenyum padaku sebentar sebelum membetulkan tas ranselnya. Hanya itu percakapan kami pagi itu sebelum dosen masuk untuk memberikan pengantar akuntansi dasar.

Mahasiswa bernama Arjuna tadi mengeluarkan laptop dari ranselnya. Mau tak mau, hal ini membuatku melihat ke sekeliling kelas. Banyak mahasiswa yang juga melakukan hal sama, sisanya masih menggunakan buku sepertiku. Namun aku yakin, di rumah atau kamar kos mereka, sudah siap sebuah laptop untuk mengerjakan tugas atau riset nantinya.

Aku tahu aku juga akan membutuhkan laptop atau setidaknya sebuah PC, tapi akan keterlaluan jika aku langsung meminta pada ayah di semester awal ini setelah tahu berapa jumlah uang yang dikeluarkan ayah untuk mengirimku ke universitas ini. Biarlah, akan aku pikirkan nanti.

“Kita tetap di kelas ini kan?” tanya si Arjuna.

Aku melihat jadwal di buku catatanku. “Seharusnya begitu.” Kupandangi teman yang lain, tak banyak yang meninggalkan kursinya.

“Siapa namamu tadi?”

“Saka,” jawabku. Aku memang belum memberikan namaku sejak tadi.

“Saka...” dia mengangguk-anggukan kepalanya, seakan mau memasukkan namaku dalam memorinya. “Asli sini?”

Aku menggeleng. “Aku dari Winota. Kamu sendiri?”

“Aku dari Palagan. Kos dimana?”

Aku menyebutkan sebuah nama jalan, Arjuna juga menyebutkan lokasi kosnya. Dia berkata kos kami tidak terlalu jauh letaknya, aku sendiri belum mengenal wilayah ini dengan baik.

“Kenapa masuk akuntansi? Dari wajahmu kau lebih cocok jadi ilmuwan atau dosen.”

Entah sebuah pujian atau sebaliknya, tapi dari wajahnya sepertinya tak ada maksud lain dari pertanyaannya itu. “Entahlah... ayahku selalu ingin aku jadi akuntan.”

“Lalu kau menuruti saja keinginan ayahmu?” Aku mengangguk. “Tidak ada cita-cita yang lain?” Aku menggeleng. “Menarik.” Kini dia yang mengangguk-angguk kembali.

“Kau, kenapa masuk akuntansi?”

Dia tersenyum sebelum menjawab pertanyaanku. “Aku ingin menjadi auditor keuangan. Akan aku tangkap tikus-tikus perusahaan,” jawabnya mantap.

Lalu seperti sudah dikoordinasi sebelumnya, kami tertawa bersama. Inilah perkenalan pertamaku dengan Arjuna. Dia selalu mengomentari cara dan gaya dosen yang mengajar.

Kami selalu duduk bersebelahan hingga mata kuliah terakhir hari ini. Kami juga berkenalan dengan teman yang lainnya saat pergantian mata kuliah, namun hanya Arjuna yang sepertinya lebih cepat akrab denganku.

Hanya saat makan siang saja dia berpamitan, mungkin makan di tempat lain karena aku tidak melihatnya di kantin kampus.

Belum terlalu sore ketika aku sudah berada di kamar kosku. Belum banyak teman kos lain yang sudah ada di kamarnya. Kesempatan ini aku gunakan untuk mencuci pakaian.

Selama masa orientasi, aku belum sempat mencuci. Untunglah di tempat kos ini sudah ada mesin cuci yang bisa digunakan bersama. Balkon berubah fungsi menjadi tempat menggantung pakaian setengah kering.

Setelah semua selesai, aku mengeluarkan sebuah handphone android dari dalam tas. Seharian aku belum membukanya sama sekali. Ada beberapa pesan dari rumah, dari adikku Sita, pasti ibu yang menyuruhnya. Aku membalas pesannya, mengabarkan kalau hari pertama kuliahku baik-baik saja.

Belum ada tugas kuliah yang harus aku kerjakan, tak ada tempat yang ingin aku kunjungi kecuali membeli makan di warteg nanti malam. Pikiranku melayang pada pembicaraanku dengan Arjuna tadi.

Kenapa aku ingin menjadi akuntan? Aku tidak tahu tepatnya mengapa aku ingin jadi akuntan. Tapi selain menjadi akuntan, aku juga tidak memiliki tujuan pasti.

Yang aku tahu, ayahku selalu menggambarkan bahwa menjadi akuntan adalah sebuah profesi yang menjamin kesuksesan. Entah apa penyebabnya, mungkin ayah pernah bertemu akuntan sukses yang membuatnya ingin menjadikan anak laki-laki satu-satunya ini seperti orang itu. Atau, mungkin ayah beranggapan kalau dengan menjadi akuntan, aku akan bisa membantu pembukuan toko grosir ayah, membantu mengelolanya dengan lebih baik.

Meski aku yakin, toko grosir orang tuaku hingga saat ini masih baik-baik saja dengan sistem pembukuan manual yang dikelola ibuku. Aku membayangkan toko kami. Tak terlalu besar, namun lengkap untuk ukuran di sebuah kota kecil.

Dari sanalah ayah dan ibu membesarkanku dan Sita. Sayangnya, sekarang ini orang lebih suka membeli di minimarket yang membuat toko eceran kehilangan pelanggannya, dan berimbas ke toko grosir kami.

Saat aku lulus sekolah, aku sudah menolak untuk dikuliahkan ke kota Sibaru ini. Meski aku adalah lulusan terbaik di sekolahku dulu, tapi aku hanya anak kampung, sudah cukup dengan berkuliah di universitas negeri di sana. Tak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk kos dan makan.

Tapi ayah berkehendak lain. Dia tak ingin anak laki-lakinya terus hidup di kampung seperti dirinya. Anak laki-laki harus merantau, mendapat pengalaman di kota, menempuh pendidikan terbaik, menjadi akuntan dari universitas ternama, bekerja di perusahaan besar dan akhirnya bisa membantu ekonomi keluarga, membawa nama baik keluarga.

Aku membayangkan wajah teman-temanku di kelas tadi. Apa mereka juga ada yang sama sepertiku? Atau mereka mirip Arjuna, yang sudah yakin dengan impiannya? Yang aku tahu aku tidak boleh membuang-buang waktu. Mulai besok aku harus mencari pekerjaan paruh waktu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nunyelis
klo boleh tahu kampung winota di daerah mana thor...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Antara Hati dan Janji   24. Ketika Cinta Tak Terbalas

    Saka POVAku berangkat lebih pagi dari biasanya. Aku perlu mengembalikan buku dan meminjam buku lain di perpustakaan sebelum masuk kelas. Saat aku berjalan melalui halaman depan kampus, aku melihat Agnia. Dia duduk bersama kawan-kawan seangkatannya dulu.Agnia terlihat ceria, dia terlibat percakapan dan kadang tertawa. Halaman depan kampus yang cukup luas membuatku bisa melihatnya lebih lama hingga aku harus melewatinya. Sepertinya dia sudah kembali seperti semula. Aku harap begitu, namun dengan Agnia, kadang aku merasa dia bisa bersembunyi di balik tawanya.Aku sungguh berharap dia baik-baik saja. Kulewati Agnia dan teman-temannya menuju perpustakaan sekolah. Kami akan bertemu nanti di kuliah ketiga.Saat aku masuk kelas, Agnia sudah duduk di kursinya. Dia langsung melihatku sambil tersenyum seperti biasa."Hai, Saka," sapanya."Hai... Kau berangkat pagi sekali hari ini." Aku meletakkan tasku lal

  • Antara Hati dan Janji   23. Penyesalan dan Harapan

    Saka POV“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Suara Agnia mengagetkanku.“Aku? Tidak. Kenapa tidak ikut mata kuliah sebelumnya?” tanyaku.“Ada yang harus aku lakukan.” Agnia meletakkan tasnya di atas meja. Wajahnya tidak seperti biasa. Entah apa yang berbeda, namun memang tidak seperti biasanya.“Apa ada masalah?”“Tidak. Bukan masalah. Hanya terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan.” Dia mulai mengeluarkan buku dari dalam tas.“Jadi sesuatu yang buruk, ya. Apa itu?”Agnia memandangku, mungkin dia menimbang apakah mau menceritakan ini padaku atau tidak. “Aku butuh waktu untuk memprosesnya. Tapi mungkin aku jadi bisa merasakan bagaimana menjadi Saka. Tidak terlalu menyenangkan.”“Jadi aku? Kenapa?” Masih ada waktu beberapa menit sebelum dosen berikutnya masuk.“Ya. Mendapatkan cinta dari seseoran

  • Antara Hati dan Janji   22. Email Dari Masa Lalu

    Saka POV“Tumben kelihatan, gak kerja atau keluar?” tanya Edo ketika kami bertemu di balkon.“Tidak. Lagi ingin istirahat.” Aku duduk di kursi menghadap ke atap-atap perumahan di depanku. Dari sini aku bisa melihat Edo menyalakan rokoknya.“Gak sakit kan?” Aku menggeleng lalu Edo bertanya lagi, “Gadis yang sering datang bersamamu naik motor itu, pacarmu?”Edo bukan orang pertama yang bertanya mengenai Agnia. Beberapa temanku kini sering melihat Agnia di halaman depan dan ada juga yang melihat kami saat makan bersama di warteg.“Bukan, kami mengambil beberapa mata kuliah yang sama.”“Sayang sekali. Kalian tampak serasi.”“Betulkah?” tanyaku.“Iya. Jadi... siapa yang suka siapa?”Aku tertegun mendengar pertanyaan Edo. “Maksudmu?”“Kau dan temanmu itu, siapa yang suka siapa?

  • Antara Hati dan Janji   21. Sepenuh Hati

    Saka POV“Ciee... pacaran terus sekarang...” teriak Devan, salah satu teman Saskia.“Mau tauuu aja,” balas Agnia sambil menyerahkan kunci motornya padaku. Dia melambai pada Devan yang melangkah menuju motornya sendiri. “Kita ambil helm-mu dulu di kos-an ya?”“Oke.” Aku menegakkan motor matic Agnia lalu mengendarainya setelah Agnia menaikkan tubuhnya di jok belakang. “Bagaimana kabar teman-temanmu?”“Mereka baik, ada apa tanya mereka?” Tangan Agnia memegang kaos bajuku. Kadang, tangannya memegang sedikit punggung atau pinggangku jika dia perlukan. Aku tidak pernah meminta ataupun melarangnya.“Tidak. Apa mereka mengira kita... pacaran?” Kami masih berada di jalanan sekitar kampus yang belum terlalu ramai. Suaraku sepertinya masih bisa didengar jelas oleh Agnia.“Mereka hanya menebak-nebak. Aku tidak pernah mengiyakan. Aku t

  • Antara Hati dan Janji   20. Ruang Tak Terungkap

    Saka POVSudah seminggu sejak aku mengunjungi Saskia yang terakhir, aku belum mendengar kabarnya lagi hingga ayah Saskia menghubungiku. Demi kesehatan Saskia, aku dilarang mengunjunginya lagi hingga batas waktu yang belum ditentukan.Saskia baik-baik saja, kata ayahnya, dia hanya perlu waktu untuk mencerna segalanya secara perlahan. Saat aku bertanya lebih lanjut, ayahnya enggan menjelaskan. Beliau hanya memintaku menunggu kabar dari Palagan, dan yang penting, tidak menunjukkan wajahku di depan Saskia.Apa dia semakin memburuk? Aku teringat Arjuna. Selama ini aku semakin jarang mengingatnya, hanya saat bersama Saskia. Apa yang akan Arjuna lakukan kalau tahu aku memperburuk kondisi Saskia? Mungkin dia akan memukulku. Aku berharap dia bisa memukulku.“Ayo jalan-jalan setelah kuliah nanti?” Agnia sudah berdiri di sebelahku. Sepertinya dia baru datang.“Kemana

  • Antara Hati dan Janji   19. Jejak yang Pudar

    Saka POV“Meja nomor 17,” Seno memberikan satu nampan berisi dua steak dan dua milkshake padaku.Minggu memang selalu ramai, tapi Minggu ini bisa dikatakan ramai sekali. Mungkin karena sudah mendekati akhir semester, atau mungkin karena mendekati akhir bulan. Bukan hanya hari ini saja, tapi dari Sabtu kemarin.Aku sedikit lega memutuskan untuk tidak mengunjungi Palagan minggu ini. Setidaknya restoran ramai, itu berarti aku akan mendapatkan bonus meski tidak bisa dikatakan banyak.Setelah kuletakkan pesanan di meja nomor 17, aku beralih ke meja di sisi kiri yang sudah ditinggalkan oleh pengunjung. Kuambil piring dan gelas kotor untuk dibawa ke dalam. Jika tak ada halangan, mungkin saat ini Saskia sudah berada di tengah keluarganya. Dekat dengan orang-orang yang lebih mengasihinya.Semoga dia sudah bisa melupakan Arjuna, atau setidaknya dia tidak akan menunggu-nunggu Arjuna gadungannya ini datang ke sana. Tak ada kabar dari keluarga Saskia. Itu berarti semuanya baik-baik saja. Tapi mema

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status