首頁 / Young Adult / Antara Hati dan Janji / 3. Dunia yang Berbeda

分享

3. Dunia yang Berbeda

作者: Alexa Rd
last update publish date: 2026-04-17 15:18:39

Saka POV

Perkuliahan sudah berlangsung selama dua bulan, aku sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran. Pekerja paruh waktu, aku hanya membantu di akhir pekan. Sabtu dari pukul 3 sore hingga 10 malam dan Minggu dari pukul 9 pagi hingga 10 malam.

Gajinya dibayar harian, lumayan untuk membayar biaya rental komputer dan membeli buku di semester awal ini, sisanya aku tabung untuk kebutuhan dadakan dan jika aku beruntung, aku bisa membeli laptop baru, entah di semester berapa nanti.

“Saka, sepertinya ada yang naksir padamu,” suara Arjuna dari samping kananku.

“Naksir? Padaku? Siapa?”

“Tuh...” Kepala Arjuna memberi kode.

Aku ikuti arahnya. Tiga teman perempuan langsung mengalihkan pandangan mereka sambil menahan senyum mereka. Aku mengenal mereka meski tidak dekat, pastinya pernah berbasa-basi karena kami mengambil jurusan yang sama. Tapi naksir? Sepertinya aku tidak seberuntung itu.

“Kamu ada-ada saja. Mana ada yang naksir aku.”

“Kenapa tidak percaya? Mereka dari tadi melihat ke arahmu.”

“Mungkin mereka melihat kamu.” Ya, lebih mudah dipercaya kalau mereka naksir Arjuna dibandingkan aku. Arjuna lebih tampan, lebih ramah, lebih keren untuk dijadikan pacar.

“Aku sudah sering bicara dengan mereka, kalau mereka naksir aku, aku pasti tau. Lagipula, aku sudah punya pacar.”

“Oh ya? Siapa?”

“Kau tidak kenal. Dia anak seni. Kapan-kapan aku kenalkan.”

Aku tidak melihat ada manfaatnya mengenalkan pacarnya padaku, tapi aku mengangguk saja.

“Kau betul-betul tidak tertarik dengan gadis-gadis di sini?”

Aku melihat sekeliling kami. Tanpa sengaja pandanganku berpapasan dengan tatapan Erika, salah satu dari 3 gadis yang ditunjuk oleh Arjuna tadi. Apa benar dia suka padaku? Aku hanya tersenyum padanya lalu berlanjut menyapu pandangan ke kerumunan teman perempuan lainnya sebelum kembali melihat Arjuna dan menggeleng.

“Hmm... tidak salahmu. Gadis-gadis disini tidak terlalu menarik. Kau harus bertemu dengan teman-teman pacarku. Anak seni banyak yang cantik.”

“Aku tidak cocok berpacaran.”

“Kenapa? Kita ini masih muda. Jangan terlalu serius.”

“Aku tidak punya waktu.” Dan uang tentu saja. Aku bisa membayangkan apa yang diharapkan gadis-gadis saat mereka berpacaran.

“Kau akan menemukan waktu kalau kau sudah menemukan orangnya.” Aku menggeleng. “Serius Saka, kita masih semester 1, belum banyak tugas, dan selalu ada akhir pekan kalau kau tidak pulang kampung.”

“Aku bekerja di akhir pekan.”

“Oh ya?” Kini Arjuna menatapku dengan lebih serius. “Bekerja dimana?” Kusebutkan nama sebuah restoran tempat aku bekerja selama 2 weekend ini. “Aku tidak tahu kau bekerja,” lanjutnya.

“Kini kau tau sekarang, aku benar-benar tidak punya waktu untuk yang lainnya.”

“Kenapa kau bekerja? Maaf bukan aku ingin tahu kehidupan pribadi orang, tapi ada banyak alasan mahasiswa bekerja saat ini. Pertama, karena kondisi ekonomi keluarga, kedua untuk mengisi waktu dan mendapatkan uang lebih tentu saja, ketiga untuk pengalaman. Ada mahasiswa yang sudah magang di perusahaan penerbitan, sekedar mengasah kemampuan.”

Aku berpikir sejenak. “Mungkin aku ketiganya.” Aku tidak ingin menjelaskan lebih lanjut.

“Aku mengerti. Kalau ada yang bisa aku bantu, katakan saja.”

“Terima kasih,”

“Apa kau juga bekerja setelah kuliah?”

“Tidak.”

“Baguslah. Kapan-kapan aku ajak kau keluar. Jangan khawatir soal lainnya. Aku hanya tak ingin temanku hanya tau kampus, kos dan tempat kerjanya saja. Ini kota besar Saka, ada banyak tempat yang seharusnya kita kunjungi selagi disini.” Celoteh Arjuna sambil menyenggol lenganku.

“Terserah kau saja. Tapi jangan mendadak. Aku harus mengatur waktu agar sempat mengerjakan tugas di rental. Aku tak suka begadang di sana, bau asap rokok.” Sudah cukup bau rokok yang kadang masuk dari kamar Edo di kos.

“Pakai laptopku saja dulu kalau mau mengerjakan tugas. Tugas minggu depan kan? Pakai dulu.” Arjuna langsung memutar tubuhnya, mengambil tas di bawah meja.

“Tidak usah, kau kan juga perlu mengerjakan.”

Tanpa mendengarkanku, dia sudah menyodorkan laptopnya.

“Pakai saja dulu. Gini-gini otakku tidak terlalu bebal. Aku tidak butuh seminggu untuk membuat tugas itu. Bawa saja setiap pagi untuk kita kuliah, lalu bawa pulang kembali. Aku baru membutuhkannya mulai....kamis, atau jumat. Santai saja.”

Dia menyodorkan lagi laptopnya. Aku mengambilnya.

“Terima kasih.”

“Oh ya... di sana juga ada beberapa file film dan aplikasi game. Kau bisa membukanya kalau mau. Tak ada file rahasia.” Dia mengedipkan satu matanya sambil tersenyum. Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum, mengerti maksudnya.

“Bercanda kawan. Tapi aku memang suka film. Jika tidak menjadi auditor keuangan, aku pasti akan menjadi pekerja film. Melihat dari balik layar bagaimana sebuah karya itu dibuat, pasti sangat menyenangkan. Kau suka menonton film Saka?”

“Ya... cukup suka.”

“Apa sih sebenarnya hobimu?”

“Aku suka naik gunung.”

“Wow.. pendaki. Hebat. Aku belum pernah melakukannya. Ajak aku kapan-kapan.”

“Baiklah.”

Langkah kaki Bu Rumanti, dosen kami, membuat Arjuna kembali duduk tegak di kursinya.

= = = = = = = = = =

Kuambil laptop Arjuna dari dalam tas ranselku. Aku sudah sering melihatnya. Saat di kampus, Arjuna membiarkanku mengopi file digital ke dalam flashdisk lalu akan kubuka di rental untuk bahan membuat tugas atau belajar, namun baru kali ini aku menggunakannya secara langsung. Kubuka dan kuhidupkan dengan hati-hati, ini adalah barang mewah untukku.

Mataku sudah penat menatap layar laptop ketika aku turunkan padangan ke penanda waktu di gadget ini. Pukul 8.12 malam. Belum terlalu malam tapi seperti kata Arjuna, aku tidak perlu mengembalikannya buru-buru. Besok malam akan kukerjakan lagi.

Kusimpan pekerjaanku dan tak lupa membuat salinannya di flashdisk. Saat akan menutupnya, aku melirik file-file di drive D tempat aku menyimpan tadi. Arjuna bukanlah orang yang rapi.

Ada banyak file di drive D tanpa dia masukkan dalam folder. Kebanyakan adalah catatan kuliah. Aku ingat kata-katanya mengenai film. Tak ada salahnya aku menonton film. Biasanya aku menggunakan wifi restoran untuk melihat film di siang hari, saat masih belum banyak pengunjung datang.

Aku mencari file film Arjuna. Cukup aneh bagiku, remaja seperti kami memiliki file film saat kita hanya perlu internet untuk melihatnya di N*****x atau situs lainnya. Tapi ini Arjuna, dia menyukai film. Orang akan cenderung mengoleksi apa yang ia suka.

Aku membuka folder dengan judul Media, namun bukan file film yang aku temukan melainkan kumpulan foto. Tanpa sadar tanganku sudah membuka satu per satu foto yang terpampang di sana. Foto-foto dari seorang gadis cantik.

Gadis yang paling cantik yang aku pernah lihat hingga saat ini. Tidak secantik artis tentu saja, namun kecantikannya terlihat lebih alami. Jika dia menjadi artis, tentu melebihi artis lainnya. Ada foto Arjuna juga bersamanya, mereka terlihat mesra. Inikah pacar Arjuna?

Sudah ada beberapa foto yang aku lihat sampai kesadaran menemukanku. Aku segera menutup folder tadi. Kenapa aku jadi membuka file pribadi orang lain seperti orang yang tidak tahu sopan santun.

Meski Arjuna mengatakan tak ada file rahasia, namun aku tidak bangga dengan apa yang aku lakukan. Lebih baik aku matikan laptop ini.

Meski sudah berada di atas tempat tidur, pikiranku belum mau beristirahat. Aku menaksir harga laptop dengan spesifikasi menengah namun bisa diandalkan setidaknya hingga selesai aku kuliah, sekedar untuk memudahkanku belajar dan mengerjakan tugas.

Mungkin 7 juta? Jika aku terus bekerja di akhir pekan dengan hitungan 3 shift, maka mungkin aku baru bisa membelinya semester depan, itu jika aku tidak menggunakannya untuk kebutuhan yang lain. Semoga Sita tidak merengek meminta hal aneh-aneh lagi seperti minggu lalu.

Suara pesan dari handphone terdengar dari meja belajar.

Besok tak usah bawa laptop ke kampus. Setelah kelas selesai, kau ikut denganku. Oke?” pesan dari Arjuna. Apa yang ada di pikiran temanku itu.

Hingga dua bulan ini, aku berteman baik dengan siapa saja. Namun hanya sedikit nama yang bisa aku golongkan sebagai teman dekat. Dari yang sedikit itu, Arjuna adalah yang paling sering menghabiskan waktu denganku. Entah apa yang membuat anak populer itu mau berteman denganku si anak kampung.

Baiklah,” aku membalas pesannya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Antara Hati dan Janji   42. Langkah Terakhir Untuk Masa Lalu

    Author POVLangit biru cerah dengan angin yang semilir di ibu kota Kotabaru sore ini membuat banyak orang memilih berjalan-jalan di sekitar taman kota. Sebuah taman yang cukup besar dengan sungai buatan di tepinya menyuguhkan suasana alami di tengah hiruk pikuk ibu kota yang selalu ramai.Jalur setapak yang lebar memungkinkan pengunjungnya bermain sepeda, sepatu roda, atau berjalan kaki di bawah pepohonan yang rindang.Di antara para pengunjung yang ingin menikmati taman sore itu, terlihat sepasang pria dan wanita berjalan beriringan sambil mengamit lengan satu sama lain. Mereka terlihat mesra dengan sepasang cincin yang melingkar di jari manis."Tali sepatumu lepas," kata sang pria pada istrinya. Tak menunggu lama, dia lalu membungkukkan badannya untuk membetulkan ikatan tali sepatu tanpa hak milik istrinya. Kepalanya mendongak. "Sudah nyaman?" tanyanya."Iya, terima kasih," kata sang istri.

  • Antara Hati dan Janji   41C. Di Ujung Harapan Saskia

    Saka POVSaskia diam saja, namun air matanya terus turun. Setelah ayahnya menjauh sambil merangkul istrinya, aku mendekati tempat tidur Saskia.“Kia,” sapaku sambil menggenggam tangannya.“Saka,” jawabnya dengan suara parau. “Maaf aku merepotkanmu lagi sampai kau harus datang ke sini. Padahal aku sudah berkata tidak akan mengganggumu.” Tatapan matanya lurus padaku , lemah dan pilu.Aku mengangguk. “Sudah, jangan berpikir terlalu berat. Istirahat saja, ya,” pintaku.Saskia menggeleng. “Aku malu bertemu, Saka. Kenapa aku masih di sini?” Saskia menangis lagi.Ibu Saskia yang mendengar ucapannya ikut menangis dalam pelukan suaminya.“Kia, jangan berpikir begitu. Ada Ayah dan Ibu yang begitu menyayangimu. Kami ingin kau sehat, bahagia,” Hatiku seperti teriris. sudah betul-betul hilangkah semangatnya untuk hidup?“Tapi aku han

  • Antara Hati dan Janji   41B. Di Ujung Harapan Saskia

    Saka POV“Bagaimana Saskia, Bu?” sudah tak ada basa-basi lagi. Semua di sini berkumpul untuk Saskia.“Masuk, Nak,” jawab Ibu Saskia sambil memberi ruang untuk aku masuk ke dalam.Di dalam, ada kakak perempuan Saskia yang segera berdiri setelah melihatku. Dia tersenyum sayu. Aku membalas senyumnya sambil mengangguk. Di tengah ruangan, Saskia tampak lelap tertidur. Di lengannya terpasang selang infus dan selang transfusi darah.Aku ingat ayah Saskia berkata Kia memotong nadinya. Pandanganku berpindah ke lengan kirinya yang diperban.“Dia sudah sadar, tapi saat ini tertidur karena pengaruh obat,” kata kakak Saskia , aku tidak ingat namanya. Aku hanya mengangguk.Aku duduk di satu kursi yang paling dekat dengan tempat tidur Saskia, tak mau mengganggunya. Kami terdiam dalam keheningan hingga pintu kamar dibuka dari luar. Ayah

  • Antara Hati dan Janji   41. Di Ujung Harapan Saskia

    Saka POVSetelah mendapatkan kabar mengenai Saskia, aku memutuskan untuk kembali ke kos. Meski Agnia pulang pun, sepertinya aku tak bisa menemuinya tanpa memperlihatkan emosi yang aku sendiri tak mengerti saat ini.Aku tak ingin Agnia tahu mengenai apa yang terjadi dengan Saskia. Mungkin dia akan merasa bersalah, meski tak ada kesalahan pada diri Agnia sedikit pun. Ini sepenuhnya salahku.Sesampainya di kos, aku langsung mandi. Aku butuh air segar untuk membilas tubuh dan emosiku. Selain itu, aku berharap waktu bisa lebih cepat berlalu. Aku berharap Agnia sudah mau menghubungiku, meski hanya untuk memberi tahu di mana dia saat ini dan apakah dia baik-baik saja.Setelah selesai mandi, akhirnya kudapatkan kabar itu dari pesan yang dia kirim.Aku sudah di rumah. Aku ke Narama tadi. Aku butuh waktu, Saka.Aku mengambil napas panjang. Dia ke Narama sendirian. Agnia, pacarku, ke air terjun Narama seorang diri. Mengendarai motornya, naik turun jurang sendirian.Seharusnya aku bersamanya, men

  • Antara Hati dan Janji   40B. Dua Hati yang Patah

    Gambaran Agnia menungguku tak bisa aku usir dari kepala. Tapi permintaan Saskia ini, aku tak bisa mengabaikannya. Mengapa dia terus bicara soal yang terakhir.Apa dia selama ini masih ingin aku menemaninya? Lalu kali ini, dia benar-benar ingin melepaskan diri dari keinginan itu? "Aku harus mengabari Agnia dulu kalau aku akan terlambat," kataku akhirnya."Baiklah. Kabari dia, tapi jangan menutup teleponnya. Aku takut kau tak akan kembali," kata Saskia perlahan."Baiklah."Aku mengetik pesan untuk Agnia, mengatakan aku akan terlambat. Aku tahu bagaimana nanti reaksinya, dia akan khawatir lalu meneleponku.Tapi aku tidak bisa menerima teleponnya tanpa menutup telepon Saskia. Sebaiknya aku tuliskan saja alasannya, aku pun tak ingin berbohong padanya.Aku akan terlambat. Saskia menelepon. Dia ingin aku menemaninya untuk yang terakhir kali. Aku tidak tahu maksudnya, tapi aku khawatir.

  • Antara Hati dan Janji   40. Dua Hati yang Patah

    Saka POVSemakin dekat ke sidang akhir, semakin sibuk kami. Saskia tak pernah menelepon lagi, aku pun semakin jarang memikirkannya seiring dengan persiapan sidang akhirku.Agnia sama sibuknya, apalagi ayahnya akan pulang setelah Agnia sidang akhir. Ayahnya yakin Agnia bisa lulus dan dia ingin hadir di acara wisuda anaknya.Meski hingga kini dia tidak pernah menceritakan soal diriku pada ayahnya, namun Agnia sudah berencana untuk mengenalkan kami secara langsung nanti. Aku tidak keberatan.Agnia mendapatkan jadwal sidang akhir terlebih dahulu. Aku menungguinya hingga selesai. Begitu juga saat aku sidang akhir dua hari kemudian.Agnia datang ke kampus untuk menemani dan memberi semangat. Kami berdua dinyatakan lulus tahun ini. Sebuah kabar yang menggembirakan untuk kami dan keluarga. Saat-saat di kampus tinggal menghitung minggu. Saat-saat kami menjadi mahasiswa sudah hampir berakhir.

  • Antara Hati dan Janji   7. Kepergian

    Saka POVSemester 2 sudah berakhir. Di sini aku bukanlah murid terbaik seperti di kampung, tapi setidaknya aku termasuk mahasiswa dengan pencapaian di atas rata-rata. Selain itu, dengan bekerja, aku bisa menabung.Setelah memiliki laptop, aku bisa menyisihkan uangku untuk kebutuhan lainnya. Kadang,

  • Antara Hati dan Janji   6. Janji di Ketinggian

    Saka POVLiburan semester lalu, aku pulang ke rumah. Itu adalah pulang kampung pertama sejak aku kuliah di Sibaru. Menghemat uang adalah alasan utama aku tak banyak bepergian. Kini di semester dua, aku sudah bisa membeli laptop. Bukan hanya dari uang hasil bekerja, ayah juga memberiku uang sebelum

  • Antara Hati dan Janji   5. Berdebar Dalam Diam

    Saka POVSudah lebih dari dua minggu sejak pertemuanku dengan Saskia dan Winda yang pertama. Sore ini, setelah kuliah, Arjuna mengajakku untuk menemaninya lagi bersama Saskia dan Winda. Ini adalah ajakan Arjuna yang ketiga setelah sebelumnya aku tolak dengan berbagai alasan.Selama itu, Winda dan a

  • Antara Hati dan Janji   4. Gadis Kota

    Saka POV“Kemana kita akan pergi?” tanyaku pada Arjuna yang memberiku sebuah helm. Dia sendiri sudah siap di atas motor sport berwarna merah.“Ayo naik. Kita akan mengambil mobil dulu di rumah pamanku, lalu menjemput Saskia dan temannya. Sudah ikut saja, pasti lebih seru dibandingkan diam di dalam

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status