เข้าสู่ระบบDengan emosi tertahan, Elena menaruh perabotan yang sudah dicuci ke rak piring, dan dia sengaja membuat kegaduhan.
“Lena! Apa kamu tidak bisa pelan-pelan?”
Elena membalikkan badan, kemudian menatap tajam sang ibu mertua.
“Ibu!”
Ratih tersentak dengan teriakan menantunya.
“Bisakah sekali saja Ibu berbicara yang baik padaku? Apa Ibu tidak bisa menghentikan mulut Ibu yang hanya mengkritik dan menyalahkan aku?”
Saking kesalnya, Elena meninggalkan dapur yang masih tersisa sedikit perabotan yang kotor. Dia tidak peduli lagi. Berada berdua dengan ibu mertuanya hanya akan membuatnya terpancing emosi. Dia pun mendengus marah saat menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Setengah jam kemudian Elena turun setelah taksi online yang dipesannya datang. Dia mengeloyor keluar tanpa berpamitan dengan ibu mertuanya.
Dalam perjalanan, Elena membuka dompetnya. Kemarin setelah dari tempat kost Aldo, mereka pergi berbelanja bahan makanan. Aldo yang membayari semua belanjaannya. Selain itu Aldo juga memberinya uang satu juta.
Sejujurnya, Elena sempat merasa jijik dengan dirinya sendiri. Dia merasa bersalah dan berdosa karena telah berselingkuh sampai melakukan hubungan intim dengan pria lain selain suaminya. Ditambah dengan Aldo yang memberinya uang dan membelanjakan bahan makanan untuk di rumahnya. Apakah memang harus seperti itu, seolah dia menjual diri kepada pria lain? Dia merasa dirinya benar-benar rendah dan hina.
Elena mendesah pelan sembari melayangkan pandangan keluar jendela. Kepalanya terasa pening dengan berbagai macam pikiran yang melintas di benaknya.
***
Di tempat duduknya yang berada di area proyek, Damar menghisap pelan rokoknya. Matanya menatap layar laptop di depannya. Dia malas untuk memulai pekerjaannya. Sebuah pekerjaan yang sangat dia benci.
Menurutnya, menjadi seorang drafter cukup dengan lulusan SMK. Bukan seorang sarjana arsitektur seperti dirinya. Entah apa yang terjadi, dia merasa hidupnya selalu sial. Bukan sekali dua kali Damar mencoba peruntungan dengan bergabung bersama para arsitek lain, tetapi dia selalu dicemooh. Dianggap tidak berkompeten dan tidak memiliki bakat.
Permohonan istrinya yang memintanya banting setir mencari pekerjaan lain, tidak pernah digubrisnya. Damar menganggap Elena sama saja seperti rekan-rekannya, yang hanya bisa mengecilkan usahanya.
Ketika masih termenung dengan rokok yang terjepit di jemarinya, Damar dikejutkan dengan panggilan seorang wanita muda.
“Pak Damar!”
Damar menoleh, menatap Shila―wanita berparas manis yang sudah duduk di sampingnya. Namun dia tidak membalas panggilan wanita itu.
“Dipanggil Pak Ardi. Ditunggu di ruang rapat.”
Pagi ini tidak ada rapat apa pun. Damar yakin pasti atasannya ini memintanya datang untuk menagih pekerjaan. Segera dia mematikan rokok yang tersisa sedikit di asbak, lalu mengangkat laptop-nya untuk dibawa ke ruang rapat.
Namun sebelum keluar dari ruangan, langkahnya terhenti dengan panggilan Shila yang kedua kali. Damar menoleh ke belakang. “Kenapa?”
“Hmm … itu Pak Damar. Rumah saya kosong hari ini. Kebetulan orang tua saya pulang ke Malang tadi pagi. Apa Pak Damar mau ke rumah sore nanti, setelah pulang kerja?” Shila bertanya dengan tatapan berharap.
Damar memikirkan undangan Shila yang terdengar cukup menyenangkan. Dia pikir dia tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Baru saja hendak mengiyakan, tiba-tiba dia teringat dengan telepon dari pihak leasing yang hampir setiap hari menerornya.
“Tidak,” jawabnya tegas. “Hari ini aku tidak bisa karena harus menjemput istriku.”
Setelah menolak undangan itu, Damar melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu. Sementara Shila hanya bisa terpaku sambil mengigit jari telunjuknya.
***
Arnaldo Brawijaya sibuk mempelajari beberapa gambar resort yang dikirim melalui email. Pria muda berusia 25 tahun itu tidak ingin membuang waktu karena siang hingga sore dia sudah memiliki jadwal. Pukul 2 siang dia harus melatih anak-anak basket junior, dan sorenya dia sudah membuat janji untuk bertemu Elena.
Ponsel yang tiba-tiba berbunyi, mengalihkan tatapannya dari layar laptop. Tanpa melihat nama penelepon, dia menjawab panggilan itu.
“Halo!”
[Aldo, kapan pulang? Sudah bertahun-tahun kamu tidak pulang. Apa kamu sudah lupa jalan ke rumah orang tuamu sendiri?]
Aldo terkekeh mendengar ucapan ibunya. “Baru juga enam bulan lalu pulang. Kenapa? Apa Mama kangen?”
[Ya jelaslah kangen! Kamu ini ya, pulang kalau hanya didesak. Tidak ada inisiatif sendiri bertemu orang tua. Jadi kapan kamu pulang? Minggu ini bisa kan?]
“Tidak bisa, Ma. Aku masih sibuk dengan jadwalku.”
[Kenapa tidak kamu lepaskan pekerjaan itu? Toh hasilnya tidak seberapa. Lebih baik kamu di Bali, serius dengan pekerjaan di sini.]
“Hmm … nanti deh aku pikirkan lagi, Ma. Sekarang aku tutup teleponnya ya. Mendadak perutku mulas.” Aldo tertawa kecil karena telah membohongi ibunya. Dia hanya ingin menghindar dari percakapan itu.
[Ya sudah. Mama tunggu kabar secepatnya.]
Percakapan berakhir. Aldo menaruh ponselnya di meja, kemudian tatapannya beralih ke layar laptop. Namun tiba-tiba dia teringat satu hal yang harus dikerjakannya.
Diambilnya ponsel kembali, kemudian membuka salah satu aplikasi m-banking miliknya. Setelahnya Aldo melanjutkan kesibukannya.
***
Sejak pagi Elena berkutat dengan pekerjaannya. Tanggung jawabnya sebagai kepala bagian keuangan di sebuah perusahaan manfuktur, membuatnya hanya sedikit memiliki waktu untuk berleha-leha. Terlebih menjelang akhir bulan seperti saat ini. Banyak tagihan yang sudah tenggat waktu untuk dibayar.
Elena melirik arlojinya. Waktu sudah melebihi pukul 4 sore. Bergegas dia mengumpulkan dokumen yang akan dibawa ke ruangan Ms. Brenda―wanita blasteran yang merupakan atasannya―untuk diperiksa dan ditandatangani. Dia tahu biasanya sang manajer akan memintanya menunggu sampai urusannya selesai.
Namun sebelum menghadap atasannya, Elena menyempatkan diri membuka ponsel. Dia penasaran dengan suara notifikasi yang didengarnya beberapa jam lalu.
Senyumnya mengembang seketika melihat pesan dari Aldo. Bukan pesan tulisan, melainkan bukti transfer. Bahkan kedua matanya sedikit membesar melihat nominal yang dikirim Aldo. Setidaknya dengan uang 5 juta di tangan, dia bisa sedikit tenang karena bisa menyambung hidup sampai saatnya menerima gaji.
Tidak lupa untuk berterima kasih, Elena mencoba menghubungi Aldo. Namun setelah beberapa kali melakukan panggilan, Aldo tidak juga menjawabnya.
“Apa saat ini dia sedang sibuk?” gumam Elena sembari mengetikkan pesan kepada pria itu.
Setelah mengirim pesan, Elena mengambil tumpukan dokumen untuk dibawa ke ruangan atasannya. Sungguh dia berharap pekerjaannya cepat selesai karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Aldo.
Brenda menerima dokumen tersebut sambil menggerutu. “Kenapa baru dikasih sore begini? Mestinya setelah jam istirahat tadi.”
Menyadari kesalahannya, Elena buru-buru menjawab teguran dari atasannya. “Ya, Ms. Brenda. Saya minta maaf. Berikutnya akan saya usahakan lebih cepat.”
"Bukan hanya itu, Elena. Saya minta kamu fokus dengan pekerjaan saat berada di kantor, dan kesampingkan masalah lain. Saya tidak ingin ada kesalahan sedikit saja dari kamu seperti sebelumnya. Paham?"
Elena tertegun. Apa maksudnya kesampingkan masalah lain?
Damar hanya menatap ibunya sebentar, kemudian melangkah masuk menuju sofa. Dia melepas sepatu, setelah itu duduk berselonjor dengan kedua kaki berada di atas meja.Ratih ikut duduk di hadapannya. Dia menggelengkan kepala sembari melihat tingkah anaknya.“Jangan tanya macam-macam, Bu,” ucap Damar sambil memejamkan mata. “Aku benar-benar capek.”“Kalau capek, kenapa setiap hari pulang malam?”Damar mendengus sebelum menjawab ibunya. “Sekarang baru jam sepuluh. Belum terlalu malam.”“Orang lain jam tujuh sudah sampai rumah, Damar. Kok kamu bisa setiap hari lembur? Memangnya pekerjaan kamu banyak banget dan tidak ada habisnya?”Lama-lama Ratih tidak percaya dengan alasan anaknya. Perusahaan mana yang mengharuskan karyawannya lembur setiap hari?“Oya, tadi siang ada collector datang. Katanya, kamu belum bayar cicilan mobil dan sudah terlambat hampir sebulan. Kenapa belum dibayar, Damar? Terus terang Ibu malu karena dilihat tetangga depan. Mana si collector suaranya keras banget.”Damar mem
“Apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena akhirnya.“Kamu duduk dulu,” balas Ratih dengan mata menyorot tajam. “Tidak sopan bicara dengan orang tua sambil berdiri.”“Memangnya apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena sekali lagi. “Aku harap tidak lama.”Ratih tidak menjawab, dan berpaling menatap Justin. “Kamu tunggu di atas. Nenek mau ngomong sama Mama kamu.”Justin bertatapan dengan Elena. Setelah mendapat anggukan dari ibunya, dia meninggalkan ruang keluarga.Elena duduk setelah memastikan putranya menaiki tangga. Firasatnya mengatakan ada sesuatu hal tidak enak yang akan disampaikan Ratih.“Langsung saja, Bu,” ucapnya tanpa berbasa-basi. “Apa yang ingin Ibu bicarakan?”“Ibu ingin tahu, apa kamu tidak akan kembali ke rumah ini?”Elena terkesiap. Pertanyaan yang cukup frontal. Namun dia bukanlah Elena yang dulu. Dia siap menghadapi Ratih dan membuka semuanya.“Sebenarnya aku tidak ada niat meninggalkan rumah. Aku yakin Ibu sudah mendengar ceritanya. Aku keluar karena diusir anak
“Justin!” Ratih memanggil dari depan kamarnya. “Kamu ngomong sama siapa?”Justin bertatapan dengan ibunya.“Kamu turun dan bilang Nenek, kalau Mama yang datang,” ucap Elena yang sudah berada di ujung tangga.“Apa Mama tidak mau menemui Nenek?”“Nanti saja. Mama mau membereskan barang-barang Mama dulu.”Justin masih menatap Elena. Terselip perasaan bersalah karena telah mengusir ibunya.Sejujurnya dia berada dalam kebimbangan, antara percaya dengan ibunya atau ucapan neneknya. Namun fakta bahwa dia melihat sendiri kemesraan ibunya dengan Aldo, masih membuatnya menyimpan kemarahan.Justin menuruni tangga, kemudian menghampiri Ratih yang masih menunggu di depan kamar.“Aku ngomong sama Mama, Nek.”“Mama?” Kedua alis Ratih terangkat. “Mama kamu di sini?”“Iya.”“Terus sekarang Mama di mana? Kok Nenek tidak lihat?”“Mama di atas, lagi membereskan baju.”Ratih terlihat bingung. “Maksud kamu, Mama pulang dan sedang merapikan baju?”“Bukan. Mama cuma mau mengambil beberapa bajunya.”“Ohh ….”
Keesokan harinya Elena kembali bekerja. Kemarin dia terpaksa izin kepada Brenda, dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Biarlah, toh atasannya sudah tahu permasalahan rumah tangganya, kecuali fakta mengenai ayah kandung Justin.Elena juga menceritakan masalahnya pada Asya. Bagaimanapun, hanya Asya yang menjadi teman baiknya. Meskipun awalnya menutup diri, pada akhirnya Elena mengakui bahwa dia membutuhkan seorang teman.Asya mengembuskan napas panjang. “Ada-ada saja ya, Len. Tapi menurutku, kamu tidak bisa diam saja. Kamu harus melakukan sesuatu.”“Aku tahu, Sya. Aku harus memikirkan rencana untuk mengambil kembali kepercayaan Justin. Juga rencana untuk berpisah dari Mas Damar. Meskipun semuanya membutuhkan waktu.”“Setuju. Aku dukung sepenuhnya kamu cerai dengan Damar. Maaf ya Len, suami dan mertua kamu benar-benar toxic.”Elena mengangguk. Kali ini dia tidak akan tinggal diam. Bukan dendam, dia hanya tidak mau menjadi wanita lemah lagi. Dia harus bangkit untuk Justin dan dirinya
Elena masih berdiri terpaku dan menatap nanar putranya. Perasaan sakit langsung menusuk ke relung hatinya.“Kamu mengusir Mama, Justin?” tanyanya kemudian dengan suara bergetar. Dia tidak percaya telah diusir oleh putranya sendiri.“Iya! Lebih baik aku tidak punya ibu seperti Mama. Ayah kandungku saja tidak jelas. Kalau orang lain tahu, mereka akan mengatai aku anak haram.” “Tidak seperti itu, Justin. Di rumah sakit, Mama sudah menjelaskan semuanya sama kamu. Rangga, ayah kandung kamu, tidak pernah menolak kehadiran kamu. Seandainya Rangga tidak meninggal, kami sudah pasti menikah.”“Tidak ada gunanya Mama ngomong begitu sekarang. Kenyataannya aku bukan anak Papa Damar. Tapi Papa Damar sayang sama aku. Tidak pernah marah, dan sering mengajak aku jalan-jalan.”Justin menatap ibunya. Wajahnya memerah karena marah, dan matanya sudah berkaca-kaca.“Tapi Mama masih berhubungan dengan Kak Aldo. Padahal aku sudah minta Mama putus. Mama egois! Hanya memikirkan diri Mama sendiri! Mama tidak
Justin terdiam. Dia enggan membicarakan pertengkaran orang tuanya. Apalagi menceritakan pada neneknya.“Hmm, seharusnya Nenek tidak bertanya sama kamu,” ucap Ratih yang menyadari Justin tidak suka dengan pertanyaannya. “Sudah, kita lanjutkan makan.”Justin melanjutkan makan dalam diam. Begitu pun dengan Ratih. Namun benaknya penuh dengan kata-kata ancaman yang dilontarkan Avanti. Dia juga mengingat percakapan dengan anaknya.Beberapa menit berlalu. Ratih sudah tidak tahan menutup mulutnya.“Apa kamu tahu, Justin, Mama kamu punya pacar. Mama kamu selingkuh. Bahkan Nenek pernah melihat Mama kamu pulang diantar laki-laki lain.”“Waktu itu ‘kan Nenek sedang menginap di rumah Om Abram,” lanjut Ratih. “Jadi Nenek tidak tahu persis masalahnya. Sebenarnya Papa dan Mama ribut apa sih? Apa kamu tahu, Justin?”Justin menghentikan makannya yang tersisa sedikit. Wajahnya cemberut, dengan kedua alisnya menyatu.“Aku tidak tahu apa-apa,” jawabnya dengan suara dingin.“Lho, kamu ‘kan ada di rumah. Ma







