Partager

Bab 7: Hinaan Davin

Auteur: Losakata
last update Date de publication: 2026-07-01 14:57:13

Aleena gemetar hebat. Telapak tangannya seketika sedingin es, dan seluruh sendi di kakinya seolah kehilangan kekuatan untuk menopang berat tubuhnya sendiri. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatu cats-nya yang sudah dibersihkan pihak rumah sakit, tanpa berani sedikit pun mengangkat wajah untuk menatap ke arah Davin. Kilasan memori di koridor kampus—saat Davin menyiramnya dengan air kopi, menertawakan tas kain murahnya, dan memprovokasi mahasiswa lain untuk menjauhinya—kembali berputar di kepalanya bak kaset rusak.

"Ayah... kenapa Ayah pungut jalang gembel ini dan dibawa kemari? Bikin rumah kotor aja!"

Kata-kata kasar itu meluncur begitu saja dari bibir Davin tanpa penyaringan. Seringai jijik tercetak jelas di wajah tampannya. Di mata Davin, Aleena adalah kasta terendah yang pernah ia temui di kampus. Makhluk miskin yang tidak punya harga diri, dan kini makhluk itu dengan berani menginjakkan kaki di atas lantai marmer mengkilap milik keluarganya.

Mendengar makian yang begitu kasar dari mulut putranya pada Aleena membuat Kevin geram. Rahang pengusaha matang itu mengeras, dan sorot matanya yang biasa teduh seketika memancarkan kilat kemarahan yang mengerikan.

"Jaga bicaramu, Davin! Dia Aleena, dan mulai sekarang dia akan tinggal di sini bersama kita!" bentak Kevin. Suaranya yang bariton menggelegar di seisi lobi utama, membuat dua pelayan yang sedang menyeka guci di sudut ruangan spontan menunduk ketakutan.

Davin tidak gentar. Ego tingginya terusik melihat sang ayah membela seorang perempuan asing yang asing bagi sang ayah, namun sangat ia kenali sebagai target rundungannya. Davin maju selangkah, menatap Aleena dengan pandangan menghujam seolah ingin menguliti gadis itu hidup-hidup.

"Heh! Apa yang kau berikan pada ayahku hingga dia membelamu begitu, hah?!" tanya Davin dengan nada tajam dan penuh tuduhan implisit yang merendahkan.

"Davin!!! Cukup!!" Kevin menempatkan tubuh tegapnya di depan Aleena, menjadi tameng hidup yang memutus pandangan intimidasi putranya. "Aleena baru saja menyelesaikan perawatan di rumah sakit. Lukanya saja masih basah, patah tulangnya belum pulih benar! Kenapa kau begitu kasar pada sesama manusia?!"

Davin mundur selangkah, lalu menatap ayahnya dengan senyum sinis yang getir. "Ayah bahkan berani membentakku di depan perempuan gembel ini? Sangat aneh! Ayah belum lama mengenalnya, tapi Ayah seolah sudah menganggapnya seperti barang berharga."

"Sejak tadi Aleena hanya diam dan tidak melakukan kesalahan apa pun padamu, tapi kau malah menghinanya tanpa dasar!" balas Kevin, suaranya naik satu oktav. Ia benar-benar kecewa dengan temperamen buruk yang ditunjukkan oleh putra tunggalnya.

"Terus aja Ayah bela dia! Terus!" teriak Davin penuh emosi.

Pemuda itu menghentakkan kakinya dengan kasar di atas lantai marmer, berbalik, dan berjalan cepat menuju arah ruang makan belakang. Langkah kakinya sengaja dihentakkan sebagai bentuk protes. Namun, dari jarak jauh di ujung koridor lorong belakang, Davin diam-diam membalikkan badan. Matanya menyipit tajam, memperhatikan bagaimana ayahnya dengan begitu penuh perhatian memegangi lengan Aleena, membantu gadis itu melangkah dengan sangat hati-hati untuk menaiki anak tangga satu demi satu.

Tangan Kevin yang kokoh menyangga tubuh ringkih Aleena yang masih pincang dengan sisa-sisa kelembutan yang tidak pernah Davin dapatkan sejak ibunya meninggal.

Davin mengepalkan tinjunya di dalam saku celana. Rahangnya bergemertak rapat. "Dasar murahan. Belum apa-apa sudah berhasil menjinakkan pria tua berharta," desis Davin dalam hati dengan dendam yang mulai memupuk.

---

"Tuan, Saya rasa sebaiknya Saya pergi saja dari sini." ujar Aleena.

"Apa yang kau katakan? kau akan tinggal disini, tak ada yang bisa mengusirmu selain aku!" ujar Kevin sambil terus membantu Aleena.

"Tapi..."

"sstt....diamlah, masalah Davin aku akan mengurusnya." jawab Kevin pengertian.

"terimakasih tuan."

Setibanya di lantai dua, Kevin menuntun Aleena melewati sebuah koridor panjang yang dilapisi karpet bulu tebal yang meredam setiap suara langkah kaki. Di koridor itu, hanya ada tiga pintu kamar besar yang saling berhadapan. Kevin berhenti di depan pintu tengah yang berwarna putih gading.

"Aleena, di sini kamarmu. Di sana kamarku, dan di sebelah situ adalah kamar Davin," tunjuk Kevin pada dua pintu kayu jati lain yang terletak tak jauh dari kamar yang akan ditempati Aleena.

Aleena tersentak kecil. Ia mendongak, menatap Kevin dengan tatapan penuh kebingungan dan rasa sungkan yang luar biasa. "Tuan... bukankah saya di sini hanya akan menjadi pembantu? Mengapa kamarnya di lantai atas, bahkan berdampingan di samping Anda dan... dan Davin?" tanya Aleena dengan suara bergetar. Membayangkan kamarnya bertetangga dengan Davin sudah cukup membuat tidurnya tidak akan nyenyak.

Kevin tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Aleena yang tidak cedera dengan pelan. "Aleena, jangan banyak berpikir dulu untuk sekarang. Fokus utamamu adalah sembuh. Kamar di bawah terlalu lembap untuk pemulihan tulangmu, dan di sini lebih mudah dipantau jika kau membutuhkan bantuan medis darurat. Masuk dan istirahatlah!" pinta Kevin dengan nada lembut namun tidak menerima penolakan.

Aleena tidak punya pilihan lain selain mengangguk patuh. Tubuhnya memang sudah berada di ambang batas kesanggupan setelah ketegangan batin dan fisik yang ia lalui sejak sore. "Terima kasih banyak, Pak Kevin," bisiknya sebelum memutar knop pintu kamar.

Begitu melangkah masuk, Aleena terpaku. Kamar itu luar biasa megah. Sebuah ranjang berukuran besar dengan seprai sutra abu-abu muda mendominasi ruangan. Ada gorden beludru tinggi yang menjulang dari langit-langit hingga menyentuh lantai, menyembunyikan balkon yang langsung menghadap ke arah kolam renang bawah.

"Indah sekali kamarnya," gumam Aleena pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

Ia menyeret langkah pincangnya menuju tepi ranjang. Dengan sangat hati-hati agar tidak menekan bagian tubuhnya yang masih dibalut gips, Aleena merebahkan diri di atas kasur yang begitu empuk. Kehangatan dan kenyamanan kasur itu seolah memeluk seluruh rasa lelah dan sakit hati yang ia pendam. Hanya dalam hitungan menit setelah menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal indah, mata Aleena terasa sangat berat. Ia pun tanpa sadar terlelap ke dalam tidur yang lelap, melupakan sejenak bahwa ia berada di dalam rumah musuh besarnya.

---

Keheningan kamar itu hanya bertahan selama kurang lebih tiga puluh menit. Di luar, hari sudah sepenuhnya berganti malam, memayungi mansion mewah itu dengan kegelapan.

Cklek...

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Antara Cintamu dan Cinta Ayahmu   Bab 56: Lautan gairah

    Lampu kristal raksasa di langit-langit penthouse suite sebuah hotel bintang lima menyala redup, memancarkan pendar keemasan yang hangat dan intim. Di luar jendela kaca setinggi atap yang menghadap langsung ke hamparan laut malam yang sunyi, gumpalan ombak memecah keheningan. Namun di dalam ruangan mewah itu, dunia seolah berhenti berputar. Hanya ada Kevin dan Aleena, terisolasi penuh dari kepungan dunia luar.Sejak penerbangan privat mereka mendarat di pulau pribadi ini untuk merayakan bulan madu, Kevin telah mengambil alih seluruh kendali atas kebebasan Aleena. Sifat posesif pria matang itu—yang sebelumnya tertahan oleh norma dan rahasia—kini meledak tanpa batas usai cincin pernikahan melingkar sah di jari manis mereka.Kevin memesan seluruh lantai teratas hotel khusus untuk mereka berua. Ponsel Aleena dimatikan total dan disimpan di dalam brankas besi oleh Kevin, sementara pintunya dikunci rapat dari dalam. Bagi sang pengacara berkuasa, tidak boleh ada satu pun gangguan, panggilan t

  • Antara Cintamu dan Cinta Ayahmu   Bab 55: pernikahan

    Kenyataan hidup yang menghantam tanpa ampun perlahan mengubah diri Davin. Penampilan mewahnya yang dulu dihiasi pakaian bermerek, mobil sport mentereng, dan gaya hidup foya-foya kini berganti menjadi sangat sederhana. Pemuda itu kini tinggal di sebuah kamar kontrakan kecil, mengenakan pakaian seadanya, dan mulai bekerja paruh waktu untuk menyambung hidupnya sendiri dari nol.Namun, perubahan itu membawa kenyataan pahit lainnya. Ratu dan teman-teman nongkrong Davin yang dulu selalu mengelilinginya mendadak merasa ilfeel melihat kondisi Davin yang tak lagi bergelimang harta. Satu per satu dari mereka mulai menjauh, menolak ajakan bertemu, bahkan memblokir kontak ponselnya.Di tengah kesendirian dan dinginnya malam di kontrakan sempitnya, Davin duduk menatap langit-langit kamar. Sebuah kesadaran besar merayapi sanubarinya: tanpa status, nama besar, dan kekayaan sang ayah, ternyata dunia begitu kejam dan mengabaikannya. Selama ini, orang-orang mendekatinya hanya karena uang dan pengaruh K

  • Antara Cintamu dan Cinta Ayahmu   Bab 54: Penyesalan

    Davin melangkah gontai menyusuri koridor apartemen mewah di pusat kota, memegangi lembaran kertas berisi alamat yang baru saja dikirimkan Kevin via pesan singkat. Di situlah kenyataan tentang asal-usulnya berada. Pintu salah satu unit penhouse terbuka, menampilkan sosok wanita anggun bergaun sutra yang memancarkan pesona kelas atas—sosok ibu kandungnya yang selama ini ia kira telah tiada, seorang model senior yang pernah mengisi panggung-panggung megah. Namun, alih-alih pelukan hangat penuh kerinduan, sambutan dingin yang menusuk justru menyapa Davin. "Untuk apa kau kemari?" tanya wanita itu datar, bahkan tanpa membiarkan Davin melangkahi pintu rumahnya. "Kevin sudah menceritakan semuanya. Kehadiranmu hanya akan merusak reputasi dan karir yang kubangun. Kau sudah dewasa, Davin, hiduplah sendiri." Pintu kayu mahoni itu ditutup rapat di depan wajah Davin. Berdiri sendirian di tengah lorong yang sepi, kesadaran pahit menghantam dada Davin begitu keras. Air matanya menetes tanpa bisa

  • Antara Cintamu dan Cinta Ayahmu   Bab 53

    Malam merayap makin pekat di area villa pegunungan. Usai puas menikmati sejuknya air kolam, Kevin membopong tubuh Aleena yang basah masuk ke dalam kamar utama yang berukuran luas dengan ranjang king size berseprai sutra putih. Suasana kamar terasa redup dan intim, hanya diterangi pendar hangat lampu tidur di sudut ruangan. Kevin membaringkan Aleena secara perlahan di atas ranjang. Pria matang itu menatap Aleena dengan sorot mata yang dipenuhi rasa cinta dan gairah yang begitu dalam. Tanpa tergesa-gesa, Kevin mengeringkan sisa air di tubuh Aleena dengan handuk lembut, mendaratkan ciuman-ciuman hangat di setiap lekuk wajah, leher, hingga bahu mulus gadis itu. Malam itu menjadi malam pertama yang teramat sakral bagi keduanya. Kevin memperlakukan Aleena dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian, mengajari setiap sentuhan gairah tanpa ada rasa paksaan. Namun, intensitas penyatuan cinta mereka di atas ranjang yang berlangsung hingga larut malam menyisakan jejak kepemilikan yang nyata—tand

  • Antara Cintamu dan Cinta Ayahmu   Bab 52: pesona di tepi kolam renang

    "Tuan... villanya sangat indah," ungkap Aleena penuh kekaguman saat pandangannya menyapu arsitektur modern berpadu nuansa tropis yang membentang di hadapannya.Kevin terkekeh pelan, melangkah mendekati Aleena lalu merengkuh pinggang ramping itu dari belakang. "Tak seindah dirimu, Sayang."Blush!Pipi Aleena seketika memerah padam. Hatinya berdesir hangat mendengar pujian spontan dari pria matang di sampingnya."Apalagi kalau sedang tersipu begitu, kamu terlihat sangat cantik," tambah Kevin lagi, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Aleena yang berbinar."Tuan bisa aja..." cetus Aleena tanpa sadar, refleks menyebut panggilan formal yang biasa ia gunakan saat di mansion.Kevin menyunggingkan senyum penuh arti, menatap bibir merah muda Aleena yang sedikit terbuka. "Sayang... kau begitu tak sabar, ya?"Tanpa aba-aba, Kevin memajukan wajahnya dan langsung melumat bibir ranum Aleena. Ciuman itu bermula dengan sangat lembut, menuntut rasa manis yang selalu membuatnya ketagihan. Aleena yan

  • Antara Cintamu dan Cinta Ayahmu   Bab 51: Rencana Akhir Pekan

    Langkah kaki Davin terasa agak berat dan tidak stabil saat melangkahi ambang pintu utama mansion. Sisa alkohol dari pertemuannya dengan Ratu semalam masih meninggalkan rasa pening di kepala, namun rasa penasaran yang menggerogoti pikirannya belum melenyapkan bayangan Aleena. Tanpa memedulikan suasana rumah yang masih hening, tujuannya hanya satu: kamar Aleena di lantai bawah. Ia hanya ingin melihat sekilas keberadaan gadis itu sebelum merebahkan diri untuk menuntaskan rasa kantuknya. Namun, ketika melintas di dekat lorong menuju kamar Aleena, ia mendengarkan samar-samar suara dari arah dapur. Davin menghentikan langkahnya, menatap ke arah sumber suara dengan mata yang menyipit menahan kantuk. "Tck, dia sudah bangun sepertinya..." gumam Davin pelan pada dirinya sendiri. Ia menghela napas panjang, mengusap tengkuknya yang terasa kaku. "Ya sudahlah, aku tidur saja dulu. Nanti siang aku temui dia dan ngobrol langsung." Dengan langkah gontai, Davin memutar arah menuju kamarnya di lanta

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status