LOGINLampu kristal raksasa di langit-langit penthouse suite sebuah hotel bintang lima menyala redup, memancarkan pendar keemasan yang hangat dan intim. Di luar jendela kaca setinggi atap yang menghadap langsung ke hamparan laut malam yang sunyi, gumpalan ombak memecah keheningan. Namun di dalam ruangan mewah itu, dunia seolah berhenti berputar. Hanya ada Kevin dan Aleena, terisolasi penuh dari kepungan dunia luar.Sejak penerbangan privat mereka mendarat di pulau pribadi ini untuk merayakan bulan madu, Kevin telah mengambil alih seluruh kendali atas kebebasan Aleena. Sifat posesif pria matang itu—yang sebelumnya tertahan oleh norma dan rahasia—kini meledak tanpa batas usai cincin pernikahan melingkar sah di jari manis mereka.Kevin memesan seluruh lantai teratas hotel khusus untuk mereka berua. Ponsel Aleena dimatikan total dan disimpan di dalam brankas besi oleh Kevin, sementara pintunya dikunci rapat dari dalam. Bagi sang pengacara berkuasa, tidak boleh ada satu pun gangguan, panggilan t
Kenyataan hidup yang menghantam tanpa ampun perlahan mengubah diri Davin. Penampilan mewahnya yang dulu dihiasi pakaian bermerek, mobil sport mentereng, dan gaya hidup foya-foya kini berganti menjadi sangat sederhana. Pemuda itu kini tinggal di sebuah kamar kontrakan kecil, mengenakan pakaian seadanya, dan mulai bekerja paruh waktu untuk menyambung hidupnya sendiri dari nol.Namun, perubahan itu membawa kenyataan pahit lainnya. Ratu dan teman-teman nongkrong Davin yang dulu selalu mengelilinginya mendadak merasa ilfeel melihat kondisi Davin yang tak lagi bergelimang harta. Satu per satu dari mereka mulai menjauh, menolak ajakan bertemu, bahkan memblokir kontak ponselnya.Di tengah kesendirian dan dinginnya malam di kontrakan sempitnya, Davin duduk menatap langit-langit kamar. Sebuah kesadaran besar merayapi sanubarinya: tanpa status, nama besar, dan kekayaan sang ayah, ternyata dunia begitu kejam dan mengabaikannya. Selama ini, orang-orang mendekatinya hanya karena uang dan pengaruh K
Davin melangkah gontai menyusuri koridor apartemen mewah di pusat kota, memegangi lembaran kertas berisi alamat yang baru saja dikirimkan Kevin via pesan singkat. Di situlah kenyataan tentang asal-usulnya berada. Pintu salah satu unit penhouse terbuka, menampilkan sosok wanita anggun bergaun sutra yang memancarkan pesona kelas atas—sosok ibu kandungnya yang selama ini ia kira telah tiada, seorang model senior yang pernah mengisi panggung-panggung megah. Namun, alih-alih pelukan hangat penuh kerinduan, sambutan dingin yang menusuk justru menyapa Davin. "Untuk apa kau kemari?" tanya wanita itu datar, bahkan tanpa membiarkan Davin melangkahi pintu rumahnya. "Kevin sudah menceritakan semuanya. Kehadiranmu hanya akan merusak reputasi dan karir yang kubangun. Kau sudah dewasa, Davin, hiduplah sendiri." Pintu kayu mahoni itu ditutup rapat di depan wajah Davin. Berdiri sendirian di tengah lorong yang sepi, kesadaran pahit menghantam dada Davin begitu keras. Air matanya menetes tanpa bisa
Malam merayap makin pekat di area villa pegunungan. Usai puas menikmati sejuknya air kolam, Kevin membopong tubuh Aleena yang basah masuk ke dalam kamar utama yang berukuran luas dengan ranjang king size berseprai sutra putih. Suasana kamar terasa redup dan intim, hanya diterangi pendar hangat lampu tidur di sudut ruangan. Kevin membaringkan Aleena secara perlahan di atas ranjang. Pria matang itu menatap Aleena dengan sorot mata yang dipenuhi rasa cinta dan gairah yang begitu dalam. Tanpa tergesa-gesa, Kevin mengeringkan sisa air di tubuh Aleena dengan handuk lembut, mendaratkan ciuman-ciuman hangat di setiap lekuk wajah, leher, hingga bahu mulus gadis itu. Malam itu menjadi malam pertama yang teramat sakral bagi keduanya. Kevin memperlakukan Aleena dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian, mengajari setiap sentuhan gairah tanpa ada rasa paksaan. Namun, intensitas penyatuan cinta mereka di atas ranjang yang berlangsung hingga larut malam menyisakan jejak kepemilikan yang nyata—tand
"Tuan... villanya sangat indah," ungkap Aleena penuh kekaguman saat pandangannya menyapu arsitektur modern berpadu nuansa tropis yang membentang di hadapannya.Kevin terkekeh pelan, melangkah mendekati Aleena lalu merengkuh pinggang ramping itu dari belakang. "Tak seindah dirimu, Sayang."Blush!Pipi Aleena seketika memerah padam. Hatinya berdesir hangat mendengar pujian spontan dari pria matang di sampingnya."Apalagi kalau sedang tersipu begitu, kamu terlihat sangat cantik," tambah Kevin lagi, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Aleena yang berbinar."Tuan bisa aja..." cetus Aleena tanpa sadar, refleks menyebut panggilan formal yang biasa ia gunakan saat di mansion.Kevin menyunggingkan senyum penuh arti, menatap bibir merah muda Aleena yang sedikit terbuka. "Sayang... kau begitu tak sabar, ya?"Tanpa aba-aba, Kevin memajukan wajahnya dan langsung melumat bibir ranum Aleena. Ciuman itu bermula dengan sangat lembut, menuntut rasa manis yang selalu membuatnya ketagihan. Aleena yan
Langkah kaki Davin terasa agak berat dan tidak stabil saat melangkahi ambang pintu utama mansion. Sisa alkohol dari pertemuannya dengan Ratu semalam masih meninggalkan rasa pening di kepala, namun rasa penasaran yang menggerogoti pikirannya belum melenyapkan bayangan Aleena. Tanpa memedulikan suasana rumah yang masih hening, tujuannya hanya satu: kamar Aleena di lantai bawah. Ia hanya ingin melihat sekilas keberadaan gadis itu sebelum merebahkan diri untuk menuntaskan rasa kantuknya. Namun, ketika melintas di dekat lorong menuju kamar Aleena, ia mendengarkan samar-samar suara dari arah dapur. Davin menghentikan langkahnya, menatap ke arah sumber suara dengan mata yang menyipit menahan kantuk. "Tck, dia sudah bangun sepertinya..." gumam Davin pelan pada dirinya sendiri. Ia menghela napas panjang, mengusap tengkuknya yang terasa kaku. "Ya sudahlah, aku tidur saja dulu. Nanti siang aku temui dia dan ngobrol langsung." Dengan langkah gontai, Davin memutar arah menuju kamarnya di lanta







