MasukDiego llegó tarde a nuestra boda. Cuando finalmente apareció, entró al salón tomando del brazo de Liliana con delicadeza. Traía puesto el traje de padrino, mientras que el de novio había sido abandonado en el sofá como si fuera un trapo viejo. —Diego, ¿por qué te pusiste...? —comencé a preguntar. —¡Inés! —me interrumpió bruscamente, con la mirada alerta—. Piensa bien lo que vas a decir. Sé generosa, y no me hagas odiarte. Sonreí, decepcionada. Como Liliana Martínez, su primer amor, había perdido la memoria, habíamos quedado atrapados en el juego de ayudarla a recuperarse. Teníamos que esconderle todo lo malo y tratarla con cuidado, evitando cualquier cosa que pudiera alterarla. Diego se acercó a mí y me abrazó con ternura. —Inés, ¿puedes entenderme? —me susurró al oído, antes de darme un beso ligero. Obedecí, le agarré la mano al padrino y caminé hacia el altar del matrimonio junto a él. El otro día, me encontré a Diego en un centro comercial mientras yo compraba cosas para nuestro bebé que iba a nacer. Me detuvo, y sus ojos, enrojecidos, se clavaron en mi vientre: —Inés... Todo esto era una farsa, ¿no? ¿Por qué estás embarazada?
Lihat lebih banyak“Aaa!! Bang Rafa!! Ada belatung!!” teriak Adhisti gadis yang kala itu tengah asik berbaring di ranjang kamarnya sambil mengutak-atik benda pipih bercasing coklat itu.
“Bang Rafa!!” Kini dengan cepat ia melompat dari singgasana ternyamannya itu lalu menatap ngeri ke kasur juga selimut yang tergeletak sembarangan.
Puluhan hewan kecil putih cenderung cream tampak menggeliat di atas seprai putih bercorak kotak milik Adhisti. Napas gadis itu langsung terengah-engah saat melihat ranjangnya menjadi tempat puluhan belatung berwisata.
“Bang Rafa sialan!! Lo budeg ya?!” sergah Adhisti sembari langsung menukikkan badannya ke kiri dan berlari ke arah luar kamarnya. Namun di saat yang bersamaan rupanya Rafa tengah berlari ke arah kamar Adhisti. Alhasil keduanya mengalami benturan.
“Bego banget, sih! Bisa jalan pake mata gak sih lo?!” sergah Rafa sambil mencekal kedua bahu adiknya itu.
“Lo yang bego, Bang! Dari tadi gue manggil kenapa baru muncul sekarang?! Kalau gue lagi disekap pembunuh udah mati duluan gue! Mau lo dihantuin arwah abah gegara gagal jaga anak perempuan semata wayangnya?!” omel Adhisti malah tampak lebih berapi-api dibanding Rafa.
Bukannya segera membalas omelan sang adik, Rafa malah tampak mengibaskan kedua tangannya di depan hidung sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Adhisti.
“Heh, lo nyimpen bangkai tikus atau kucing di sini?! Kamar lo busuk banget, Chaay!” sergah Rafa langsung menatap tajam ke arah Adhisti.
“Cih! Ngapain gue nyimpen bangkai, Bang! Ngaco lo! Yang ada, mereka yang sengaja mati di kamar gue dan bikin bau busuk kaya gini! Lo liat tuh kasur gue! Penuh belatung!” sergah Adhisti alias Chaaya sambil menunjuk ke arah ranjangnya.
“Belatung?!” Rafa langsung berjalan mendekat ke arah ranjang Adhisti. Matanya langsung membulat sempurna saat melihat hewan-hewan kecil itu menggeliat.
“Chaay! Gila lo! Lo tidur sama hewan kaya gini?! Manusia apa mayat hidup sih lo?! Nggak bisa apa berteman sama hewan yang wajar aja?!” Rafa langsung menyingkap selimut tebal Adhisti dan mengibaskannya ke sisi lain kamar.
Tak tunggu aba-aba lain, seluruh belatung yang ada di atas selimut itu langsung berjatuhan ke lantai. Dan seperti yang keduanya lihat, kini jumlahnya malah bertambah dua kali lebih banyak saat berjatuhan di lantai berwarna cokelat itu.
“Gila! Sebanyak itu?! Jadi sedari tadi gue tiduran sama para belatung itu?! Bajingan! Huwekk!!” Adhisti langsung berlari keluar kamarnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya rapat-rapat.
Rafa yang kala itu ditinggalkannya di kamar langsung memeriksa plafon kamar sang adik. Sebuah celah hadir di sana membuat tampak seperti lubang hitam.
“Pasti jatuh dari sana! Dasar! Chaaya manusia apa bukan sih?! Dia kena covid?! Kamar bau busuk kaya gini bisa gak bau! Dasar jorok!” gerutu Rafa lalu langsung melepaskan pegangannya pada selimut itu dan menyusul sang adik.
Adhisti tampak mengeluarkan semua isi mulutnya yang hanya cairan encer itu di wastafel dapur mereka. Rafa berdiri di sebelahnya sambil memangku dagu mengamati Adhisti.
“Dari pada ngeliatin gue kaya gitu mending bikinin gue teh anget, Bang!” Tangan kiri Adhisti langsung menampol wajah kakaknya yang asik mengamatinya itu.
Seperti seorang kakak yang sangat menyayangi sang adik, Rafa langsung menjalankan permintaan sang adik dan membuatkannya teh hangat.
“Nih, minum! Gue perlu tanya banyak hal sama lo setelah ini! Awas sampe pura-pura pingsan!” sergah Rafa. Tanpa menunggu omelan lain, Adhisti segera meraih gelas itu dan meneguknya kasar. Seketika wajah Adhisti tampak lebih glowing akibat paparan uap yang menimpa wajahnya itu.
“Lo sakit?! Hidung lo udah bebal?! Nggak bisa bau aroma busuk kamar lo itu?!” Rafa menatap tajam sambil mengetuk-ketukkan telunjuknya ke meja makan.
“Bang, satu-satu kalau nanya! Okey? Gue nggak sakit! Hidung gue juga bisa bau tuh aroma busuk kok! Cuma gimana lagi? Masa gue harus manjat plafon?! Ya udah gue biarin aja! Eh, ternyata lama-lama gue terbiasa, ya udah, gue berharap tuh bau hilang! Lagian kucing atau tikus ‘kan nggak sebesar manusia! Keringnya juga bakalan cepet!” papar Adhisti.
“Bego lo, Chaay! Sekarang liat! Kelar ga masalah lo?! Yang ada makin-makin ‘kan?! Tuh pasti di balik plafin lo lebih banyak belatung lagi! Kalau udah gini ini siapa suruh bersihin? Gue?!” Rafa mengubah posisi duduknya, tangannya dengan lantang menunjuk ke arah kamar Adhisti.
“Ya maaf, Bang! Niat Adhis awalnya ‘kan nggak mau nyusahin. Terus sekarang gimana? Abang mau biarin Adhisti tidur di kamar itu bareng semua belatungnya??” Adhisti dengan mahir dan tanpa rasa bersalah sekarang malah memberikan puppy eyes untuk Rafa.
“Terus? Lo nyuruh gue tidur di sofa dan lo pakai kamar gue?! Ogah! Sudah gede masih aja hobi nyusahin! Siapa suruh bikin huru-hara malem-malem kaya gini?!” sergah Rafa lalu langsung bangkit dari kursi meja makan dan berjalan ke arah kamarnya.
“Lho, Bang! Bang! Mau ke mana?! Ini gimana sama kamar Adhis??” pekik Adhisti yang ikut menyusul langkah cowok yang tingginya lima senti di atasnya itu.
“Bodo amat! Urus aja sendiri! Gue ngantuk!” sergah Rafa lalu langsung masuk ke kamarnya dan menggebrak pintu kamar tepat sebelum Adhisti masuk.
“Bang Rafa jahat!! Dasar tua menyebalkan!!” teriak Adhisti hingga menghantamkan kepalan tangannya ke pintu kayu itu.
Dengan langkah penuh emosi dan hentakan, Adhisti berjalan menuju pintu utama unit apartemen itu.
Satu tujuannya saat ini, salah satu kios kawan dekat Rafa bernama Rio yang ada di bawah lantai apartemennya.
Baru beberapa anak tangga ia pijak, ponsel yang ia masukkan ke saku jeans belakangnya bergetar. Saat dilihatnya layar ponsel itu dua buah kata nama kontak langsung membuatnya mendengus kesal.
“Bajingan! Lintah darat ini! Kenapa selalu muncul di saat yang gak tepat!” gerutunya sembari menyeret tombol terima telepon itu.
“Halo! Kenapa lagi?!” sergah Adhisti.
[“Kenapa lagi, kenapa lagi!! Lo buta? Nggak bisa liat sekarang jam berapa?! Atau pikun?! Lo belum upload film terbaru yang lo janjiin ke gue hari ini, Dhis! Kalau sampai malam ini lo nggak buruan kirim film itu! Lihat aja! Gaji lo nggak bakalan cair bulan ini!”] sergah Guntur—pemilik Guntur Corporation yang menaungi bisnis gelap Adhisti.
“Eh, jangan Bos! Duh, Bos! Kasih waktu dikit lagi! Ada insiden di kamar kerja gue, Bos! Gue janji deh sebelum jam delapan pagi gue upload!” bujuk Adhisti.
[“Kenapa sama kamar kerja lo?! Ada orang mati di sana?! Atau ada tsunami?!”]
“Nah itu, Bos! Ada mayat manusia di kamar gue! Gue mesti urus dulu ‘kan?!” sahut Adhisti tanpa rasa bersalah.
“Mayat manusia apa, Dhis?!” celetuk suara pria lain.
Cuando regresamos a casa, me desplomé en la cama. Un crujido detrás me hizo volver la cabeza. Me levanté de la cama, y vi cómo Cristian sacaba un teclado, lo colocaba en el suelo y se arrodillaba encima. —Mi amor, perdóname—me miraba con los ojos de perritos—. Reconozco mi error y me merezco este castigo. No te enfades.—¿Creías que era una mujer vanidosa?—pregunté, una lágrima caliente resbaló por mi mejilla.Se levantó apresuradamente, me acercó a la cabecera y acarició mi comisura enrojecida con sus dedos temblorosos:—Claro que no, ¿cómo posible que te llegase a tratar así?—¿Entonces por qué me insultaste así, una cazafortunas?—pregunté, sin desviar la mirada.Después de un silencio que pesó como plomo, confesó en voz baja:—Estaba decepcionado viendo que estabas con Diego, quise que se separaran. Pero no entendiste mis insinuaciones, pasara lo que pasara. En aquel momento, decidiste renunciar solo para estar con él... Se me nubló todo el juicio.—Lo dije por rabia....Pero créem
—Inés, ¿él te espera?—me dio un codazo mi colega Luciana, haciéndome un guiño.Asomé la cabeza para mirar. Era Diego, apoyado en un carro de lujo, con un ramo de flores en las manos. Miraba hacia arriba de vez en cuando con pasión, mientras preguntaba a todo lo que pasaba si conocían a Inés Otero y les pedía que me avisaran que me estaba esperando.—Oye, él te ha esperado ahí desde hace días. En todo el edificio, no hay quien no sepa tu nombre.Me volví, y no me olvidé de cerrar la cortina.¡Qué mala suerte tener que ver esto!—Inés, la llamada es para ti, del despacho del director.—otra colega me pasó el teléfono.—Sube, Inés.—ordenó Cristian.Me esperaba de pie junto a la puerta. Al entrar, me aplastó contra la pared, acercando sus labios a mi cuello.—Mi amor, ¡qué pesado ese tipo!—susurró al oído.Acaricié su cabello:—¿Celosito?—Te echo de menos, pero estos días he estado muy ocupado con el trabajo.—murmuró, luego me mordió ligeramente en el labio inferior.Jadeando, cuando el b
Cuando me enteré de la noticia de que Cristian había mandado a alguien a romperle el brazo a Diego, yo estaba sumida en el desarrollo de un nuevo proyecto. Al saberlo, solo me limité a pensar que se lo merecía y seguí concentrada en mis asuntos.Muchas veces Cristian me reclamó el porqué no le prestaba suficiente atención. Aunque me trataba superficialmente en la empresa, en casa me aplicaba "castigos".En el otro día, un amigo de Diego me llamó. Contesté, pero escuché la voz abatida de Diego:—Inés, Me rindo. ¿Has vuelto al Grupo López? No sé qué problema tiene Cristian. Le quitó muchos recursos de Empresas Cedeño sin importarle las consecuencias. Me metió en problemas. Podemos celebrar la boda ahora mismo si me ayudas, no me importa el acuerdo de un año.—¿Qué está diciendo ese bastardo? —me pregunté interiormente—. ¿Acaso Cristian le pegó en la cabeza, no fue en su brazo? Si no, ¿a qué viene ese trastorno mental? —Diego, tal vez necesitas ver al médico para tu problema de la cabeza
No hacía buen tiempo cuando llegué a la Ciudad Retama. Por poco y diluviaba.Regresé a casa corriendo bajo la lluvia.No me cabía duda de que Diego tiraría todas mis cosas si no aparecía hoy. Lo que no esperaba era que, a pesar de todo, pudiera romper su palabra.Al abrir la puerta, las cosas estaban esparcidas por todo el suelo.Un mal presentimiento me aceleró. Me apresuré hacia el cuarto.Ahí estaba una caja delicada de madera, abierta, y obviamente, dentro la pulsera de jade se había hecho añicos.Una risa siniestra retumbó a mis espaldas.Me giré y me enfrenté a Liliana.—¿Tú rompiste mi pulsera?—pregunté, sosteniénndolos.—Nunca debiste casarte con Diego—escupió—. ¡ni siquiera pensarlo! ¿Cómo te atreves a querer a un hombre que no pertenece a tu clase? Tú no eres más que una zorra vanidosa, ¿crees que una simple criatura pueda convertirse en un majestuoso fénix? —Esta es mi lección para ti. ¡Nunca lo olvides, la mona, aunque vista de seda, será siempre mona, y el fénix jamás pod
Cristian manejaba el carro a feroz velocidad y no paró hasta llegar a un centro comercial.Me quité el cinturón de seguridad y le agradecí con mucha cortesía:—Cristian, muchísimas gracias por sacarme del apuro. Voy a llamar otro carro desde acá.Me atoró en el asiento con una mano y apoyó el brazo
Bajé la cabeza y solté una risa irónica y cruel.Cristian López. El mismo Cristian López que me había insultado, llamándome cazafortunas en público.Aunque tuviera que mentir, Diego no quería que yo terminara la boda con dignidad.Liliana se quedó un poco sorprendida al escuchar ese nombre, sacó
Levanté la cabeza, y divisé el rostro orgulloso de Liliana.Un dolor punzante me atravesó el dorso de la mano, pero su pie seguía apretando cada vez más fuerte, mientras oía las exclamaciones de los invitados. —Nadie se queda con algo que fue mío —sentenció—, aunque ya no lo quiera.Apreté los d
Diego no llegó a tiempo a nuestra ceremonia de boda, ya era muy tarde.Justo cuando pensaba que le habría pasado algún imprevisto, apareció. Pero llevaba puesto el traje de padrino, con un arreglo floral azul verdoso prendido a la solapa. Entró al salón, tomando del brazo de Liliana, quien llevab












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
Ulasan-ulasan