Short
Ante la traición, me casé con el padrino

Ante la traición, me casé con el padrino

Par:  Irene MoserComplété
Langue: Spanish
goodnovel18goodnovel
10Chapitres
11.5KVues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Diego llegó tarde a nuestra boda. Cuando finalmente apareció, entró al salón tomando del brazo de Liliana con delicadeza. Traía puesto el traje de padrino, mientras que el de novio había sido abandonado en el sofá como si fuera un trapo viejo. —Diego, ¿por qué te pusiste...? —comencé a preguntar. —¡Inés! —me interrumpió bruscamente, con la mirada alerta—. Piensa bien lo que vas a decir. Sé generosa, y no me hagas odiarte. Sonreí, decepcionada. Como Liliana Martínez, su primer amor, había perdido la memoria, habíamos quedado atrapados en el juego de ayudarla a recuperarse. Teníamos que esconderle todo lo malo y tratarla con cuidado, evitando cualquier cosa que pudiera alterarla. Diego se acercó a mí y me abrazó con ternura. —Inés, ¿puedes entenderme? —me susurró al oído, antes de darme un beso ligero. Obedecí, le agarré la mano al padrino y caminé hacia el altar del matrimonio junto a él. El otro día, me encontré a Diego en un centro comercial mientras yo compraba cosas para nuestro bebé que iba a nacer. Me detuvo, y sus ojos, enrojecidos, se clavaron en mi vientre: —Inés... Todo esto era una farsa, ¿no? ¿Por qué estás embarazada?

Voir plus

Chapitre 1

Capítulo 1

“Aah!” 

Eliza memekik tertahan. Tubuhnya terhuyung kehilangan keseimbangan, nyaris jatuh kalau saja sepasang lengan kokoh itu tidak sigap mendekap pinggangnya.

Selama beberapa detik, gadis itu terpana saat bertemu pandang dengan sepasang mata elang milik pria tampan berkacamata itu.

"Ma-maaf, Om," ucap Eliza gugup, buru-buru menarik diri dari dekapan si pria asing. “Saya nggak sengaja. Om baik-baik aja?”

"Hmm," sahut pria itu acuh tak acuh. Tapi tatapannya tak lepas dari wajah cantik Eliza yang memerah. Lalu, sebelah sudut bibirnya terangkat jahil. “Kayaknya kamu yang kenapa-napa, tuh.”

“Hah?” Eliza tampak bingung.

“Wajah kamu merah,” kata pria itu, lalu menyentuh pipi Eliza.

Sentuhan itu ringan, tapi terasa menyengat hingga darah Eliza semakin berdesir dibuatnya.

“Oh, eh, mungkin karena menabrak dada Om yang keras—” Eliza terdiam, menelan ludah gugup saat tersadar dirinya melantur. “Saya permisi ya, Om!” ujar gadis itu buru-buru.

Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Eliza langsung berlari menjauh. 

Ia merutuki dirinya di sepanjang langkah menyusuri mall hingga tiba di butik miliknya. 

Butik kecil Eliza cukup terkenal di kalangan atas. Ia menjual pakaian hasil desain sendiri, dilengkapi beberapa koleksi impor dari berbagai negara. 

Meski anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarganya, Eliza tidak lantas menjadi manja. Ia gadis mandiri dengan paras oriental, kulit putih bersih, dan wajah mungil yang selalu memikat. Tidak sedikit pria yang berusaha mendekatinya, tapi sampai saat ini, Eliza masih betah melajang.

“Gila… jantungku!” gumam gadis cantik itu sambil memegang pipi yang terasa panas.

Eliza masuk ke dalam butik dan menyalakan lampu. Cahaya lampu utama dan neon box segera menghidupkan suasana butik kecil itu, dipenuhi aroma terapi yang menenangkan. Interior butik yang didominasi warna putih dan sentuhan kayu membuat tempat itu terasa hangat.

“Eli!” sapa Angel, sahabatnya yang baru tiba dan berlari kecil menghampirinya.

Keduanya sudah berteman cukup lama. Walaupun beda dua tingkat di kampus, mereka tak terpisahkan.

“Mana desain barunya, El?” tanya Angel penuh semangat, matanya berbinar melihat tumpukan pakaian baru.

Eliza segera menggelar karpet abu muda, mengajak Angel untuk duduk santai. Mereka larut melihat model-model pakaian yang baru datang, diselingi tawa cekikikan saat menemukan desain yang menurut mereka lucu atau terlalu seksi.

Tiba-tiba, terdengar suara dari pintu.

"Ehem!"

Eliza dan Angel sontak menoleh.

“Kak Kevin! Udah selesai kelilingnya?” seru Angel girang.

Kevin, yang disuruh masuk, malah menatap wanita di samping Angel.

“Eh?!” seru Eliza dengan sepasang mata melebar, terkejut melihat pria tampan di hadapannya.

“Loh, kalian saling kenal?” tanya Angel bingung.

Eliza buru-buru menjelaskan, “Oh, nggak kok. Tadi aku nggak sengaja nabrak Om ini….”

Angel ber-oh ria. "Kenalan dulu deh. Kak, ini teman aku, Eliza. Eli, ini Kak Kevin, baru balik dari Singapura," jelasnya sambil memperkenalkan keduanya.

Kevin dan Eliza saling berjabat tangan dengan kikuk. 

Diam-diam Eliza memperhatikan pria itu. Ia tidak tahu kalau sahabatnya ternyata memiliki seorang kakak setampan ini.

"Salam kenal, Om Kevin. Maaf sekali lagi soal tadi," kata Eliza sambil tersenyum, memperlihatkan lesung pipit manisnya.

Ia tampak gugup saat menyadari tatapan Kevin begitu intens. Terlalu intens untuk orang yang baru kenal. 

“Ya sudah, bungkusin belanjaan aku ya, El. Aku mau jalan dulu sama Kakak tersayang,” kata Angel, memeluk Kevin dengan mesra.

Eliza mengemas pakaian pilihan Angel ke dalam paper bag. Setelah beres, Angel dan Kevin pun berpamitan.

Butik yang sepi membuat Eliza harus merapikan sendiri karena karyawan satu-satunya sedang sakit.

Tok tok tok.

Suara pintu kaca membuat Eliza berbalik. “Kak Aldi?” Eliza terkejut melihat sosok di depannya.

“Hai, Sayang…” Aldi menyapanya dengan senyum menggoda.

“Kok bisa di sini?” tanya Eliza bingung, tak menggubris panggilan mesra dari pria itu. Ia lantas berjalan menghampirinya.

"Makan siang yuk," ajak Aldi santai.

Eliza melirik jam di tangan kirinya. Ternyata sudah siang dan ia memang lapar. 

"Bentar ya, aku siap-siap dulu.”

Aldi mengangguk, memperhatikan Eliza yang mengambil tas dan handphonenya, lalu mengunci butik. Mereka pun melangkah santai menuju foodcourt di lantai atas, berbincang ringan sepanjang jalan.

Tak jauh dari sana, Kevin kebetulan lewat dan melihat mereka tampak begitu akrab. Ia mengernyit saat mengenali pria yang sedang bersama Eliza. 

Itu Aldi, sahabat Kevin yang merupakan pemilik salah satu klub malam.

Kevin hampir menghampiri keduanya, namun niatnya diurungkan. 

Entah mengapa, ada kekecewaan yang menghiasi wajah pria tampan itu.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.


commentaires

Albi Jime Jaimes
Albi Jime Jaimes
me encantó la historia con una segunda oportunidad, lo mejor corta. pierdo el interés cuando son largas.
2025-08-01 02:23:50
0
0
karen renteria tolentino
karen renteria tolentino
Inicio genial, pero al transcurso de la historia me confundí demasiado, había cosas que no tenían sentido para mis
2025-07-14 13:12:33
0
0
moshimosha
moshimosha
Inició bien, pero avanzando en la historia comenzó ya perder sentido de repente el cómo sucedían algunas cosas. Me gustó el plot, pero de repente se llegaba a sentir un poco sin sentido.
2025-06-04 10:53:03
0
0
Delanchiz Crayon
Delanchiz Crayon
el inicio estubo bien hecho, pero a partir del capítulo 4 las cosas se volvieron un poco confusas y casi al final las cosas dejaron de tener sentido, el fin se siento apresurado, Lo bueno es que por fin apagué la curiosidad que me dejó tik tok con esta historia
2025-07-31 01:19:37
0
0
10
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status